***~***
Damar Anggara teman kedua ku, seorang laki-laki yang sudah ku kenal dari kecil seperti aku mengenal Ghandi, tapi aku baru bisa memulai pertemanan ini ketika kami sudah menginjak kelas 1 SMA, satu kelas dengan ku dan juga dia adalah tetangga ku. Laki-laki yang terlihat dingin dari luar, tetapi memiliki hati yang sangat baik menurut Ghandi. Meskipun terkadang dia bisa sangat menyebalkan, tetapi aku suka berteman dengannya.
Nama : Damar Anggara
Tanggal lahir : 10 Januari 1996
Tinggi badang : 181 cm, (mungkin bisa bertambah lagi)
Hobi : Diam menatap aquarium
Alasan Ghandi menyukainya : Dia pintar dan baik
Alasan Aku menyukainya : Dia lucu dan juga mudah tertawa di depan ku
***~***
Aku terkesima dengan tulisan di buku hitam ini, aku melihat sosok yang lain daripada yang aku kenal, tulisan ini bukan seperti diriku, atau aku saja yang masih belum mengenal diriku yang sebenarnya. Rasa penasaran ku tentang Damar semakin bertambah, dari tulisan ini aku membayangkan bahwa Damar sepertinya orang yang menyenangkan, sudah terlukis jelas di kepala ku bagaimana rupanya, karena buku ini benar-benar menggambarkan rupanya, tubuhnya yang tinggi dan proporsi tubuh yang bagus, menggunakan kaca mata, rambut pendek dan juga sedikit urakan, tepat seperti penggambaran tokoh-tokoh cowok cool tapi populer di sekolah, sayangnya tidak ada satupun foto yang bisa memvalidasi bayanganku.
“Kak” Kayla, adikku yang selalu menemaniku melewati kebosanan tiga bulan ini, dan dialah satu-satunya teman ku yang paling rela menghabiskan waktunya untuk menghiburku melewati hari-hari ku ini. Seperti biasa setelah pulang sekolah Kayla selalu menemaniku.
“Kak, lagi ngapain ?” tanya Kayla yang masih dengan seragam sekolahnya.
“Ganti Baju dulu, baru kakak jawab” kata ku dengan menyipitkan mataku kearah Kayla.
“Nanti dehhh, malas banget” kata Kayla yang membaringkan tubuhnya ke kasurku.
“Kamu nanti dimarahin mama loh” kata ku yang masih mencoba mencari tahu petunjuk tentang Damar di buku Hitam ini.
“Kakak udah baca semua bukunya ?” tanya Kayla penasaran.
“Belum” jawab ku sambil tersenyum melihat wajah Kayla yang seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Hmmm, kakak mau aku bantuin gak ?” tanya Kayla pada ku.
“Bantuin apa?” tanya ku penasaran.
“Sudah ada kemajuan tentang ingatan kakak?” tanya Kayla penasaran.
Pertanyaan Kayla membuat ku terdiam, selama tiga bulan ini tidak ada kemajuan apapun dari ingatan ku, aku masih belum mengingat apapun, aku bingung harus melakukan apa. Tapi dengan orang-orang yang ada di dalam buku ini, mungkin mereka bisa membantu ku.
“Kakak butuh bantuan kamu” Kayla menunjukkan wajah antusias, sembari menganggukkan kepalanya.
“Kamu bisa gak, tanyain sama mama tentang tetangga kita dulu yang namanya Damar Anggara, soalnya kalau kakak yang tanyak, mama pasti gak mau ngejawab” Kayla terlihat terkejut mendengar perkataan ku.
“Kok mukanya gitu? Tapi katanya mau bantuin kakak” kata ku penasaran.
“Kakak tau dari mana Mas Damar?” tanya Kayla penasaran.
“Dari buku yang kamu kasih ini, didalam sini ada daftar nama-nama teman-teman kakak, kamu belum baca?” kata ku pada Kayla.
“Belum, aku nemuin buku itu di gudang minggu lalu, gak sempat aku baca, jadi aku langsung kasih ke kakak” kata Kayla.
“Jadi bisa kan, tentang Damar?” tanya ku lagi.
“Gak perlu tanya mama kak, kita aja yang cari sendiri informasi tentang Mas Damar, soalnya aku pun kenal sama Mas Damar, dan kakak ku tersayang sekarang ini zamannya sudah sangat canggih, kita bisa cari tahu semua orang dengan mudahnya, kita bisa cari Mas Damar di instagram, facebook dan di social media lainnya, dan kakak bersyukur punya adik yang sangat mahir dalam bidang stalking dan tentunya yang kita perlukan sekarang adalah aku mandi dulu ” Kayla kemudian beranjak dari kasur dan keluar dari kamar, dan aku hanya bisa menatap buku hitam itu dengan penuh harap.
***
“Kamu gimana di sekolah Kay? Tanya mama yang sedang sibuk bekerja di depan laptop nya, meskipun sekarang saatnya makan malam.
“Baik kok ma” kata Kayla yang sedang asik megambil lauk makannya.
“Mama dapat laporan dari Buk Maya katanya kamu kemaren seharian gak masuk kelas dengan alasan mau latihan piano” seketika wajah mama berubah menjadi sedikit lebih serius dari biasanya.
“Ia Kayla latihan piano biar lebih bagus lagi mainnya” kata Kayla terdengar percaya diri.
Mama menutup laptop nya, menatap Kayla yang sedang lahap menyantap santapan makan malam ini.
“Hmmm, ma aku boleh nanya gak ma?” kata ku sedikit gugup. Kayla melihat aku dengan mata melotot sembari menggelengkan kepalanya secara perlahan, seperti mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.
“Kenapa ?” tanya mama padaku.
“Mbok Ros udah berapa lama kerja sama kita ma ?” apa yang ingin kutanyakan berbeda dari apa yang aku pikirkan, aku ingin sekali bertanya tentang Damar Anggara, tapi melihat ekspresi Kayla aku mengurungkan niatku.
“Dari kamu belum lahir” raut di wajah mama sudah mulai tidak tegang seperti tadi, mama kemudian tersenyum tipis.
“Aku udah siap makan, dan aku mau belajar dulu yah di kamar kakak, malam ini pokoknya aku tidur sama kakak” Kayla kemudian pergi meninggalkan meja makan. Aku dan mama tetap melanjutkan makan malam kami.
***
“Kay, atau kita cari informasi sama Mbok Ros aja gimana?” kataku sembari berbaring di kasur berdua dengan Kayla yang sedang fokus melihat kearah Handphonenya.
“Mbok Ros itu mata-mata mama kak, sulit untuk bekerja sama dengan Mbok Ros, kesetiaan dan loyalitasnya dengan mama sudah sangat mendarah daging” Kayla yang berbicara dengan nada puitisnya.
“Keseringan baca Puisi Ghandi yah, makanya jadi sok puitis gini” Kata ku menggoda Kayla.
“Ia, puisi Mas Ghandi dan puisi Kak Selena juga kan” kata Kayla dengan menyipitkan matanya kearah ku.
Terlalu lama aku melupakan diriku, bahkan aku tak kenal diriku yang diceritakan oleh Kayla atau pun identitasku dari kamar ku sendiri. Kata mama aku suka menulis, tetapi sudah 3 bulan ini aku tidak pernah menulis. Entahlah, aku hanya berharap bisa mengenal diriku yang sebenarnya dan pastinya Ghandi.
“Kak, dapat ni Damar Anggara” Kayla memperlihatkan akun social media seorang laki-laki yan bahkan dalam akunnya gak berisi apapun selain sebuah foto motor tua.
“Kamu yakin ini Damar?” tanyaku mencoba meyakinkan.
