"Mau kemana?"
Bulan menunjuk ke arah Bu Laras.
"Mau apa?"
"Mau ngelabrak."
"Jangan Bulan." Riko mencekal tangan Bulan. Bulan berontak.
"Bulan, Bulan, kalau masih berontak aku peluk nih." Bulan melotot ke arah Riko, Bulan langsung pergi keluar dari restoran, Riko segera mengejarnya.
"Bulan, dengerin aku dulu."
Bulan menghentikan langkahnya, ia begitu kesal dengan Riko. Padahal ini kesempatan Bulan untuk menjabak dan mengoyakkan kepala si pelakor itu. Kapan lagi coba kalau tidak sekarang.
"Kamu tuh gak tau perasaan ku Rik."
"Aku tau perasaan kamu, tapi dengan kamu bersikap kasar sama dia, nanti yang ada ayah kamu malah semakin jauh dari kamu, pasti nanti dia ngadu ke ayah kamu yang aneh-aneh, Bulan kita bisa pakai cara halus, jangan seperti ini."
Bulan terdiam, setelah mencerna ucapan Riko, ternyata ada benarnya juga, lebih baik Bulan menyelidiki terlebih dahulu siapa laki-laki yang bersama Ibu tirinya itu. Sebelum kembali ke cafe, Riko mengajak Bulan untuk menjenguk Ibu Bulan ke rumah sakit terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah sakit, Bulan dan Riko langsung berjalan ke kamar rawat inap Bu Widya. Bulan sangat senang, ternyata di dalam sudah ada tante Bela yang tengah mengobrol dan menyuapi Ibu Buah.
"Assalamualaikum Ibu, Tante."
"Waalaikumsallam," jawab Tante Bela.
Riko dan Bulan menghampiri Ibu, Ibu tersenyum pada Riko. Riko mencium tangan Bu Widya juga Tante Bela.
"Ibu, ini Bos Bulan di Cafe, namanya Riko, Riko mau jenguk Ibu."
"Ya elah, saingan Bintang oke juga ini, jangan sampai putra ku jadi jomblo akut Gusti,"ucal Tante Bela dalam hati sambil sesekali melirik Riko yang ganteng dan fresh.
"Asih Ko,"ucap Bu Widya.
"Kata Ibu makasih Rik."
"Oh ya sama-sama Ibu, cepet sembuh ya."
Bulan mempersilahkan Riko duduk di sofa. Mereka berdua lalu mengobrol tentang sakit Ibu.
...***...
Bintang dan Kuncoro sedang sibuk bekerja hari ini. Banyak sekali pekerjaan menumpuk akhir-akhir ini. Bahkan hingga mereka melewatkan jam istirahat siang ini, Kuncoro dan Bintang memesan makan siang lewat Grapfood.
Seseorang mengetuk pintu kantor Bintang, Bintang kira Office Boy yang mengantarkan makanannya, tapi dugaan Bintang salah, seseorang dari masalalu nya datang diwaktu yang tidak terduga, setelah sekian purnama, mantan pacarnya kini muncul kembali.
"Siang."
Kuncoro melongo, melihat Sintia mantan pacar Bintang yang dulu meninggalkan Bintang demi mendapatkan pengusaha yang lebih kaya dari Bintang.
"Masuk." Bintang berusaha sebiasa mungkin, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Walaupun sebelumnya ada ikatan cinta dan ikatan pekerjaan diantara keduanya. Sintia pernah menjadi sekertaris pribadi Bintang, sebelum ia berhianat dan memutuskan untuk menikah dengan selingkuhannya.
"Astajim, ada hantu di siang bolong," Celetuk Koncoro. Bodo amat mau tersinggung juga, Kuncoro merasa geram dengan Sintia, kenapa betina satu ini tidak memiliki rasa malu sama sekali setelah sekian tahun menghilang, meninggalkan luka pada sepupunya sekarang muncul kembali.
"Ehm, Bintang, aku mau bicara, tapi berdua." Sintia melirik Kuncoro.
"Yey ngusir akika? ngebrel ya ngebrel aje, ngapa mesti akika harus go out, heh, yey istri orang, berduaan sama bujangan nanti ada setan lewat bahaya, kesurupan yey, pernah gak kesurupan? gak pernah ya, ya lah, kan yey setannya." Kuncoro terus saja meluapkan kekesalannnya di depan Sintia.
"Kuncoro." Bintang melirik Kuncoro. Kuncoro terdiam, ia kembali mengerjakan pekerjaannya tapi ia benar-benar tidak mau keluar dari ruangan Bintang.
"Ada apa? bicara saja, Kuncoro itu asisten sekaligus keluarga aku." Bintang sama sekali tidak menatap Sintia saat berbicara, ia berbicara sambil mengetik.
"Carikan aku pengacara terbaik untuk mengurus perceriaan aku dengan Mas Doni."
Seketika Bintang dan Kuncoro melirik ke arah Sintia.
"Yey ini kesini mau dicariin pengacara apa mau bikin pengumuman kalau sebentar lagi Yey jadi jendes, ribet banget sih pake kode segala, mau cari pengacara hebat, di google banyak, tinggal yey ketik tuh pengacara terbaik di Indonesia, ada bang Hotman, ada bang Ipul ada bang Asep ." Kuncoro tersenyum sinis ke arah Sintia.
Sintia begitu sebal dengan Kuncoro. Tambah sebal lagi saat Bintang juga ikut diam tidak membelanya ataupun menjawab pertanyaannya.
"Nomor ponsel aku masih yang dulu, kayaknya hari ini kamu sibuk banget, maaf ganggu." Sintia langsung beranjak pergi dari ruangan Bintang.
Bintang menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia lalu memijat pelipisnya. Sudah 3 tahun Sintia pergi dari hidupnya, disaat Bintang sudah Move on, Sintia malah akan menjanda.
"Enak banget yah dese, datang dan pergi sesuka hati, noh tukang roti anget dua ribuan juga bisa begitu, awas Bos, dese cuma modus, jangan sampai yey terperangkap lagi." Kuncoro menghampiri Bintang, mengambilkan minuman dingin dikulkas lalu memberikannya pada Bintang, Kuncoro tahu pasti hati Bintang sedang haredang.
"Tapi aku sedikit kasihan, bagaimana nanti anaknya, anaknya masih kecil, tapi sudah broken home."
"Heh Bos, akika kepret juga ya yey, segala mikirin anaknya segala. Dese aja biasa aja, yey malah mikirin anaknya, emang yey ikut nyumbang bikin kuping anaknya."
Bintang meneguk minumam yang Kuncoro berikan. Kenapa malah jadi Kuncoro yang marah-marah sih yah. Ya karena Kuncoro tahu betul sefrustasi apa dulu seorang Bintang yang di tinggal nikah sama pacarnya dan akhirnya hingga kini dirinya masih membujang.
"Kalau yey berani balik lagi sama tuh hantu, akika mau tobat jadi Manly, biar akika aja yang deketin tuh si Bul Bul."
Bintang langsung melirik Kuncoro lalu memukul kepala kuncoro dengan pulpen.
"Jangan sembarangan."
"Yey yang jangan sembarangan Bos, fokus sama target Bos, jangan urusin tuh benalu, pokoknya kalau sampai Yey macem-macem, akika yang maju nanti, akika kan lumayan ganteng juga bos." Kuncoro malah tergelak.
"Jangan sampai yey jadi tawanan masalalu Bos." Kuncoro kembali ke meja kerjanya. Kuncoro berharap Bos nya memikirkan baik-baik agar jangan sampai kembali lagi pada masalalunya yang menyakitkan.
Bintang memejamkan matanya, ia tidak ingin lagi memikirkan masalalu, karena memikirkan masalalu hanya akan membutakan masa depannya. Jangan sampai si Kuncoro ini benar-benar berubah menjadi Manly dan mengejar Bulan.
Bintang tahu bahwa masa lalu itu sudah tak berlaku. Segala yang hadir dalam ingatan bukan lagi apa yang sedang terjadi, tetapi apa yang sudah terjadi dan berlalu. Karena itulah, mengingat Sintia, seperti membasuh luka lama yang membuat Bintang semakin terluka. Segala hal tentang aku dan kamu memang sudah tak ada lagi di realita.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( Jangan lupa, like, komen dan Vote, Vote nya di rang 22, kok setiap pagi author liat, klo pagi pasti rang turun, dapet serangan fajar apa gimana inih, setiap pagi turun, udah kaya kolore bapake😆 kolor mulu thor😆 ya kan laki pakai kolor, ilok pake daster.)
Di tunggu komentar 150 pcs nya😆😆😆
Salam sayang,
Santypuji
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Maryana Fiqa
aku gak bisa komen apa2 lg lihat mulut si konita keluar semburan api🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-10-22
1
Atik Supriyati
hehehehehe ternyata roti anget dua ribuan bukan cuma dikampungku aja ya....
2022-12-24
1
Pa'tam
yang lalu biarlah berlalu tak akan kembali ke masa depan. fokus kan diri demi masa depan karena kita hidup bukan untuk masa lalu. apalagi sama orang yang pernah menorehkan luka.
2022-06-09
0