“Kita ngapain di kantin sekolah Kayla sih ?” Aku melihat Damar yang sedang lahap makan di kantin ini, padahal di rumah dia sudah sarapan sangat banyak, entah bagaimana dia bisa dapat proporsi tubuh yang sempurna seperti itu.
“Makan” jawab Damar yang lebih fokus menatap mangkuk mi rebus nya di bandingkan wajahku.
“Mar, jadi kapan kamu ceritain tentang kita?” Damar masih saja fokus dengan makanannya tanpa menghiraukan aku yang sudah mulai kesal.
“Panggilan kamu ke aku itu bukan Mar tetapi Dam, dan aku akan ceritain tentang masa-masa indah dan pahit yang kamu lupakan bersama aku dan Ghandi setelah aku selesai makan” Damar melihatku dengan menyipitkan matanya.
Aku menunggu Damar selesai makan, sembari melihat pemandangan di sekitaran kantin, biasa saja tidak ada yang begitu spesial menurutku, hanya sedikit lebih bersih daripada gambaran kantin pada umumnya. Aku memutuskan bertopang dagu melihat Damar dengan tatapan yang mengintimidasi, menurutku cara yang ampuh untuk membuat Damar lebih cepat menghabiskan makanannya.
“Udah siapkan makannya?” tanyaku pada Damar yang sudah duduk tegap di hadapanku tanpa ada mangkuk makanannya lagi.
“Jadi apa yang kamu rasakan ketika disini” Damar selalu saja membuatku menyusun teka-teki lainnya. Aku hanya ingin dia langsung menjelaskan semuanya tanpa harus bertanya hal-hal yang menurutku tidak terlalu penting.
“Aku mohon sama kamu, kita langsung ke intinya aja, jangan melenceng kemana-mana, gak penting kamu nanya gimana perasaan aku disini dan kamu udah tau jawabannya dari wajah aku” kataku dengan menatap Damar tajam.
“Ternyata amarah kamu yang selama ini terkunci terbobol juga” kata Damar dengan tawa kecilnya.
Aku menatap Damar dengan tatapan yang kesal, karena dia menertawakan sesuatu yang bahkan aku tidak bisa ingat. Aku berdiri dari kursi kantin ini dan bergegas ingin pergi tetapi Damar memegang tanganku dengan tatapan yang serius.
“Kalau kamu gini terus aku pulang naik taksi” kataku mengancam.
“Sekolah ini dulu sekolah kita, aku, kamu dan Ghandi” Damar melihatku serius.
“Jadi kantin ini kenangan kita?” tanyaku penasaran.
“Kamu gak ada hubungannya dengan kantin ini, kamu gak pernah ke kantin selama di sekolah, cuma aku dan Ghandi yang sering kesini, jadi ini pertama kalinya kamu duduk di meja kantin ini bersama aku” Damar menjelaskan dengan tertawa lagi. Aku sudah mulai sangat kesal, bahkan aku merasakan hawa panas dari diriku.
“Aku pulang sekarang” kataku marah.
“Kamu yang aku kenal ternyata beda yah, apa rentang delapan tahun kita gak ketemu, Ghandi ngajarin kamu cara marah” kata Damar dengan tersenyum tipis.
“Jadi mau kamu apa ?” tanyaku.
“Aku suka kamu yang seperti ini, aku suka kamu yang punya rasa marah, aku suka kamu yang gak menahan diri” Damar mengelus kepalaku dan kekesalan ku pada Damar hilang seketika.
“Jadi kamu mau mulai kapan dan dimana?” tanyaku.
“Sekarang dan disini” kata Damar.
***Flash Back (Ingatan Damar)***
Semua siswa baru sedang berbaris berdasarkan kelas yang ditentukan dan ada satu kelas yang diisi oleh tiga puluh siswa dengan peringkat teratas, salah satunya Damar dan Selena. Sejak kecil Selena dan Ghandi tidak pernah berpisah, selalu sekelas tetapi tidak untuk saat ini. Selena yang tidak mudah berteman menjadi ketakutan ketika tidak memiliki Ghandi di sebelahnya, hal itu membuat Selena selama berbaris hanya menundukkan wajahnya ke bawah. Damar mengetahui Bahwa Selena adalah tetangganya dari kecil, sebenarnya dia peduli tetapi karena Selena selama ini tidak pernah ingin berbicara padanya dan selalu kabur ketika diajak bicara olehnya maka ia mengurungkan niat untuk menegurnya.
Sambutan untuk siswa baru sudah lebih satu jam, bahkan Selena yang sedari tadi menunduk sudah mulai terlihat goyang, dan Damar juga memperhatikannya. Damar memprediksi jika Selena masih terus berdiri dari barisan, sekitar tiga sampai lima menit lagi dia akan pingsan, oleh karena tu Damar memutuskan untuk menyela sambutan dari guru.
“Pak” Damar mengangkat tangan kanannya dan semua mata tertuju pada Damar.
“Kenapa kamu nak?” jawab guru tersebut.
“Saya izin ke UKS pak, saya sudah mau pingsan” kata Damar yang mengundang gelak tawa seluruh siswa yang ada.
“Kamu mau pingsan dari mana ?, kamu saja saya lihat tegap berdirinya, suara kamu juga bertenaga” jawab guru tersebut.
“Pak, saya….” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Selena sudah pingsan. Alhasil usaha Damar yang sangat tidak masuk akal itu tetap membuat Selena merasakan hangatnya rumput lapangan sekolah. Tetapi Damar dengan sigap menggendong Selena dan langsung membawa Selena ke UKS dan didampingi oleh seorang guru dan Ghandi yang mengikuti mereka meninggalkan barisannya.
