~Andhika dipeluk oleh seorang Wanita.
Pelukan yang diberikan wanita itu pada Suami nya tak kunjung lepas. Nissa hanya bisa melihat pemandangan itu dengan hati yang sakit. Nissa percaya bahwa hubungan nya dan Andhika telah menjadi lebih baik dan mendalam dari pada pertemuan pertama mereka. Nissa selalu berusaha untuk percaya bahwa hubungan Suami nya bersama sang mantan sudah tidak ada hubungan lagi untuk disisakan.
"Mengapa dia hanya menerima pelukan itu? Apakah masih ada rasa di antara keduanya? Apakah selama ini mereka selalu berhubungan?"
Pertanyaan itu tak mampu keluar satu kata pun dari bibirnya. Karena semakin banyak air mata yang keluar Nissa memutuskan untuk masuk ke dalam rumah secepatnya.
Melihat Nissa berlari dengan air mata nya, hati Andhika merasakan sakit yang amat dalam. Andhika juga tidak mengerti kenapa Ia bisa merasakan sakit dengan melihat air mata nya terutama saat melihat rasa sakit di mata wanita itu. Andhika bahkan tidak merasakan apapun terhadap pelukan kekasih yang sudah lama dirinya tunggu. Andhika hanya merasa seperti kepalanya dipukul oleh batu yang sangat keras karena melihat luka di mata Istri nya.
"Apakah sudah cukup?" Tanya Andhika kepada Ros.
"Mengapa Kau sedingin ini pada Ku? Kukira setelah Aku kembali Kau akan mengunjungi Ku!!" Ros menyeka air mata nya.
Air mata nya selalu berperan untuk meluluhkan hati Andhika.
"Kau sendiri yang bilang, Kau akan mengunjungi Ku nanti, Aku selalu menunggu sedangkan Kau tidak datang sama sekali!" Ros menunggu reaksi Andhika.
"Dika! apa kau dengar?"
"Pulanglah!!" Perintah Andhika pada Ros.
"Pulang? Bagaimana bisa Kau menyuru Ku pulang?!!" Teriak nya.
"Kumohon pulang lah, Aku lelah"
"Lelah? bahkan Kau tidak berbicara sedikit pun pada Ku! dan Kau bilang Kau lelah?!!"
"Nanti, Aku akan menemui mu nanti" ucap Andhika sambil memegang pundak Ros.
"Pasti karena wanita itu! Kau berubah karena wanita itu kan? Siapa dia? Berani-beraninya merebut kekasih orang!! "
"Bukan karena dia, dia itu Istri Ku, Kuharap Kau tidak akan menemui Ku di rumah seperti ini" ucap Andhika tegas.
"Ku kira saat di pesta kemarin kalian hanya dijodohkan, tapi ternyata Kau sudah menikah?! Aku memberanikan diri untuk pulang demi Kau dan kini Kau membuang ku?!! jadi cinta kita selama ini tidak ada artinya?"
"Sejak di pesta itu Aku dan dia sudah menikah, dan juga setelah 4 tahun lama nya Kau baru pulang? Apa cinta kita sebanding dengan waktu yang Kau minta untuk kepergian Mu yang tanpa kabar itu? bahkan Kau tidak berkata sepatah kata pun hanya meninggalkan Ku begitu saja!" teriak Andhika.
"Sayang, Ku mohon kita bicara baik-baik, jika Kamu tahu alasan Ku pergi Kamu pasti akan mengerti kenapa Aku berbuat begitu" ucap Ros dengan lembut.
"Alasan mu mungkin tidak sebanding dengan luka yang Kau buat untuk Ku, pergilah!! Kau boleh tetap menggunakan Room Hotel yang Ku berikan, tapi jangan pernah kemari lagi, Aku akan benar-benar marah jika Kau berbuat demikian"
Andhika berbicara dengan sorot mata nya yang tajam dan suara nya yang menekan kan bahwa Ia sedang memperingati wanita itu.
Ros masih menangis di tempat. Andhika meninggalkan Ros dan buru - buru masuk ke dalam rumah untuk mencari Istri nya.
"Tuan selamat datang" Ucap Bentley pengurus rumah.
"Oh Bantley apakah Kau melihat Istri Ku?"
"Nyonya? Oh... Nyonya sudah masuk ke kamarnya sambil menangis, apakah terjadi sesuatu?" tanya Bantley.
Andhika berlari tanpa menjawab Bantley. Andhika berlari dengan menaiki dua buah anak tangga sekaligus. Dengan kaki nya yang panjang hal itu cukup masuk akal, lalu dengan kecepatan yang luar biasa Andhika berusaha untuk cepat sampai ke kamar mereka.
Andhika merasa bahwa Ia ingin menghancurkan semua anak tangga itu supaya Ia bisa cepat sampai ke kamar mereka. Setelah sampai di depan kamar mereka, Andhika kemudian membuka pintu namun pintu itu terkunci dan terpaksa Andhika harus mengetuk pintu itu berkali-kali namun tidak ada reaksi pintu itu akan terbuka.
"Nissa,buka pintu nya!!" teriak Andhika.
"Kumohon buka pintunya!! ,kita bicarakan dulu!!"
Tidak ada jawaban, yang ada hanya lah suara tangisan yang berusaha ditahan Nissa. Nissa terduduk dibelakang pintu sambil memeluk lututnya. Nissa tidak berharap suaminya akan mencintainya, namun Ia lebih tidak berharap suaminya masih berhubungan bersama wanita yang pernah dicintainya.
Nissa berusaha tidak menangis karena memang posisinya hanya sebatas istri bukan wanita yang dicintai Andhika. Nissa tidak mengizinkan dirinya untuk menangis namun air mata dan rasa sedih nya terus meluap.
Semua fikiran dan hati Nissa saling bercampur tanpa henti. Hatinya yang hancur dan berbagai macam pertanyaan memenuhi dirinya, membuat air mata nya terus menetes. Nissa tidak berharap bahwa Andhika akan mengejar dirinya namun saat itu Nissa sempat berharap bahwa Andhika akan melepaskan pelukan wanita itu. Kini yang Nissa inginkan adalah kesendirian. Dirinya belum siap menemui Andhika karena banyaknya hal yang perlu mereka atur kembali.
Kapan mereka kembali bersama? Sejak kapan mereka kembali bersama? Sejauh apa hubungan mereka?
Semua pertanyaan itu berulang - ulang memenuhi kepalanya tanpa henti, namun pertanyaan yang paling ingin Nissa hindari adalah Apakah masih ada cinta dari keduanya?.
Suami nya tak pernah sekalipun membuka diri dan menceritakan tentang hidupnya kepada Nissa. Selama waktu yang mereka habiskan bersama habis dengan candaan dan cerita Nissa namun tidak pernah sekalipun Andhika bercerita tentang dirinya maupun masa lalunya.
Nissa tidak berharap ia akan menceritakan padanya sekarang, namun Ia ingin semuanya berjalan perlahan. Tapi sekarang Nissa takut untuk mengetahui masa lalu suaminya. Nissa takut bahwa masa depan Suami nya, masa depan yang ingin Suami nya lalui tidak ada Nissa dalam rencananya.
Melihat tidak ada reaksi apapun dalam ketukan pintu itu, Andhika pun berusaha memberikan waktu untuk Nissa menenangkan dirinya.
"Aku akan memberikanmu waktu untuk berfikir, jika Kau sudah siap untuk berbicara denganku, Aku akan menceritakan padamu semuanya, Kuharap Kau tidak terlalu lama untuk mengurung dirimu" setelah berbicara seperti itu Andhika pun pergi meninggalkan kamar itu.
Lalu Andhika pergi menemui Bentley.
"Bentley! Aku akan pergi ke kantor untuk memeriksa pekerjaan, Kumohon bujuk lah Istri ku agar mau makan karena sepanjang perjalanan dia belum makan apapun"
"Baik tuan, akan Saya usahakan"
"Terimakasih"
Saat di kantor, tumpukan pekerjaan menunggunya namun tak satu pun berkas yang ada bisa mengembalikan fokus yang dimiliki nya. Hati dan pikirannya hanya mengkhawatirkan Nissa.
Andhika bingung bagaimana akan menjelaskan semuanya dan darimana Ia akan menjelaskan semuanya, bagaimana Nissa akan memaafkannya. Sudah semalaman Andhika di kantor dan merenung tanpa istirahat bahkan makanan dan pekerjaan tak kunjung tersentuh olehnya.
"Andhika, ada apa denganmu? jarang sekali melihat Mu begini"
"Rey,? sejak kapan Kau kembali?"
"Kemarin, baru saja sampai....maaf tidak memberitahu Mu dan selamat atas pernikahan Mu" ucapnya.
Rey adalah teman Andhika sejak kecil, mereka selalu bersama sejak masih kecil kecuali tahun kemarin karena pembukaan cabang perusahaan di Tokyo, Rey harus tinggal selama setahun disana untuk mengurus segala hal mengenai perusahaan nya.
"Ada apa ini? bukankah Kau pengantin baru? sudah muram saja muka Mu? "
"Terimakasih tapi sudah lebih dari 3 bulan kami menikah dan Aku muram bukan karena pernikahan Ku" ucap Andhika dengan tegas.
"Lalu?"
"Ros kembali"
"Apa!? Wanita itu kembali? ada apa dengannya? kenapa dia kembali?"
"Aku tidak tahu, dia sudah hampir sebulan kembali ke sini"
"Jangan bilang Kau masih menyukainya? setelah semua yang wanita itu lakukan padamu, Kau masih mencintainya? Gila!! sekarang Kau sudah beristri, apa yang akan Kau lakukan pada Istri Mu?"
"Aku tidak tahu, Istri Ku sepertinya sudah tau mengenai Ros, mereka sudah bertemu dua kali, acara pesta dan kemarin di rumah Ku"
"Kau membawa Ros ke rumah Mu?"
"Tentu saja tidak!! dia sendiri yang datang"
"Kenapa?"
"Sepertinya dia punya alasan kenapa dia meninggalkan Ku waktu itu"
"Setelah semua hal yang terjadi dan Kau telah menikah, dia baru mengatakan bahwa dia punya alasan? hah!! Ku rasa Kau bodoh jika memang akan mendengar kan alasannya, lalu bagaimana Istri Mu? apa dia marah?"
"Aku memang tidak perduli pada alasan Ros tapi aku tetap ingin tahu kenapa? Dan sekarang hal yang bertambah parah adalah Istri Ku melihatnya, Dia hanya menangis namun tidak berteriak atau memukul Ku! Itu lebih membuat ku bingung!!"
Baru kali ini Rey melihat sahabatnya yang sejak kecil Ia kenal itu begitu bingung. Di dalam hidup Andhika selalu ada kepastian begitu juga saat Andhika memutuskan untuk memilih Ros dalam hidupnya, namun kali ini hanya karena kesedihan Istri nya Andhika benar - benar kehilangan kendali atas rasionalitas nya.
"Saran Ku, lebih baik Kau pergi menemui Istri Mu, lebih baik Kalian usahakan untuk tetap berbicara dari hati ke hati dan jelaskan semuanya. Dan juga lebih baik jika Kau menemui Istri Mu sekarang karena hari sudah semakin malam bisa-bisa Kau ditendang dari rumah karena semalaman tidak pulang"
Andhika memikirkan hal yang sama sehingga Andhika memutuskan untuk pulang ke rumah dan menemui Istri nya. Setelah sampai di rumah Andhika menuju kamar mereka, di depan kamar, Andhika sedikit takut untuk membuka pintu.
Apakah pintu itu akan terkunci seperti terakhir kali?
-Bersambung-
"Dalam suatu hubungan, kepercayaan adalah hal yang paling utama, kepercayaan adalah pondasi utama dalam suatu hubungan, ketika pondasi itu goyah maka runtuhlah semuanya"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Salma Cheng
andai Ros pergi ninggalin Andikha mungkin selamanya menjadi istri terabaikan ....Nissa terlalu lemah dan bodoh
2022-02-27
0
Rini Gumilang
aku suka aku suka 👌 crtanya thor ckp mnghbur.
2021-09-28
0
Venni Rahmadhani
lnjut
2021-09-05
0