Bab 9 : Penulis

“Sungai Mahakam, penoh dengan gubang dan tambangan, dari hulu ke hilir, membawa kekayaan alam” mbok Ros bernyanyi sembari menyapu teras rumah.

“Mbok, suaranya bagus banget, bisa banget jadi penyanyi, kok aku baru tau yah mbok bisa nyanyi sebagus ini” kataku yang takjub mendengar suara mbok Ros yang terdengar sangat merdu.

“Makasih loh non, aduh mbok jadi malu” mbok Ros tersipu malu.

“Itu lagu apa mbok?” tanyaku penasaran.

“Judulnya Sungai Mahakam non, dari daerah Kalimantan Timur” kata mbok Ros yang melanjutkan menyapu teras rumah.

“Bukannya mbok orang jawa?” tanyaku.

“Ia non, mbok emang orang jawa, dulu yang ngasih tau mbok lagu itu mas Ghan…” seketika kalimat mbok Ros terhenti.

“Ghandi, gak apa mbok, sampai kapan sih kalian mau puasa nyebut nama Ghandi di depan aku” kataku. Aku bisa memahami kenapa mbok Ros terlihat ragu menyebut Ghandi, karena mama yang melarangnya. Entah sampai kapan mama mau menyembunyikan semuanya.

“Bukannya mbok bermaksud tidak baik sama non Selena, tapi ibuk udah pesan sama mbok non” kata mbok Ros yang berhenti menyapu.

Aku mengajak mbok Ros untuk duduk di kursi teras. Aku berharap bahwa mbok Ros bisa lebih terbuka sedikit dengan ku.

“Mbok, aku mau nanya, dimata mbok aku dulu gimana?” tanyaku penasaran.

“Non itu pendiam, punya dunia sendiri, non tidak berani berbicara dengan orang lain, dulu ketika non waktu kecil non sekolah di rumah, tetapi semenjak mas Ghandi datang non menjadi lebih sering tersenyum dan berkat mas Ghandi non akhirnya mau masuk sekolah seperti anak biasa” kata mbok Ros.

“Jadi mbok tau banyak tentang Ghandi dan aku?” tanyaku.

“Gak tau banyak non, tapi mas Ghandi setiap hari kesini, dari yang awalnya cuma teman sampai jadi pacar” mbok Ros tersenyum menggoda ku.

“Jadi Ghandi menurut mbok gimana?” aku ingin mengenal Ghandi meskipun hanya dari pandangan mereka yang mengenal dirinya.

“Mas Ghandi itu lucu non, banyak tingkahnya, dia ceria dan non Selena sayang sekali dengan mas Ghandi, tetapi sayangnya mas Ghandi….” Mbok Ros kembali menghentikan kalimatnya.

“Kenapa mbok, kok gak di lanjutin” tanyaku penasaran.

Mbok Ros terlihat gugup didepan ku, ada sesuatu yang tidak bisa di ceritakannya kepadaku.

“Non, mbok beresin didalam dulu yah non” mbok Ros langsung meninggalkan aku sendirian di teras.

Semakin mencari jawaban tentang masa laluku, semakin banyak teka-teki yang tidak terpecahkan. Bahkan sampai sekarangpun aku tidak mengingat apapun. Air mataku jatuh tidak terbendung lagi, sesak sangat terasa di dadaku, aku tahu ini bukan hanya terasa sesak tapi perasaan sakit yang tidak bisa ku bendung lagi.

“Kring kring kring ” handphone ku berbunyi dan aku lihat Damar menelpon ku, kemudian aku mengangkatnya.

“Hallo” kataku.

“Apa kabar Selena?” suara Damar terdengar jelas, dia berdiri di depan pagarku.

Tubuhku secara otomatis menuju kearahnya, dan memeluk Damar dengan sangat erat, aku menangis kencang sehingga air mataku membasahi bajunya. Damar membalas pelukanku tanpa berkata apapun.

“Maaf kataku” lalu melepaskan diriku dari Damar.

“Jadi kamu mau kita keluar atau ngobrol didalam?” tanya Damar.

“Kamu aja yang pilih, kamu pasti lebih tau kan” kataku.

“Kita jalan kaki aja yah mengelilingi komplek rumah kamu” Damar memegang tangan ku, dan kami berdua berjalan bergandengan tangan.

“Kamu lucu juga kalau nangis” Damar menggoda ku.

“Apaan kamu” kataku yang sudah mulai tersenyum.

“Jadi kamu udah pikirkan kamu kedepannya gimana” kata Damar yang masih menggenggam tangan ku erat.

“Aku harusnya gimana yah Dam?” aku yakin bahwa Damar lebih tau apa yang harus aku lakukan selanjutnya, karena dia lebih mengenal diriku dibanding dengan diriku sendiri.

“Kamu balik ke cinta pertama kamu aja” kata Damar yang melihatku dengan tersenyum.

“Ghandi? Ghandi Kan udah gak ada Dam” kataku dengan wajah sedikit cemberut.

“Kalau ngomongin cinta yang di otak kamu langsung ke Ghandi” Damar terdengar kesal.

“Jadi siapa?” tanyaku penasaran.

“Menulis, kamu sangat suka menulis dari kecil, mama kamu dan tentunya Ghandi yang ngasih tau aku, dan kamu itu penulis loh sejak SMA kelas dua dan setiap tahun buku kamu terbit, satu buku” kata Damar yang sembari menunjukkan senyum lebarnya.

Aku terdiam sejenak, fakta ini baru pertama kali aku dengar, bahkan Kayla pun belum ada menceritakannya kepadaku.

“Dam” aku berdiri menatap Damar serius.

“Kenapa?” tanya Damar yang juga menatapku serius.

“Kenapa kalian semua penuh teka-teki dengan aku, semuanya, mama, Kayla, mbok Ros dan bahkan kamu yang selalu saja menggantung semuanya, aku capek kalian selalu menutupi hal yang seharusnya aku juga tau” aku menangis kembali.

“Aku tau kamu tersiksa, tapi kamu janji kan sama aku, jika kamu tau semuanya kamu akan menerima segala kepahitan itu” Damar memeluk ku yang masih menangis.

“Aku akan terima apapun, meskipun itu menyakitkan aku” kataku.

Aku dan Damar kembali berjalan menuju rumahku, sebelum menuju rumahku Damar berhenti di depan sebuah rumah di samping rumahku.

“Ini dulu rumah Ghandi” Damar melihat rumah itu dengan serius.

“Kalau rumah kamu yang mana?” tanyaku.

“Itu” Damar menunjuk ke rumah tepat didepan rumah ku.

***

“Kak” Kayla masuk kedalam kamarku, sembari membawa enam buah buku.

“Apa ini?” tanyaku penasaran.

“Tadi mas Damar telfon aku, katanya kakak nangis yah? Aku minta maaf yah kak” Kayla memeluk ku erat.

“Kakak tau kamu gak maksud menyembunyikan semuanya dari kakak, kakak tau kamu khawatir sama kakak, tapi mulai hari ini kamu gak boleh menyembunyikan apapun, janji sama kakak” kataku.

“Iaa, hmmm jadi ini novel kakak dulu” Kayla memperlihat enam buku tersebut kepadaku.

“Mawar putih?” tanyaku pada Kayla ketika melihat nama penulis semua buku ini.

“Benar, nama pena kakak Mawar putih, dan yang ngasih nama itu mas Ghandi?” kata Kayla.

“Kamu udah baca semuanya?” tanyaku.

“Udah semua, dan semua karakternya itu sama, yaitu seorang putri yang bermimpi menjadi peri yang memiliki sayap yang indah karena jatuh cinta dengan pangeran peri” kata Kayla.

“Gak mungkin semuanya kan” aku tertawa, Kayla menatapku dan menganggukkan kepalanya serius kepadaku.

Aku mengambil handphoneku dan mulai menelfon Damar untuk menanyakan tentang novel ini.

“Cie” Kayla menggodaku.

“Hallo” Damar mengangkat telfon ku.

“Selamat malam mas Damar” Kayla yang mengaktifkan mode speaker handphoneku.

“Kamu Kayla, mas kira kakak kamu” Damar tertawa.

“Ini aku” kataku.

“Kenapa?” tanya Damar penasaran.

“Aku mau nanya, kamu udah baca semua novel aku ?” tanyaku penasaran.

“Sudah, Kayla sudah kasih semua ke kamu kan novelnya?” kata Damar.

“Udah, jadi kamu bisa ceritain tentang apa novel ini?” tanyaku.

“Kamu baca sendiri aja novelnya, tapi secara garis besarnya karakter novelnya itu sama tentang seorang putri yang bermimpi menjadi peri yang memiliki sayap yang indah karena jatuh cinta dengan pangeran peri tetapi di setiap novel di balut kisah yang berbeda” kata Damar.

“Oke, mas Damar besok aja yah kencannya sama kakakku, sekarang waktunya untuk saudara” Kayla mematikan telfon Damar, aku menyipitkan mataku melihatnya.

“Kenapa kak? Telfon mas Damar lagi, yuk telfon lagi” kata Kayla menggodaku.

“Lain kali kalau mau matiin telfon tunggu orangnya jawab dulu yah” kataku.

“Ia kak maaf” Kayla memanyunkan bibirnya agar terlihat imut di depanku.

“Terus kenapa Cuma enam, kalau kakak dari kelas 2 SMA udah nulis ini, pasti lebih dari enam kan, sekarang aja kakak udah 27 tahun, seharusnya kalau kelas 2 SMA umur kakak 17 tahun dan sekitar 10 buku sampai 11 buku lah yah” tanyaku penasaran.

“Kan kakak satu tahun koma, dan setelah bangun berbulan-bulan kakak gak ada ngapa-ngapain, sibuk kencan sama mas Damar” kata Kayla menggoda ku.

“Kakak serius Kay” kataku menatap Kayla tajam.

“Oke deh, kakak itu kan segala energinya itu dari mas Ghandi, bahkan aku dan mama gak bisa memberikan energi itu sama kakak, jadi sekitar 5 tahun atau 6 tahun lalu, aku lupa tepatnya kapan, mas Ghandi pindah tapi masih di kota yang sama, aku gak tau sih alasannya karena kakak gak tau juga, mas Ghandi juga gak ada cerita” kata Kayla.

“Hubungan Ghandi pindah sama aku malas nulis novel lagi apa?” tanyaku.

“Aduh kakak, jadinya mas Ghandi jarang banget main kesini, karena katanya mas Ghandi sekalian kuliah dan kerja” kata Kayla.

“Aku se terikat itu yah sama Ghandi atau Ghandi pindah gara-gara aku terlalu posesif ke dia yah Kay?” Aku heran dengan diriku yang dulu, manusia yang terlalu kaku dan hanya mencintai satu orang lelaki bahkan sampai sekarang aku hanya mengingat nama Ghandi, padahal Damar juga ada dalam hidupku, entah bagaimana sosok Ghandi sehingga membuatku bisa terlalu mencintainya.

“Gak tau juga kakak sayang” Kayla mengelus pundak ku pelan.

“Kay, jadi aku putusnya gimana sama Ghandi, kemarin-kemarin kamu pernah cerita bahwa sebelum aku kecelakaan aku sama Ghandi putus?” tanyaku.

“Untuk kejadian itu aku gak terlalu tau, jadi karena sekarang aku adalah asisten mas Damar, kata mas Damar dua minggu lagi mas Damar dan aku akan bantuin kakak untuk mengingat kembali diri kakak dengan cara yang sistematis” kata Kayla sembari tersenyum lebar ke arahku.

“Kenapa harus dua minggu sih, kan bisa besok” kata ku memohon.

“Aku dua minggu lagi libur jadi ada waktu buat bantuin kakak, tapi kalau mas Damar katanya selama dua minggu ini dia mau ke Kalimantan dulu, mau ngurus kebun sawit orang tuanya dulu, dia mau bilang kakak tapi kakak terlanjur nangis-nangisan jadi yah dia takut kakak makin sedih” Kayla tersenyum menggoda ku.

“Enggak kok, gak akan sedih, mau dia satu tahun gak datang gak apa, lagian dia Cuma pamer harta orang tuanya sama kamu Kay” kataku ketus.

“Yang penting kaya dan masa depan kakak ku yang super pemalas ini akan terjamin, dapat suami kaya” Kayla tertawa melihat wajahku yang merah mendengar ucapannya.

“Kamu kenapa sih, Damar itu gak mungkin mau nikah sama kakak, dia kan saksi kisah cinta kakak dan Ghandi, lagian dia gak akan mungkin jatuh cinta sama kakak” kataku percaya diri.

“Kak, Mas Ghandi dan Mas Damar itu sama sama tampan, tetapi yang pasti untuk kakak cuma mas Damar, kalau mas Ghandi kan bagian masa lalu” Kayla menatapku serius.

Perkataan Kayla benar, selama ini aku mencari masa lalu yang bahkan sosoknya tidak akan aku temui lagi sekarang, meskipun begitu aku hanya ingin mengenal dirinya meskipun sehari saja.

 

 

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!