"Hallo Lita" aku menelfon Lita hari ini, aku ingin mendengarkan kelanjutan kisah kami yang sempat terhenti karena Damar menjemput ku kemarin.
"Hallo Sel, ada apa?" tanya Lita.
"Kamu hari ini ada waktu?" tanyaku.
"Maaf banget yah, satu Minggu ini aku ada kerjaan di Bali" jawab Lita.
"Gak apa kok Lita, aku cuma mau dengerin lanjutan cerita tentang kita" kata ku yang terdengar lesu.
"Minggu depan aku akan langsung temui kamu, untuk melanjutkan cerita kita aku janji" kata Lita mencoba menghibur ku.
"Makasih yah" kata ku yang senang mendengarkan janji Lita.
"Ia sama-sama, oh ya aku mau siap-siap dulu, mau ke bandara soalnya" kata Lita.
"Oke Lita, hati-hati ya" kata ku sembari mematikan handphone ku.
Aku bingung aku harus cari kemana lagi potongan memori ku, aku sudah marah-marah sama Damar dan Kayla, betapa bodohnya aku, seharusnya aku gak marah-marah begitu, sekarang disaat begini aku jadi bingung.
"Tok, tok" ada yang mengetuk pintu kamar ku, aku segera membukanya dan betapa terkejutnya aku ketika melihat Damar sudah berdiri di depan pintu kamarku membawa satu tangkai mawar merah.
"Buat kamu" Damar memberikan bunga mawar merah itu, senyum di wajahku sudah tidak terbendung, seketika marah ku kemarin padanya luntur sudah hanya karena setangkai mawar merah ini.
"Makasih" kata ku sembari mencium aroma setangkai mawar merah itu.
"Udah gak marah lagi?" tanya Damar yang tersenyum melihat ku yang mencium bunga pemberiannya.
"Masih" kataku ketus.
"Ya udah, aku kesini mau minta maaf dari segala kesalahan aku dan aku mau ngajak kamu jalan" kata Damar.
"Enggak boleh sama mama" kata ku berpura-pura.
"Sebelum kesini aku udah izin sama mama kamu, perlu aku telfon lagi?" Damar mengambil handphonenya.
"Gak usah, aku percaya" kata ku.
"Kamu siap-siap, aku tunggu ya" kata Damar tersenyum.
"Oke" aku menutup pintu kamar ku, aku kemudian bergegas memilih pakaian yang akan aku gunakan. Tak tau mengapa aku ingin terlihat cantik hari ini. Tuhan, perasaan centil macam apa ini, aku cuma jalan biasa, dan bisa di pastikan obrolan kami tentang kenangan ku, Aku harus tetap harus fokus dulu.
***
"Dam, katanya mau jalan-jalan, kita mau ngapain kesini?" Damar membawaku ke taman kenangan kami dulu.
"Waktu di telfon aku bilang aku rindu kamu Selena" kata Damar.
"Ia, terus" kata ku tersenyum pada Damar.
"Kamu gak sendiri, bukan kamu aja yang kehilangan diri kamu" wajah Damar berubah menjadi sedih.
"Tapi karena kalian yang mengulur-ulur waktu untuk menceritakan semuanya pada aku Dam" terasa sesak di dadaku, aku pun mulai menangis lagi.
"Aku menjadi asing bagi kamu" perkataan Damar membuatku semakin menangis. Damar kemudian memeluk diriku, aku menangis sekencang-kencangnya.
"Aku gak mau jadi orang yang gak kalian kenal, aku mau ingat kalian semua" kata ku.
"Kami semua sayang sama kamu Selena, tapi semua gak bisa di paksa, kamu juga harus mengerti bagaimana perasaan mama kamu, dia pernah hampir kehilangan kamu, bahkan tinggal dengan kamu yang tidak mengingat dia" kata Damar mencoba mencairkan amarah ku pada situasi ku saat ini.
"Jadi aku harus bagaimana ?" kata ku terisak.
"Kamu harus punya batas untuk ini semua" kata Damar.
"Batas apa?" tanya ku. Air mata ku sudah terhenti.
"Batas untuk kamu berhenti, komitmen sama diri kamu" kata Damar.
"Maksudnya ? Aku gak ngerti?" kata ku bingung.
"Mama kamu tau apa yang kita lakukan, dari gerak gerik kamu dan Kayla dan setiap hari mama kamu minta aku agar kamu mau menjalani hidup yang baru tanpa mencari masa lalu, menjadi Selena yang baru" kata Damar sembari memegang tangan ku.
"Tapi kamu tau Dam" aku mencoba tetap yakin pada keinginan ku.
"Ia aku tau, gak mudah jadi kamu dan aku pun yakin kalau kamu gak akan berubah pikiran, jadi gimana aku beri saran untuk kamu" kata Damar.
"Saran apa?" tanyaku penasaran.
"Kamu hanya mencari ingatan kamu melalui buku daftar teman kamu, setelah itu jika kamu tidak ingat apa pun lagi, aku mohon kamu lupakan semuanya, kamu harus mulai hidup baru, kegiatan baru, dan..." Damar menghentikan perkataannya.
"Dan apa?" tanyaku penasaran.
"Dan cinta yang baru" Damar menatap ku.
Aku terdiam mendengar ucapan Damar, pada saat ini jantung ku seperti berhenti.
"Jadi gimana ?" tanya Damar.
"Aku berharap sebelum bertemu semua daftar teman ku, aku sudah ingat semuanya, ingat siapa aku, mama, Kayla, Kamu dan..." Aku menghentikan perkataan ku.
"Dan Ghandi" Damar melanjutkan perkataan ku.
"Ia" kata ku sembari tersenyum melihat Damar.
"Aku kira hari ini aku bisa buat kamu gak sebut nama Ghandi" kata Damar tertawa kecil, entah mengapa wajahnya terlihat sedikit kesal.
"Aku memang tidak ingat dia, tapi dia terasa dekat di hati aku" kata ku.
"Kenyataannya Ghandi sudah tidak ada Selena" kata Damar.
"Benar" kata ku.
"Ghandi, aku juga rindu dia, tapi terkadang aku kesal ketika kamu selalu menyebut namanya" Damar menatap ku.
"Kenapa kamu kesal? Bukannya dia sahabat kamu?" tanya ku penasaran.
"Bahkan saat dia tidak ada dia tetap menjadi yang paling dekat dengan kamu" kata Damar tersenyum tipis.
"Kamu yang lebih tau bagaimana aku dan dia Dam" kata ku.
"Benar aku tau persis mengapa dia sangat jatuh cinta sama kamu" kata Damar.
"Aku ingin mencuri ingatan kamu tentang dia" kata ku mencoba mencairkan suasana ku dan Damar.
"Kamu bahkan sudah mencuri lebih dari ingatan ku" kata Damar.
Aku terdiam lagi, jantung ku terasa berhenti kembali, perasaan apa ini ya tuhan.
"Kamu sudah banyak mencuri waktu ku untuk temanin kamu hari ini" Damar tertawa melihat aku terdiam menatapnya.
"Kamu yang ngajakin kesini, kamu yang mencuri waktu ku" Aku pun tertawa.
Setelah dari taman seharian penuh kami menghabiskan waktu berdua, pergi ke tempat-tempat yang di rekomendasikan Damar, dari restaurant, toko buku, toko baju, mall tanpa ada membicarakan sedikitpun masa lalu kami, aku seperti terlahir kembali hari ini. Ternyata aku bisa menjalani hari ini, bahkan setelah dari taman aku pun tidak memikirkan Ghandi.
"Aku pulang yah" kata Damar.
"Gak masuk dulu" kata ku.
"Udah malam" kata Damar.
"Oh ya udah, hati-hati yah" kata ku.
"Sel, aku minta maaf aku bukan bermaksud nyuruh kamu untuk lupa sama diri kamu yang dulu, aku cuma ingin kamu menerima kamu yang sekarang" kata Damar.
"Aku mengerti kok" kata ku tersenyum.
"Aku balik yah" Damar kemudian pergi.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments