“Aku udah baca daftar teman dalam buku ini, jadi kamu maunya kita mulai dari mana?” Damar menunjukkan buku hitam milikku yang selama dua minggu di pegang olehnya.
“Aku serahkan sama kalian berdua deh” kata ku sembari mengangkat kedua tanganku.
“Tunggu sebentar yah” Kayla pergi kearah belakang membawa pena dan buku catatan kecil yang terlihat seperti baru.
“Buat apa buku ini Kay” tanyaku.
“Untuk kakak” Kayla memberikannya kepadaku.
“Jadi yang kita lakuin sekarang adalah….” Damar menghentikan kalimatnya, matanya tertuju kepada mbok Ros yang sedari tadi memperhatikan kami.
“Mbok sini” kataku memanggil mbok Ros. Mbok Ros terlihat canggung menghampiri kami.
“Mbok mau bilang sama mama yah?” Kayla yang menyipitkan matanya kearah mbok Ros.
“Mbok bantuin kita yah, kali ini aja aku mohon” kataku memohon.
“Mbok gak akan bilang sama ibuk non, mbok janji non, mbok juga ingin membantu non Selena biar cepat pulih, walaupun mbok sebenarnya lebih suka non yang sekarang lebih banyak ngomong dan meksipun terlihat sedih non masih bisa tertawa dengan siapa aja” kata mbok Ros menatapku. Aku tidak tau bagaimana diriku yang sebenarnya tetapi aku berharap jika aku sudah mengetahuinya aku ingin tetap bisa membuat mereka semua bahagia.
“Jadi kita lanjutin lagi?” kata Damar.
“Oke” aku menganggukkan kepalaku.
“Dibuku ini ada tujuh orang yang kamu anggap teman yang pertama aku, kemudian yang kedua Lita Kurnia, ketiga Ranty Almira, keempat Agus Revaldo, kelima Rachel Harianto, keenam Rolando Harianto, dan yang ketujuh Mila” kata Damar. Aku dan mbok Ros mendengarkan Damar serius tanpa menyela apa yang diucapkan, sedangkan Kayla mencatat apa yang Damar ucapkan.
“Enam orang yang disebutkan tadi aku tau orangnya soalnya pernah di ajak kerumah dan aku pun ingat karena cuma mereka yang pernah kakak ajak kerumah, kecuali satu orang” kata Kayla.
“Siapa Kay?” tanyaku.
“Mila” kata Kayla.
“Di buku ini pun gak ada informasi tentang mila hanya ada nama dan tulisan MILA SI TEMAN GHANDI” kata Damar menegaskan.
“Coba aku lihat?” aku mengambil buku Hitam itu, tetapi aku tidak melihat nama Mila, hanya sampai enam teman.
“Gak ada” kataku melihat Damar.
“Di halaman kedua paling belakang” Damar menunjukkannya kepada ku.
“Kenapa di tulis di belakang yah?” tanya Kayla penasaran.
“Kakak juga gak tau Kay” kataku.
“Udah tentang Mila kita skip dulu, semoga dengan beberapa orang aja udah bisa memantu kamu” Damar menutup halaman tentang Mila.
“Jadi kakak mau mulai dari mana?” tanya Kayla.
“Sebelum kita menemui mereka, aku mau kalian semua kasih tau kebiasaan aku dulu, aku mau mencoba menjalani hari seperti aku yang dulu” kataku.
“Untuk itu lah Kayla membawa buku ini, biar bisa kakak gunakan untuk mencatat oke” Kayla tersenyum kearah ku.
“Mulai dari Mbok dan Kayla, coba jelaskan kebiasaan yang sering aku lakuin dirumah karena kalian orang yang paling sering ngelihat aku kan” kataku.
“Kamu mau dirumah atau disekolah sama aja” kata Damar mengambil buku ku, dia kemudian mencatat semua kebiasaan yang dia tau tentang diriku.
“Wah mas Damar memang calon…” aku menutup mulut Kayla dengan tanganku. Aku takut fantasinya tentang aku dan Damar akan membuat kecanggungan dan jarak diantara kami.
“Ada lalat….” Kataku menyipitkan mata kearah Kayla. Kayla tersenyum melihat aku dan Damar. Damar pun tersenyum melihat kami.
“Boleh mbok nambahin sedikit yang ditulis mas Damar?” tanya mbok Ros pelan.
“Boleh mbok, apa kira-kira hal yang saya tidak tau tentang Selena” Damar memberikan buku catatan ke mbok Ros.
Mbok ros menulis di buku itu dan memberikan lagi kepada Damar. Damar yang membacanya dengan fokus dan kemudian menatapku.
“Tiga hari ini akan lakuin kebiasaan aku, dimulai dengan……” aku terkejut ketika melihat di poin pertama yaitu bangun jam dua pagi dan membaca sebuah puisi.
“Kakak terkejut yah….” Kayla menggoda ku sebari tertawa.
“Kalian ngerjain aku yah?” tanyaku dengan wajah cemberut.
“Enggak, bahkan kamu ingin ada orang yang dengerin kamu baca puisi jam segitu” kata Damar meyakinkan.
“Ia non, dulu mbok juga sering non bangunin untuk dengerin non baca puisi kalau Ibuk, Kayla atau pun mas Ghandi gak mau dengerin non” mbok Ros tersenyum.
“Ritual macam apa ini” aku menggelengkan kepala ku, Kayla terus saja menertawakan aku, bahkan mbok Ros pun juga begitu.
“Ya Udah, kamu pahami dulu itu, kemudian kamu lakuin, kalau misalnya gak sanggup kamu tinggal bilang, banyak cara kok biar ingatan kamu pulih lagi” Damar mengelus kepalaku, tiba-tiba wajahku langsung memerah, Kayla yang dari tadi tertawa berubah menjadi tersenyum jail untuk menggoda ku.
“Apaan sih kamu” aku menurunkan tangan Damar dari kepalaku.
“Aku balik dulu yah, aku mau ketemu klien dulu, jadi kalau ada apa-apa hubungi aku aja yah” Damar pergi meninggalkan kami, begitu pula mbok Ros yang melanjutkan pekerjaannya membereskan rumah.
“Kay, ini puisi aku yang buat atau boleh baca puisi orang ?” tanyaku pada Kayla yang sibuk melihat buku hitam daftar temanku.
“Aduh kak, dibawa santai aja, kakak bebas kok mau buat sendiri atau enggak, lagian puisi kak Selena juga bagus” kata Kayla yang masih fokus ke buku hitam itu.
“Aku bisa nulis puisi juga?” aku terkejut mendengar ucapan Kayla. Tak kusangka ternyata aku se multi talenta itu dalam hal tulis menulis.
“Yuk sini ikut aku” Kayla mengajak ku kelantai paling atas rumah ku, yaitu di lantai tiga. Semenjak aku sadar dari koma aku gak pernah sedikitpun keatas, karena mama selalu melarang ku dan aku pun tidak terlalu penasaran dengan ruangan itu.
“Ruangan apa ini Kay?” tanyaku penasaran. Ruangan ini terlihat sangat rapi, begitu banyak lukisan didalamnya, ruangan ini seperti galeri seorang seniman, selain lukisan, disebuah sudut di ruangan ini penuh dengan buku-buku yang disusun seperti perpustakaan mini, rapi dan cantik.
“Ini buku puisi nya” Kayla memberikan sebuah buku kepada ku. Aku membuka buku itu dan di halaman depannya tertulis sebuah tulisan PUISI-PUISI SELENA.
“Punya aku?” tanyaku.
“Ia” Kayla menganggukkan kepalanya.
“Kamu belum jawab pertanyaan aku, ini ruangan apa?” tanyaku lagi.
“Ini ruangan tempat kak Selena dan mas Ghandi kalau sedang dirumah, dan mas Damar juga dulu sering kesini, aku udah lama gak kesini, terakhir sebelum kecelakaan itu” kata Kayla yang mengamati ruangan ini dengan wajah yang sedih.
“Mbok Ros kerjanya bagus yah Kay, ruangan ini masih rapi dan bersih” Ruangan ini benar-benar rapi dan sangat bersih, aku tau bahwa ruangan ini dirawat dengan baik.
“Bukan mbok Ros, tapi mama yang setiap hari bersihin ruangan ini” kata Kayla yang sudah berdiri di depan sebuah pintu yang dikunci.
“Ini pintu apa?” tanya ku penasaran.
“Ini pintu brankas, dan yang memegang kuncinya mama” Kayla menatap dengan sedih pintu itu.
“Kay” aku memegang pundak Kayla, berharap dia tidak sedih lagi.
“Kita turun aja kak, aku mau latihan piano dibawah” Kayla memegang tanganku dan kami meninggalkan ruangan itu.
***
“Dam, aku udah baca kebiasaan-kebiasaan aku yang kamu tulis, terlalu aneh gak sih Dam, mulai dari baca puisi jam dua pagi, selalu bawa makanan kucing padahal aku gak memelihara kucing lo, menggambar setiap mau tidur, setiap hari nulis di jurnal dan masih banyak lainnya” kataku. Damar hari ini mengajakku makan bakso yang katanya aku pernah makan bakso kesini cuma satu kali dan ini yang kedua kalinya.
“Cuma satu hal yang buat aku aneh awalnya, tapi udah jadi kebiasaan sama aku juga yaitu kamu baca puisi setiap jam dua pagi” kata Damar tertawa.
“Kamu kok tau sih, aku cerita yah atau Ghandi yang cerita ke kamu?” tanya ku penasaran.
“Karena aku termasuk pendengar setia kamu” Damar menatapku dengan serius.
---***---Flashback ingatan Damar---***----
Damar sedang memperhatikan Selena yang asik menulis puisi di bukunya, meskipun tidak ada guru dan pembelajaran kosong dihari ini, tetapi Selena masih bisa menggunakan waktunya untuk menulis.
“Kamu nulis puisi buat siapa? buat Ghandi?” tanya Damar.
“Ia buat Ghandi” kata Selena tanpa melihat Damar yang pandangannya hanya kepada Selena.
“Sekali-kali kamu buatin aku juga, kan kita teman” kata Damar dengan nada memohon. Selena melihat Damar dan kemudian menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.
“Kamu suka puisinya siapa?” tanya Selena.
“Aku suka puisinya Ghandi” kata Damar dengan nada bercanda dan tertawa menggoda Selena.
“Aku juga paling suka puisinya Ghandi” Selena si manusia yang paling susah diajak bercanda dengan Damar, bahkan maksud bercandaan Damar dianggap serius olehnya.
“Nanti, aku suruh Ghandi buat puisi buat aku juga” kata Damar yang masih dengan nada bercandanya.
Bel istirahat sudah berbunyi, Selena kemudian mengeluarkan bekalnya dari dalam tasnya. Selena tidak pernah sekalipun ingin makan di kantin, dia lebih suka membawa bekal, karena Selena tidak suka di tempat ramai karena akan membuatnya sangat ketakutan, ditambah lagi siswa-siswa yang akan makan di kantin akan terlihat anarkis ketika baru keluar kelas.
“Aku ke kantin dulu yah, kamu disini aja, aku cuma sebentar” kata Damar yang hari ini harus extra jagain Selena karena Ghandi hari ini tidak masuk sekolah karena Sakit. Selena menganggukkan kepalanya.
Damar dan Selena meskipun terlihat tidak begitu dekat, tetapi Selena sudah menganggap Damar penjaga keduanya setelah Ghandi. Selena sudah tidak malu lagi untuk meminta tolong dengan Damar atau pun berbicara dengan Damar meskipun tidak sesering seperti bertemu dengan Ghandi.
“Dam, aku boleh minta tolong?” tanya Selena.
“Apa?” Damar melihat wajah Selena yang serius menatapnya.
“Kamu nanti jam dua pagi, kalau aku telfon bangun yah, soalnya Ghandi lagi sakit, mama, Kayla, mbok Ros, pak Rusdi pasti cari alasan gak mau” Selena menatap Damar dengan serius. Damar bingung dengan permintaan Selena, untuk apa dia di telfon jam dua pagi, sedangkan terkadang kalau dia lagi kebablasan main PS bisa jam tiga atau jam empat pagi baru tidur. Tetapi Damar tidak tega menolak Selena akhirnya dia menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia setuju.
---***---
“Jadi aku beneran di telfon kamu, jam dua pagi?” aku tertawa melihat Damar yang menceritakan betapa terkejutnya dia, ketika dulu aku memintanya untuk mengangkat telfon ku jam dua pagi.
“Dulu kamu langganannya kan Ghandi tu, jadi kalau Ghandi gak bisa jadinya mama kamu, Kayla atau mbok Ros dan bahkan kamu pernah mintak pak Rusdi juga, tapi karena aku mau dengerin kamu, jadi aku sama Ghandi selang-seling gantian dengerin kamu baca puisi” Damar menjelaskan sembari tertawa.
“Jadi kamu ingat puisi aku apa aja?” tanyaku penasaran.
“Aku cuma ingat satu, puisi pertama yang kamu baca buat aku, dan kamu buat untuk aku” Damar tersenyum melihatku.
“Bacain dong, ayoooo” pintaku.
“Aku bukan Ghandi sang penyair, malu aku” kata Damar.
“Ayo dong Dam, mana tau dengan kamu bacain puisi itu, memori aku jadi kembali lagi” kataku memaksa.
“Baiklah, Karya Selena untuk Damar judulnya Malam” Damar mulai membacakan puisinya.
***Puisi Selena***
Judul : Malam
Hari ini kukira malam seperti biasa, Ternyata tidak
Hari ini kukira hanya ada satu bintang, Ternyata tidak
Kemarin dia datang, menjadi bintang kedua
Kemarin dia datang, ikut bersinar terang
Tanpa basa basi, selalu menyapa sang bulan
Tanpa basa basi, selalu menjaga sang bulan
Dimalamku, dia menjadi bintang kedua ku
Dan ku sebut dia temanku
***
“Puisi yang sangat indah” Damar menatap ku.
“Benar, puisi yang sangat indah untuk teman ku” aku melihat Damar dengan tersenyum.
“Jadi kamu sudah yakin mau baca puisi jam dua pagi” Damar menggodaku.
“Kamu yang menjadi pengganti Ghandi untuk sementara dengarin puisi aku jam dua pagi yah” kataku.
“Okelah” Damar mengangguk.
“Dam, sebelum kita mencari daftar teman aku, gimana kalau kita mencari tentang Ghandi dulu, aku lebih ingin mengetahui tentang dia Dam” kataku memohon.
“Baiklah” kata Damar.
“Oh ya, kamu kok mau sih dengerin puisi aku jam dua pagi, kalau Ghandi mungkin aku bisa mengerti alasannya, tapi kalau kamu?” tanyaku penasaran.
Damar hanya tersenyum kepadaku tanpa memberikan jawaban apapun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments