Yuk, Move On

"Saya juga lapar ih."Bulan mengambil sendok yang ada di tangan Bintang. Bulan merasa heran, Pak Bos kece badai yang ada di depannya ini kenapa seleranya hanya sebuah capcay dan tempe goreng. Bintang juga merasa aneh, dia yang biasa makan makanan mewah, tapi begitu lahap hanya dengan capcay buatan Bulan. Apalagi makan bersama Bulan, Bintang menjadi semakin bernafsu, nafsu makan loh yah😆, jangan mikir macem-macem.

"Pak bos ih, sana beli makan sendiri dong, masa bos makannya nebeng, lagi nabung buat nikah jg nggak gitu juga kali," Sindir Bulan, ia mengambil sendok sekaligus wadah bekalnya.

"Pelit banget sih ih." Bintang mengambil uang 5 lembar seratus ribuan, lalu diberikan pada Bulan.

"Nih, beli apa aja terserah, tapi sini wadah makan kamu." ucap Bintang.

Bulan tersenyum, tanpa basa basi ia langsung mengambil uang yang Bintang berikan.

"Cius nih Pak Bos, eh tapi satu lembar saja, Bulan mau buat beli nasi padang depan Cafe, nanti kembaliannya ya Pak Bos." Bulan langsung ngeloyor pergi meninggalkan Bintang sendirian. Rejeki nomplok, nggak usah jaim-jaiman, toh bekalnya sudah di ambil Pak Bos, jadi nasi padang lah sebagai gantinya.

Baru saja sampai depan pintu Cafe, Bulan berpapasan dengan Arkan. Arkan meraih lengan Bulan agar mau masuk kembali dan duduk bersama. Namun Bulan menepisnya dengan kasar.

"Ih, apaan sih, kalau mau ngopi, ngopi aja, nggak usah ngajak aku segala,"ucap Bulan. Namun Arkan tidak putus asa, ia malah lancang menggandeng tangan Bulan lalu membawanya untuk duduk disalah satu bangku cafe.

"Lepas."

"Kita perlu bicara Bulan."

"Kan sudah aku bilang, sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan."

Bulan hendak meninggalkan Arkan, namun suara tepukan seseorang membuatnya mundur perlahan.

"Bagus yah kalian berdua, masih berani main belakang ternyata,"ucap Sarah sambil perlahan mendekati Bulan.

"Dia yang terus mendekati Aku, bukan Aku, ingat itu,"ucap Bulan membela diri. Tapi memang itulah kenyataannya.

"Sudah berapa kali aku peringatkan sama kamu Bulan, tapi ternyata kamu gatal juga yah," Maki Sarah dengan penuh emosi. Sarah mendekati Bulan hendak menamparnya, namun Bulan tepis. Bulan mencengkram tangan Sarah.

"Kamu dan Ibumu yang gatal, apa kamu tidak punya kaca hah?" Bulan jadi ikut tersulut emosi. Sementara Arkan masih saja terdiam.

Bintang yang tengah menunggu Bulan membeli nasi padang merasa heran, kenapa membeli nasi padang saja lama sekali. Bulan membeli nasi padang di depan Cafe apa di Sumatra Utara sih. Bintang akhirnya keluar dari tempat istirahat Barista, lalu masuk ke dalam Cafe. Bintang terkejut ketika melihat Cafe begitu ramai akan keributan.

Bintang melihat Bulan yang tengah marah dengan seorang perempuan. Entahlah Bintang juga belum tahu apa masalahnya. Bintang masih asyik menyaksikan perdebatan dua wanita yang masih sama-sama tersulut emosi.

"Ayah kamu saja yang mata keranjang," ucap Sarah.

"Ibu kamu yang kucing girang," teriak Bulan. Sarah semakin emosi ketika Ibunya dikatai kucing girang, ia menggunakan tangan satunya lagi untuk mencakar Bulan. Bulan menjerit, Sarah segera menjambak rambut Bulan, Bulan pun tidak kalah anarkis, ia membalas menjambak rambut Sarah. Bintang dan Arkan yang melihat perkelahian mereka sudah tidak sehat, langsung saja berlari dan melerai keduanya.

"Eh, sudah, sudah jangan di sini, malu, banyak orang, Bulan, jangan seperti ini Lan, ini di Cafe." Bintang menarik tubuh Bulan. Sementara Arkan menarik tubuh Sarah. Rambut Saran dan Bulan sudah berantakan tidak karuan. Bintang langsung menyuruh semua pengunjung berhenti merekam dan kembali duduk. Interuksi Bintang seolah-olah menghipnotis pengunjung Cafe. Bintang yang memang seorang bos besar di perusahaan Al arav, sudah terbiasa menginterupsi karyawannya.

Bintang langsung menggandeng Bulan keluar dari Cafe menuju warung padang yang ada di depan Cafe. Sementara Arkan dan Sarah melongo melihat Bulan yang tengah digandeng pemuda tampan nan kharismatik.

Bulan yang merasa kesal karena belum puas menjambak Sarah menghentakkan kakinya di sepanjang jalan sambil ngedumel.

"Pak Bos ih, kenapa sih tadi segala misahin saya, saya belum puas jambaknya." Bulan terlihat mengerucutkan bibirnya, namun hal itu malah membuat Bintang gemas.

"Iya maaf ih, tapi kan kamu belum makan, pasti jambakannya kurang mantep, makan dulu ayo, nanti saya antar lagi ke tempat cewek itu, kamu boleh jambak sepuasnya, udah jangan manyun, cantiknya ilang nanti," Ledek Bintang yang tengah tersenyum pada Bulan.

Bulan yang dipuji cantik, hatinya serasa di taburi bunga sekebon😆 Bulan menabok lengan Bintang.

"Mana bisa balik lagi, nanti giliran sudah kenyang aja, aku nggak bisa jambak lagi."

Bintang malah terkekeh mendengar Bulan yang sepertinya memang begitu gemas dengan perempuan tadi.

Bintang dan Bulan masuk kedalam warung nasi padang. Bintang langsung memesankan rendang dan telor dadar beserta es teh manis. Bulan duduk sambil terus menggerutu.

"Sudah ih, itu tadi siapa sih?"

"Pelakor, anaknya pelakor, sekaligus pelakor juga."

Bintang mengernyitkan dahinya, "Pelakor gimana sih?"

"Itu tadi yang cowok itu, itu mantan pacar saya, yang direbut sama cewek itu, ah panjang ceritanya Pak Bos."

Pegawai nasi padang menyajikan pesanan Bintang di meja. Bintang langsung menyuruh Bulan untuk makan. Bulan langsung saja makan dengan lahapnya, sudah lama sekali ia tidak makan nasi Padang.

"Pelan-pelan Lan."

"Ini tuh enak banget Pak Bos."

"Eh ya Allah." Bulan merogoh sakunya, saku bajunya dan saku celananya.

" Yah, Pak Bos, uang seratus ribuannya pak bos, hilang, haduh gimana inih." Bulan terlihat panik. Kan Bulan sudah menipis uangnya, bagaimana ini jika harus mengganti seratus ribuan pak bos.

"Ish, makan dulu ih, jangan fikirin selembar itu, sudah makan cepat, jam istirahatmu sebentar lagi habis lhoo."

Bulan mendengus pelan, "Maaf yah Pak bos." Bulan akhirnya kembali melahap makanannya.

"Sialan banget emang itu si Sarah kampret, saya jadi keburu-buru deh makannya, belum hari esok, pasti saya di marahi bos cafe nih gara-gara tadi."

"Kamu tenang aja, saya bantu nanti."

"Beneran Pak bos?" Bulan terlihat sumringah.

"Cepat habiskan."

Bulan mengangguk.

Setelah menghabiskan makanannya, Bulan langsung kembali lagi ke Cafe. Tapi sebelumnya Bintang mengajak Bulan ke Maret-maret untuk membeli betadin dan handsaplas.

"Kita mau kemana?" tanya Bulan.

"Itu, ke Maret-maret, itu tangan kamu pada luka, emang nggak kerasa apa perihnya?"

"Lebih perih hati saya pak Bos," ucap Bulan dengan wajah sendu.

"Sudah sih Lan, saya saja yang di tinggal pas lagi sayang-sayange bisa move on kok, saya ditinggal nikah lhoo."

(Bintang sama Author senasib sepenanggungan, kok kita nggak jodoh aja sih Mas Bin😆😆)

Bulan langsung melirik Bintang, " Cius pak bos?"

Bintang mengangguk. Kini giliran Bintang yang berwajah sendu.

"Katanya udah move on, tapi kecut begitu mukanya, move on dong," ledek Bulan.

"Heh, kamu tuh yang belum move on, sampai jambak-jambakan demi cowok tadi tadi, dih ganteng ge saya," ucap Bintang jumawa.

Bulan malah tergelak, "Yuh ah saling menyemangati biar sama-sama bisa move on,"ucap Bulan. Bintang tersenyum lalu mengacungkan jempolnya tanda setuju.

Sampai di Maret-maret, Bintang menyuruh Bulan duduk di depan kursi Maret-maret. Bintang masuk kedalam, membeli betadine, kapas juga handsaplas. Selesai membayar, Bintang langsung duduk di sebelah Bulan, mengobati luka Bulan tanpa canggung. Bintang juga merasa aneh, kenapa begitu cepat dekat dengan Bulan. Terlebih Bulan, ia seperti sedang bermimpi, mendapat perhatian dari orang yang baru dikenalnya, mungkin Allah sengaja mengirimkan orang-orang baik disekitarnya.

Selesai diobati, Bulan mengambil kunciran rambut dikantongnya, ia lalu merapikan rambutnya dengan tangan, saat hendak menggelungnya, Bintang langsung menarik tangan Bulan hingga rambut Bulan tergerai lagi.

"Emm, maaf Bulan, nanti aja rapihin rambutnya di cafe yah, yuk ke cafe cepetan, saya juga udah mau pergi kerja lagi." Bintang merasa tidak kuat jika harus melihat pemandangan leher jenjang Bulan yang putih bersih. Sumpah Mih, Bintang nggak kuat Iman. Takut kerasukan Imin, bahaya nanti.😆😆😆😆

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

( Ih kalian cucok meong deh, komennya tembus juga 100, gitu doang, biar emak san semangat, ya semangat up, semangat garap rapotnya juga, eps selanjutnya, klo komen dah 100, emak lanjut lagi, okeh👍)

Salam sayang,

Santypuji

Terpopuler

Comments

Anni Zakiyani

Anni Zakiyani

bos besar bahasanya kasar bener...pakai ge

2023-01-14

0

Anni Zakiyani

Anni Zakiyani

masa cowok pakai ih segala...manja bener

2023-01-14

0

Siti Nurhayati Yati

Siti Nurhayati Yati

gasken bw ke KUA

2023-01-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!