Setelah berpikir lama Ellora akhirnya mengerti dengan perkataan Zette, juga ia mengerti dengan perilaku mereka yang sedang membagikan makanan seperti yang dia lakukan.
"Jadi kalian semua mendengarkan perkataan ku agar berhenti jadi perampok?" Akhirnya dia mengerti dan bertanya pada Zette.
"Ya, sebenarnya kami bukan benar-benar perampok, kami hanya merampok para orang kaya para Bangsawan itu. Tapi kami tidak pernah berbuat jahat, kami hanya mengambil barang berharga, bukan nyawa mereka. Kami tidak pernah melukai mereka apalagi membunuh." Zette menjelaskan.
"Kami melakukannya, karena para Bangsawan itu selalu mengambil harta yang seharusnya milik rakyat kecil. Apalagi mereka juga gunakan untuk hal-hal yang tidak baik!" lanjutnya membela diri.
"Tapi tetap saja kalian salah, tidak semua kalangan atas adalah orang jahat." balas Ellora dengan tegas.
Menurut Ellora apapun alasannya, merampok atau mencuri di zamannya adalah kejahatan. Dia tidak bisa menerima perbuatan seperti itu, meskipun itu demi kebaikan sekalipun.
Zette tertegun mendengarnya, dia mengira setelah menjelaskan alasannya merampok Ellora akan memakluminya.
Ellora juga mengerti apa yang dipikirkan oleh Zette, karena dia pernah menonton Film Robin Hood di zamannya. Dimana ceritanya sepertinya agak mirip dengan yang sedang dilakukan Zette, tapi tetap mencuri bukan lah hal yang baik, meskipun untuk alasan yang baik sekalipun.
"Dengar! Aku tidak mengatakan pada kalian kalau perbuatan kalian itu jahat tapi itu memang salah. Karena mencuri atau merampok itu bagaimanapun juga bukan pemecah masalah yang baik, meskipun untuk alasan yang baik," jelasnya.
"Jika kalian memang merasa tak adil, kalian bisa membicarakannya kepada Raja kalian atau kepada yang berwenang di Kota ini," tambahnya lagi.
Ellora lalu berbalik badan dan bertanya kepada Eloisa yang katanya dia adalah Putri dari seorang Bangsawan, Ellora bertanya apa sebutan orang petugas Istana yang mengurus tentang hal seperti ini. Saat mendengar jawaban dari Eloisa, ia mengangguk.
"Kalian bisa berbicara pada Wali Kota disini, dia yang bertugas mengurusi tentang masalah seperti ini. Mengerti! Jadi mulai sekarang kalian sebaiknya jangan sembarangan main hakim sendiri, karena tidak semua para Bangsawan adalah orang yang jahat!" tegasnya lagi.
Anak buah Zette seketika takjub dengan pemikiran Ellora yang terdengar bijaksana dan memang benar apa yang dikatakannya. Mereka memang sudah berhenti jadi perampok, mereka akan mencoba untuk berbicara ke petugas Istana yang bertugas di Kota ini, perihal para Bangsawan yang mempunyai harta yang bukan miliknya alias kor*psi.
Sedangkan Zette tidak berpikiran seperti itu, karena dia tau bagaimana sifat dari petugas-petugas Istana. Tapi dia tidak ingin memikirkannya dahulu, dia akan mulai merencanakannya nanti.
"Baiklah, sekarang karena kalian sudah mulai berbuat baik dengan membagikan makanan. Aku akan menerima dan berteman dengan kalian semua, Oke! Good job!" tanpa sadar lagi Ellora mengucapkannya, sambil mengacungkan jari jempolnya.
Semua orang saling menatap termasuk dengan Eloisa, mereka tidak mengerti bahasa yang Ellora pakai. Tapi itu malah terdengar menarik di telinga Zette, dia pun tersenyum penuh makna padanya.
Zetre bisa melihat meskipun penampilan Ellora biasa saja tapi kecantikannya sangat luar biasa. Apalagi wanita itu sangat ahli dalam bertarung, kenyataan itu sudah sangat mengejutkannya bahkan semua gerakan bertarung wanita itu dia tidak mengerti.
Sekarang bahkan Zette melihat wanita ini sangatlah pintar, dia sedikit tau darimana bahasa itu berasal. Karena dia mempunyai seorang kenalan yang berbicara dengan bahasa seperti Ellora, dan kenalannya itu berasal dari Negara Inggris.
"Ah ya, kalian tidak akan lupa untuk meminta maaf pada saudari-ku, kan?" tanya Ellora sambil melotot kepada mereka dan melirik ke arah Eloisa.
"Maafkan kami Nona, atas kekasaran kami kemarin," ucap mereka serentak.
"Panggil dia dengan sopan dan hormat, dia adalah Putri Seorang Bangsawan!" perintah Ellora.
"Tidak usah, bersikaplah biasa saja. Namaku Eloisa, aku juga sudah memaafkan kalian," gadis itu berkata sambil tersenyum.
"Baiklah, Nona Eloisa, "mereka semua serentak berkata lagi.
Setelah semuanya selesai, mereka menikmati makanan dan minuman ringan yang dibuat para penduduk sebagai ucapan terima kasih kepada mereka. Sedangkan Ellora juga membagikan Vitamin yang dia beli dari toko obat untuk menambah daya tahan tubuh mereka.
***
Raven yang baru pulang bekerja mendapati Ellora tidak ada di rumah dan hanya ada pelayan Eloisa, "Kemana Nona-mu dan Ellora?" tanyanya.
"Nona pergi bersama Nona Ellora Tuan, mereka seperti biasanya pergi ke tempat pemukiman untuk membagikan makanan, " jawab pelayan itu.
"Membagikan makanan ke pemukiman? Kenapa aku tidak pernah tau?!" gumamnya.
"Kamu tau tempatnya kan? Bawa aku ke sana." perintah Raven.
Mereka segera pergi menuju ke sana.
"Pantas saja terakhir kali mereka bicara, aku tidak mengerti. Ternyata mereka pulang dari sana, tapi kenapa sudah tau ada perampok di sana mereka malah pergi ke sana lagi, apa mereka cari Mati!" gumam Raven penuh amarah.
Saat sampai di sana, Raven dibuat terkejut melihat pemandangan di depan matanya. Dia melihat Ellora sedang bernyanyi di depan para banyak lelaki, bahkan mereka sedang menatapnya dengan penuh kekaguman di matanya.
"Sial!" umpatnya tanpa sengaja dia berkata kasar, kata kasar yang sering dia dengar di tempatnya bekerja di dermaga.
Tapi saat dia lebih mendekat, Raven tidak berani mengganggu Ellora yang sedang menikmati nyanyiannya. Dia pun akhirnya ikut mendengarkannya, meskipun dia juga sama dengan mereka yang ada disana tidak mengerti bahasa dan artinya.
🎶🎵🎶.
Heart beats fast.
Jantung berdebar kencang.
Colors and prom-misses.
Warna-warni dan janji-janji.
How to be brave.
Bagaimana agar berani.
How can i love when i'm afraid to fall.
Bagaimana bisa aku cinta saat aku takut jatuh ?.
But watching you stand alone.
Namun melihatmu sendirian.
All of my doubt suddenly goes away somehow.
Segala bimbang ku mendadak hilang.
One step closer.
Selangkah lebih dekat.
CHORUS.
I have died every day waiting for you.
Tiap hari aku telah mati karena menantimu.
Darling don't be afraid.
Kasih jangan takut.
I have loved you for a thousand years.
Aku telah mencintaimu ribuan tahun.
I will love you for a thousand more.
Aku akan mencintaimu ribuan tahun lagi.🎶.
CHORUS.
And all along i believed i would find you.
Dan selama itu aku yakin aku kan temukan dirimu.
Time has brought your heart to me.
Waktu telah membawa hatimu padaku.
I have loved you for a thousand years.
Aku telah mencintaimu ribuan tahun.
I have loved you for a thousand years.
Aku telah mencintaimu ribuan tahun. 🎶
I have loved you for a thousand years.
I will loved you for a thousand more.
🎶🎵🎶.
Ellora akhirnya menyelesaikan lagunya, semua orang di sana sangat terpukau sehingga saat dia sudah selesai pun mereka tetap diam menatapnya tak berkedip.
Plok! Plok! Plok!
Orang yang pertama kali bertepuk tangan ternyata Zette, kemudian semua orang mengikutinya bertepuk tangan. Bahkan ada yang bersiul, membuat seketika suasana menjadi riuh.
Zette lalu menghampirinya, dia menarik tangan Ellora seperti tadi lalu mencium punggung tangannya. "Luar biasa Indah sekali. Parasmu dan juga suaramu," goda Zette seraya mengedipkan sebelah matanya.
Ellora hanya berwajah biasa saja dengan gombalannya Zette, juga sudah tak kaget lagi jika dia mencium punggung tangannya kembali.
Raven yang melihat interaksi mereka berdua, tersulut amarahnya. "Jauhkan tanganmu darinya!" Raven berteriak marah.
Alhasil mereka semua yang berada disana melihat ke arahnya, tentu juga dengan Zette. Dia melihat seorang lelaki menghampirinya dengan mengepalkan tangannya, wajah lelaki itu pun sangat penuh emosi.
Raven dengan emosi berjalan menghampiri mereka berdua, ia langsung menarik lepas tangan Ellora dari genggaman Zette. Kemudian Raven memeluk bahu Ellora, ia menatap tajam ke arah lelaki di depannya. "Lancang sekali kamu! Berani menyentuhnya, kamu tau siapa dia? Dia adalah seorang Put... aww!" ucapan Raven terpotong karena pinggangnya dicubit Ellora.
Ellora sengaja mencubitnya agar Raven menghentikan bicaranya, Ellora tidak mau jika identitasnya sebagai Putri Raja terbongkar.
Raven seketika tersadar, ia menutup mulutnya tapi wajahnya masih penuh dengan amarah.
"Siapa kamu?!" tanya Zette lebih dulu.
"Kamu yang siapa? Berani memegang dan mencium tangannya!" geram Raven penuh dengan kecemburuan.
Keduanya saling mengeluarkan aura kejantanan dan kegarangan seperti dua ekor kucing jantan yang sedang memperebutkan seekor kucing betina.
Sedangkan mereka semua yang sedang menonton adegan itu, seketika mereka bertaruh siapa yang akan menang. Apakah Pria yang baru saja datang atau ketua mereka?
---Bersambung.
---Like dan Komen, Terima kasih 🙏
🌹Happy Reading, para Readers-ku Tersayang 🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Novi Yantisuherman
Kalo cerita rakyat indo "Si pitung ",kalo ga salah soalnya banyak cerita rakyat
2024-05-08
0
🌸 Airyein 🌸
Anak buah gada akhlak kelen 😭😭
2024-02-01
0
🌸 Airyein 🌸
Putawww 🤣
2024-02-01
0