Zaman Kuno.
KERAJAAN AKADIA.
Iringan pengantin akhirnya tiba, Raven turun dari kuda putih megahnya. Raven sebelumnya sudah meminta kepada pihak Istana Kerajaan Akadia, bahwa ia lah yang akan membawa sang Putri menuju Altar pernikahan.
Raven masuk berjalan menyusuri semua lorong menuju kamar Ellora, ia masih hapal betul karena pernah sekali dirinya masuk ke sana. Setelah sampai lelaki itu membuka pintu dengan perlahan, ketika masuk matanya memandang ke setiap sudut kamar tempat kekasihnya 'tertidur' selama ini.
Di sanalah seorang wanita dengan balutan gaun pengantin yang indah, sedang berdiri di depan jendela kamar dan membelakanginya.
Dengan perlahan wanita itu membalikkan tubuh menghadapnya, Raven tak percaya dengan apa yang dilihat dengan kedua matanya, ia hanya berdiri mematung menatapnya.
Raven benar-benar terpaku dan tak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri, wanita yang selama ini dia rindukan sudah berdiri di depan matanya.
Ellora segera menghampirinya, "Jadi kamu Pangeran Everald yang akan menjadi pengantinku! Hm... dari kabar yang aku dengar kamu adalah Pangeran Tampan, tapi setelah sekarang aku melihatmu kenapa kamu sangat jelek sekali!" Ellora meledeknya.
Degh!
Apakah dia bukan Ellora-ku, kenapa bicaranya seperti itu? Pikirnya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu baru kali ini melihat wanita cantik!" Ellora masih betah menjahili calon suaminya.
"Dengar! Aku adalah seorang Putri Raja yang kecantikannya tak tertandingi, jadi kamu harus mencintaiku selamanya. Kamu juga jangan pernah berpikir untuk melihat atau melirik sedikitpun pada wanita lain, oke!" kata Ellora sambil menahan senyum, karena sepertinya dia sudah berhasil mengerjai lelaki yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.
Raven awalnya ragu jika wanita di depannya adalah Ellora-nya, karena cara bicaranya terdengar sangat arogan. Tapi saat mendengar kata modern yang sudah tak asing lagi di telinganya, dia yakin wanita di depannya adalah Ellora-nya.
Raven segera menggendongnya lalu memutar tubuh wanitanya dengan tertawa. Ellora mengaitkan kedua tangannya di leher kekasihnya itu dan ikut tertawa bahagia bersamanya.
"Kamu sudah berani nakal mengerjai ku! Rasakan hukumannya." kata Raven.
Raven langsung menciumnya penuh dengan kerinduan, dengan lidahnya ia membuka mulut Ellora. Mereka berciuman sampai hampir kehabisan nafas, lalu ciuman mereka terhenti karena teriakan pelayan yang masuk.
"Aaaaaaaaaa..."
"Sayang, kamu sudah menakuti pelayan sampai dia menjerit," ucap Raven berdecak. "Selamat datang kembali sayang, Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu. Sekarang bukankah sudah waktunya kita datang ke acara pernikahan kita, apakah kamu ingin kita terlambat?" Ellora mengingatkan.
Ellora melihat wajah Raven yang seperti tidak rela. "Tenanglah sayang, kita bisa melanjutkan yang barusan terhenti dan juga hal lainnya nanti malam di ranjang," bisik Ellora di telinga Raven.
Perkataannya berhasil membuat wajah Raven bersemu memerah, Ellora menertawakannya. Dia sangat senang sekali jika melihat Raven yang seperti itu.
"Kamu menjahiliku lagi, kamulah yang minta dihukum! Rasakan nanti malam."
Kemudian Raven mengangkat tubuh Ellora lagi, membawanya ke tempat pernikahan mereka yang sudah disiapkan.
Para tamu yang melihatnya menggendong Ssang Putri berteriak kaget karena melihat ternyata mata sang Putri terbuka lebar dan sedang tersenyum malu di gendongan sang Pangeran.
Raven menurunkan Ellora di depan Altar untuk mengucap janji pernikahan seumur hidup mereka.
Sumpah akhirnya selesai dibacakan dan mereka memasang cincin di jari pasangannya, lalu berciuman dengan lembut di depan semua yang hadir. Sekarang mereka resmi menjadi pasangan suami istri, juga menjadi pasangan sehidup semati.
Setelahnya semua tamu undangan menikmati acara pesta yang sudah disiapkan, karena semua tamu undangan adalah para Bangsawan sehingga dekorasi Istana pun tentu saja sangat megah.
Sedangkan dalam pikiran Raven ia ingin segera mengusir semua tamu yang hadir, agar dia bisa segera membawa Putri-nya pergi ke kamar dan segera menghukumnya.
Tapi keinginannya hanyalah tinggal khayalan, malah semakin banyak tamu yang berdatangan. Dia pun pasrah dan berusaha menahannya, cepat atau lambat pengantin wanitanya akan segera menjadi miliknya seorang.
Ellora mengerti apa yang ada di pikiran suaminya, dia pun hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ia sedang mengobrol dengan Loisa dan juga para putri Bangsawan lainnya, sedangkan Raven juga sama sedang mengobrol dengan para sahabatnya.
Ellora akan memberikan malam yang sempurna untuk suaminya itu, ia segera berbicara kepada para tamu undangan bahwa ia akan bernyanyi.
Ellora akan bernyanyi dengan bahasa biasanya, bukan dengan menggunakan bahasa Inggris. Karena dia tidak mau para tamu kaget karenanya, karena disini juga adalah Istana, jadi dia tidak bisa sembarangan.
"Nyanyian ini, aku persembahkan untuk suamiku tercinta, Pangeran Everald kesayanganku." ucapnya, lalu terdengar tepukan dari para tamu undangan.
"Hatiku akan bertahan," ucapnya.
🎶🎵🎶🎵🎶
Tiap malam dalam mimpiku.
Ku melihatmu, ku merasakanmu.
Begitulah cara aku tahu kau bertahan.
Meskipun jauh jarak.
Dan ruang diantara kita.
Kau telah datang tuk tunjukkan kau bertahan.
Dekat, jauh, di manapun kau berada.
Ku percaya hati ini akan bertahan.
Sekali lagi kau membuka pintu.
Dan kau ada disini di dalam hatiku.
Dan hatiku akan terus bertahan.
Cinta bisa menyentuh kita sekali.
Dan abadi untuk selamanya.
Dan jangan pernah melepaskannya sampai kita mati.
Cinta adalah ketika aku mencintaimu.
Saat aku benar-benar bersamamu.
Dalam hidupku kita akan selalu bertahan.
Dekat, jauh, di manapun kau berada.
Aku percaya hati ini akan bertahan.
Jika kau disini, tak ada yang aku takutkan.
Dan aku tahu hatiku akan bertahan.
Kita akan selamanya seperti ini.
Kau aman di dalam hatiku.
Dan hatiku akan terus bertahan.
🎶🎵🎶🎵🎶
Akhirnya Ellora mengakhiri nyanyiannya.
Dan langsung terdengar tepuk tangan meriah dari semua tamu yang terpukau dengan suara dan nyanyiannya.
Raven tak bisa menahan perasannya, ia langsung menghampiri Ellora dan mencium bibirnya dengan lembut. Semua orang sekali lagi bertepuk tangan, mereka merasa baru pertama kali menyaksikan pasangan yang sangat serasi dan romantis.
Setelah semua acara selesai, para tamu undangan satu - persatu pergi. Raven yang sudah tak bisa menahannya lagi, segera menggendong kembali sang Putri yang kini sudah menjadi istrinya itu.
Saat mereka tiba di kamar pengantin dan membuka pintu, tidak ada cahaya apapun selain cahaya dari lilin-lilin. Juga di dalam setiap sudut kamar dan ranjang, bertaburan kelopak mawar merah kesukaan Ellora.
Ellora terpukau melihat keindahan kamar pengantin mereka, "Makasih sayang..." ia dengan segera menciumnya dengan penuh semangat.
Raven membalas tak kalah semangatnya, dia segera membaringkan istrinya di atas ranjang. Raven menatap istrinya dengan kebingungan, ia bingung karena harus memulai dari mana.
Ellora melihat suaminya yang kebingungan, akhirnya memulai lebih dulu. Ia kemudian bangun dan turun dari ranjang dengan perlahan membuka gaun pengantinnya juga semua pakaian dalamnya.
Tak berapa lama, ia berdiri di hadapan Raven tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya.
Raven menatapnya tak berkedip, tatapan matanya menatap rakus pada tubuh polos istrinya. Bagian bawah tubuhnya langsung tegak berdiri, da tak bisa menahannya lagi. Dengan secepat kilat, dia segera membuka pakaiannya sendiri sampai tubuhnya juga polos.
Ellora melihat tubuh polos suaminya merasa malu, dia mengalihkan pandangannya seraya menunduk.
Raven tersenyum melihatnya, dia tau istrinya juga masih belum berpengalaman jika masalah ranjang. Dia melangkah kakinya mendekati istrinya lalu mengangkat dagunya agar mereka bertatapan.
Ellora menatap suaminya dengan wajahnya yang bersemu merah.
Raven langsung mengangkat tubuh polos Ellora, lalu membaringkannya kembali di atas ranjang. Dia mulai menciumi setiap jengkal tubuh polos istrinya, dari atas hingga bawah.
Ellora tak bisa menahan suara erang*nnya, kedua tangannya mencengkram seprai.
"Raven, cukup! Aku tak tahan lagi."
Raven mencium bibir istrinya kembali, lidah mereka di dalam mulut saling menyerang.
Tangan Ellora terus menerus berkeliaran di tubuh suaminya, sekarang Raven lah yang mengerang. Ciumannya turun ke leher mulus Ellora, membuat Ellora melengkungkan tubuhnya ke atas.
"Sayang, aku akan memasukkannya sekarang." Bisiknya di telinga Ellora.
Ellora hanya mengangguk.
Raven segera memposisikan senjata tajamnya, dengan perlahan ia mendorong memasuki kenikmatan duniawi.
"Aaahhhh~"
Suara lenguhan keduanya terdengar, Raven berhasil menembus pertahanan Ellora. Ellora menahan rasa sakitnya, ia langsung menarik kepala Raven dan mencium bibirnya.
Raven merasakan dorongan dari Ellora, segera menggerakkan tubuh bagian bawahnya. Awalnya lelaki itu bergerak dengan perlahan, tapi di tengah pertempuran ia tak sanggup lagi menahannya dengan gerakan cepat ia mendorong dan menarik bagian bawah tubuhnya.
Selang tak berapa lama, mereka berdua menjerit penuh kepuasan. Raven masih terengah menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Ellora, lalu menarik tubuh istrinya dan memeluknya erat.
"Terimakasih sayang," ujarnya seraya mengecup kening istrinya lembut.
Mawar merah dan lilin-lilin serta semua benda di kamar itu akan menjadi saksi bisu atas keganasan peperangan yang terjadi, karena sepertinya malam romantis dan erotis akan terjadi lagi sepanjang malam.
Bersambung.......
--Like dan Komen 😘 Terima kasih 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Erly Hafidz
unboxing
2024-04-14
0
Shinta Dewiana
apa yg terjadi dg badannya ellora di dunia modern ya
2024-02-05
1
💖 sweet love 🌺
kenapa dgn MT ya, tiba2 sering keluar iklan..
2023-10-12
0