“Kamu kerjanya apa sih ?” tanyaku pada Damar yang hampir setiap hari datang mengunjungi ku di rumah.
“Aku lagi cuti panjang” kata Damar yang sedari tadi sibuk membolak-balik buku hitam daftar teman ku.
“Ia aku tau Damar, tapi aku tanya kamu kerjanya apa, ngantor kah, punya usaha kah?” selama Damar bertemu dengan ku, tidak pernah sekalipun dia menceritakan dirinya, setiap ditanya dia selalu saja mengelaknya dengan alasan ingin mengenalku lebih dulu, karena menurutnya aku bukan seperti Selena yang dia kenal semakin lama bersama dengannya, dia merasa kalau aku terlalu asing baginya.
“Oke , kalau kamu penasaran aku kerjanya apa yuk ikut aku” Damar menatap ku dengan senyum.
Aku dan Damar pergi ke suatu toko buku, aku heran kenapa dia mengajakku kesini, apakah dia ingin membeli buku dulu atau dia staff dari toko buku ini.
“Kita ngapain disini?” tanyaku penasaran.
“Ini salah satu tempat aku mencari nafkah” jawab Damar yang tersenyum melihatku.
“Kamu punya toko buku ini” tanyaku lagi.
“Sebenarnya orang tua aku memang punya beberapa bisnis, seperti rumah makan, kafe, lapangan futsal, dan salah satunya toko buku ini, aku yang lanjutin untuk mengelolanya kebetulan staff aku pada pintar semua jadi aku bisa bebas nemenin kamu” kata Damar.
“Jadi ceritanya pengen pamer harta orang tua” kata ku sedikit ketus.
“Mendingan aku lagi, ketimbang kamu yang jadi pengangguran dan hanya sibuk mencari cara ingin kembali ke masa lalu” Damar tertawa kecil.
Aku terdiam mendengar Damar, benar katanya aku terlalu terperangkap dengan ambisi ku untuk kembali, aku lupa bahwa aku hidup di hari ini dan masa depan akan datang bersama ku.
“Dam, kamu mau bantuin aku kan menemui masa lalu aku dan juga membantu aku untuk adaptasi dengan dunia yang baru bagi aku” kataku.
Damar tersenyum melihat ku sembari menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian Damar mengajak ku kesebuah ruangan dan memberikan aku sebuah buku yang berjudul “Le Petit Prince” atau bahasa Indonesianya “Pangeran Cilik”.
“Buku ini dari kamu sebagai hadiah ulang tahun untuk aku” kata Damar.
***Flashback ingatan Damar***
Ghandi dan Selena sedang menunggu di depan pagar rumah Damar malam ini, mereka berdua memakai baju warna putih. Damar yang keluar dari rumah terkejut melihat dua sejoli ini bahkan memakai baju couple di hari ulang tahunnya sedangkan dia hanya menggunakan baju kaos berwarna hitam yang di sandingkan dengan jins dan sendal jepit, meskipun begitu baginya dia tetap terlihat lebih tampan dibandingkan Ghandi.
“Jadi kita mau kemana?” tanya Damar penasaran.
“Lu ikut kita aja” kata Ghandi.
“Kita pergi naik apa ?” tanya Damar.
“Tara rara rara” Ghandi menunjukkan kearah sebuah bajaj yang sudah lengkap dengan supirnya yang tersenyum melihat Damar. Damar terkejut melihat kelakuan Ghandi, tetapi yang membuat Damar lebih terkejut adalah Selena yang tertawa lepas melihat kearah Ghandi.
“Kamu cantik kalau tertawa gini” kata Damar memuji Selena. Selena kemudian menutup mulutnya dan terlihat sangat gugup mendengar pujian Damar.
“Cewek gue” kata Ghandi menepuk pundak Damar sedikit keras.
“Aduhh, sakit , gue tau lagi cewek lu, tapi gue kan bodyguardnya hahaha” kata Damar yang merangkul pundak Ghandi.
“Yuk buruan” Kata Ghandi yang sudah menggandeng tangan Selena menuju ke arah bajaj.
“Eh, tunggu dulu gue duduk dimana?” tanya Damar heran.
“Gue dan Selena duduk di dibelakang dan lu di depan sama pak supir ini” kata Damar yang diikuti oleh senyum supir bajaj.
“Emang bisa?” tanya Damar yang melihat kedalam bajaj.
“Kita bisa kan mas” kata supirnya.
Akhirnya Damar dan supir bajaj menjadi nyamuk di perjalanan ini. Awalnya tema perjalanan ini adalah surprise ulang tahun Damar dari Ghandi dan Selena, tetapi perjalanan ini lebih kepada kencan Ghandi dan Selena.
“Ghandi, aku kemarin udah baca puisi kamu, makasih yah” kata Selena tersenyum melihat Ghandi.
“Kamu suka?” tanya Ghandi yang mengelus kepala Selena dan Selena tersenyum melihatnya.
“Puisi apaan, penasaran gue?” tanya Damar ketus.
“Ada deh” kata Ghandi.
“Pak, main tebak-tebakan yok, coba tebak judul puisi Ghandi untuk Selena” Damar mengajak supir untuk menggoda Ghandi dan Selena.
“Mbak Selena yang cantik?” tebak pak supir.
“Apaan sih pak” kata Ghandi yang ikut tertawa.
“Bukan deh pak kayaknya, Ghandi sang penyair tanpa Selena adalah Penyair tanpa cinta” Damar tertawa terbahak-bahak yang dibalas dengan pukulan ringan ke kepala Damar oleh Ghandi.
Didalam bajaj terasa sangat menyenangkan, mereka berempat tertawa bersama, dan disitulah pertama kali Damar tau bahwa dia juga bahagia melihat Selena tertawa meskipun hanya kepada Ghandi.
“Sampai juga” Ghandi membantu Selena untuk turun.
“Tamannya cantik, lu berdua ngapain ngajak gue kesini?” tanya Damar penasaran.
“Makasih yah pak” kata Ghandi kepada pak supir bajaj yang akhirnya pergi meninggalkan mereka disebuah taman yang tidak terlalu ramai malam ini.
“Kita pulang nanti gimana?” Damar memukul pundak Ghandi pelan.
“Aman, yuk ikut kita” Seperti biasa Ghandi menggandeng tangan Selena dan membuat Damar seperti nyamuk diantara mereka, tapi Damar sudah terbiasanya responnya hanya menggelengkan kepalanya.
“Tiup lilin dulu” Ghandi menyuruh Selena untuk mengeluarkan kue yang sedari tadi di pegangnya dalam tote bag berwarna putih yang senada dengan baju mereka berdua.
Ghandi dan Selena tampak bernyanyi selamat ulang tahun kearah Damar. Selena terlihat malu-malu tetapi Damar merasakan ketulusan dari temannya itu.
“Udah gue tiup ni lilinnya” kata Damar yang meniup lilin ulang tahun yaitu enam belas.
“Aku mau kasih ini buat kamu” Selena mengeluarkan sebuah kado dan memberikan ke Damar. Damar terkejut melihatnya. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa Selena akan memberikannya sebuah kado, bahkan dia mengira bahwa hanya Ghandi yang peduli dengan ulang tahunnya.
“Makasih yah, boleh aku buka sekarang?” Damar mengambil kado dari Selena yang di balas anggukan kecil dari Selena.
Damar membuka kado dari Selena yaitu sebuah novel yang berjudul “Le Petit Prince” atau bahasa Indonesianya “Pangeran Cilik”.
“Ini kado gue, tapi di buka nanti aja” Ghandi pun memberikan kado kepada Damar.
“Ini semua siapa yang rencanakan? Pasti lu yah?” tanya Damar sembari menunjuk Ghandi.
“Bukan gue, Selena, bahkan yang ingat hari ini ulang tahun lu itu Selena, gue aja lupa tadi, pas disekolah dia yang ingetin gue, makanya gue ucapin pas udah selesai istirahat” kata Ghandi.
Ghandi semakin terkejut mendengar perkataan Damar, Selena si putri malu ini bahkan mengingat tentang dirinya dan juga menyiapkan ide untuk memberikan kejutan kecil ini untuknya.
“Kamu gak suka yah Dam?” tanya Selena pelan.
“Suka kok dia” kata Ghandi sembari merangkul pundak Damar.
Malam ini salah satu malam spesial menurut Damar, mereka bertiga bercerita sangat ceria, menceritakan kisah mereka disekolah, menceritakan kesukaan mereka. Tepat di usia 16 tahun Damar memiliki sebuah harapan lain di hidupnya yaitu melihat Selena tertawa kearahnya.
“Ini isinya apaan?” Damar berbisik kearah Ghandi.
“CD bokep” Ghandi berbisik kearah Damar.
“Ngaco lu, sejak kapan gue mau nonton ginian” kata Damar yang masih berbisik.
“Cemen lu” Ghandi tertawa kecil melihat Damar.
“Gue bilangin Selena yah lu” kata Damar.
Damar mengurungkan niatnya untuk memberitahu Selena, dia terpana melihat Selena yang sedang fokus menatap bintang dan bulan.
“Ghandi, langit seperti judul puisi kamu kemarin, Rembulan yang menyambut bintang” Selena melihat Ghandi dan Damar dengan senyum.
---***---
“Jadi Ghandi selucu itu, tapi kenapa Ghandi yang aku kenal beda yah Dam?” kata ku.
“Jadi selama aku cerita kamu hanya memperhatikan bagian Ghandi aja?” kata Damar menggoda ku.
“Bukan gitu Damar, soalnya aku punya banyak puisi Ghandi di rumah, puisi Ghandi terdengar hampa dan sendu Dam” kataku yang menatap Damar.
“Namanya juga Ghandi, seorang penyair dan Selena lah isi dari syair-syairnya kan?” kata Damar menggodaku.
“Kayaknya puisi dia bukan tentang aku deh, mungkin ada beberapa, kamu mendingan coba baca puisi Ghandi, eh kamu udah pernah baca puisi Ghandi?” kataku.
“Belum pernah, mungkin besok aku pinjam ke kamu puisi Ghandi” kata Damar yang masih menggodaku.
“Jadi Ghandi beneran ngasih kamu CD bokep?” tanya ku penasaran.
“Bukan, dia ngasih aku CD Green Day” kata Damar yang tersenyum.
“Syukurlah” kataku lega.
“Kok syukur, takut yah Ghandi gak sesuai ekspetasi kamu?” kata Damar menggoda ku. Kami berdua tertawa bersama.
“Kamu cantik kalau tertawa” Damar menatapku dengan senyum. Aku bingung harus merespon bagaimana ku alihkan pandanganku darinya mencoba mengelak melihat sekeliling ruangan ini dan Damar yang tahu tentang kegugupan ku pun hanya mengikuti ku dengan senyum lebar di wajahnya.
***
Di kamarku aku memandangi puisi dari Ghandi yang tertempel didinding kamar ku. Ku baca puisi tersebut dan berharap kenangan itu datang menghampiri ku.
***Puisi Ghandi***
Judul : Rembulan yang menyambut bintang
Malam yang datang memanggil rembulan yang berbinar
Menatap wajahnya sembari memperlihatkan senyumnya
Rembulan tertunduk lesu karena suatu hal
Takut bahwa malam kan menggantinya
Rembulan risau tanpa kepastian
Malam yang tetap tertawa dalam candanya
Malam yang selalu memeluknya erat
Rembulan takut akan menangis di hadapannya
Malam butuh hal yang baru
Membantunya memberi rasa untuk bahagia mereka
Maka diundang lah bintang si sinar yang akan membantunya
Rembulan pun menyambut bintang dengan keraguan
***
Puisi yang indah menurut ku. Ghandi memang pintar dalam membuat kata-kata menari menjadi indah. Kemudian aku memandangi novel pangeran cilik ini dengan seksama, ku perhatikan sampulnya yang menunjukkan seorang anak laki-laki. Aku penasaran akan isinya, ku buka buka itu dan tiba-tiba dari dalam buku terjatuh sebuah kertas dan satu lembar foto.
***Isi dalam Kertas***
Untuk Damar Anggara
Selamat ulang tahun Damar, terimakasih telah menjadi teman dan penjagaku. Aku memberikan novel pangeran cilik itu untuk kamu karena kamu bagaikan pangeran cilik di hidup aku, kamu memandang dunia sepertinya dan dihari ini aku putuskan untuk memakai baju putih bersama Ghandi karena aku ingin setidaknya sedetik menjadi malaikat yang bisa memberikan setidaknya satu senyuman untuk kamu.
Sebenarnya aku ingin kita bertiga ketaman itu sarapan di pagi hari, tapi karena Ghandi tidak mau katanya biar lebih romantis di malam hari saja.
Dari Temanmu Selena
---***---
Foto tersebut terlihat aku dan Damar sedang foto berdua di sebuah Taman yang aku ingat bahwa Damar pernah mengajakku kesebuah taman untuk sarapan, jadi yang ingin sarapan disitu aku bukan Ghandi. Aku tidak tahu bahwa aku akan menulis surat seperti itu kepada Damar. Aku memulai membaca novel ini untuk mengetahui bagaimana Damar menurut diriku yang dulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments