---***---Flashback ingatan Lita---***----
"Sekarang ada waktu?" tanya Lita pada Selena yang sedang fokus melihat Ghandi dari jauh yang sedang asik membaca buku.
"Sekarang ada waktu gak ?" suara Lita kemudian membesar, mengalihkan pandangan Selena.
"Kamu bicara dengan aku ?" tanya Selena lembut.
"Emang sama siapa lagi ?" Lita menyipitkan matanya. pada saat itu memang hanya ada Selena dan Lita.
"Kenapa ?" tanya Selena lembut.
"Gue butuh bantuan cowok lu" kata Lita sembari meletakkan tangannya ke pundak Selena. Selena hanya tersenyum tipis melihat Lita.
Lita kemudian menarik Selena kearah Ghandi, Lita menggandeng tangan Selena, sedangkan Selena hanya bisa mengikut alur Lita.
"Hey, gue mau pergi sama cewek lu, lu ikut gak ?" tanya Lita ketus pada Ghandi.
Ghandi kemudian melepaskan tangan Lita dari Selena.
"Kemana pun kamu pergi aku ikut" Ghandi melihat Selena.
"Uek" Lita mulai berpura-pura muntah melihat Ghandi yang terlalu manis kepada Selena.
"Makanya punya pacar" Ghandi tersenyum sinis kearah Lita.
"Kalau pacar gue kayak lu, udah gue bom rumahnya" kata Lita.
"Serem amat" kata Ghandi.
"Udah dong, jangan berantem" Selena menengahi adu mulut Ghandi dan Lita.
"Yuk, ikut mobil gue, kalau lu bawak kendaraan lain parki aja disini sampai besok" Lita kemudian menarik Selena.
"Eh tunggu dong" Ghandi ikut berjalan kearah mereka.
***
"Kita mau kemana sih ?" tanya Ghandi.
"Kerumah gue" jawab Lita ketus.
"Ngapain?" tanya Ghandi.
"Nanti lu bakalan tau kalau udah nyampe" kata Lita yang kemudian menutup matanya.
"Kamu tau kita mau ngapain? " Ghandi bertanya pada Selena. Selena hanya menggelengkan kepalanya.
Ghandi tidak suka dengan cara Lita yang tiba-tiba mengajak mereka pergi. Ghandi kemudian memberhentikan mobil ke tepi jalan.
"Eh kok berhenti, lanjut dong" Lita terdengar marah.
"Seharusnya gue yang marah, ngapain sih" Ghandi terdengar marah.
Lita hanya diam melihat Ghandi.
"Kalau lu gak bilang, gue sama Selena pergi" Ghandi. Mengancam.
"Oke gue bilang, tapi lu berdua harus bantuin gue" kata Lita masih dengan nada songongnya.
"Lu mau mintak tolong atau mau ngajak berantem sih" kata Ghandi.
"Please" Lita mengalihkan pandangannya kepada Selena.
Selena melihat Ghandi sembari tersenyum, seakan menyuruh Ghandi untuk ikut membantu Lita.
"Oke, jadi kita mau ngapain?" tanya Ghandi yang sudah tidak terdengar marah lagi.
"Gue mau ntar lu pura-pura jadi cowok gue di depan nenek gue" kata Lita yang sontak membuat Ghandi dan Selena terkejut.
"Untuk apa?" Selena mulai terlihat tidak nyaman dengan permintaan Lita.
"Please dong, kali ini aja, soalnya gue mau dijodohin sama nenek gue, gue gak mau, dan kandidat paling cocok untuk jadi pacar pura-pura gue yah cowok lu ini" kata Lita.
"Lu suka yah sama gue?" pertanyaan Ghandi di balas senyum sinis oleh Lita.
"Ghandi" Selena pun ikut terlihat tidak suka dengan pertanyaan Ghandi.
"Aku cuma sayang sama kamu, kalau dia suka sama aku wajar sayang" kata Ghandi mencoba mencairkan suasa hati Selena
"Idih, pede banget lu" kata Lita melihat Ghandi dengan tatapan jijik.
"Terus, dari jutaan cowok di kampus kenapa lu milih gue yang jelas-jelas lu tau kalau gue punya pacar, karena lu sepertinya tipe cewek yang keseringan baca novel mikir kalau ntar jika gue jadi pacar pura-pura lu, ntar lu bisa deketin gue terus gue bisa jadi pacar benaran lu, dan gue akan ninggalin cewek gue demi lu, gitu kan?" tanya Ghandi kembali.
"Kamu yang kebanyakan baca novel sayang" Selena tertawa melihat Ghandi dengan segala teorinya.
"Pertama lu udah punya pacar, kedua lu bukan tipe cowok gue, gue jijik sama cowok alay kayak lu, ketiga karena cuma lu berdua..." Lita kemudian berhenti berbicara.
"Berdua apa ? kok berhenti, kan kan kan..?" tanya Ghandi curiga.
"Terserah lu berdua mau mikir apa, sekarang lu berdua bantuin gue yah" Lita melihat kearah Selena dengan wajah memelas.
"Ia, aku bantuin kamu" kata Selena sembari tersenyum kepada Lita.
Ghandi kemudian menghidupkan mobil dan kembali menuju rumah Lita.
---***---
"Puisi ini kamu tulis nama kamu bukan nama aku ?" tanyaku pada Lita sembari mengembalikan lagi kertas puisi itu.
"Ia itu salah aku, aku berpura-pura menjadi kamu" kata Lita yang menatap kertas itu.
Senyuman Lita seketika hilang, wajahnya terlihat sedih aku tau dia mulai mengingat kenangan dulu.
"Aku gak marah kamu jatuh cinta sama Ghandi, berarti Ghandi itu sangat spesial" kata ku yang berusaha menghibur Lita.
"Terima kasih telah mau menjadi teman ku" Lita kemudiaan tersenyum kearah ku.
"Jadi apa yang buat kamu bisa jatuh cinta pada Ghandi ?" aku tidak sabar mendengar kelanjutan cerita kami, aku semakin ingin mengenal kembali Ghandi.
"kring, kring, kring" suara handphone ku bunyi, aku lihat Damar menelfon ku.
"Lita aku jawab telfon dulu yah" aku kemudian menjawab panggilan Damar.
"Hallo Dam, kenapa?" tanyaku.
"Coba kamu lihat keluar" kata Damar.
"Keluar dari mana?" tanyaku.
"Dari rumah Lita, aku di depan pagarnya, lagi ngobrol sama pak Umang" kata Damar. Aku menutup telfon ku.
"Lita, ada yang datang" kata ku.
"Siapa ?" tanya Lita penasaran.
"Damar" jawab ku.
"Damar teman SMA kamu?" Lita terlihat terkejut mendengar nama Damar.
"Kamu kenal Damar ? Bukannya Damar gak ada di Indonesia selama aku kuliah?" tanya ku penasaran.
"Ceritanya panjang, mending kita ke depan aja" Lita menarik ku dan kami kemudian pergi ke depan menemui Damar.
"Dam" panggil ku.
"Yuk kita pulang" kata Damar.
Lita melihat Damar dengan seksama.
"Dam, ini Lita" aku mengenalkan Lita ke Damar.
"Lu tau rumah gue dari mana?" Aku seperti melihat Lita dalam versi yang berbeda dari cara bicaranya dengan Damar. Apakah ini Lita yang sesungguhnya. Lita yang dia ceritakan, Lita ku yang tak ku kenal.
"Aku tau dari mama Selena" kata Damar yang melihat Lita dengan senyum kecut.
"Ghandi benar" kata Lita.
"Maksudnya?" tanya ku penasaran ketika Lita menyebutkan nama Ghandi.
"Aku disuruh mama kamu untuk jemput kamu, mama kamu khawatir kamu pergi terlalu lama tanpa aku" Damar kemudian melihat kearah Lita dengan tersenyum.
"Aku akan anterin Selena pulang" kata Lita yang kemudian tersenyum sinis melihat Damar.
"Gak usah repot-repot, ada aku" Damar pun membalas senyuman sinis Lita.
Terjadi ketegangan antara Lita dan Damar, aku tidak tau kenapa terjadi ketegangan antara mereka berdua, bahkan mereka berdua tidak saling kenal.
"Udah yuk, aku pulang sama kamu" Aku mencoba menghancurkan ketegangan itu.
"Yuk" Damar kembali melihat Lita dengan senyum lebar seakan mengatakan bahwa dia menang dan Lita kalah.
Aku dan damar kemudian pergi dari rumah Lita.
***
"Kamu kenal Lita ?" tanyaku pada Damar.
"Enggak" kata Damar.
"Tapi kenapa kalian seperti udah kenal yah" kata ku.
"Lita itu teman kamu dan Ghandi kan" kata Damar.
"Kamu tau dari mana dia teman aku dan Ghandi" tanyaku penasaran.
"Dari mama kamu" kata Damar.
"Ada yang kamu sembunyikan yah?" tanyaku penasaran, Damar seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Nanti aja yah, kalau sudah dirumah" kata Damar sembari mencubit pipi ku pelan dan membuat ku sangat terkejut.
"Jangan cubit" kata ku melepaskan tangan damar dari pipi ku.
"baiklah, jadi Apa kabar Selena?" tanya Damar pada ku, aku selalu senang jika damar bertanya tentang kabar ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments