---***---Flashback ingatan Lita---***----
“Ben, lepasin tangan gue” Lita berusaha melepaskan tangannya dari beni mantan pacarnya.
“Bilang dulu kenapa kita putus?” tanya Beni yang tidak malu bahwa perbuatannya di lihat oleh banyak orang.
“Lu yang harusnya sadar dari awal kalau lu emang gak pantas untuk gue” Lita yang melotot kearah beni. Beni yang menjadi marah mendengar perkataan Lita, dia mencoba untuk menampar Lita.
“Aw” Tamparan Beni mengenai Ghandi yang mencoba untuk menyelamatkan Lita. Melihat Ghandi yang terkena tamparan, Lita kemudian menampar Beni dan orang-orang disana menyoraki beni agar pergi dari sana.
“Lu, gak akan lepas dari gue” Beni menunjukkan jari tengahnya kearah Lita dan melihat kearah Ghandi dengan tatapan sinis, kemudian pergi meninggalkan mereka.
Kerumunan orang yang tadi ramai akhirnya menjadi sepi, hanya ada Ghandi dan Lita yang sedang duduk berdua tanpa ada satu kata apapun.
“Ghandi” terlihat Selena yang sedang berjalan memanggil nama ghandi dengan melambaikan tangannya dan tersenyum kearah Ghandi.
“Cewek lu” kata Lita ketus.
“Hem” Ghandi yang tersenyum kecut kearah Lita.
“Kamu, udah lama nunggu?” tanya Selana kepada Ghandi.
“Baru kok sayang” kata Ghandi yang tersenyum layaknya anak kecil kearah Selena.
“Jijik gue liat lu berdua” kata Lita yang kemudian berdiri dan meninggalkan mereka.
“Lu gak ada terima kasihnya yah” mendengar ucapan Ghandi, Lita kemudian berbalik arah menuju kedepan Ghandi dan mengacungkan jari tengahnya kea rah Ghandi. Selena terkejut melihat sikap Lita. Lita kemudian pergi dan kemudian berhenti ketika jarak Lita sudah lumayan jauh dari mereka.
“Terima kasih, cowok alay, besok gue janji balas dengan jagain cewek lu satu harian” Selena tertawa melihat Lita yang berteriak mengucapkan terima kasih dan Ghandi hanya tersenyum melihat Selena yang sedang tertawa.
---***---
“Kamu ternyata sebar-bar itu yah, tapi kamu tidak terlihat seperti itu” kata ku. Penampilan Lita sekarang yang aku temui tidak menggambarkan dirinya yang dia bicarakan saat dulu.
“Aku dulu ikut modeling, tapi aku gak se feminim ini, karena berteman sama kamu aku jadi lebih feminim” kata Lita yang tersenyum kepadaku.
Lita menceritakan kisah-kisah kami dulu saat kuliah, Lita adalah teman kuliah ku, kami dulu satu jurusan tetapi beda kelas, Lita dulu sama seperti ku, tidak punya teman dan susah bergaul, tetapi kami berbanding terbalik menurutnya, aku yang lebih tertutup dan terkesan penurut, Lita lebih bebas, membangkang karena menurut Lita sikap-sikap dia dulu sebagai bentuk protes kepada orang tuanya yang bercerai dan meninggalkan dia hidup berdua dengan neneknya. Kata Lita pertemanan kami sangat singkat, Lita di sini hanya tiga semester karena neneknya meninggal, sehingga Lita harus pergi mengikuti ibunya ke paris. Baru satu tahun ini Lita balik ke Indonesia. Lita sekarang adalah seorang Chef.
“Selama kamu di paris kita ada komunikasi?” tanya ku pada Lita.
“Ada tapi tidak sering, soalnya aku yang menjaga jarak dari kalian berdua” kata Lita ragu.
“Maksudnya?” tanya ku penasaran.
“Kita berteman karena Ghandi, jadi lebih tepatnya aku lebih dekat dengan Ghandi dari pada kamu” Lita terlihat sedih. Aku merasakan bahwa dia juga kehilangan sosok Ghandi sama seperti ku.
“Aku bingung” air mata ku pun mengalir, dadaku sesak, aku ingin mengingat sosok Ghandi yang mereka bilang selalu ada untukku.
“Ghandi gak akan suka kalau lihat Selena nya menangis” Lita memelukku dan mencoba menenangkan aku.
Lita tidak melanjutkan cerita tentang kami yang dulu, Lita tidak ingin aku merasa sedih lagi, Lita mencoba untuk mendekatkan dirinya kepadaku. Lita menceritakan bagaimana pekerjaannya sekarang, bagaimana kehidupannya sekarang.
“Lita, kenapa kamu jaga jarak dengan aku dan Ghandi?” tanyaku yang penasaran.
“Siapa ini?” tiba-tiba mama dating.
“Lita tante, teman kuliahnya Selena” Lita kemudian menghampiri mama dan mencium tangan mama.
“Tante ingat, apa kabar kamu cantik ?” kata mama sembari tersenyum kearah Lita.
“Baik tante” kata Lita yang juga tersenyum melihat mama.
“Sudah lama yah gak ketemu, sudah dari tadi disini” tanya mama.
“Ia tante sudah dari tadi, ini mau balik soalnya ada urusan tante” kata Lita.
“Udah mau balik?” tanya ku.
“Ia aku balik dulu yah, soalnya aku ada kerjaan, nanti aku hubungi kamu lagi yah” Lita kemudian pergi meninggalkan aku dan mama.
Mama melihatku tanpa mengeluarkan satu katapun. Dari raut wajah mama terlihat jelas banyak pertanyaan yang akan dilontarkannya kepadaku, tetapi mama hanya diam dan kemudian pergi menuju kamarnya.
***
“Apa kabar Selena?” Damar menelfon ku tengah malam ini.
“Dam, ini udah jam dua loh” kata ku.
“Kan biasanya aku jam segini nelpon buat baca puisi, udah lama aku gak dengar kamu baca puisi” kata Damar menggodaku. Akhir-akhir ini aku malas mengerjakan kebiasaanku untuk membaca puisi, awal-awal aku semangat, tetapi sekarang tidak, aku pusing harus menuliskan dan membaca puisi yang mana dan untuk itu aku memutuskan untuk tidak membaca puisi lagi sampai ingatan ku kembali dan aku tahu bagaimana nikmat rasanya membaca puisi tengah malam.
“Aku lelah Dam” kataku yan tanpa sadar menghela nafasku yang dapat terdengar oleh Damar.
“Kamu kenapa?” tanya Damar.
“Aku lelah aja, aku hari ini ketemu Lita teman kuliah aku, dia cerita semua tentang kami, tapi aku tetap gak ingat” kataku yang menahan tangis. Aku sudah ingin menangis, tapi aku tidak mau membuat Damar khawatir tengah malam ini.
“Sekarang kamu tidur dulu, kita cari sama-sama ingatan kamu, ada aku yang akan temani kamu” kata Damar mencoba menenangkan aku.
“Gimana mau tidur kamu nelpon aku” kataku.
“Aku punya telepati sama kamu, hahahah” kata Damar tertawa.
“Apa Sih Dam” kataku yang juga ikut tertawa.
“Ya Udah, kamu tidur yah, kalau gak bisa tidur jangan bayangin wajah aku, nanti kamu semakin gak bisa tidur” kata Damar.
“Hem” kataku yang kemudian menutup telfon Damar.
***
“Ada yang kalian sembunyikan dari mama?” kata mama memecah keheningan sarapan pagi ini.
“Ma, Kayla berangkat sekolah dulu yah” kata Kayla yang kemudian pergi dari kami.
“Apa yang kalian lakukan di belakang mama?” tanya mama. Aku masih terdiam, aku bingung harus mengatakan apa, kalau aku jujur bahwa aku sedang berusaha mengingat masa lalu ku pasti mama akan marah.
“Mama tau kalau kamu ingin ingat semuanya, tapi nanti saja, kamu itu sedang sakit” suara mama terdengar berat.
“Ma, aku baik-baik aja kok, semakin mama ngelarang aku untuk ingat semuanya aku semakin tersiksa ma” kataku.
“Mama gak pernah ngelarang kamu, mama hanya mau kamu pelan pelan saja, gak usah di paksakan, semua itu sudah berlalu dan masa lalu gak akan ke ulang kembali” kata mama.
“Ma, tiap malam Ghandi selalu muncul dihadapan aku ma, wajahnya sedih, sedangkan aku gak tau apa-apa tentang dia, selalu ada perasaan bersalah ma, mama gak pernah mau kasih tau apa yang terjadi” air mataku sudah jatuh. Kulihat mama yang juga sedang menahan tangisnya.
“Kamu lebih mikirin Ghandi yang bahkan tidak disini lagi, disbanding perasaan mama yang takut akan kehilangan kamu lagi” mama menangis dan kemudian pergi menuju kamarnya.
Mama dan aku sama sama terluka, aku yang terluka karena lupa akan diriku, sedangkan mama yang terluka karena ketakutannya akan kehilangan diriku. Ya Tuhan, aku harus apa?, aku bingung, aku bimbang, kepala ku mau pecah rasanya, aku ingin menyerah tetapi tak bisa menyerah juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments