Bab 15 : Penjagaku

“Kenapa lagi sih kak?” Kayla berdiri di depan pintu kamarku.

“Yakin kamu uda cerita semua tentang kakak?” tanya ku.

“Kenapa sih kak?” Kayla naik keatas tempat tidur ku, kami berdua berbaring melihat langit-langit kamar ku.

“Mama Kay” kata ku sembari menghela nafas.

“Wajar kak, namanya orang tua, bagi orang tua yang lebih berharga dari hidupnya yah anaknya” kata Kayla.

“Wah makin bijaksana yah” kata ku tersenyum menggoda Kayla.

“Penjaga utama seorang anak yah orang tua” kata Kayla. Perkataan Kayla membuat ku berfikir bahwa bukan hanya Ghandi penjagaku, tetapi juga Mama yang selalu ada saat aku kecil sampai sekarang.

“Kakak belum ingat apapun” Kata ku.

“Udah nikmatin aja prosesnya kak, nikmatin petualangan mencari ingatan dengan mas Damar” kata Kayla yang kembali menggoda ku dengan Damar.

“Ih, kamu bentar-bentar Damar, kamu lebih ingat loh betapa kakak bucin sama Ghandi” kata ku tersenyum kecut.

“Tau dari mana kakak bucin, kakak itu posesif banget sama mas Ghandi, makanya ….” Kayla tidak melanjutkan kalimatnya.

“Makanya apa? Kamu menyembunyikan apa?” tanyaku penasaran.

“Tu mas Damar dan kak Lita menjadi korban ke posesif nya kakak dulu” kata Kayla.

“Cerita dong kenapa, Damar dan Lita belum ada cerita sama kakak” kataku dengan nada memaksa.

“Belum yah hahahha” Kayla tertawa.

“Kay” kataku sembari menyipitkan mata.

“Kakak gak pernah terbuka sih sama aku, tapi dari feeling aku, kakak dengan mas Damar, atau kakak dengan kak Lita gak pernah berhubungan lagi bertahun tahun pasti karena cinta segitiga dengan mas Ghandi tetapi beda masa, dan aku rasa karena kakak yang selalu nempel mas Ghandi lah” kata Kayla mencoba meyakinkan.

“Apaan sih kamu, kebanyakan baca novel yah” kata ku mencoba menyangkal perkataan Kayla.

“Jadi gimana kalau kita buat lagi cinta segitiganya, kakak, mas Damar dan kak Lita” Kayla tertawa menggoda ku.

“Kay, jangan main-main deh, semua yang kamu bilang itu gak mungkin” kata ku.

“Kakak tanyak aja sama mereka” Kayla tersenyum sembari menaikkan kedua alis matanya.

***

“Kita mau kemana?” tanya ku pada Lita yang pagi ini sudah menjemput ku.

“Kita mau kerumah nenek aku” kata Lita yang terlihat bersemangat hari ini.

“Ngapain?” tanya ku.

“Kamu nanti juga tau” kata Lita.

Selama di perjalanan menuju rumah nenek Lita, kami tidak banyak berbicara tentang masa lalu, Lita seperti tidak ingin mengungkit masa lalu dia lebih senang membicarakan bagaimana kehidupannya di paris, musik yang dia sukai sekarang, makanan kesukaannya, bahkan aku pun melupakan sejenak tentang rasa penasaran ku tentang masa lalu kami.

Sekitar empat puluh lima menit akhirnya kami sampai dirumah nenek Lita. Seorang bapak paruh baya membuka gerbang pagar rumahnya, kata Lita dia penjaga rumah nenek Lita.

“Non Lita udah lama gak kemari” kata penjaga rumah.

“Pak Umang apa kabar ?” tanya Lita ke penjaga rumah.

“Baik non, non maki cantik aja, non Lita apa kabar?” tanya pak Umang.

“Makasih loh pak, saya baik banget kabarnya pak, oh ya ini Selena pak, teman kuliah saya dulu, bapak masih ingat” kata Lita.

“Ia saya ingat non, dulu sering datang sama mas siapa namanya non,mas Ganti yah” kata pak Umang.

“Ghandi pak, bukan Ganti hahahaha” Lita tertawa dengan tingkah pak Umang yang lucu saat menyebut salah nama Ghandi.

“Ia mas Ghandi non, mas Ghandi nya gak di ajak non?” tanya pak Umang, seketika senyum di wajah Lita dan aku menghilang.

“Ghandi sudah meninggal pak” kata ku pad apak Umang.

“Innalilahi” kata pak Umang terkejut.

“Kami masuk dulu yah pak” Lita kemudian menarik tangan ku pelan untuk menuju kedalam rumah, meninggalkan pak Umang yang masih kebingungan tentang Ghandi.

“Ghandi dan aku sering kesini ya?” tanya ku penasaran.

“Enggak sering banget sih, setidaknya dua kali seminggu ngeliat nenek” kata Lita yang sudah mulai tersenyum lagi.

Ak mencoba merasakan suasana dirumah ini, aku berharap bisa mengingat sesuatu tentang masa lalu ku.

“Jadi, kita disini mau ngapain?” tanyaku.

“Kemarin mama kamu nelpon aku, mama kamu bilang dia takut, dia takut kamu kenapa-kenapa” kata Lita.

“Ia, mama ingin menjalani hidup yang baru, tapi susah menjalani hidup yang baru kalau aku gak kenal siapa aku” kata ku.

“Aku mengerti, aku udah bilang sama mama kamu untuk jagain kamu, sekaligus menebus kesalahan aku ke kamu dan kesalahan aku ke Ghandi” kata Lita.

“Kesalahan kamu?” tanya ku penasaran.

“Tunggu disini yah” Lita pergi meninggalkan aku. Aku melihat sekeliling ruang tamu ini, tidak sedikit pun terbesit ingatan di kepala ku. Aku pandangi satu persatu foto yang terpajang diruang tamu ini, dan aku melihat sebuah foto dengan wajah yang ku kenal, Ghandi yang sedang berfoto bertiga dengan Lita dan seorang wanita tua yang aku yakin itu nenek nya Lita, tapi kenapa tidak ada aku di foto ini.

“Sel” Lita memegang pundak ku pelan.

“Ini apa?” tanya ku yang melihat Lita membawa dua Album foto dan sebuah kotak.

“Ini album foto kita bertiga, dan ini album foto aku dan Ghandi” Lita memberikan aku Album foto tersebut.

Tulisan di album foto kami bertiga adalah “gue dan teman gue”. Aku melihat foto-foto kami bertiga sambil bertanya apa yang sedang kami lakukan, Lita dengan senang hati menjelaskan semuanya kepada ku. Terlihat dari foto-foto itu aku sangat bahagia dan pastinya wajah yang tak asing lagi, wajah Ghandi ku yang selalu tersenyum.

“Kamu beda banget yah dengan kamu yang sekarang, dulu kamu cantik tapi lebih tomboy, sekarang kamu feminism banget” kata ku menggoda Lita.

“Aku kan belajar dari kamu, dan kamu pun banyak banget berubah” kata Lita membalas menggoda ku.

“Berubah gimana ?” tanyaku.

“Kamu dulu itu pendiam banget, kemana-mana maunya sama Ghandi mulu, tapi akhirnya kamu mau sih bicara sama aku, tapi cara kamu ngomong itu lembut banget beda banget sama aku, pokoknya aku princes banget” kata Lita.

“Kalau sekarang?” tanyaku.

“Kamu kayak orang yang berbeda, kamu tu sekarang kayak punya banyak ekspresi, kamu beda aja, aku gak tau apa yang membuat kamu berbeda, tetapi yang pasti sama kamu selalu punya senyum manis” kata Lita yang tersenyum memandangi ku.

“Aku juga bingung untuk mendeskripsikan diri aku” kata ku yang juga tersenyum kepada Lita.

“Kalau Ghandi itu kayak pengawal kamu dan semenjak kita berteman dia merangkap jadi pengawal aku, yah meskipun aku gayanya kayak rockstar gini, aku dulu banyak yang naksir” kata Lita.

“Aku percaya kamu banyak yang naksir” Lita itu sangat cantik, aku percaya bahwa pasti banyak laki-laki yang mengejarnya.

“Ia, tapi Ghandi manusia aneh yang gak bisa liat cewek lain selain kamu” kata Lita. Aku tersenyum mendengar perkataan Lita, aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi satu-satunya cewek yang memiliki Ghandi. Ghandi aku semakin ingin mengingat mu.

“Oh ya, itu foto bertiga kamu, Ghandi dan….”kata ku ragu menunjukkan foto yang terpajang di ruang tamu yang tadi aku lihat.

“Itu nenek aku, dia sayang banget sama Ghandi” kata Lita, wajahnya terlihat sedih ketika berbicara tentang neneknya.

Aku melanjutkan melihat album foto yang kedua, album foto khusus Lita dan Ghandi.

“Apa ini?” Aku terkejut ketika melihat tulisan di dalam album foto itu yang tertulis “Bersama orang yang paling dicintai”.

“Aku dulu pernah iri dengan kamu dan Ghandi, aku iri karena kamu punya Ghandi yang selalu ada untuk kamu, sampai akhirnya aku jatuh cinta sama Ghandi” aku terkejut mendengar pengakuan Lita.

“Maksudnya?” tanyaku.

“Sel, aku jatuh cinta sama Ghandi dan itu juga salah satu alasan aku ninggalin kalian” Lita menangis memeluk ku.

“Jadi?” tanyaku sembari memeluk Lita.

“Andai aku bisa mengulang waktu, maka aku dan kamu pasti bisa bersahabat sampai sekarang dan mungkin nenek masih punya banyak waktu untuk ku” kata Lita.

Lita memberikan sebuah kertas yang sudah menguning, aku yakin kertas itu sudah tahunan usianya. Kertas kecil yang bertuliskan

Untuk Ghandi…..

Hujan turun tidak membasahi ku, tetapi untuk menemaniku

Petir terdengar menggelegar, tetapi tidak menakuti ku

Angin memeluk ku tanpa permisi, tetapi itu menyejukkan

Aku bersama penjagaku di sore hari ini

Dari Lita….

“Kamu nulis puisi juga?” tanyaku.

“Bukan, itu tulisan kamu, aku ambil dan aku kasih ke Ghandi’ kata Lita yang sudah tidak menangis lagi.

Aku melihat foto-foto di album itu, Lita dan Ghandi terlihat bahagia di foto itu. Aku bisa merasakan bahwa wajah Lita lebih bahagia ketika berfoto berdua dengan Ghandi.

“Jadi kalian selingkuh?”tanyaku penasaran karena melihat Lita yang menangis dan merasa bersalah kepada ku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!