“Yakin kak, seratus persen” kata kayla dengan percaya dirinya.
“Dari mana taunya itu dia?” tanyaku.
“Pertama, akunnya gak di private, yang kedua followersnya banyak banget udah 10 ribu, dan gak ada following satu pun dan itu menunjukkan kalau pemilik akun ini terkenal dan populer di kalangan dia, dan yang paling meyakinkan itu motor tua ini kak, ini motor dan tempat fotonya persis seperti motor tetangga sebelah, dan aku yakin Mas Damar kayaknya pernah kesini deh” Kayla memberikan Argumen yang memang sulit diterima akal, tetapi aku tetap tersenyum melihat Kayla yang semangat untuk membantuku.
“Karna menurut kamu ini Damar, kakak mohon kamu mintak handphone kakak yang disimpan sama mama, biar kakak yang kirim pesan melalui media sosial kakak sendiri” pintaku pada Kayla.
“Kayaknya gak bisa deh kak, soalnya dihari yang sama sebelum kakak kecelakaan kan handphone, laptop kakak rusak karena kakak rendam ke kolam renang karena......” Kayla menghentikan ucapannya, seperti ragu untuk mengatakannya lagi.
“Karena apa” tanyaku penasaran.
“Aku gak tau pastinya kenapa, karena dihari itu kakak benar-benar marah sama Mas Ghandi dan pulang-pulang nangis dan marah-marah, aku gak perna melihat kakak seperti itu” kata Kayla dengan suara yang terdengar pelan.
Hidupku sekarang seperti penuh dengan misteri dan teka-teki, ada ketakutan yang terbesit di hati ku, aku takut bahwa akulah penyebab semua teka-teki ini, tetapi aku tetap tidak boleh menyerah.
“Terlalu banyak misteri yah, hmmmm kalau akun media sosial kakak dan Mas Ghandi kamu tau ?” tanyaku pada Kayla.
“Kakak dan Mas Ghandi itu Kudet, kurang update, pacaran terlalu klasik tu pakai puisi-puisi segala kan, jadi kalian berdua itu manusia zaman batu yang terperangkap ditubuh generasi milenial” kata Kayla dengan tertawa pelan. Aku pun ikut tertawa melihat Kayla yang terlihat sangat tulus menyayangi ku. Meskipun dengan segala kehampaan yang aku rasakan, Kayla tetap memberikan warna sendiri padaku.
“Aku aja yang kirim pesan sama kak damar, terus besok kita minta sama mama handphone dan laptop untuk kakak, jadi kakak bisa tetap ngejalanin hidup kakak, besok aku yang bantuin bilang ke mama” Kayla terdengar sangat meyakinkan.
***
“Kak dibales” pagi ini Kayla menggantikan sura ayam berkokok untuk membangunkan ku. Pagi hariku di buka dengan melihat senyuman antusias dari Kayla yang sedari malam menunggu Damar membalas pesannya.
“Mas Damar mau jumpa sama kakak hari ini dirumah jam 10 katanya” aku terkejut mendengar perkataan Kayla, aku bingung harus bagaimana, karena semenjak keluar dari rumah sakit ini pertama kali aku bertemu orang lain aku takut bahwa Damar tetap tidak bisa membantu ku.
***
“Mas Damar” Kayla berlari menuju ruang tamu dan aku mengikutinya dengan perlahan.
Aku melihat kepala Kayla di elus dengan lembut, mereka berdua berdiri sembari asik menegur sapa dengan hangat, aku pun tersenyum melihat mereka dan bahkan aku tak berani terlalu mendekat.
“Kak sini” Kayla menghampiriku dan menarik tangan ku yang saat ini merasa sangat gugup bertemu dengan Damar.
Aku dan Damar berhadapan, aku tersenyum menyapanya, begitupun Damar juga tersenyum menyapaku.
“Apa kabar Selena?” tanya Damar padaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments