Aku berjalan ke lobby gedung perkantoran tempat pertemuan kami. Herman berkata dia menungguku di lobby. Aku mencari sosoknya di lobby yang cukup ramai sampai menemukannya melambai padaku sambil tersenyum kecil. Dia terlihat tampan memakai kemeja biru, dia memang suka warna biru.
“Kau sendiri, rekanmu tak ikut?” Aku mengikutinya lift.
“Tidak ini sebenarnya konsultasi pribadi, lebih sedikit orang akan lebih baik.”
“Ohh oke,...” Kami masuk ke lift dan wangi parfumnya menyerbuku. Parfumnya masih sama seperti enam tahun yang lalu. Aku bahkan masih mengingat wangi parfumnya dan sesaat aku merasa terlempar ke enam tahun yang lalu. Kami memang hanya setahunan bersama, tapi semua tentangnya seakan masih kuingat dengan jelas.
“Sudah makan siang?” Dia bertanya memecah keheningan karena cuma kami yang berada dilift.
“Sudah...”
“Aku kangen nasi udang empalnya Bu Rudy, sudah setahunan gak ke Surabaya lagi.”
“Iya gak ada disini itu.” Dulu kami sering makan berdua disana. Bersamaan dengan itu denting lift membawa kami ke lantai dimana kantor kliennya Yongky berada.
“Mungkin kita harus menunggu sebentar, sekertarisnya bilang Yongky masih ada pertemuan dengan tamunya.”
“Ohh oke.”
Kami melangkah ke lantai dan ruangan yang kami tuju. Nampaknya ada lantai ini full disewa untuk kantor mereka. Kami diantar ke ruangan meeting oleh sekertarisnya yang menunggu kami.Dia meninggalkan kami berdua lagi dan aku mau tak mau harus merasa canggung lagi. Dan kemudian memgambil posisi berhadapan di meja meeting panjang yang mungkin bisa memuat delapan sampai sepuluh orang itu.
“Akhir tahun kembali ke Surabaya?” Akhirnya dia yang berinisiatif bicara duluan.
“Iya.”
“Ibumu masih berjualan.”
“Masih, ini puncak kesibukannya. Dia tipe tidak bisa duduk diam.” Ibuku membuka toko kue dan cake. Menghidupi dirinya sendiri dan aku, sampai mengantarkanku kuliah. Saat Ayah meninggalkan kami Ibu meninggikan harga dirinya dan tidak mengemis sepeserpun kepada Ayah. Dan sejak itu aku bisa dikatakan putus hubungan dengan Ayah. Mungkin beberapa kali Ayah berusaha menghubungiku, tapi aku hanya berbicara sedikit padanya dan sisanya adalah menghindarinya. Karena sebagian besar rasanya aku hanya ingin berteriak kepadanya yang telah tega meninggalkan kami.
“Ibumu memang selalu bersemangat.” Dulu beberapa kali Herman pernah bertemu Ibu. Dia memang begitu, dia menangis sendiri meratapi sakit hatinya. Tapi didepanku dia selalu bersikap tegar, seakan kepergian Ayah bukanlah masalah besar. Walaupun kadang dia tak bisa berbohong emosinya meninggi saat dia dipojokkan pada masalah. Dan yang bisa kulakukan adalah menjadi anak berbakti, rajin, pintar,dan giat untuk sedikit membuatnya bangga dan terbantu setidaknya.
“Betah dengan tempat kerjamu yang sekarang?”
“Iya, aku senang bekerja disana, mereka punya sistem yang bagus. Mungkin tak lama lagi aku kan jadi partner.” Sedikit menyombong tak apa bukan, aku ingin dia tahu aku benar-benar berhasil saat berpisah dengannya.
“Bagus sekali, jika kau tidak puas... kau bisa pindah kemanapun, bahkan membuka kantormu sendiri sekarang kurasa. Banyak yang mau menerima partner sepertimu.” Ini nampaknya sebuah undangan terselubung untuk pindah ke firmanya.
“Tidak, aku sudah cukup puas di kantorku sekarang. Banyak bantuan yang kuterima disana.” Dia mengganguk mengerti.
“Aku baru tahu, pacarmu Kenneth itu anak Pak Jonathan Tulos, pemilik firmanya.” Dia ternyata menyelidiki siapa Kenneth.
“Iya... Kau sedikit melakukan pengecekan latar belakang rupanya.” Aku menyindirnya sambil tersenyum.
“Sedikit...” Ohh, dia masih ‘sedikit’ peduli mungkin. Jika dia peduli sedikitnya dia bisa menghubungiku mungkin setahun sekali. Bukan melakukan pengecekan siapa pacarku saat kami bertemu lagi. Itu tidak sopan sama sekali.
“Aku tak melakukan pengecekan siapa pacarmu tenang saja.” Dia tersenyum kecil dan aku tak perduli apa yang ada dalam pikirannya sekarang, kenapa antara membuat kesal dan membuat kangen itu juga dekat. Aku benar-benar heran.
“Aku tak bermaksud buruk, ... Hanya jaga-jaga jika dia orang yang tidak baik.” Sekarang kalimatnya langsung menyulut emosiku.
“Jika dia orang buruk pun harusnya kau tak perduli. Dua tahun ini kau di Jakarta, kau juga tak pernah setidaknya mungkin mengajakku makan siang,atau mungkin saat ulang tahunku mengucapkan selamat ulang tahun. Jika kau perduli tentu saja...” Aku langsung bicara begitu saja tanpa memikirkan akibat ucapanku.
“Jadi kau mengharapkan aku menghubungimu? Kau bilang...” Sekarang aku sadar aku sudah salah bicara. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi seseorang masuk ke ruang meeting.
“Siang Her,... Ah ini pasti Ibu Kayla Riyani yang terkenal itu.” Suami Cathy pastinya.
Sementara pembicaraan kami terhenti begitu saja. Kami saling melihat sebentar. Aku sekarang menyesal terlalu cepat terpancing olehnya secepat itu.
Kayla, kau payah!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
Fatimah Ajja
kok aku jadi ngerasa ini mirip ceritanya charlotte versi lndonesia y/Hey/
2025-01-20
0
Besse Winda
iya nih.si Kayla payah
2024-07-24
0
Lala Pricilla
hernan kykx suka tapi bnykn gengsiii...d cerita sebekumx hermn hero dsini kok mlah gengsian
2022-12-26
0