Menjelang tengah malam terdengar suara pintu rumah terbuka, suara langkah kaki mengendap seperti seorang pencuri.
Ellora berguling - guling gelisah di atas ranjangnya, ia masih belum bisa memejamkan matanya. Ia sangat mencemaskan Raven yang masih belum pulang, karena dirinya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran lelaki itu.
Saat mendengar suara pintu terbuka, ia dengan cepat turun dari ranjang dan belari kecil pergi keluar kamar untuk melihatnya. Benar saja, Raven terlihat sedang mengendap dan berjalan ke arah kamarnya sendiri, "Tunggu! Kenapa kamu baru pulang? Dari mana saja? Sejak pagi hingga tengah malam begini, apa yang kamu lakukan diluar sana?" Berondongan pertanyaan keluar dari bibirnya, ia benar - benar mencemaskan lelaki itu.
Raven terlonjak kaget, tubuhnya seketika mematung. Ia tadi sengaja berjalan mengendap karena mengira wanita itu sudah tertidur, apalagi dengan penampilannya saat ini yang sangat berantakan ia merasa malu. Pakaiannya sangat kotor dan bau karena dia baru pertama kali bekerja, jadi belum mempersiapkan pakaian untuk ganti.
Ellora berjalan mendekat, ia mencium bau keringat dari tubuh Raven. "Jawab! Kenapa hanya bengong? Lihat baju kamu kotor begini juga tubuhmu bau keringat. Kamu tidak melakukan sesuatu yang aneh diluar, kan?!" Selidik Ellora.
Lelaki itu dengan cepat menggeleng, "Aku hanya pergi bekerja, kamu yang bilang kalau kita tidak punya uang jadi sebagai laki-laki tentu saja aku harus bekerja keras. Aku mendapatkan dua pekerjaan hari ini, jadi pulang sangat malam." Jelas Raven panjang lebar.
Ellora tertegun saat mendengarnya, ia menatap penampilan berantakan Raven seketika ia merasa kasihan.
"Benarkah? Maaf, Raven. Aku hanya mencemaskanmu, jadi aku tadi bawel seperti itu. Ya sudah, kamu belum makan, kan? Aku akan menghangatkan makanan, jadi kamu pergilah mandi air hangat dan ganti bajumu." Kata Ellora perhatian ia melembutkan suaranya.
Perhatian Ellora seketika membuat hatinya menghangat, ia memang belum makan malam. Tadi siang pun ia hanya makan sepotong roti, padahal selama ini dia tidak pernah kekurangan apapun di Kerajaan.
Saat ia bekerja keras seharian ini, ia bisa merasakan penderitaan dari rakyat biasa. Meskipun ia sudah bekerja keras di dermaga, hasilnya hanya mendapatkan beberapa koin perak. Akhirnya ia melanjutkan mencari pekerjaan tambahan, ia diterima sebagai pengurus di Istal kuda seorang kalangan atas sebagai pengurus kuda dari sore hari sampai jam 8 malam.
"Kenapa masih bengong?" tanya Ellora mlihat lelaki itu masih berdiri disana.
Raven segera pergi membersihkan dirinya ke kamar dan segera keluar setelah tubuhnya bersih dan berganti pakaian. Ia datang ke meja makan kecil, di sana sudah tersedia banyak makanan yang sangat lengkap. Tidak seperti biasanya, di meja penuh dengan sayur dan lauk pauk berbagai rupa, tentu saja hanya dengan melihatnya saja sudah membuat lelaki itu berselera makan.
"Kamu masak semua ini? Apa ada sesuatu yang terjadi." Tanya Raven penasaran.
"Aku hanya melakukan sebuah pengobatan dan membawa beberapa sebagian pulang. Sekarang cepatlah makan, kamu pasti capek dan ingin segera istirahat." Perintah Ellora.
"Pengobatan?" Tanya Raven lagi.
"Sudahlah, jangan banyak tanya. Nanti kalau ada kesempatan, aku akan menceritakannya." balas Ellora lagi.
"Kamu juga makan lah." Ucap Raven.
"Aku sudah makan tadi, karena lapar aku tak bisa menunggumu."
Raven mengangguk, akhirnya ia makan sendiri.
Ellora membantu menyapitkan makanan ke piring Raven, ia sudah seperti seorang istri yang melayani suaminya.
Raven tersenyum karena malam ini ia terus menerus merasakan kehangatan dari Ellora, ia merasa tak sia-sia ia sudah bekerja keras.
"Makan semuanya, ini makanan sehat dan bergizi. Ketika kamu bekerja, kamu sudah banyak menghabiskan energi, tadi aku kebetulan membeli daging ini." Kata Ellora, masih sambil mengambilkan makanan untuknya, ia mencapitkan daging sapi ke atas piring Raven.
"Besok jika kamu akan pulang malam lagi seperti sekarang, aku akan menyiapkan air hangat untuk kamu mandi juga akan memasak makanan sehat setiap malam. Tapi jika terlalu malam seperti hari ini, aku hanya akan menyiapkannya saja, aku tidak akan menunggu kamu pulang." Kata Ellora lagi.
"Terima kasih. Tapi kenapa kamu baik sekali malam ini?" Tanya Raven, padahal sebenarnya hatinya benar - benar sangat merasa bahagia, Ellora seperti seorang istri yang sedang mengurus suaminya.
"Karena mulai sekarang, kamu yang sudah bekerja keras mencari uang untuk hidup kita. Jadi aku yang akan mengurus semuanya di rumah dan juga mengurus mu, oke! Jangan terlalu banyak dipikirkan, aku tak ada niat lebih dari itu. Kita hanya akan tetap seperti ini, sebagai teman." Ellora berkata dengan tegas.
Raven sebenarnya mengerti perkataan Ellora padanya, wanita itu merasa mereka berdua hanya saling bertanggung jawab. Ia juga tau Ellora memang tidak mempunyai perasaan apapun padanya.
Ia tersenyum masam, ia malah semakin menyukai gadis itu. Apalagi dengan kelembutan Ellora padanya malam ini, sepertinya ia sudah jatuh cinta padanya.
Kau menganggapku teman, tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu. Ucap Raven dalam hatinya.
Mereka berdua menghentikan obrolan, Raven hanya terus memasukan makanan lezat ke dalam mulutnya.
"Raven, aku sangat mengantuk. Aku akan tidur lebih dulu," pamit Ellora.
Ia sudah benar - benar kelelahan hari ini, bahkan baru saja kepalanya menyentuh bantal matanya seketika terpejam.
Begitu juga dengan Raven karena ini baru pertama kalinya dia bekerja, tubuhnya pun serasa hancur dan dia langsung tertidur dengan pulas.
Keesokan paginya Ellora bangun lebih dulu, ia berniat akan bangun lebih pagi setiap hari mulai pagi ini. Ia baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk Raven.
Raven sudah siap pergi bekerja, ia sangat bahagia menyambut pagi yang hangat itu.
"Terimakasih sarapannya," ucapnya seraya mulai memakan sarapannya.
"Ya, aku juga sudah menyiapkan makanan bekal untukmu, bawa bekal itu untuk makan siang nanti," Ucap Ellora.
Raven menatap wajah wanita di seberang meja, saat ini ia merasa seakan tidak ada yang lebih membahagiakan lagi dari hidupnya. Dia bersedia hidup seperti ini selamanya, meskipun setiap hari harus bekerja keras.
Setelah Raven pergi, Ellora tidak tau harus mengerjakan apa hari ini. Ia pun pergi ke hutan di belakang rumah sewanya karena dari pertama kali datang kesini dia belum sempat berjalan jalan ke dalam hutan, ia menyusuri jalan setapak dan masuk semakin dalam.
Ketika dia masih berjalan, tiba - tiba ada seekor kelinci putih lucu lewat di depannya. Ia terkejut saat kelinci itu malah berhenti meloncat dan menatapnya dalam.
Seperkian detik kedua pupil hitam mata kelinci itu seperti pusaran lubang hitam yang akan menelannya, Ellora pun tersentak melihatnya. Tapi saat dilihat kembali mata kelinci itu berubah seperti biasa kembali, seperti mata kelinci pada umumnya.
Kelinci itu pun meloncat pergi dan dalam sekejap sudah tak terlihat, Ellora yang ingin melanjutkan masuk lebih dalam akhirnya mengurungkan niat nya. Ia segera membalikkan badannya untuk kembali ke rumah, karena ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam hutan itu. Mungkin besok- besok ia akan kembali jika sudah mempunyai keberanian untuk masuk ke dalam hutan lagi.
Ellora pergi ke toko membeli bahan untuk memasak, tapi ketika ia sedang berjalan pulang kembali ke rumah sambil membawa lumayan banyak belanjaan, di tengah jalan dia bertabrakan dengan seorang wanita. Itu adalah wanita muda cantik, dilihat dari penampilannya sepertinya dari kalangan Bangsawan.
"Maaf, Nona." Ellora segera meminta maaf karena sudah menabraknya, sedangkan wanita muda itu hanya menatapnya dengan sebelah mata dan dengan tatapan matanya yang merendahkan.
"Hei! Apa dengan kamu minta maaf bisa menyelesaikan semuanya?! lihat pakaianku menjadi sangat kotor, kamu tidak akan bisa menggantinya!" Wanita muda itu malah membentaknya.
"Lihat saja pakaian lusuhmu, kamu pasti tidak punya uang untuk mengganti pakaianku, kan?!" lanjutnya masih dengan hinaan keluar dari mulutnya.
"Siapa bilang dia tidak bisa menggantinya, aku yang akan menggantinya sekarang!" Tiba - tiba terdengar suara seorang lelaki yang tak lain adalah Raven.
Ketika wanita muda itu membalikkan badannya, dia langsung berteriak bahagia dan langsung berlari memeluk Raven. Kelakuannya itu membuat Ellora sedikit kesal, tapi ia segera menghilangkan perasaannya itu.
"Oh! Kak Everald, akhirnya aku bisa menemukan mu. Semua informasi tentang keberadaanmu terlambat datang kepadaku. Tapi tak apa-apa, aku sekarang sudah menemukanmu, kan?" dengan suara manja wanita muda itu bicara pada Raven, wanita itu juga bergelayut di lengannya.
Raven merasa salah tingkah, matanya melirik ke arah Ellora. Tapi ia tidak melihat apapun di mata Ellora, bahkan sedikit keterkejutan pun sepertinya tidak ada.
Raven merasa tenang dan segera melepaskan rangkulan adik dari sahabatnya dari kalangan Bangsawan itu.
Wanita muda itu adalah seorang Putri dari seorang Bangsawan, ia bernama Eloisa Athelualba.
---Bersambung.
---Like dan Komennya terima kasih 🙏🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
susah nyebut namanya
2024-07-20
0
🌸 Airyein 🌸
Cih cuma putri bangsawan bukan putri raja cocotmu loh 😏
2024-02-01
0
🌸 Airyein 🌸
Gpp pangeran sama putri kumpul kebo dulu. Buat simulasi nanti ke jenjang serius.
2024-02-01
0