Bab 19 : Puisi Ghandi

"Aku minta maaf" Ghandi menangis memeluk ku, aku merasakan betapa hancur nya hati ku.

Aku membuka mata ku. Mimpi itu terasa nyata, Ghandi datangan dengan permintaan maaf nya, penuh sesal di wajah Ghandi, aku bisa merasakan bagaimana sakitnya, tapi aku tidak tahu apa itu.

Jam 3 pagi, aku tidak bisa tertidur lagi, ku putuskan untuk melihat kembali puisi Ghandi.

Ada satu puisi yang membuat ku melupakan rasa sakit dari mimpi ku.

***Puisi Ghandi***

 Judul : Aku Meminta

Aku meminta bintang untuk terus bersinar

Agar sinarnya melindungi tidur mu

Aku meminta hujan untuk tak berhenti

Agar suaranya menenangkan lamunan mu

Aku meminta angin tetap sepoi-sepoi

Agar sejuknya menyegarkan dahaga mu

Aku meminta petir tak datang

Agar teriakannya tidak menakutkan mu

Aku meminta kepada tuhan selalu hadir dalam mimpimu

Agar kehadiran ku dapat menghibur sepi mu

***-----***

Puisi ini sangat indah, tetapi kenapa tadi kamu hadir tidak menghibur ku Ghandi. Apa yang harus aku maaf kan ? salah apa kamu pada ku ? atau aku yang salah pada mu Ghandi ?.

Ghandi sangat berbakat menulis puisi, kalau dia kirimkan ke penerbit, tidak akan ada satupun penerbit yang akan menolaknya.

Aku melihat lagi puisi Ghandi, disitu ada sebuah puisi dengan judul nama ku.

***Puisi Ghandi***

Judul : Selena

Mawar itu tak akan berani bersaing dengan mu

Wahai pujaan hatiku

Mawar itu penuh duri tidak selembut kamu

Wahai pujaan hatiku

Burung-burung itu bernyanyi hanya untuk mu

Cantikku

Burung-burung itu bernyanyi untuk menghibur mu

Cantikku

Aku terpesona bukan hanya hari ini

Pesona mu terus mengikuti ku

Aku terpesona bukan hanya karena cantikmu

Pesona mu adalah segala bagian dirimu

Aku jatuh cinta saat pertama

Bahkan waktu tak pernah melunturkan nya

Aku jatuh cinta setiap harinya

Bahkan waktu tak bisa mencegahnya

Dia Selena,

Wanita cantik yang selalu ingin ku ketahui kabarnya

***

Gombal, Ghandi ku benar-benar pandai bermain kata. Bagaimana aku tidak jatuh cinta padanya jika dia terus merayu ku dengan puisi-puisinya. Aku ingin mendengar mu membacakan nya untuk ku, aku rasa aku akan lebih bahagia. Tetapi aku sadar sekarang itu tak mungkin lagi.

Puisi-puisi Ghandi benar penuh rayuan. Aku selalu tersenyum ketika membaca puisinya. Bukan hanya romantis, tetapi dia juga lucu. Terkadang puisinya menggunakan kata-kata yang sangat lucu.

***Puisi Ghandi***

Judul : Kodok

Ingat kah kamu pada hari itu

Kita melihat telur kodok itu

Kamu tersenyum cerah melihat nya

Seketika aku ingin menjadi telur kodok

Ingatkah kamu pada baju bergambar kodok itu

Kita melihat di pasar malam

Kamu dengan sigap membelinya

Seketika aku ingin menjadi baju bergambar kodok itu

Ingatkah kamu pada berudu kodok itu

Kita melihat dia berenang dengan asiknya

Kamu berharap dia akan manjadi kodok besar

Seketika aku ingin menjadi berudu kodok itu

Jika kamu suka kodok

Aku akan menjadi kodok

Karena aku hanya ingin menjadi yang kamu suka

Meskipun hanya sebagai kodok

***

Aku tertawa melihat puisi kodok ini, secara tidak langsung Ghandi telah bercerita mengenai kenangan kami bersama kodok. Ternyata hal kecil seperti kodok saja mampu membuat kami bahagia. Aku ingin mengenang mu, aku ingin tahu bagaimana kita berdua bisa melihat telur kodok, apakah kita ke selokan? Aku penasaran.

"Maaf" tiba-tiba suara Ghandi terdengar lagi disaat aku sedang tertawa membaca puisinya.

Wajah Ghandi di mimpiku tadi terputar kembali, aku menangis mengingat mimpi ku. Aku tidak tahan menahan rasa sakit yang di berikan oleh mimpi itu.

Ghandi, apa kamu akan membenci ku jika aku tak akan pernah mengingat kamu ?.

***

"Kak, kenapa matanya bengkak? kakak begadang lagi?" tanya Kayla penasaran. Untung saja mama berangkat pagi sekali, sehingga aku tidak bertemu mama, kalau tidak mama akan curiga dan bisa-bisa aku tidak di perbolehkan keluar rumah.

"Kemarin kakak gak bisa tidur" kata ku.

"Kenapa?" tanya Kayla.

"Kakak mimpi Ghandi Kay" kata ku.

"Mimpi apa kak?" Kayla terlihat sangat penasaran.

"Dia datang minta maaf dan memeluk kakak" kata ku sedih mengingat mimpi kemarin malam.

"Udah gak usah di pikirkan terus, itu cuma mimpi kak" kata Kayla menepuk pundak ku.

"Ia, Kay" kata ku tersenyum melihat Kayla.

"Jadi, kakak gimana sama mas Damar?" Senjata Kayla jika ingin menggoda ku selalu saja Damar.

"Kamu sesuka itu sama Damar?" tanya ku.

"Ia, dia perfect banget" kata Kayal tersenyum centil kearah ku.

"Kalau gitu, kamu saja yang sama Damar" kata ku yang mencoba menggoda Kayla.

"Maunya sih gitu kak, tapi mas Damarnya maunya sama kakak" kata Kayla yang kembali menggoda ku.

"Kakak, maunya sama Ghandi" kata ku.

"Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah kita menjadi milik kita lagi" kata Kayla menatap ku dengan serius.

"Kamu kok jadi dewasa gini sih Kay" kata ku.

"Kak, sesuatu yang memang ditakdirkan untuk kita bagaimanapun jalannya dia akan datang kepada kita, dan sesuatu yang ditakdirkan bukan untuk kita sedekat apapun itu, tidak akan pernah menjadi milik kita" Kayla sangat serius pada perkataan nya. Aku menatap Kayla sambil menahan air mata ku.

"Kakak sudah punya komitmen" kata ku.

"Komitmen apa?" tanya Kayla.

"Jika kakak sudah menyelesaikan bertemu dengan daftar teman kakak, dan sampai pada saat itu kakak tidak bisa mengembalikan ingatan kakak.... Hiks hiks" aku mulai menangis. Kayla kemudian memeluk ku membiarkan ku menangis sampai aku bisa melanjutkan perkataan ku.

"Jadi" tanya Kayla.

"Kakak akan menyerah dan memulai hidup baru tanpa harus mengingat masa lalu kakak" kata ku.

"Jika itu yang terbaik untuk kakak, Kayla mendukung" kata Kayla tersenyum pada ku.

"Terimakasih Kay" kata ku.

Meskipun Kayla sama dengan yang lainnya yang tidak pernah tuntas memberitahu ku, tetapi aku tetap bersyukur memilikinya.

"Kring, Kring" suara handphone ku berbunyi, aku melihat nomor yang tidak aku kenal.

"Halo" kata ku.

"Halo Selena" kata penelpon yang suaranya terdengar tidak asing bagiku.

"Ia, ini siapa ?" tanya ku penasaran.

"Ini mama Ghandi" aku terkejut mendengar mama Ghandi menghubungi ku.

"Ia tante, apa kabar ?" tanya ku.

"Baik, kamu apa kabar?"tanya mama Ghandi.

"Baik tante" jawab ku.

"Besok kamu bisa kerumah tante?" tanya mama Ghandi.

"Bisa tante" kebetulan besok hari libur, aku bisa mengajak Kayla menemaniku pergi kerumah Ghandi.

"Tante tunggu ya besok" kata mama Ghandi.

"Ia tante" kata ku.

Kayla melihat ku dengan wajah penasaran. Aku bahkan lebih penasaran alasan mama Ghandi memintaku untuk kerumahnya besok. Apa ada sesuatu pikirku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!