Pinjam Masker

Bulan dan Jesika mengerutkan dahinya. Kuncoro langsung menyeret Bulan dan menyuruh Bulan duduk di depan Bintang. Bulan bingung harus berbuat apa, jika Cafe ini dikomplain pasti akan berpengaruh besar pada citra cafe Jomblo yang sudah menolongnya selama ini.

Bulan berdecak, "Mas bawa saja Bosnya itu kemana kek, ganteng gitu lhoo, pasti banyak yang mau, beneran deh, Bos Mas itu ganteng,"ucap Bulan pada Kuncoro.

"Mas Mes Mas Mes, akika Jeng Konita, bukan Mas."

"Sekarepmu lah, mau Jeng Konita mau jumpalitan, terserah, tapi jangan komplen-komplen segala dong." Bulan berusaha memohon.

"Oh No, Yey harus bertanggung jawab, Bos Akika bisa tutup Cafe ini lhoo, jangan macam-macam, Yey yang harus gantiin tuh cewe kabur."

Bulan menepuk keningnya,"Haduh Mas, saya lagi kerja, mana boleh duduk sama pelanggan, ini bukan Cafe saya, lagian Bos Mas itu ganteng, nggak pantes duduk sama saya yang burik kentang begini, nanti gudigen lhoo."

"Jeng Konita, punya kuping nggak sih,"

"Iya iya, Jeng Konita, bawa pulang saja yah bos nya."

Kuncoro mendekat ke arah Bulan dan berbisik padanya, "Kasihan dia itu baru ditinggal mati sama pacarnya, susah move on."

Bulan mendelik, "Heh, saya saja sulit move on, bagaimana bisa menolong orang patah hati, hati saya juga remuk tahu." Bulan yang memang sedikit tomboy berani meninggikan suaranya di depan Kuncoro.

"Hais, kenapa jadi ribet sih." Kuncoro berkacak pinggang, ia memikirkan cara agar bosnya mendapatkan pasangan hari ini. Saat sedang berfikir mata kuncoro menangkap seseorang yang tengah masuk ke Cafe Jomblo. Rian, menejer keuangan PT Al arav sedang berbicara dengan salah satu pegawai Cafe.

"Haduh gawat Bos, Rian itu, jangan sampai tahu Bos ada dimari, bisa bahaya, gosip gosip nanti."

Bintang membalikan tubuhnya, melihat Rian yang tengah berbicara dengan pegawai cafe, Bulan merasa bingung dengan tingkah kedua pelanggannya.

"Kalian kenapa sih?" tanya Bulan.

"Eh, Mbak punya masker nggak?" tanya Bintang.

"Ada, tapi ditempat istirahat Barista."

"Ya sudah, tolong Mbak saya numpang ngumpet dulu, saya janji tidak akan menuntut Cafe ini."

Bulan tersenyum, ia segera membawa Kuncoro dan Bintang ke tempat peristirahatan barista. Sesampainya di sana, Bulan membuka lokernya. Karena suasana di tempat peristirahatan Barista panas, Bulan membuka maskernya, terpampang lah wajah cantik Bulan. Bulan lalu menggulung rambutnya yang tergerai, terlihat lah leher putih mulusnya yang kontras dengan warna kaos hitamnya, lehernya sedikit berkeringat.

Bintang meneguk salivanya melihat pemandangan indah terpampang nyata di depan matanya. Pusaka kebanggaannya menggeliat, sialan, Bintang merasa ada yang aneh dalam dirinya, tubuhnya mendadak gerah. Padahal biasanya di kantor juga melihat tetelan diobral, lah ini, cuma melihat tulang leher Bulan saja pusakanya berontak meronta-ronta. Bintang segera mengalihkan pandangannya sebelum hasratnya semakin menjadi-jadi. Kuncoro malah sedang sibuk kipas-kipas dengan sobekan kardus bekas yang tergeletak disana.

"Pak Bos, nih maskernya." Bulan memberikan masker kain pada Bintang. "Ini tuh baru, bukan bekas jigong saya."

Bintang mengernyitkan dahinya, ia langsung memasang masker pemberikan Bulan. Sedangkan Kuncoro menutupi wajahnya dengan potongan kardus yang dibuatnya untuk kipas-kipas.

"Pak Bos, jangan lupa bayar lhoo."

"Iya tenang saja, saya pinjam maskernya dulu yah."

Bulan mengangguk. Mereka bertiga masuk lagi ke dalam Cafe, Bintang bergegas keluar Cafe, sedangkan Kuncoro membayar pesanan Bintang terlebih dahulu. Bulan mengelus dadanya, merasa lega karena satu masalah terselesaikan sudah.

Bulan kini kembali meracik kopi pesanan pelanggan. Jesika memberikan kertas pesanan pelanggan pada Bulan.

"Lan, hayo hayo, sepertinya tadi lancar nih, lumayan lah, ganteng Lan, kayaknya tajir juga, gimana, gimana tadi dapet nomor WhatsApp nggak, haduh apa sudah ngobrol panjang lebar." Jesika terus saja nyerocos, padahal ini adalah kesalahannya karena tidak bisa menghandle meja khusus jomblo dengan baik.

Bulan melirik Jesika, "Jes, tetanggaku suka sok tahu urusan orang lain, terus besoknya meninggal."

Jesika menutup mulutnya, "Hih, serem ih." Jesika lalu buru-buru meninggalkan Bulan, Bulan tersenyum melihat tingkah Jesika yang ketakutan.

...***...

Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 WIB, Bulan sudah bersiap-siap untuk pulang, ia tidak pernah mengambil jam lembur karena ia harus segera pulang, mengurus Ibunya, memandikannya lagi.

Seperti biasa Bulan berangkat maupun pulang kerja menggunakan angkutan umum, harganya lebih terjangkau. Sesampainya di kontrakan, Bulan langsung mengucapkan salam lalu masuk ke dalam, di sana Ibu sedang menonton Tv ditemani Bi Ani. Jika Bulan sudah pulang, Bi Ani langsung pamit pulang karena Bi Ani juga harus menyambut suaminya yang pulang kerja.

"Bu, tadi makan siang habis kan?"

Ibu menggeleng. Bulan mengelus pipi Ibunya.

"Kenapa nggak habis, Ibu mau makan apa? nanti Bulan belikan."

Ibu menggeleng lagi, "A uah, uan ape."

Bulan tersenyum, "Bulan nggak cape Bu, kerjaan Bulan nggak ngangkat batu sama pasir Bu, kerjaan Bulan cuma bikin kopi, udek-udek doang, nggak cape kok, Ibu mau makan apa?"

Kini Ibu tersenyum, "Au ate yam."

"Iya, nanti Bulan belikan, Bulan ganti baju dulu yah."

Ibu mengangguk sambil tersenyum senang, Bulan merasa bahagia ketika melihat senyum Ibu. Bulan berganti pakaian lalu mengambil dompet yang ada di tas selempang yang sudah lusuh. Bulan terdiam, merenungi isi di dalam dompetnya. Semakin menipis, apalagi Ibu minta sate. Jika sudah seperti ini, biasanya Bulan akan puasa senin kamis, ia akan memasak hanya untuk Ibunya saja, agar pengeluaran bisa diminimalisir.

Bulan Aisyah Permana, gadis yang dulunya bisa membeli apapun, bisa makan apapun, kini hanya untuk makan saja harus menimbang-nimbang keuangan antara cukup atau tidak. Bagi Bulan yang terpenting adalah Ibunya. Biarlah perutnya menahan perih saat bekerja. Bulan hanya percaya serta yakin, Allah pasti menguatkannya, menguatkan fisik dan batinnya.

Simpanan Ibu sudah tak bersisa untuk berobat stroke yang sudah satu tahun ini menggerogoti tubuh Ibu. Sementara Ayahnya bahkan sudah tidak perduli lagi dengan Bulan dan Ibunya, Ayahnya sudah gelap mata dengan sang Pelakor, Ayahnya lebih memilih membesarkan anak pelakor itu dari pada membesarkan dirinya.

Sedih jelas sedih, sedih hingga matanya tak sanggup lagi menumpahkan air mata. Muara air mata Bulan seolah membeku. Tapi dari takdir ini, Bulan kini menjadi gadis mandiri, tanggung dan berani.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

( Hayo loh, yang suka kepo, nanti cepat meninggal😆 sa ae si Bul Bul, hihi. Eh Mak, mendadak akika mau jadi maskernya, biar bisa nempel sama lambenya Mas Bintang😆 Oh ya Cafe Jomblo ini, memang mengembangkan cerita dari Cafe bakso yang mas Renal dan Shelomita itu mak, tp ini lebih di kembangkan)

Jangan lupa like, komen, komen, komen dan Vote.

Salam sayang,

Santypuji

Terpopuler

Comments

EmbunCahaya

EmbunCahaya

Bapak durhaka

2021-12-28

0

fauzi

fauzi

ceritanya bagus.. gaya bahasanya ringan

2021-11-03

0

Asmaul Husna

Asmaul Husna

Bisa tetanggaan dg bakso jomblonya dr.Renal😄

2021-09-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!