Aku sangat khawatir apakah Lita datang hari ini menemui ku. Dia teman wanita pertama yang akan aku temui, perasaan gugup yang kurasakan sekarang. Aku bingung harus bagaimana, meskipun Kayla sudah menceritakan semuanya, tetap saja aku akan bertemu dengan seseorang yang pernah aku jadikan teman. Aku melihat kearah jendela, melihat apakah Lita sudah berada dirumah ku.
“Kak, ngapain sih liat ke jendela?” Kayla menghampiri ku penasaran.
Aku tidak menghiraukan Kayla dan tetap melihat kearah jendela. Sebuah mobil sedan berwarna putih masuk ke pekarangan rumah ku. Seorang wanita sangat cantik keluar dari mobil sedan itu. Penampilan wanita itu sangat elegan, memancarkan aura yang sangat karismatik, menggunakan dress selutut berwarna merah maroon dengan potongan rambut bob nya, kaca mata hitam yang menambah kesan elegan dirinya.
“Kak Lita” Kayla berseru setelah melihat wanita itu. Kayla dan aku kemudian menuju ke depan untuk menyambut tamu kami.
“Selena” Lita memeluk ku dengan erat, senyum ceria sangat jelas terasa, bahkan aku pun bisa merasakan betapa bahagianya dia melihat diriku.
Aku hanya melihat Lita dan untuk urusan bagian pembukaan itu tugas Kayla.
“Kak Lita apa kabar?” tanya Kayla santai.
“Baik, kamu udah semakin cantik yah Kay” jawab Lita tersenyum.
“Ih, cantikan kak Lita” Kayla mengeluarkan jurus paling ampuhnya yaitu menyanjung orang.
“Selena, Kayla udah cerita sama aku semuanya kemarin via telfon, yang penting aku senang kamu baik-baik saja” Lita tersenyum.
Aku memandang Lita dengan seksama, wajahnya yang sangat cantik membuatku sangat terpukau. Aku bingung bagaimana aku bisa berteman dengan perempuan seperti dia, melihatnya saja sudah membuatku terintimidasi dengan penampilan dan auranya.
“Kamu apa kabar?” tanya ku, membuka percakapan kami.
“Aku baik saja, udah lama yah kita gak ketemu, terakhir kali kita ketemu ketika kita semester 2” kata Lita.
“Sudah lama yah” jawab ku, mencoba mencairkan perasaan gugup ku.
“Oh ya aku pergi dulu yah, mau latihan Piano” Kayla pergi meninggalkan aku dan Lita berdua. Aku sangat canggung melihat Lita yang sedari tadi memperhatikanku dengan tersenyum.
“Aku tau kamu gugup” kata Lita yang sadar melihat gerak-gerik ku.
“Ia, maaf” jawab ku pelan.
“Seharusnya aku yang minta maaf, bukan kamu” kata Lita dan seketika wajahnya berubah menjadi sedih.
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Aku minta maaf kalau selama ini aku udah pergi dari hidup kamu dan Ghandi, dan tentang Ghandi aku sangat minta maaf karena aku gak datang ke pemakamannya” mata Lita berkaca-kaca.
“Jangankan ke pemakamannya, bahkan mengingatnya saja aku tak bisa” air mataku kemudian mengalir lagi. Lita memeluk ku mencoba menenangkan aku.
“Aku akan bantuin kamu” Lita menggenggam erat tangan ku.
“Jadi bisa kamu ceritakan tentang kita?” tanyaku.
“Sebelum aku cerita, aku mau ambil sesuatu dulu di dalam mobil” Lita pergi menuju mobilnya.
“Mawar putih?” Lita membawa sebuket mawar putih.
“Ia, ini untuk kamu, dulu kamu bilang kalau aku kembali lagi dan bertemu kamu lagi, kamu cuma mau satu buket mawar putih” Lita memberikan buket mawar putih itu kepada ku.
“Terima kasih” ternyata aku benar menyukai mawar putih, tetapi kenapa di toko bunga aku lebih memilih mawar merah dan arti bunga mawar merah dan putih di rumah Ghandi aku masih belum bisa memahaminya.
“Oh ya ini ada foto” Lita menunjukkan sebuah foto disana ada aku, Lita dan wajah yang aku kenal Ghandi.
“Ghandi selalu ada yah” aku tersenyum melihat Ghandi yang tersenyum di foto tersebut.
“Ia, Ghandi selalu ada buat kamu, dan aku kenal kamu pun dari Ghandi” kata Lita.
---***---Flashback ingatan Lita---***----
“Hati-hati dong mas” seorang laki-laki menabrak Lita dengan sangat buru-buru, tanpa kata maaf atau apapun itu, laki-laki itu pergi begitu saja. Lita yang tidak terima mengejar laki-laki itu.
“Minta maaf dong, lu liat tu kertas tugas gue hancur semua jatuh kena becek” Lita menarik jaket laki-laki itu.
“Ia bentar dulu yah, ni cewek gue pingsan” laki-laki itu melepaskan tanga Lita dari jaketnya dan kemudian pergi berlari dan begitupun Lita yang ikut berlari dengan wajah kesalnya.
Laki-laki itu berhenti di depan ruangan UKS.
“Tanggung jawab gue bilang” Lita berhenti tepat di samping laki-laki itu.
“Kamu gimana ?” laki-laki itu terlihat sangat khawatir melihat perempuan yang berdiri tepat di depan pintu ruang UKS.
“Aku gak apa-apa” perempuan itu tersenyum kearah laki-laki itu.
“Udah mesra-mesra nya, lu tanggung jawab tugas gue” Lita masih meminta pertanggung jawaban laki-laki itu karena tugasnya yang hancur.
“Lu, ngikutin gue sampai sini?” tanya laki-laki itu yang terkejut melihat Lita.
“Lu udah salah yah” jawab Lita dengan tatapan sinis nya.
“Ia biar gue buatin lagi tugas lu, diketikkan, dan mana hape lu ?” jawab laki-laki itu.
“Biar aku saja yang buatin ulang tugas kamu, kamu ada file nya?” perempuan itu ikut menawarkan dirinya untuk membuat ulang tugas Lita.
“Lu berdua, udah buat gue kesel banget, emang lu berdua tau kalau gue jurusan apa? Tau tugas dan materi kuliahan gue tau ? ini aja gue buatnya udah setengah mampus, sekarang lu berdua sok-sokan genius?” Lita terlihat sangat kesal.
“Lu gimana sih?, tapi lu sendiri yang minta tanggung jawab, nah itu solusi dari kita” kata laki-laki itu sembari mengacungkan jempolnya kearah Lita.
“Sini KTP lu” Lita meminta KTP laki-laki itu.
“Enggak bisa dong, identitas ni, nanti lu pakai yang bukan-bukan” Laki-laki itu menolak dengan tegas.
“Gue butuh jaminan agar lu bisa tanggung jawab, dan nanti gue pikirin cara lu tanggung jawabnya” Lita melotot kerah laki-laki itu.
“Ni, kamu bisa bawa KTP aku aja” perempuan itu menyerahkan KTP nya kepada Lita.
Lita mengambil KTP tersebut melihat identitas yang ada di KTP itu.
“Gak usah sayang, mending aku kerjain tugas dia aja, aku bisa kok” kata laki-laki itu kepada perempuan itu.
“Seharusnya lu gentle kayak cewek lu ini, gue pegang dulu ni KTP berdua” Lita kemudian mengambil KTP laki-laki itu.
“Nomor telfon gak sekalian?” tanya laki-laki itu kepada Lita.
“Ngapain gue minta nomor telfon lu” jawab Lita judes.
“KTP gue dan cewek gue sama lu yah” kata laki-laki itu sembari mengkerut kan dahinya.
“Gak perlu, besok pagi jam 7 gue tunggu lu untuk print ulang tugas gue dan harus dijilid rapi, kalau lu gak dating gue bakar ni KTP” kata Lita dengan nada mengancam.
“Bahkan bisa gue buat ulang tu tugas lu sekarang juga” kata laki-laki itu.
“Bagus lah, lagian gue gak ada soft copy nya” kata Lita tersenyum. Lita kemudian memberikan sebuah kertas kepada laki-laki itu poin-poin tugas yang harus di buat ulang oleh laki-laki itu.
“Kenapa gak ada soft filenya sih, biasanya kan kita ni kalau orang normal pasti nyimpan di flash disk tugasnya, ntar gue print ulang tu tugas gimana ? lebih simple kan?” kata laki-laki itu sembari tersenyum kecil.
“Gue gak mau, pokoknya besok harus jadi, tapi lu berdua yang mau tadi ngerjain tugas gue” kata Lita yang kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
---***---
“Jadi kita ketemunya gak baik-baik?” tanya ku pada Lita.
“Awalnya aku kesel banget sama kalian berdua, soalnya kalian berlebihan banget, sok sweet banget” kata Lita yang tersenyum lebar. Aku dapat merasakan betapa senang nya Lita menceritakan awal pertemuan kami.
“Jadi gimana ? Ghandi jadi ngerjain tugas kamu ?” tanya ku yang masih penasaran dengan cerita Lita.
“Bukan Ghandi, tapi kamu yang ngerjain, Ghandi gak bisa di harapkan selain omongannya” kata Lita.
“Jadi kamu gak jadi bakar KTP kami kan?” tanyaku sembari menggoda Lita.
“Enggak lah, lagian aku juga print ulang tugasnya, aku punya backup nya, tapi karena kesal aku kerjain aja kalian berdua” kata Lita.
“Jadi kita berteman karena apa? Karena aku ngerjain tugas kamu atau …..” tanyaku penasaran.
“Karena Ghandi, makanya kita bisa berteman” kata Lita dengan wajah yang terlihat sedih.
Sepertinya segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku di awali oleh Ghandi, bahkan untuk pertemananku yang ini juga di awali olehnya. Aku semakin ingin mengingatnya, dan aku pun semakin merindukannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments