Aku kembali kerumah Ghandi, semalam aku tidak bisa tidur, wajah Ghandi terus datang setiap aku menutup mata. Bukan dengan senyuman dia datang, tetapi dia datang dengan rasa sedih yang menimbulkan perasaan bersalah itu. Aku memandangi foto Ghandi yang tersenyum, aku ingin merasakan setidaknya sekali saja senyuman hangat darinya.
“Kak Selena datang sendirian yah?” Banu sudah berada tepat di belakang ku.
“Tadi kakak di antar Damar, tapi katanya dia ada urusan dulu” kata ku.
“Kakak cantik di foto itu” Banu menunjukkan salah satu foto ku dan Ghandi, disana aku memegang sebuah mawar putih. Aku memperhatikan kedua foto ketika aku memegang bunga mawar yang satu merah dan yang satu putih, aku bingung apa maksud dari kedua mawar ini.
“Banu, Ghandi itu di mata kamu seperti apa?” Aku ingin tahu bagaimana orang-orang sekitar Ghandi memandang dirinya, aku ingin mengenal sosok Ghandi yang tak pernah bisa ku jumpai lagi.
“Mas Ghandi itu sudah seperti super hero, selalu saja menjadi penyelamat kami semua, dirinya yang selalu ingin yang terbaik untuk aku dan mama dan juga kak Selena, bahkan dia rela gak lanjutin kuliah demi jadi tulang punggung keluarga, dan hasil jualan rumah dan toko di tabung untuk biayain sekolah aku sampai aku kuliah nantinya, tapi tetap saja dia bukan super hero, dia manusia yang bisa pergi kapanpun dan aku harus terima itu” Banu melihat ku dengan tersenyum. Aku bisa merasakan kesedihan Banu, tetapi dia tidak menunjukkannya dia terlihat sangat tegar.
“Tetapi Ghandi yang datang hanya Ghandi yang berwajah murung dan sedih, kapan kamu menunjukkan tawa ini pada ku Ghandi” kataku yang tertawa melihat foto Ghandi dan diikuti tawa oleh Banu.
“Maaf yah tante agak lama” Mama Ghandi datang dengan membawa sebuah pot bunga yang ukuran kecil, bunga mawar putih.
“Tante suka bunga mawar putih?” tanyaku.
“Ini buat kamu, nanti kamu bawa pulang yah, Ghandi selalu bilang kalau Selena nya selalu suka dengan bunga mawar putih, tapi Selena nya gak pernah mau nanam bunganya dirumah, jadi selalu buket yang di belikan Ghandi dan karena tante bukan Ghandi tante lebih suka bunga yang hidup” Mama Ghandi tersenyum kepada ku.
“Ma, aku pergi dulu yah ma, mau latihan piano” kata Banu.
“Kamu main piano juga? Kayla juga main piano” kataku.
“Kita satu tempat latihan, aku pergi dulu yah ma, kak Selena, Assalamualaikum” Banu mencium tangan mamanya dan tangan ku. Kenapa Kayla tidak pernah menceritakan apapun tentang Banu kepadaku, apa lagi yang di rahasiakan anak itu dari ku.
“Tante, maaf kalau aku mengganggu tante lagi, aku masih mau dengar tentang Ghandi tante” kataku.
“Tante senang sekali kalau kamu sering kesini” mama Ghandi kemudian menceritakan kisah kami kembali dari kami kecil hingga kami dewasa.
Banyak rasa dari kisah aku dan Ghandi, lebih banyak manisnya. Aku pun tertawa mendengar betapa Ghandi yang setiap harinya membaca buku, koran atau apapun bacaan lainnya hanya untuk bertambahnya kosa kata dalam membuat puisi untuk diriku. Belum lagi keajaiban-keajaiban Ghandi yang Damar pun sudah menceritakan sebagian kepadaku. Aku melihat mama Ghandi begitu bersemangat dalam menceritakan Ghandi, sama seperti Banu yang terlihat tegar.
“Tante, kenapa Ghandi yang selalu muncul di khayalan Selena, bukan Ghandi yang tante, Damar, Banu kenal” air mataku mulai mengalir.
“Bagaimana Ghandi yang datang?” tanya mama Ghandi menggenggam tanganku.
“Ghandi yang datang selalu murung dan sedih, dan selalu sesak di dada ketika mengingat dia dan juga perasaan bersalah tante” aku tetap menangis, mama Ghandi kemudian memeluk ku mencoba menenangkan aku.
“Apa yang terjadi dengan Ghandi itu sudah suratan dari tuhan, jangan pernah menyalahkan diri karena Ghandi pasti sudah bahagia disana” mama Ghandi ikut menangis.
“Sebelum Ghandi pergi apa Selena punya salah atau ada sesuatu yang belum selesai dengan kami tante, sehingga sangat menyakitkan” kataku. Mama Ghandi kemudian melepaskan pelukannya dari ku.
“Semenjak tante pindah rumah kesini, memang kamu dan Ghandi jarang bertemu. Ghandi sebenarnya gak pernah cerita sama tante tentang permasalahan yang menimpa kalian berdua, tetapi memang sebelum Ghandi meninggal, kalian berdua pernah bertengkar hebat dan bahkan kalian putus” kata mama Ghandi.
“Tante tahu alasan kami putus kenapa? Aku mohon tante” aku sudah tidak menangis lagi, aku berharap bisa menghilangkan rasa bersalah ini.
“Tante tidak tau alasannya tetapi yang jelas semua sudah berlalu, kamu tetap harus meneruskan hidup kamu meskipun tanpa Ghandi” mama Ghandi menyentuh pipiku dengan tangannya yang lembut.
“Tante boleh aku lihat kamar Ghandi” kataku, setidaknya dengan melihat kamarnya aku bisa merasakan kehadirannya kembali.
“Boleh, kebetulan barang-barang Ghandi belum ada satupun yang tante pindah kan” aku mengikuti mama Ghandi ke kamar Ghandi. Banyak foto ku dan Ghandi yang tertempel di dinding kamar Ghandi, bahkan di kamarku saja tidak ada satupun foto Ghandi.
“Sebentar” mama Ghandi mengambil sebuah kotak yang berada didalam lemari Ghandi.
“Apa ini tante?” tanyaku penasaran.
“Sebelum kalian putus dan sebelum kecelakaan itu, Ghandi ingin memberikan isi dalam kotak ini untuk kamu” mata mama Ghandi kembali berkaca-kaca.
Pandanganku tertuju pada sebuah bunga plastik mawar putih dan mawar merah yang berada di meja Ghandi. Di pot bunga mawar putih tertulis INGIN MENJAGANYA SELALU dan di pot bunga mawar merah itu tertulis DUNIA YANG BARU.
“Tante, bunga ini….”belum selesai kalimatku, suara klakson mobil mengalihkan perhatian kami.
“Kayaknya Damar, tante keluar dulu yah, kamu disini aja dulu” mama Ghandi pergi menemui Damar.
Aku melihat ruangan ini, ruangannya rapi dan bersih, aku yakin keluarga Ghandi sangat menjaga ruangan ini.
Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur Ghandi, ku miringkan badan ku dan aku melihat Ghandi yang juga tidur di kasur ini, masih dengan wajah murung dan sedihnya. Ghandi menatapku dan perlahan tangannya menyentuh pipiku, aku menangis karenanya dan Ghandi ikut menangis bersama ku dan menghilang lagi.
“Kamu kenapa?” Damar datang melihatku yang berbaring sambil menangis di tempat tidur Ghandi.
“Dam, tadi aku lihat Ghandi, dia tadi disamping aku, tapi dia selalu datang dengan wajah sedih” kataku yang kemudian memeluk Damar.
“Kita pulang dulu, kamu jangan terlalu memaksakan diri kamu” Damar mengelus kepalaku.
Aku dan Damar akhirnya pergi dari rumah Ghandi, mama Ghandi memberikan kotak itu dan album foto kusus aku dan Ghandi.
***
Kayla sedang duduk di balkon tempat aku biasa menyendiri untuk menulis. Kayla sedang fokus melihat sebuah foto seorang wanita muda yang menggendong bayi perempuan yang sangat lucu.
“Kamu lihat foto apa?” kataku sembari memegang pundak Kayla.
“Ini aku lagi lihat foto mama sama kak Selena dulu” kata Kayla menunjukkan foto itu kepadaku.
“Mama cantik yah” kataku yang melihat mama sangat cantik pada saat muda dulu.
“Ia mama cantik, mirip kak Selena gak ada mirip aku sama sekali” kata Kayla tersenyum.
“Oh ya Kay, aku selama koma di rawat dimana? Di london kah?” Aku teringat perkataan mama Ghandi yang mengatakan bahwa aku selama koma berada di London.
“Kakak dari kecelakaan sampai sekarang tetap disini, kita gak ada ke London, memang kenapa kak?” tanya Kayla penasaran.
“Gak ada Kay, kakak ke kamar dulu yah, mau tidur cepat” aku segera meninggal kan Kayla. Kayla menyusul ku, dia pastinya sangat penasaran dengan apa yang aku tanyakan tadi.
“Kak, ada rahasia apa?” Kayla berdiri di depan pintu kamar ku, menghalangi aku.
“Kay” kataku.
“Kalau enggak cerita nanti aku bilangin mas Damar biar pikir-pikir lagi mencari calon istri” Kayla mengancam dan menggoda ku.
“Kakak terima kasih kalau begitu, kamu bisa bilang sama mas mu itu” kata ku yang tidak perduli dengan ancaman Kayla.
“Kak” Kayla mengubah ekspresi wajahnya seperti anak kecil yang sedang memohon.
“Baiklah” kataku yang akhirnya mengizinkannya masuk ke kamarku dan menceritakan apa yang aku rasakan akhir-akhir ini, dari sosok Ghandi yang sekarang sering muncul, mama yang berbohong kepada mama Ghandi serta album foto dan kotak dari mama Ghandi untuk ku.
“Kalau mama, aku tau alasannya kak, pasti mama takut kak Selena kenapa-kenapa” kata Kayla.
“Ketakutan mama itu terlalu berlebihan Kay, mama Ghandi saja masih bisa tegar padahal anaknya udah gak ada lagi, sedangkan kakak masih ada disini” kataku dengan suara sedikit membesar.
“Jadi kakak mau buka kotak itu?” Kayla menunjukkan kotak Ghandi.
“Kakak kayaknya belum siap deh, buka kotak itu” aku masih ragu untuk membuka kotak itu sekarang. Ku putuskan untuk menyimpan kotak itu di dalam ruangan tempat buku-buku ku.
“Kak, aku ditugaskan mas Damar untuk mencari teman-teman kakak, aku udah menghubungi mereka juga kak, jadi kakak gimana? Mau jumpa?” tanya Kayla.
“Kamu tau mereka dari mana?” tanya ku.
“Sama ketika aku nyari mas Damar, lewat instagram, kakak pasti gak pernah menggunakan sosmed yang udah kita buatkan?” kata Kayla yang terdengar kesal.
“Udah kakak hapus aplikasinya, gak ada waktu kakak melihat sosial media, emang kamu setiap detik hahaha” kataku menggoda Kayla.
“Okelah calon istri mas Damar” kata Kayla yang membalas menggoda ku.
“Oh ya Kay, kamu kenal Banu adik Ghandi?” tanyaku.
“Kenal kak” kata Kayla.
“Kok gak pernah kesini?” tanyaku.
“Lagian Kayla gak dekat sama dia, dia tu kalau udah kenal anaknya sok oke banget” kata Kayla.
“Anaknya emang oke kok, baik, ramah dan sopan gak kayak kamu?” kataku menggoda Kayla.
“Dasar kakak iparnya Banu” kata Kayla membalas ku.
“Kamu plinplan kan, kamu bilang aku calon istrinya Damar” kataku.
“Kan mau jadi Istrinya Mas Damar” Kayla tertawa melihatku.
Handphone Kayla berbunyi, terlihat nama seseorang yang familiar di mata ku yaitu Lita Kurnia salah satu daftar temanku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments