Ellora melihat perilaku dari Raven dan Zette yang sudah seperti akan saling mencakar itu, ia segera menengahi kedua lelaki itu.
"Kalian berdua cukup! Jangan saling berteriak. Kalau kalian masih seperti ini, aku tidak akan mau berbicara dengan kalian lagi!" ancam Ellora.
Mereka berdua akhirnya terdiam dan berpura - pura membuat wajah mereka menjadi tenang.
Raven masih belum puas meluapkan emosinya karena cemburu, tapi akhirnya dia menuruti perkataan Ellora.
"Tuan Raven, ini tuan Zette. Dia adalah ketua perampok yang kemarin merampok Loi-"
Dugh!
Dengan cepat Raven melangkah maju lalu memukul rahang Zette, dia menarik baju lelaki itu, "Dasar Penjahat! Jadi kau yang sudah memukul Ellora-ku sampai wajahnya terluka. Beraninya kau menyakitinya! Hari ini aku akan membunuhmu!" teriak Raven marah.
Raven masih dengan amarahnya tangannya kembali mengepal, ia akan memukul Zette kembali.
"Cukup Raven! Dia kesini untuk meminta maaf, mereka juga sudah berhenti jadi perampok. Eloisa dan aku juga sudah memaafkan mereka, jadi kamu juga jangan mempermasalahkan nya lagi. Mengerti!"
"Raven!" Ellora kembali bicara, dia melihat amarah Raven sepertinya belum reda.
Raven sebenarnya marah bukan karena hal itu saja, Ellora tidak mengetahui jika dia marah juga karena cemburu. Jadi meskipun ketua perampoknya sudah berubah baik, dia tetap akan melihatnya sebagai musuhnya.
Raven melepaskan cekalannya pada lelaki itu, "Baiklah, aku mengerti." Raven akhirnya mengalah, dia tidak ingin Ellora melihat kecemburuannya.
Kedua lelaki itu akhirnya berdamai, Ellora segera memperkenalkan anak buah Zette kepada Raven. Begitu juga sebaliknya dia memperkenalkan Raven kepada mereka.
Sekarang Zette yang memandang Raven sebagai musuh, seketika api cemburu bersarang di hatinya. Apalagi dia mendengar penuturan Ellora jika selama ini wanita itu tinggal bersama dengan Raven.
Kedua laki-laki itu saling menatap tajam dan penuh dengan persaingan lewat mata mereka. Orang lain tidak akan menyadari perilaku mereka berdua, kecuali mereka berdua sendiri. Insting seorang laki-laki itu sangat kuat, mereka mengetahui bahwa saingan mereka ini sangat menyukai Ellora.
"Sebentar lagi malam, kami harus pulang," perkataan Ellora membuyarkan tatapan persaingan kedua laki-laki tersebut, dia dengan cepat melangkah berjalan pergi.
Raven seketika tersadar ia melepaskan tatapannya dari lelaki saingannya itu, ia berbalik badan mengikuti langkah Ellora dan Eloisa yang sudah berjalan di depan.
Zette menatap tajam Raven yang berjalan pergi bersama wanita yang disukainya. "Nona Ellora! Aku yakin, kita sepertinya akan bertemu lagi!" teriaknya sengaja pada sosok Ellora yang sudah berjalan pergi menjauh darinya.
Ellora mendengarnya, tapi dia hanya terus berjalan.
Sedangkan Raven wajahnya sudah benar-benar terlihat sangat mengerikan, ia mengepalkan kedua tangannya erat.
Sebulan sudah mereka tinggal di kota Odisha, Raven sering pulang ke Istana, tapi hanya untuk menampakkan wajahnya saja. Setelah itu dia akan kembali lagi kota Odisha, semua itu tentu saja tanpa sepengetahuan Ellora.
Setiap hari setelah pertemuan dengan saingannya, Raven terus menerus menyatakan perasaannya pada Ellora. Tapi wanita itu selalu menolaknya, ia tidak menyerah dan setiap waktu akan terus mengatakan perasaannya.
Ellora juga masih melakukan kegiatan seperti biasanya. Ia tidak lagi merasa terbebani akan perasaan Raven padanya hanya saja ada sesuatu yang mengganjal di hatinya untuk menerima perasaan lelaki itu padanya.
***
KERAJAAN AKADIA.
Lain lagi dengan di Kerajaan Akadia. Setelah kepergian sang Putri, bahkan sampai saat ini pihak Kerajaan masih belum bisa menemukannya. Terjadi keresahan dan kekhawatiran di dalam Istana, karena seharusnya saat ini sudah dimulai persiapan untuk acara pernikahan sang Putri.
Pihak Istana selama ini sudah meredam berita tentang kepergian sang Putri, agar beritanya jangan sampai tersebar keluar Istana dan terdengar oleh pihak Kerajaan Prygia.
Raja Rebellion sedang mendengarkan diskusi antara para petinggi Istana, tentang konsekuensi dari perbuatan sang Putri yang sudah kabur dari Istana. Jika pernikahan dua Kerajaan ini tidak terjadi, maka akan dipastikan peperangan tak bisa dihindari lagi.
"Apa tidak ada solusi lain, agar peperangan ini tidak terjadi?" tanya Tuan Adolf, Perdana Menteri.
"Tidak ada jalan lagi, kita hanya mempunyai aliansi pernikahan ini sebagai solusi. Kita akan secepatnya menemukan keberadaan Tuan Putri Ellora, karena sebenarnya kami sudah menemukan jejak kemana Tuan Putri pergi," timpal Jendral Gelsi.
"Apa?! Benarkah yang kau katakan?!" akhirnya sang Raja membuka mulutnya.
"Menjawab Yang Mulia. Ya, benar Paduka." jawab sang Jendral.
"Tunggu apa lagi! Cepat bawa Putriku kembali!" Perintah Sang Raja.
"Tapi masalahnya Paduka, ternyata Tuan Putri berada di Kerajaan Prygia. Kami harus merencanakan kedatangan kami ke sana dengan hati-hati, agar saat kami menemukan Tuan Putri tidak terjadi keributan," jawabnya lagi.
"Hm... hm... Baiklah! Segera atur semuanya, kita sudah tidak punya banyak waktu lagi." Raja memberi perintah.
"Baik Yang Mulia," sahut Jendral Gelsi.
***
KERAJAAN PRYGIA.
Kota Odisha.
Ellora masih tidak mengetahui bahwa keberadaan dirinya sudah ditemukan oleh pihak Kerajaan, malam ini dia sedang melamun memikirkan perkataan dari Eloisa tadi siang padanya.
Flashback On Siang.
Eloisa harus kembali pulang ke kediamannya, karena Ayah-nya sudah menyuruhnya kembali karena akan memperkenalkannya pada seorang Putra Bangsawan.
"Apakah aku boleh kesini lagi, jika ingin bertemu denganmu, Goddess-ku?" tanya Eloisa kepadanya dengan wajah sedih.
"Tentu saja, bukankah aku adalah saudari-mu," jawabnya tersenyum, dia memeluk gadis itu dengan sayang.
Sebelum mereka berpisah, Eloisa mengatakan sesuatu yang selama ini sudah dia pendam. Eloisa sudah mengetahui semuanya tentang siapa Ellora dan jika memang benar dia adalah sang Putri calon pengantin dari Pangeran-nya, tentu saja dia akan mendukung mereka.
"Kamu tau kak? Kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Dicintai untuk diri kita sendiri atau lebih tepatnya dicintai terlepas dari diri kita sendiri," kata Eloisa penuh makna, lalu dia pun pergi bersama para pengawal dan pelayannya.
Flashback OFF.
Ellora akhirnya mengerti apa arti dari perkataan Eloisa siang tadi, sepertinya gadis itu sudah mengetahui jika Raven menyukainya. Sepertinya lelaki itu yang sudah mengatakannya pada Loisa agar gadis itu membantu membujuknya.
Sebenarnya hati Ellora sudah tergerak dengan semua perlakuan dan pengakuan cinta dari Raven, hatinya bahkan mungkin sudah mulai mencintai Raven dan itu terjadi entah sejak kapan.
Tapi memang selama ini hatinya masih bimbang untuk menerimanya. Bukan karena dia tidak mencintai Raven tapi dia takut sesuatu terjadi pada dirinya dan tiba-tiba dia menghilang karena disini memang bukan dunianya.
Tapi malam ini saat Ellora memikirkan semuanya kembali dari saat awal mereka bertemu hingga sekarang, Raven selalu saja ada disisinya. Memperlakukannya dengan tulus, juga mencintainya tanpa meminta balasan.
Akhirnya Ellora memutuskan, malam ini saat Raven pulang dia akan jujur akan perasaannya dan juga akan menceritakan semua kenyataan tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Raven melihat dari kejauhan rumah sangat sepi, ia tau jika Eloisa sepertinya sudah pergi.
Saat dia membuka pintu, seketika dia mematung karena terpana. Tepat di depannya, Ellora memakai gaun putih indah menjuntai ke lantai, dengan rambut coklat kemerahannya yang tergerai sampai ke pinggang.
Ellora sedang berdiri di tengah lingkaran bunga mawar merah berbentuk tanda hati, wanita itu juga dikelilingi oleh cahaya lilin. Melihat pemandangan seperti ini Raven merasa seperti sedang melihat seorang Dewi.
Raven tersadar dari rasa terkejutnya, ia menatap mata Ellora mencari sebuah jawaban disana.
"Kemarilah..." Ellora hanya tersenyum dan menyuruh Raven menghampirinya.
Meskipun belum mengerti, lelaki yang masih bingung itu mendekat maju menuruti perkataan Ellora, dia ikut masuk ke dalam lingkaran bunga dengan cahaya lilin - lilin yang menerangi ruangan.
"Apakah kamu menyukai semua ini?" tanya Ellora sambil merentangkan tangannya.
"Ya, sangat Indah," jawab Raven penuh makna menatap seluruh tubuh dan juga wajah Ellora.
"Benarkah? Aku juga menyukaimu," kata Ellora tiba-tiba.
Disaat Raven mendengarnya, dia hanya terdiam karena tak percaya dengan pendengarannya.
Ellora mengerti lelaki itu pasti terkejut dan tidak serta merta akan mempercayai ucapannya karena selama ini dia selalu menolak lelaki itu. Bahkan sudah sering Raven menyatakan perasaan padanya tapi selalu dia tolak.
"Raven, aku mencintaimu! Aku benar-benar Mencintaimu," sekali lagi Ellora menegaskan.
Barulah terlihat ada pergerakan dari lelaki itu, Raven membuka mulutnya tak percaya. Seketika mata lelaki tampan itu berkaca-kaca tapi saat dia ingin mengatakan sesuatu kepada Ellora, tidak ada kata yang bisa dia ucapkan saking bahagianya.
Ellora langsung maju memeluknya erat dan kemudian mencium bibir lelaki itu dengan lembut.
Raven sekali lagi dibuat terkejut, tapi akhirnya dirinya mengikuti nalurinya. Dia memeluk balik Ellora lalu semakin memperdalam ciuman mereka.
Bersambung...
---Like dan Komen, Terima kasih 🙏 🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
🌸 Airyein 🌸
Mang boleh pangeran semengerikan itu? 🤣🤣🤣
2024-02-01
0
Radi
syahdunya Thor. 🥰🌹🌹
2024-01-21
0
cici
wah,apakah sudah wik wik🤔🙈
2021-07-06
0