Dengan harapan terakhir yang Andhika punya. Andhika pun membuka pintu itu. Namun yang Ia lihat dari kamar itu adalah, ruangan kamar tanpa kehadiran Istri nya.
"Bentley!" teriak nya dengan keras.
Karena Bentley si kepala pelayan tidak kunjung menjawab panggilannya, Andhika pun segera menuruni tangga mencari Bentley. Ia pun memikirkan tempat yang mungkin didatangi Istri nya.
"Bentley!" akhirnya Andhika sampai di dapur dan melihat Bentley sibuk memeriksa bahan makanan.
"Bentley kenapa Kau tidak menjawab panggilan Ku?!"
"Maaf Tuan, Saya tidak mendengar Anda memanggil Saya, kalau begitu ada perlu apa Tuan, apa ada yang bisa Saya bantu?"
"Dimana Istri Ku?!" tanya Andhika,
Ekspresi Andhika sekarang lebih menakutkan daripada suara yang di keluarkan. Ekspresi yang hanya di tunjukan ketika Ia benar-benar marah.
"Tentu saja istirahat dikamar tuan, Saya yakin Nyonya sudah tidur sekarang"
"Dikamar katamu?! Barusan Aku dari kamar Ku dan disana tidak ada Istri Ku!! Bisakah Kau kerja tanpa berhalusinasi!! Aku membayar Mu bukan untuk Kau bekerja seperti ini!!!"
Kali ini suara yang di keluarkan lebih tinggi daripada yang sebelumnya.
"Mohon maaf sebelumnya Tuan, tapi Nyonya tidur di kamar Tamu, Nyonya mulai menempati kamar itu sejak pagi ini"
"Apa!!? Kenapa dia harus menggunakan kamar tamu?"
"Bukankah sebelum pernikahan, Anda dan Nyonya sudah sepakat akan memakai kamar yang berbeda, Kami para pelayan di rumah ini juga sedikit terkejut karena kalian tidak kunjung menggunakan kamar terpisah, Kami berfikir bahwa peraturan itu tidak berlaku hingga pagi tadi Nyonya meminta untuk dipindahkan barang nya"
Mendengar Bentley menjelaskan situasi itu membuat Andhika sangat marah, yang Ia rasakan adalah emosinya yang meluap dan kepala nya yang seakan mau pecah.
"Baiklah, Bentley maukah Kau menunjukan padaku dimana kamar tamu yang dipakai Istri Ku?"
"Baiklah, silahkan ikuti Saya Tuan"
Andhika mulai mengikuti Bentley dan sampai di depan kamar tamu dekat balkon atas. Lagi-lagi Andhika ragu untuk membuka pintu itu. Bentley pun pergi untuk memberikan Tuan nya waktu bersama Istri nya.
Andhika sedikit takut akan reaksi Istri nya tapi Ia pun berfikir bahwa dirinya berhak atas Istri nya. Ini rumah miliknya, dan istrinya adalah miliknya sudah sepantasnya Ia berhak atas ini. Andhika pun membuka pintu namun yang di dapati pintu itu terkunci.
"Sial!" Andhika mengumpat kecil. Ia tak menyangka bahwa pintu itu akan terkunci. Lalu dengan pelan Ia mengetuk pintu itu.
tok....tok..tok
"Sayang?"
......
Namun tak ada jawaban, atau tanda -tanda akan dibukanya pintu itu.
tok....tok...tok
"Sayang?" kali ini suara nya lebih keras, tapi lagi-lagi tak kunjung ada jawaban.
"Sialan!!" teriak Andhika.
Kemudian dengan amarah nya yang memuncak Andhika pun kembali mengetuk pintu itu dengan kasar.
tok....tok....tok...tok
Suara ketukan pintu itu sangat keras dan cukup membuat pintu itu bergetar hebat.
"Nissa buka pintu nya sekarang!! kita harus bicara!!!" teriak Andhika dengan amarah yang ada.
"Pergi!" jawab Nissa.
"Apa?!!"
Karena suara yang Nissa jawab sangat kecil Andhika harus bertanya kembali.
"Kubilang pergi! Aku tidak mau bertemu dengan Mu!!" teriak Nissa.
Suara wanita itu sangat lemah dan serak, menandakan bahwa Ia habis menangis sangat lama.
"Kenapa kau begitu keras kepala?! Kubilang buka!!Aku tidak mengerti mengapa begitu susah untuk Mu berbicara padaku? Nissa!!! kau dengar aku? !!! buka pintunya!!!"
Rasanya menyebalkan, pintu yang menghalanginya ini sangat ingin Ia bakar. Andhika heran siapa yang mewajibkan sebuah kamar dengan adanya pintu. Sekarang baru Ia merasakan betapa keras kepala Istri nya.
"Kumohon! Andhika kumohon tinggalkan Aku sendiri!! Aku....Aku....Aku hanya ingin sendirian sekarang, bisakah Kau memberikan Ku waktu untuk Ku menata hatiku?" Tangisnya pun pecah di ruangan itu.
"Nissa sekarang buka pintunya, atau akan Ku dobrak pintu ini!! bagaimana bisa kita meluruskan masalah kita jika Kau tidak ingin mendengar Ku? sekarang buka!!! atau akan Ku dobrak benda sialan ini!!!"
Andhika terus memukul pintu itu dengan kepalan tangan nya.
"Jadi Kau akan mendobrak nya?" tanya Nissa.
"Tentu saja, jika dalam lima menit Kau tak kunjung membuka nya" masih berusaha mendobrak pintu itu dengan tubuhnya.
"Kuharap Kau tidak akan melakukan itu"
"Kenapa tidak?"
"Aku benci ketika Kau terluka, jika Kau berusaha mendobrak pintu ini Kau akan kesakitan dan mungkin memar, Aku benci jika kau merasakan sakit itu, karena itu cobalah mengalah padaku kali ini saja, please Aku ingin sendiri" jawab Nissa dengan lembut.
Meduanya tau bahwa Nissa berada sangat dekat di balik pintu itu.
"Jika kau perduli pada Ku, Kumohon Aku ingin menjelaskan hal itu kepada Mu, Aku tau Kau perduli pada Ku, setelah Aku menjelaskan semuanya akan kuberikan waktu untuk Mu sebanyak apapun." ucap Andhika sangat lembut.
Andhika menyandarkan tubuh dan wajahnya ke pintu. Berusaha agar perasaannya sampai kepada wanita itu. Andhika tau betapa terluka Nissa terhadap masalah yang tak mampu Andhika selesai kan tapi Ia berani bersumpah sejak bersama Nissa tidak pernah sekalipun dirinya menginginkan wanita lain.
"Jika Aku mendengar kan Mu, Aku pasti akan memaafkan Mu, karena Aku tidak pernah bisa membenci Mu Kau tau itu"
"Baiklah, kalau begitu kita berbicara seperti ini saja" Andhika pun menyerah.
Karena tak ada gunanya jika memperdebatkan masalah terbuka nya pintu ini, akhirnya Andhika pun duduk dan bersandar di pintu itu.
"Nissa Kau bisa mendengar Ku kan?"
"Hmm" jawab Nissa
Mereka berdua duduk dengan menyandarkan punggung mereka pada pintu tersebut. Pintu yang membatasi mereka. Pintu itu bagaikan hubungan mereka, meski telah berubah namun tetap saja ada pembatas yang menghalangi hubungan mereka. Mereka berdua merasakan punggung mereka terasa hangat, karena mereka tau hati mereka saling terhubung dan saling berharap perasaan mereka saling tersampaikan. Rasa nyaman untuk bersandar di pintu itu.
"Nissa sebelumnya Aku ingin menanyakan pada Mu, apa Kau mengenal Ros?"
"....... "
"Nissa Aku tau Kau mendengar kan Ku mohon jawab"
"Ya"
"Begitu, Lalu apa Kau tahu, hubungan kami berdua?"
"......... "
.......
Lagi-lagi Nissa memilih bungkam seribu bahasa.
"Begitu ya, Kau sudah tau hubungan Kami"
"Bukankah dia wanita yang Kau cintai? Wanita yang sudah lama sekali Kau tunggu?" Nissa pun berkata dengan pelan namun cukup untuk Andhika mendengar perkataan Nissa itu.
"Ya" jawab Andhika
"Kalau begitu cukup, Aku tidak mau mendengar nya! " Teriak Nissa.
"Itu dulu....dulu.....Dia segalanya bagi Ku, dulu....Dia selalu Ku tunggu, tapi beberapa tahun terakhir Aku sudah lelah dan tidak menantikan dirinya, sampai sekarang juga begitu"
"Lalu kenapa Kau hadir di acara bersamanya dan dia datang kesini?" tanya Nissa.
"Ros tidak punya siapapun disini, hanya Aku yang dia kenal, hari pesta adalah hari kepulangan nya, Aku tidak berniat membawa nya ke pesta namun Ku pikir jika membuat Ibu Ku sedikit kesal tidak masalah, maaf saat itu hubungan kita tidak terlalu dekat seperti sekarang"
"Lalu hari ini?"
"Hari ini, Aku tidak tahu dia akan datang, Aku bersumpah tidak pernah sekalipun menyuruh nya datang ke rumah, Aku tidak tahu apa yang dia katakan, Kumohon percayalah"
"Aku...." dengan berat hati Nissa berusaha mencerna kata-kata Andhika, namun Ia yakin belum semua yang di ceritakan oleh Suami nya, Nissa merasa bahwa ada yang disembunyikan Suami nya.
"Aku tidak tahu apa Aku percaya atau tidak, saat ini Aku tidak punya kekuatan untuk percaya pada Mu"
"Nissa meski hatimu terluka, meski Kau rasa ini tidak masuk akal, tolong percaya lah, jangan percaya pada kata-kata Ku tapi percayalah pada Ku, bisakah Kau mempercayai Ku?"
...-bersambung-...
..."Kebohongan adalah racun, satu saja kebohongan akan merusak semuanya"...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Nani Kusnandi
ciih laki2 ga tegas.hatinya masih bercabang
2021-07-29
1
Sri Cntya
smg saling jujur dan mau memaafkan dan mnta kedpnnya dan tmbh bucin
2021-07-12
1
Cinta Sunarti
pertama di coba dulu utk percaya sama andhika
2021-05-26
1