“Buk saya disini saja yah buk, sebenarnya yang mau pingsan itu teman saya yang ini buk, dia juga tetangga saya buk jadi biar saja saya yang menunggu disini yah buk” kata Damar memohon. Damar yang awalnya tidak mau memperdulikan Selena akhirnya memutuskan untuk peduli sebagai sesama manusia.
“Kalau kamu kesini ada perlu apa?” buk guru menunjuk kearah Ghandi yang sudah dengan wajah panik melihat selena berbaring di kasur UKS.
“Saya juga disini yah buk, kami bertiga tetanggaan dari kecil, kami mohon buk” kata Ghandi yang juga ikut memohon.
Melihat kedua siswa laki-laki tersebut buk guru akhirnya mengizinkan mereka sembari perawat UKS memeriksa bagaimana keadaan Selena.
“Kalian boleh disini, tapi jangan berisik” kata buk guru yang kemudian pergi meninggalkan mereka.
“Cewek lo, kenapa? Gak makan yah dirumah?” tanya Damar.
“Mungkin, oh ya makasih yah udah gendong cewek gue” Ghandi menepuk bahu Damar dan di balas senyum dengan Damar.
“Ghandi” Selena yang sudah sadar dan langsung menyebut nama Ghandi.
“Ia aku disini, kamu udah baikkan” tanya Ghandi lembut.
“Aku mau pindah kelas aja yah ikut sama kamu, nanti minta tolong mama aja” kata Selena dengan suara yang terdengar lemah.
“Lu berdua kapan pacarannya sih, waktu TK, SD atau SMP?” Damar yang terlihat geli melihat Ghandi dan Selena.
“Kemarin” Kata Ghandi.
“Jadi kamu mau kan?” tanya Selena pada Ghandi. Selena yang semenjak sadar tidak pernah memalingkan pandangannya dari Ghandi bahkan kehadiran Damar tidak di hiraukan olehnya.
“Dam, gue mau lu jagain cewek gue, karena gue gak mungkin jagain dia, karena lu sekelas sama dia” kata Ghandi yang terdengar serius.
“Gimana gue mau jagain cewek lu, dari kita tetanggaan aja mana mau sih dia temenan sama gue, bahkan sekarang dia liat gue aja enggak kan” kata Damar.
“Jadi kamu gak mau sekelas sama aku?” tanya Selena yang masih terdengar lemah.
“Aku mau kamu punya kasih sayang seorang teman, karena mulai sekarang kasih sayangnya aku ke kamu sebagai pacar, jadi kamu harus bisa lebih berani dan nantinya dikelas kamu akan ditemani sama Damar” mendengar kata-kata Ghandi membuat Damar menjadi mual. Damar seakan melihat adegan dari sinetron yang sering ditonton oleh mamanya dirumah.
“Gue gak ikutan kalian deh” Damar menggelengkan kepalanya.
“Dam, kamu tetangga aku kan?” tanya Selena lembut.
“Jadi selama ini apa Sel, dari kecil kita tetanggaan, satu sekolah dari TK, SD, SMP dan sekarang kita SMA nya bareng” kata Damar.
“Kamu mau jadi tema aku?” tanya Selena dengan wajah polosnya. Damar tidak mengerti bagaimana Selena, tapi hari ini pertama kalinya Selena mengajaknya berbicara, dan dia memutuskan untuk menyetujui menjadi teman dan sekaligus pengawal Selena di kelas.
---***---
“Jadi kita gak pernah bicara dari kecil?” tanya Selena bingung.
“Benar, dan itu pertama kalinya kamu ngobrol sama aku” kata Damar.
“Berarti aku se anti sosial itu, atau se cinta itu sama Ghandi?” kesan pertama ku mendengar cerita Damar tentang awal mula kami berteman adalah aku seorang anti sosial dan aku gak mau berpisah dengan Ghandi.
“Se anti sosial itu mungkin, tapi kalau se cinta itu kayaknya enggak sih” kata Damar.
“Kalau aku gak cinta sama Ghandi ngapain aku mohon ke dia untuk satu kelas ke aku” kata ku pada Damar.
“Kalau kamu udah ingat, kamu sendiri yang tahu jawabannya, yuk kita pulang, nanti di lanjutin lagi” Damar berdiri dan menarik tanganku pelan agar aku ikut berdiri dan meninggalkan kantin ini.
“Oh ya, sebenarnya kantin punya kenangan tentang kita disana” Damar mengelus kepalaku lagi.
Aku tahu kalau Damar tidak ingin terburu-buru menceritakan semuanya, tetapi ini masih sangat terasa kurang dan sepertinya aku butuh dia untuk memecahkan teka-teki ini, seperti Ghandi ku yang dulu meminta Damar menjadi penjagaku. Aku yakin bahwa Ghandi memang orang yang aku cintai, kalau tidak aku cintai tidak mungkin nama dia yang selalu ada di kepala ku. Meskipun Damar terlihat antusias bercerita, aku bisa merasakan perasaan sedih dari wajahnya ketika hanya dia yang bisa mengingat masa lalu kami.
“Dam, kamu bantuin aku yah, untuk menemukan diri aku yang sebenarnya” pintaku pada Damar.
“Hmmmm dengan syarat kamu mau jadi teman aku?” Damar mengulang kata-kataku ketika kami pertama kali menjadi teman, dan aku tersenyum karenanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments