"Mas Damar, kok makin ganteng dan menawan saja" Kayla memuji Damar dengan tingkahnya yang menggemaskan, dan Damar hanya tertawa kecil mendengar ucapan Kayla.
Menurut ku secara visual Damar memang mempesona, wajahnya yang tampan, pakaian kasual yang rapi, bersih dan pastinya dia sangat wangi. Aku bingung kenapa aku bisa berteman dengan manusia secara tampilan sesempurna ini, karena Damar benar-benar memiliki aura yang sangat kharismatik dan aku sangat yakin dia pasti sangat populer di lingkungan manapun yan dia masuki.
Melihat Damar dan Kayla yang asik berbicara membuatku merasa bahwa aku benar-benar menjadi orang asing tanpa sedikitpun mengetahui pembicaraan mereka tentang masa lalu, tetapi aku tetap senang mendengarkannya.
"Jadi kamu apa kabar ?" Damar bertanya kepadaku.
"Baik, kamu apa kabar?" tanyaku padanya yang terkesan basa-basi.
"Baik" jawab Damar singkat.
Kecanggungan antara aku dan Damar terasa sangat besar. Aku bingung untuk memulai percakapan dari mana, seketika pertanyaan yang sudah aku siapkan sejak pagi tadi hilang di kepalaku. Sedangkan dari raut wajah Damar terlihat bahwa dia memiliki segudang pertanyaan untuk ku, tapi entah kenapa mulut Damar seperti terkunci rapat.
"Aduh udah lama gak ketemu, terus cuma nanya kabar doang, nanya yang lain dong" Kayla memecah kecanggungan ku dan Damar, dan seperti biasa Damar tetap merespon Kayla dengan tertawa kecil sembari mengelus kepala Kayla.
"Kalau Aku yang nanya, pastinya kakak kamu ini gak akan tau jawabannya" Kata Damar sembari tersenyum melihat ku.
"Baiklah Mas, Ayo kakak keluarkan semua pertanyaan yang sejak pagi sudah kakak rangkai untuk Mas Damar" Kayla menyikut lenganku sembari melotot kan matanya kepadaku.
Aku masih terdiam sejenak, dan kemudian aku beranjak dari ruang tamu menuju ke kamarku untuk mengambil buku hitam itu untuk aku tunjukkan ke Damar.
"Kita berteman?" tanyaku ke Damar dan kembali duduk di kursi ruang tamu.
Damar hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.
"Sepertinya situasi ini terlalu menegangkan, aku mau siap-siap dulu ke tempat yang lebih bersahabat, mau latihan piano dulu yahhh" Kayla kemudian pergi meninggalkan aku dan Damar yang kembali di keadaan yang canggung.
"Kalau menurut buku itu, kita berteman?" tanya Damar yang sembari menunjuk buku hitam yang aku pegang.
"Kamu tahu buku ini?" tanyaku penasaran.
"Tahu, aku yang menemani Ghandi pergi membeli buku itu buat kamu" kata Damar.
"Jadi, kamu selama ini kemana? kok gak pernah lihatin aku?" tanyaku pada Damar, karena tiga bulan ini tidak ada satupun teman yang hadir di hidupku, dan seharusnya jika nama-nama di dalam buku ini adalah temanku, pastinya mereka akan datang menemui ku, atau aku yang dulu saja yang menganggap mereka teman tetapi mereka tidak.
"Sebelum aku jawab, aku cuma mau memastikan satu hal, didalam buku tentang pertemanan itu aku benar masuk dari daftar teman atau cuma tetangga?" tanya Damar penasaran.
"Kamu bahkan tahu kalau buku ini adalah daftar temanku?" Damar sepertinya terlihat begitu mengenalku, bahkan dia tahu bahwa buku ini adalah buku daftar temanku, apakah aku dan damar benar-benar berteman.
"Kita dari kecil tetanggaan, begitupun Ghandi yang juga tetanggaan sama kamu dan aku, tetapi kita baru dekat pas masuk SMA karena aku satu kelas sama kamu, jadi aku yang gantiin tugas Ghandi jagain kamu di kelas, karena Ghandi beda kelas dengan kita" kata Damar terdengar meyakinkan.
"Jadi kamu kenapa gak lihatin aku selama ini?" tanyaku lagi.
"Hmmm, kitakan udah lama gak ketemu, dan sudah hampir 8 tahun kita gak jumpa" Damar terlihat serius menatapku, seakan dia ingin memberikan ingatannya kepadaku.
"One, twenty one gun.." handphone Damar berdering, Damar pergi ke teras untuk mengangkat telponnya.
Setelah bertemu Damar aku semakin penasaran tentang diriku, berharap Damar bisa membantuku.
"Kamu ingat twenty one gun, green day lagu favorit aku?" tanya Damar kepadaku.
Aku sedikit kesal dengan pertanyaannya, aku saja tidak mengingat sedikitpun tentang diriku, apalagi hal-hal yang tidak terlalu spesifik seperti itu. Aku hanya menatapnya dengan tatapan kesal, dan kemudian Damar hanya membalas dengan tertawa kecil.
"Aku senang kamu baik-baik saja, meskipun kamu gak ingat sedikitpun tentang aku, tapi itu tak apa yang penting kamu masih ada" Damar menunjukkan ekspresi sedih di wajahnya. Aku tahu bahwa Damar juga sangat terpukul tentang kepergian Ghandi, mereka sudah berteman sejak kecil, meskipun aku tak ingat yang mereka lalui tetapi aku paham perasaannya.
"Kak, Kayla pergi dulu yah mau latihan Piano, oh ya Mas Damar minggu depan aku ada pertunjukan loh, Mas Damar bisa kan nonton aku?" Kayla meletakkan kedua telapak tangannya ke pipinya untuk bergaya imut di depan Damar.
"Ia, Mas akan datang kok" Damar mengelus kepala Kayla, dan Kayla mencium pipi ku dan kemudian pergi dengan di antar oleh pak Rusdi supir kami.
"Jadi aku pergi dulu yah" kata Damar.
"Aku masih mau tau tentang aku yang kamu kenal" Aku masih ingin tetap ingin bersama Damar, masih banyak yang ingin aku tanyakan.
"Sebelum aku kesini, aku udah di telfon tante Sinta, katanya jangan terlalu memaksa kamu untuk mengingat semuanya, aku udah janji gak akan cerita banyak dulu, aku dan tante Sinta khawatir sama keadaan kamu, jadi aku mau kita perlahan aja, aku pun masih lama di sini, jadi kita masih punya banyak waktu" Damar menjelaskan dengan sangat lembut.
"Memang kamu mau kemana?" bertemu dengan Damar menambah teka-teki dalam hidupku. Aku ingin Damar menjelaskan semuanya hari ini, tetapi aku tetap tidak bisa memaksanya.
"Besok aku akan cerita tentang kamu yang aku kenal, oke" Damar mengelus kepala ku sama seperti dia mengelus kepala Kayla dan pastinya dengan senyumannya yang manis.
Damar pergi menuju mobil sedannya dan mengambil barang dari dalam mobilnya dan memberikannya ke aku. Sontak saja aku terkejut melihat laptop dan handphone yang di berikan Damar untuk aku.
"Ini buat aku ?" tanyaku penasaran.
"Ia, Kayla minta tolong sama aku sebelum kesini untuk membelikan laptop dan handphone untuk kamu, dan pastinya bukan pakai uang aku yah, ini pakai uang mama kamu, katanya Kayla sudah dengan berbagai cara meminta kamu di belikan laptop dan handphone katanya karena kamu ingin menjalani hidup yang baru" aku dan Damar tertawa bersama sembari saling bertatapan dan sekali lagi kecanggungan kami muncul kembali. Damar kemudian pergi meninggalkan rumah ku.
***
"Kay" aku membuka kamar Kayla. Melihat Kayla yang sedang asik didepan laptopnya.
"Eh kakak, aku tahu pasti mau bilang terima kasih yahhh Kayla cantik" Kayla memang manusia super paling tau apa yang di pikiranku.
"Iaaa, Terima kasih yah, kamu udah bantuin kakak sejauh ini" aku memeluk Kayla dari belakang.
"Baiklah malam ini biar kita lakukan yang seharusnya dari kemarin kita lakukan, buat akun social media kakak" Kayla bersemangat.
"Oke" kataku dengan semangat.
Malam ini aku dan Kayla sedang sibuk membuat akun social media untuk ku, dia juga mengajariku bagaimana menggunakan laptop dan handphone seperti anak kecil yang belum pernah mengetahui apapun, meskipun begitu aku hanya lupa ingatan tentang diriku tetapi tidak untuk kebiasannya lainnya seperti makan, minum, mandi ataupun menggunakan perangkat elektronik lainnya, tapi ya sudahlah namanya juga Kayla, aku hanya bisa menurut dan tidak ingin membuyarkan semangatnya untuk menjadi guruku.
"Ini aku udah save nomor Mas Damar kak" Kayla memperlihatkan nama Damar di kontak ku, menjadi Damar teman 1. Aku hanya tertawa melihat tingkah adikku itu.
"Jadi, kakak chat Damar sekarang ?" tanyaku pada Kayla ragu-ragu.
Kayla menyipitkan matanya kepadaku, Kayla kemudian mengambil handphoneku dan langsung menelpon Damar, dan itu membuatku terkejut tetapi aku menunggu apakah Damar mengangkatnya.
"Gak diangkat kak, mungkin Mas Damar lagi sibuk" kata Kayla. Aku sedikit merasa kecewa karena Damar tidak mengangkatnya.
"Ya udah kakak ke kamar kakak dulu yah, mau tidur, makasih adek ku yang cantik" aku mencubit pipi Kayla yang di respon dengan wajah manyun Kayla sembari memegang pipinya.
Aku berdiri di depan kamar Kayla dan menatap nama kontak Damar di handphone ku, berharap kalau Damar akan menghubungi kembali. Tapi ya sudahlah mungkin dia sibuk.
***
Sejak subuh aku masih menatap kontak Damar, memang aku belum ada menelfon lagi, atau pun mengirim pesan ke Damar, aku masih seperti harapan yang kemarin kalau Damar akan menghubungi ku kembali.
"Pagi" Kayla masuk sudah dengan baju seragam nya yang rapi.
"Pagi" jawab ku.
"Lesu amat, masih nungguin Mas Damar yah ?" Kayla menggoda ku.
"Hmmm ia, Damar kayak nya sibuk banget yah" kata ku dengan nada sedikit kecewa.
"Mas Ghandi masa lalu ku, dan Mas Damar masa depan ku" Kayla berbicara dengan gaya puitisnya dengan diiringi tawa.
Benar setelah bertemu Damar kemarin aku lupa akan Ghandi, kenapa aku bisa lupa salah satu alasan ku untu bertemu dengan Damar karena ingin mengingat Ghandi. Apakah aku sungguh pacar yang tidak baik. Maafkan aku Ghandi, aku yakin hati aku pasti masih untuk kamu, meskipun aku lupa bagaimana prosesnya tapi aku bisa merasakannya.
"Apa aku telfon balik yah?" tanya ku pada Kayla.
"Mending sarapan dulu" Kayla menarik tanganku pelan.
"Malas ahhhh" aku melepaskan tangan Kayla pelan.
"Mas Damar ada di bawah kak lagi sarapan sama mama, dari pada melihat kontaknya mending memandang wajah tampan Mas Damar kan" kata Kayla meyakinkan.
Aku pun mengangguk dan menuju ruang makan bersama Kayla. Benar Damar sepagi ini sudah datang kerumah ku, aku tidak tahu alasan dia kesini, tetapi melihat mama yang begitu dekat dengan Damar, aku bisa yakin bahwa kami memang berteman baik dulunya.
"Jadi Kayla minta Damar untuk nganterin dia hari ini ke sekolah, ada-ada aja kerjaan kamu Kay" kata mama sambil tersenyum.
"Kemarin aku udah chat Mas Damar, kalau ada nomor yang gak dikenal telfon jangan di telfon balik" Kayla tertawa sambil menatapku dan begitupun Damar yang tertawa menatapku. Aku yakin mereka sudah berencana bekerja sama untuk mengerjai ku, dan aku hanya mengawali sarapan pagi ini dengan cemberut.
"Kakak udah mandi kan?" kata Kayla.
"Belum" kataku yang terdengar ketus.
"Ketus amat, padahal mau ajak kakak ke sekolah aku loh, biar kakak gak bosan di rumah mulu" kata Kayla dengan wajah manyunnya.
Aku melihat ekspresi mama, aku berharap tidak ada penolakan atas perkataan Kayla dan sepertinya kehadiran Damar pagi ini membuat mama memiliki mood yang bagus, mama mengizinkan aku pergi dengan mengantar Kayla. Aku mandi seadanya dan siap-siap untuk pergi bersama Kayla dan Damar.
"Yuk aku udah siap" kata ku semangat.
Damar tersenyum melihat ku.
"Jadi apa kabar hari ini selena?" disetiap pertemuan Damar selalu bertanya kabarku.
"Baik" aku menjawab dengan senyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments