Andhika terus memikirkan berbagai cara untuk menyentuh Nissa. Di semua tempat dari tubuh wanita itu. Akal sehat nya telah pergi tanpa memikirkan bahwa Nissa kedinginan karena hujan. Andhika terus mengecup bibir itu.
Meski hanya melihat dengan sekilas tadi, Andhika dapat merasakan bagaimana rasa nya bila Ia menyentuh lekukan tubuh yang basah karena hujan. Lengan nya...pinggang nya....
Andhika ingin menyentuh semua yang Nissa miliki. Setelah mencium Nissa cukup lama, bibir itu terlepas dan yang tersisa hanya lah suara habis nya nafas kedua insan itu.
"Kau Cabul!!" Bentak Nissa dengan suara yang serak karena kehabisan nafas.
"Cabul? pertama kali nya Aku mendengar orang memanggilku begitu" Andhika merasa aneh dirinya disebut dengan kata itu.
Sungguh baru pertama kali kata itu terucapkan untuk nya namun Ia tetap merasa itu sangat lucu. Nissa sangat lucu ketika marah terutama saat tersipu.
"Cabul!! Brengsek dan Bejat!! Terserah jika Kau tidak suka yang pasti itu fakta nya!!" Nissa mengatakan itu dengan berani.
"Aku merasa telah dituduh dengan tuduhan yang tidak sesuai, bagaimana Suami sendiri dapat dikatakan cabul? brengsek dan bejat hanya karena mencium Istrinya"
"Kalau Kau memang tidak benar seperti itu , Kau tidak seharusnya menyentuh Ku disaat Kau tidak menginginkan dan menyukai Ku!" Teriak Nissa.
"Bukankah Kau tidak menyesal menikah dengan ku?" Andhika menggoda Nissa dengan mata nya yang penuh pesona.
"Apa Kau akan menggunakan alasan itu untuk menyentuh Ku?"
Nissa menatapnya dengan tatapan yang setajam pisau. Nissa kesal Andhika menggunakan alasan itu untuk menyentuh nya. Sedangkan Andhika tidak memiliki sedikitpun perasaan kepada nya. Dengan rasa putus asa di dalam hati nya, Nissa pun berkata....
"Apa mau Kau? Andhika apa mau Kau?" tanya nya dengan putus asa.
Sebuah Kalimat kecil terucap dari bibir Andhika.
"Kau" ucapnya dengan sangat pelan namun dapat terdengar jelas di telinga Nissa.
"Tidak! Kau tidak mungkin menginginkan Ku, apa alasanmu menginginkan Ku?" Tanya Nissa tak percaya.
"Seperti nya Aku harus memberikan Kau hukuman karena tidak mempercayai suami mu ini" Andhika mengambil satu langkah besar mendekati Nissa.
Sungguh ia rela masuk ke lubang api hanya demi mendekat kepada wanita itu. Andhika ingin meraih manisnya surga di depannya ini. Neraka yang menggoda nya adalah Neraka yang sangat Andhika ingin kan.
"Aku menginginkan dirimu" .
"Tolong jangan berdusta dengan mengatakan hal yang tidak bisa Kau pertanggung jawab kan!" ucap Nissa dengan serius.
Satu lagi langkah Andhika untuk mendekat kini langkah itu bergerak dengan intens dan Andhika berkata
"Aku memang menginginkan Dirimu Annisa" tak ada gunanya berbohong ataupun menyangkal hal itu.
Andhika tau pasti bahwa dirinya menginginkan wanita itu, ketika hasrat nya lebih dulu bereaksi dari pada kepala nya.
Ia menginginkan Nissa dengan hasrat yang besar, Hasrat yang ingin memiliki wanita itu sepenuhnya. Tak mampu terucap atau pun dijelaskan oleh rasional yang dibanggakan nya. Satu hal yang pasti, Ia tak mampu berbohong bahwa dirinya sangat menginginkan Nissa sekarang.
Kebutuhan yang dirinya punya telah sampai pada batas yang ada. Lalu dengan perlahan Andhika menutup jarak di antara mereka. Andhika berbisik kepada Nissa
"Apa jadinya bila bibir ini Ku miliki?"
Suara Andhika serta nafas nya menjalar ke seluruh tubuh Nissa.
"A...apa yang Ka...u lakukan?" Nissa tergagap.
"Bukan kah Kau bisa menebak hal itu?" jawab andhika.
Dengan gerakan yang sangat cepat Andhika mengambil dan menggendong tubuh Nissa layaknya tuan putri. Nissa mengira bahwa di gedong seperti putri, hanya ada dalam drama atau pun film klasik yang Ia tonton, tetapi hari ini hal itu di rasakan nya.
Nissa tidak bergerak ataupun menolak pelukan Pria itu. Yang Ia tahu hanya tubuhnya merasa aman dalam pelukan itu.
Nissa benar - benar meleleh dengan pelukan Andhika. Tulang dan punggung nya terasa lemas. Aroma yang ada pada Andhika seperti parfum yang memabukkan. Nissa rela tidak lepas dari pelukan itu selamanya. Wangi Andhika seperti membuatnya ketagihan.
Andhika membaringkan Nissa di ranjang dengan perlahan dan ia menyentuh garis rahang Nissa dengan membara. Saat itu Nissa berfikir bahwa seperti nya Ia tidak akan pernah bisa memberikan hatinya kepada Pria lain selain Andhika. Dengan melihat Andhika yang kini menutupi tubuhnya, Ia yakin bahwa dirinya telah jatuh teramat dalam terhadap Pria ini.
Nissa pernah berfikir bahwa suatu saat hal ini akan terjadi padanya. Hubungan Suami Istri tentunya akan mengarah pada hal ini. Namun Nissa merasa belum siap.
Nissa berharap bahwa semua ini mimpi. Namun jika ini mimpi, Ia tak ingin bangun selamanya. Mimpi teramat indah yang pernah ada. Dirinya rela tak bangun dari mimpi indah, jika mimpi yang ada memang semanis ini. Dengan yakin Nissa menatap lagi mata Andhika.
Meski kata yang ingin Nissa dengar belum terucap dari bibir andhika, Nissa merasa ini sudah lebih dari cukup. Nissa merasa jika Andhika menginginkan nya, maka cinta itu pasti ada padanya. Meskipun sedikit dirinya yakin cinta itu ada dalam diri Andhika.
Cinta dapat tumbuh perlahan Nissa yakin hal itu. Mungkin dengan berjalannya waktu cinta akan tumbuh kepada Andhika. Nissa berharap akan hal itu. Jika ada kemungkinan kecil itu, Nissa merasa itu sudah lebih dari cukup. Nissa tidak mengharapkan kata indah akan keluar dari bibir Andhika, yang Ia perlukan hanya harapan bahwa cinta nya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Istri Ku" ucap Andhika dengan tatapannya yang lembut.
"Hmm" Jawab Nissa.
Kali ini dengan lembut Andhika memainkan poni di rambut nissa. Mengelus rambut itu dengan perlahan. Tidak pernah terbayangkan oleh Andhika jika menyentuh rambut wanita bisa membahagiakan seperti ini.
"Istri Ku" ucapnya lagi, masih terus menyentuh poni Nissa.
"Kenapa?" jawab Nissa lembut.
"Kau sangat indah" ucap Andhika.
Nissa melihat mata hitam itu. Melihat nya dengan lekat mata itu, tidak ada keraguan dari pancaran matanya. Nissa tahu bahwa Andhika tidak berbohong. Bahwa pria itu bersungguh - sungguh mengatakan hal itu. Rasa malu menjalar ke pipi Nissa hingga pipinya terasa terbakar.
"Kau...sangat cantik" lanjutnya.
Mendengar hal yang tidak biasanya keluar dari mulut Andhika membuat Nissa merasa asing.
"Lagi-lagi Kau berbohong" ucap Nissa pelan.
"Hah? kapan Aku berbohong?"
"Tadi saat Kau mengatakan menginginkan Ku dan sekarang"
"Aku serius mengatakan hal itu"
"Tidak perlu berbohong" ucap Nissa.
"Aku sungguh menginginkan mu, Kau boleh mencoba nya!! seberapa besar Aku menginginkan dirimu dan seberapa besar Aku ingin memonopoli mu" ucap Andhika sungguh - sungguh.
Tiada keraguan dari nada bicara dan ekspresi nya.
"Hahaha...dasar bodoh, bagaimana bisa Kau memonopoli Ku? Aku bukan barang! "
"Istri Ku seperti nya Aku belum mendidik mu dengan benar...."
Dengan tatapannya yang berkharisma Andhika menatap nya tajam dan berkata...
"Kau boleh membuktikan maksud bodoh yang Kau ucapkan"
- bersambung-
~"Berhati - hatilah dengan harapan, besar kecil nya harapan yang Kau punya, selalu siaplah akan namanya kekecewaan"~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Kim y/n
bagus novel ya thor
2021-08-21
1
Titinaniza
baru kali ini baca novel yg penggunaaan katanya lain dari PD yg lain
2021-08-04
1
Sri Cntya
thorrr visualnua duongg
2021-07-12
1