Panggil Saya Mas

Malam harinya Mamih Bela berkumpul dengan Bintang dan Papih Arav di ruang TV. Mamih Bela duduk di sebelah Papih Arav sambil bermanja ria. Sengaja bikin Bintang haredang. Nih loh anak soleh, kalau sudah punya istri tuh enak, ada yang bermanja-manja, ada obat lelah juga.

Bintang melirik Mamihnya sambil mendengus kesal, sementara Mamihnya malah mengerlingkan mata ke arah Bintang. Dih tua-tua narsis terus.

"Eh Papih, Mamih mau tanya deh." Mamih Bela menunjukan foto yang dikirim Bulan pada suaminya.

"Papih kenal nggak?"

"Emm ini kan dulu rekan bisnis Papih, cuma sekarang sudah bangkrut sepertinya, kalah tender sama perusahaan lain, jadi nggak tau sekarang gimana. Itu kan istrinya, ngapain sih Mamih fotoin suami istri begitu."

Mamih Bela terkejut, "Mereka suami istri?"

Papih Arav mengangguk, "Kenapa sih Mih?"

Mamih Bela mengajak Bintang untuk mendengarkan obrolan mereka juga. Mamih Bela menceritakan perihal Bulan, Pak Permana dan Bu Laras. Kehidupan Bu Widya sekarang begitu memprihatinkan, Mamih Bela ingin membantu Bulan dan Bu Widya.

"Kayaknya ada yang nggak beres deh Mih." Bintang nampak serius jika menyangkut kehidupan Bulan.

"Bulan anaknya pak permana itu, yang suka dibawa Ibunya kan kalau makan-makan bareng Mamih."

Mamih Bela mengangguk, "Masa nggak ada berita-berita apa gitu Pih, Papih masa nggak denger apapun gitu?"

"Papih kerja ya kerja, hanya bahas kerjaan, nggak ngegosip Mih."

"Emangnya perempuan," Ledek Bintang.

"Gini aja deh." Papih Arav mulai menyusun rencana bagaimana cara membantu Bulan keluar dari masalah yang ada. Mamih tersenyum dan akan berusaha semaksimal mungkin membantu Bu Widya. Bintang juga akan membantu sebisa Bintang.

"Mamih dapat foto itu dari mana?"

"Dari Bulan tadi, Bulan yang kirim foto ini ke Mamih."

"Berarti, Mamih punya nomer ponsel Bulan dong?"

"Punya dong."

"Minta dong Mih." Bintang pura-pura malu buaya. Masa malu-malu kucing, nggak cocok ah.

Mamih lalu mengirimkan nomor Bulan ke WhatsApp Bintang. Bintang langsung jingkrak-jingkrak lari ke kamar. Mau telfon ah, nemenin Bulan jarak jauh.

Sesampainya di kamar, Bintang duduk di balkon kamarnya, Bintang langsung mendial nomor Bulan, hanya hitungan detik, langsung di angkat. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Ah pret.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsallam, maaf ini siapa yah?"

"Emm, saya yang selalu menemani kamu di atas langit sana." Et dah Bintang, pakai kode segala.

"Apaan sih nggak jelas, saya tutup nih."

"Et jangan, saya Bintang Lan, galak bener sih."

"Eh ya ampun Pak Bos."

Bintang nyengir, ngapain nyengir yah, kan nggak kelihatan.

"Maaf ya Lan, saya minta nomor kamu ke Mamih."

"Iya nggak apa-apa pak Bos, eh ngomong-ngomong ada apa yah, kok telfon?"

"Emangnya harus ada apa-apa dulu gitu baru telfon, kalau mau ada apa-apa juga nggak apa-apa sih?"

Eh kok jadi muter-muter kayak gangsing sih.

Bulan tergelak, "Ya barang kali ada penting Pak Bos."

"Bulan."

"Hemm..."

"Jangan panggil saya Pak Bos, saya mau di panggil Mas."

Bulan tergelak, "Ih lucu ih,"

"Kok lucu sih, panggil Mas Bintang gitu."

"Geli ih."

"Kok geli sih? kan nggak saya apa-apain." Jiwa bujang tuanya mulai muncul😆.

"Aneh aja gitu."

"Ayo panggil Mas Bintang."

"Maksa."

"Dari pada dipaksa yang lain." Hadeh Bulan, cuma disuruh manggil Mas aja susah banget, apalagi kalau disuruh manggil sayang. Eh ngarep banget.😆😆😆

"Iya iya Mas Bintang." Bulan mesem-mesem.

"Nah gitu dong, kan didengernya enak, lagian saya juga bukan Bos kamu. Kamu lagi apa?"

"Lagi istirahat Mas, kebetulan Ibu sudah tidur."

"Mau Mas temenin?"

"Boleh."

Tut tut tut. Bulan melihat panggilan masuk dari Mas Arkan.

"Ih apaan sih nih orang, demen banget ngeganggu."

"Hah, siapa Lan?"

"Ini Mas Arkan, lagi coba telfon terus, tau deh apa maunya, suka kesel, udah di tolak juga, terus aja ngejar, dia nggak mikir apa, hubungan dia sama Sarah aja belum selesai, tapi selalu maksa buat balikan, saya tuh nggak mau jadi yang kedua." Bulan malah ngedumel soal Arkan.

"Kalau sama Mas, kamu mau nggak jadi yang kedua?"

Bulan tergelak, "Bukannya Mas jomblo yah?" kok jadi yang kedua?"

"Jadi yang kedua, menjadi nomer urut dua di kartu keluarga kita nanti," ucap Bintang sambil terkekeh. Andai Mamih Bela lihat, tuh Mih, Bintang udah berusaha nih.

"Hahaha" Bulan malah tertawa. Tapi hatinya deg-degan. Siapa sih yang nggak deg-degan digombali sama cowok seganteng dan sebaik Bintang Al Arav.

"Udah ih Mas, jadi geer nih, jangan kebablasan."

"Kalau kebablasan saya akan tanggung jawab,"Ledek Bintang. Susah yah ngobrol sama bujang lapuk yang tiba-tiba pengen ngebet nikah, pasti otaknya nggak pernah diam ditempat.

"Ih Mas Ih."

Bintang tersenyum, Bintang sedang membayangkan wajah ayu Bulan yang tengah malu-malu sambil memandang purnama yang di kelilingi bintang-bintang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

( ea ea ea yang baca pasti sambil cengar-cengir nih🤭😆😆, jangan lupa, like, komen dan vote yah)

Salam sayang,

Santypuji

Terpopuler

Comments

Raditya Permana.P

Raditya Permana.P

gombal gambil gundul bintang tu jadi ngakak 🤣🤣🤣🤣

2023-01-18

0

Moch Fharied Pratama Ashar

Moch Fharied Pratama Ashar

bukan cengar cengir lagi aku thor tapi betul2 ngakak😆😆

2022-12-15

0

Bunga Tanjung

Bunga Tanjung

tengah malem ngakak

2022-07-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!