Tepat jam delapan malam aku duduk di balkon lantai dua rumah ku sambil membuka laptop dan membawa sebuah buku catatan dan satu buah pena. Aku sedang melaksanakan kebiasaanku yang dicatat oleh Damar, setiap jam delapan malam aku akan menyendiri di balkon ini sembari menulis di laptop atau di buku catatan tanpa ada satupun orang yang menemaniku, durasinya paling cepat tiga puluh menit. Aku belum tau akan menulis apa, di balkon ini aku hanya melamun, meraba bagaimana diriku yang dulu dan tanpa tersadar aku terlalu masuk dalam lamunan ku.
Dalam lamunanku aku melihat seorang laki-laki yang memiliki senyuman manis, tidak setinggi Damar, tapi dia tetap sangat indah di pandanganku. Laki-laki itu awalnya tersenyum menatap ku, tetapi senyuman itu berubah menjadi amarah, kemudian berubah menjadi kesedihan, melihatnya membuatku merasakan perasaan perih dan rasa yang sangat bersalah dan ketika dia datang ingin memegang tanganku, aku tersadar dari lamunanku, air mataku sudah mengalir di pipiku, dan ada perasaan sangat menyesakkan. Kemudian aku tulis di buku catatan ku bagaimana rupa laki-laki itu, meskipun terasa menyakitkan mengingat laki-laki itu tetapi aku puas karena ini salah satu cara tuhan untuk memberikan ingatan ku kembali meskipun dalam potongan yang sangat kecil.
***
Semenjak tiga hari ini aku hanya memikirkan laki-laki itu, aku pun belum menceritakan apapun kepada Damar maupun Kayla mengenai kemajuan ku, aku masih berharap ingatan ku menunjukkan laki-laki itu kepadaku lagi tetapi sampai sekarang belum ada hasilnya, aku pun masih berkutat dengan mengerjakan kebiasaan ku yang dulu.
Aku ingin jujur dengan mereka, kebiasaan ini sungguh membuatku sangat lelah, aku pun tidak menikmatinya, kecuali satu hal yaitu membaca puisi di jam dua pagi, bukan karena membaca puisinya tetapi entah kenapa aku selalu semangat bangun di jam itu, meskipun pendengarku hanya Damar seorang, tapi kini suara Damar terdengar lebih indah ketika kami mengobrol via telfon jam dua pagi.
“Melamun aja” kata Kayla yang ternyata sudah berada tepat di depan ku.
“Enggak kok, cuma berpikir” kata ku tersenyum.
“Kok senyum-senyum sih, mikirin mas Damar yah, kan sekarang udah sering ngomong di sepertiga malam” Kayla menggodaku. Aku tidak membantah ucapannya itu, karena jika aku bantah Kayla tetap memiliki banyak cara menggodaku tentang aku dan Damar.
“Apaan sih, ngomong-ngomong mbok Ros kemana Kay?” Sejak tadi pagi aku tidak melihat mbok Ros, meskipun begitu rumah sudah sangat bersih dan rapi.
“Pulang kampung ke Blitar, katanya ada saudaranya yang nikah, dan mungkin pulangnya akan sama mama sampai mama selesai ngurus bisnisnya di Blitar, kemungkinan tiga hari lagi” kata Kayla dengan wajah cemberut.
“Kamu kok cemberut gitu” aku tahu selama mbok Ros dan mama gak ada kami berdua yang akan membereskan rumah, masak dan pekerjaan rumah tangga lainnya.
“Kita bagi tugas, kakak yang masak dan aku yang beresin rumah” Kayla mengacungkan jempolnya kepadaku.
“Baiklah” kataku sembari tersenyum kecut kepada Kayla.
“Oh ya kemarin kakak bilang setelah tiga hari kakak fokus ngerjain daftar kebiasaan itu, kemudian kita merencanakan hal lain dan ini udah sepuluh hari kak” Kala menyipitkan matanya ke arahku.
“Maunya gitu, tapi Damar lagi pergi ke Bukit Tinggi mau ngurus sawah keluarganya, besok baru pulang katanya, dasar yah si Damar si tukang pamer” kataku.
“Tipe calon istri yang begini gak bersyukur, kalau calon suaminya kerja kan untuk masa depan mereka berdua, bersyukur lah punya calon suami yang seiman, tampan, mapan, rupawan, menawan, cendikiawan, dermawan, dan katanya juga keturunan dari bangsawan” Kayla tidak ada habisnya menggodaku.
“Kay, bercandanya kelewatan yah, di hati kakak hanya ada….” kalimatku terhenti, laki-laki itu datang lagi dihadapan ku, membawa setangkai bunga mawar merah dengan wajahnya yang sedih, rasanya aku ingin sekali memeluknya, tetapi kemudian dia pergi dan semakin jauh, aku pun tersadar dan melihat Kayla yang melambaikan tangannya didepan wajahku.
“Bisa-bisanya kakak melamun, mas Damar yah?” Kayla menggodaku lagi. Kali ini aku tak bisa menanggapi bercandaannya, aku segera pergi ke kamarku tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Kayla.
Aku ingin menangis, terlalu sakit ketika melihat laki-laki itu, apakah dia Ghandi, tapi kata mereka aku suka mawar putih bukan merah, kenapa dia memberikan mawar merah kepadaku. Aku gak mau Kayla terkejut melihatku menangis, aku mengunci pintu kamarku.
***
“Kamu yakin dia yang pertama?” tanya Damar padaku.
“Yakin Dam, seharusnya dari awal ini yang aku lakukan” kataku melihat Damar yang sedang menyetir dengan fokus.
Kami berhenti di sebuah rumah yang sederhana, tapi rumah itu bersih dan rapi, begitu banyak tanaman yang tersusun rapi di teras rumah, rumah ini seperti tidak asing bagiku, aroma tanaman dan rumah ini sangat menenangkanku.
“Assalamualaikum” Damar mengetuk pintu rumah itu.
“Walaikumsalam” jawab seorang perempuan dari dalam rumah.
“Damar” perempuan paruh baya itu memeluk Damar dan menangis, begitu juga Damar yang membalas pelukan dengan haru. Perempuan itu melihatku dengan wajah terkejut, dia melepaskan pelukan Damar, kemudian mendekat ke arahku, memegang wajahku dengan kedua tangannya dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, kemudian dia memelukku dengan erat. Aku bisa merasakan kehangatan, kenyamanan dan kerinduan dari pelukannya.
“Maaf” satu kata yang begitu saja terucap dari mulutku, bahkan air mataku juga ikut mengalir membasahi pakaian perempuan itu.
“Semua sudah terjadi Selena” perempuan itu melepaskan pelukannya dari ku, menyeka air matanya dan juga menyeka air mataku. Perempuan itu menyuruhku masuk kedalam rumahnya.
Kulihat foto yang terpajang di dinding dan air mataku mengalir lagi, itu foto laki-laki yang memberikan mawar merah kepadaku, laki-laki yang membangkitkan rasa bersalah ku dan menyesakkan dadaku.
“Ghandi” sontak saja mulutku menyebut nama Ghandi. Aku sudah menduga ketika dia datang pertama kali dalam benak ku, bahwa dia Ghandi ku, tapi perasaan ini ingin mengingkarinya, karena yang ingin ku ingat tentang Ghandi ku adalah bahagia, bukan menyakitkan tetapi belum pernah kurasakan rasa bahagia itu ketika memikirkannya.
“Hai” Damar melambaikan tangannya ke arah foto Ghandi dan melihatku dengan tersenyum, aku tahu Damar ingin memberikan kekuatan kepadaku agar aku tetap kuat.
“Duduk dulu, tante mau kebelakang dulu” kata perempuan itu. Aku dan Damar masih berdiri melihat begitu banyak foto di ruang tamu ini, foto Ghandi sendiri, foto Ghandi dengan keluarganya dan ada dua foto yang membuatku dan Damar terus memandanginya pertama foto kami bertiga, kami bertiga berfoto di depan sebuah toko buku yang sama persis dengan toko buku punya Damar yang pernah aku datangi.
“Kita sering kesini Dam?” tanyaku.
“Setidaknya seminggu sekali kita kesana” kata Damar.
“Beli buku?” tanyaku.
“Enggak, cuma sekedar alibi kami berdua agar bisa main PS sehabis pulang sekolah dan kamu menjadi tameng kami, kebetulan kamu suka buku jadi gampang membuat kamu menunggu kami dan kebetulan dulu toko buku ini punya orang tua Ghandi” kata Damar.
“Kenapa sekarang jadi punya kamu” tanyaku.
“Biarkan orang yang tepat yang menjelaskannya” kata Damar.
“Ghandi? Dam, gak usah bercanda deh” kata ku sambil memukul pelan lengan Damar.
“Bukan Ghandi, tapi mama Ghandi, yang memeluk aku dan kamu tadi” kata Damar.
Aku tau bahwa perempuan itu mama Ghandi, dari cara dia memperlakukan aku dan Damar tadi aku yakin dia merasakan sosok Ghandi pada kami berdua, meskipun sosok Ghandi yang tertinggal hanya dalam bentuk kenangan yang selalu kami bawa dan kenangan itu masih belum kutemui kuncinya.
“Ternyata bukan aku saja yang ngasih kamu mawar merah” Damar melihat foto satu lagi. Foto aku dan Ghandi yang sedang duduk di koridor rumah sakit, dimana aku dan Ghandi kami sama-sama memakai pakaian pasien, aku memegang setangkai bunga mawar merah dan kami tersenyum menatap kamera.
“Masih belum duduk” mama Ghandi telah datang membawa minuman dan kue untuk kami.
“Makasih tante, kayaknya kurang banyak ni tante” Damar membuat hangat ruangan ini, mama Ghandi tertawa mendengar Damar, tawanya persis dengan salah satu foto Ghandi yang juga sedang tertawa. Jika Ghandi masih disini, aku yakin tertawanya pasti seindah mamanya.
“Selena, kamu apa kabar?” tanya mama Ghandi.
“Baik tante, tapi aku minta maaf karena aku belum ingat apapun” kataku yang hampir menangis lagi.
“Bisa lihat kamu aja tante itu sudah cukup bagi tante” kata mama Ghandi mengelus pundakku.
“Tante, boleh Selena bertanya tentang Ghandi?” tanya ku. Mama Ghandi menatapku dalam, aku takut dia akan menutup mulutnya juga seperti mama. Sedangkan kisah ku dan Ghandi yang di ingatan Damar tidak bisa membawaku membuka kenangan kami.
“Tapi, kalau tante gak mau, kami gak akan memaksa, kami tidak ingin membuka luka tante” kata Damar. Aku memang takut mama Ghandi akan diam, tapi perkataan Damar itu benar luka yang mungkin tak akan pernah bisa disembuhkan, luka seorang ibu yang kehilangan anaknya.
“Tante bersedia, karena tante menunggu kamu untuk bersama mengenang Ghandi” kata mama Ghandi yang mengelus pundakku.
“Makasih tante” kataku.
“Dulu, saat Ghandi lima tahun kami pindah kesamping rumah kamu, Ghandi itu anaknya supel, sangat pintar mendekati hati orang, dan dia mudah mendapatkan teman, salah satunya Damar” mama Ghandi tersenyum kearah Damar.
“Aku kan anaknya ramah tante” Damar tersenyum.
“Kamu itu kalau kata anak sekarang cool, tapi aslinya sangat ramah” mama Ghandi tersenyum lagi melihat Damar.
“Betul itu tante” Damar mengacungkan dua jempol kearah mama Ghandi.
“Semingu setelah pindah rumah tante baru mengunjungi rumah kamu, soalnya kamu sekeluarga sedang pergi keluar kota. Pertama kami kesana tante dan Ghandi melihat kamu yang pemalu, tapi cantik sekali setelah itu setiap hari Ghandi merengek sama tante agar dia dianterin kerumah kamu, setiap pulang tk katanya ingin melihat Malaikat cantik, anak itu sudah dari kecil jago banget merayunya” mama Ghandi terlihat sangat bahagia menceritakan tentang Ghandi.
“Aku tebak kenapa Selena akhirnya mau sama Ghandi karena pasti di rayu terus selama seminggu, soalnya aku yang dari lahir ketemuan dia aja gak bisa jadi teman dia kalau bukan Ghandi ketika SMA yang bantuin” kata Damar yang sudah mulai menggodaku.
“Kamu salah Damar, bukan seminggu tapi sebulan, setiap hari Ghandi berpuisi, kadang dia pakai kostum dan akhirnya Selena nya luluh juga, dan jadi gak bisa lepas dari Ghandi terus kemana-mana sama Ghandi, maunya satu sekolah, satu kelas, kemana-mana selalu berdua, kalau gak gitu Selena gak akan mau sekolah” kata mama Ghandi.
“Apa Ghandi pernah bilang kalau dia risih aku ikutin terus tante?” tanyaku penasaran. Karena setiap pembicaraan mengenai masa lalu, pasti selalu aku yang tidak bisa lepas dari Ghandi dan aku penasaran bagaimana perasaan Ghandi apakah dia risih selalu aku ikuti.
“Enggak sama sekali, dia sayang banget sama kamu, dan dia ingin selalu menjaga kamu, salah satu impian dia kan menikah dengan kamu” mata mama Ghandi mulai berkaca-kaca lagi. Aku mengelus pundaknya agar mama Ghandi bisa lebih kuat.
“Tante kenapa pindah dari rumah yang dulu” tanya Damar penasaran.
“Lima tahun lalu, papa Ghandi sakit kanker paru-paru dan meninggal, selain itu kami di tipu sama rekan bisnis kami dan akhirnya seluruh aset kami hilang semua kecuali rumah dan toko buku yang sekarang sudah punya kamu Damar, akhirnya kami memutuskan untuk menjual rumah dan Ghandi memutus untuk berhenti dari kuliahnya, dan akhirnya dia yang bekerja menjadi tulang punggung keluarga kami” kata mama Ghandi.
“Tante, Selena turut berduka, jadi apa selama kami berpisah, aku dan Ghandi pernah bertengkar tante?” tanyaku penasaran.
“Kalian berdua memang jadi jarang ketemu, tapi Ghandi tidak pernah lupa dengan kamu, setidaknya sekali seminggu jumpa sama kamu dan kamu pun pernah diajak kesini, dan juga…..” mama Ghandi menghentikan kalimatnya, dia kemudian melihat foto ku berdua dengan Ghandi yang memakai baju pasien rumah sakit dan membawa mawar merah.
“Itu aku dan Ghandi kenapa yah tante dirumah sakit?” tanyaku penasaran.
“Assalamualaikum” seorang anak laki-laki yang mungkin seumur Kayla masuk. Wajahnya terlihat mirip dengan Ghandi tapi tidak sama persis, meskipun begitu kalau orang yang mengenal Ghandi pasti tau bahwa dia adik Ghandi.
“Banu, udah besar aja” Damar kaget melihat anak laki-laki itu.
“Ia, mas Damar” katanya sambil mencium tangan Damar. Anak ini terlihat sangat sopan tidak seperti Kayla yang sangat sulit untuk di tebak.
“Kak Selena apa kabar?” tanyanya padaku. Dia mencium tanganku.
“Ma, Kata buk siti jangan lupa hari ini bantuin dia masak” Banu mencium tangan mama Ghandi.
“Tante kami pulang dulu aja, besok kami kesini lagi tante” Damar yang mengerti situasi mama Ghandi dan menatap ku sebagai isyarat bahwa hari ini telah habis, meskipun aku masih ingin mendengarnya karena terlalu singkat, tetapi aku pun juga harus mengerti.
“Sebenarnya tante sudah lama ingin jumpa sama kamu, oh ya kamu pas bangun koma langsung ke Indonesia?” tanya mama Ghandi.
“Maksudnya Indonesia?” setahu ku, aku dari koma sampai bangun berada di rumah sakit yang sama itu yang di ceritakan Kayla padaku.
“Mama kamu bilang kamu kan di bawa ke London, makanya tante gak bisa mengunjungi kamu” kata mama Ghandi. Aku terdiam dan bertatapan dengan Damar. Mama berbohong tentang keberadaan ku, apa lagi yang ingin mama sembunyikan dariku atau Kayla yang berbohong padaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments