Sudah jam enam sore, aku masih menangani konsultasi middle associateku. Sementara kepalaku sudah panas dan perutku kelaparan tak bisa berpikir.
“Rubah kalimat ini, kau harus mendapatkan simpati hakim di kalimat ini. Perjelas bagaimana mereka sering bertengkar, berapa kali Tergugat menampar Pengugat, bagaimana Tergugat menyuruhnya keluar dari rumah saat hujan lebat, detailkan semuanya, lalu tutup dengan kesimpulan rumah tangga mereka tidak bisa dipertahankan lagi. Kau kenapa selalu takut-takut membuat kalimat dramatis, semangkin terlihat kesulitan penggugat semangkin gampang persidanganmu, korek klienmu dapatkan detail yang membuatnya menangis dan memutuskan perceraian. Ini terlalu dangkal.”
Aku mengoreksi surat gugatan dua orang orang yang tidak langsung berada di bawah tanganku pengerjaan surat gugatannya.
“Ohhh tidak apa Bu, mendetail begitu jauh. Saya merasa itu seperti sinetron.” Ohh kau bisa membayangkan surat gugatan perceraian sebagai cerita sinetron penuh air mata. Lebih nyata lebih bagus.
“Sekarang kutanya, yang nyaksiin itu ada apa engga?”
“Ada Bu, pembantunya tahu.”
“Ya berarti kamu bisa masukkan. Ada saksi, valid, bisa dibuktikan. Kamu sudah berapa dua tahun ikut saya kapan saya ngajarin kamu bikin surat gugatan setengah-setengah! Sedramatis yang kamu bisa, asal itu kenyataan.”
“Iya Bu, saya perbaiki...” Staff-ku yang bernama Venny itu langsung keluar setelah mendengar aku mengoceh panjang lebar. Aku memijit kepalaku, pusing kerena kelaparan sebagian besar. Ada satu draft lagi yang harus kubaca. Satu orang masih duduk didepanku.
Kali ini aku berada di pihak Tergugat yang ingin memperpanjang masalah. Dan tidak ingin diceraikan dan ini adalah jawaban sang istri atas gugatan suaminya.
“Bu Yunita... Bu Yunita...” aku harus mengumpulkan ingatanku dulu yang sudah tumpul karena kelaparan soal kasus Yunita. Sementara Pak Boss alias Kenneth J Tulos masuk dan duduk di kursi disamping staffku yang sedang menunggu koreksiku. Dan ternyata dia membawa makanan. Mataku langsung memicing karena kelaparan.
“Pak Sore, ...” Staffku dengan sopan menyapa Sang Boss.
“Lanjutkan, saya Cuma duduk doang sambil makan. Yang, kebab....” Dengan ringan dia memanggilku Yang dan menawarkanku makanan. Otakku otomatis mencari asupan karbo, tidak memperdulikan lagi embel-embel yang dia pakai.
“Thanks God, saya lapar gak bisa mikir lagi.” Aku menyambar kebab yang dia tawarkan.
“Joan tunggu bentar ya. Laper gak bisa mikir...”
“Iya Bu.” Joan mesem-mesem ngeliat aku makan. Masalah Ayang-ayangan ini akan menimbulkan gosip di kantor.
“Joan mau ada satu lagi.” Kenneth bersikap baik hati menawarkan kepada Joan.
“Ehh engga Pak, makasih.”
Aku baca draft nya sambil makan.
“Menjawab bahwa Tergugat selalu mengajak bertengkar... Bahwa Tergugat marah karena memergoki Penggugat bertukar pesan mesra kepada Pihak Ketiga, dan mengakibatkan pertengkaran terus-menerus. Tetapi Tergugat tidak ingin mengakhiri rumah tangga mereka demi anak-anak mereka dan akan berusaha menerima dan memaafkan Penggugat.” Aku berenti membaca draft.
“Dan Tergugat masih sangat mencintai Penggugat dan tak mau melepaskan cintanya sampai mati. Sampai napas memisahkan jiwa dari raga Tergugat akan mendampingi Penggugat.” Kenneth menyambar seakan dia sedang menulis naskah drama sinetron ikan terbang.
“Lu jangan lebay...” Gue mendelik ke dia. Sementara staffku tak bisa gak ngulum senyum melihat bossnya nulis draft perjanjian kontrak dan segala macam ***** bengek korporasi jadi penulis naskah sinetron.
“Kayanya bisa kaya gitu. Itu dramatis dan menunjukkan ketulusan.” Dia selalu merasa lucu setiap kali melihat berkas surat tuntutan atau jawaban surat tuntutan di mejaku. Dan selalu merasa itu seperti membaca sebuah novel drama sekaligus menjadikannya bahan candaan plus penghilang stress.
“Ini bukan naskah sinetron.” Aku fokus ke staff ku lagi. “Ini di sidangnya nanti, harus detail pas kesaksian, sekali Pihak Ketiga ditekan ini gak akan cerai. Nanti kamu harus bicara sama Yunita, detailkan kejadiannya hafalkan, kalo bisa dramatisir dikit ingat-ingat apa yang dia tahu soal pihak Ketiga ini lalu beberkan. Walau gak bisa dibuktikan, setengahnya kalo hakimnya pas dapet cewe aja ini kita yang menang.”
“Iya Bu,...”
“Dah, ini sudah bagus, teliti pengetikannya sekali lagi.”
“Oke Bu. Saya permisi...”
“Sayang, mau lagi. Nih bagi setengah ya, aku baru marah-marah tadi laper pengen makan orang.” Kenapa dia harus manggil sayang-sayangan pas staff gue belum keluar tutup pintu. Dia memang sengaja mau bikin gosip disini.
“Katanya mau keluar kota, kok belum pulang?”
“Kan besok. Ngapain pulang sekarang.” Dia melihat kebab ditangannya.”Ini makan semua kekeyangan, kalo gak dimakan sayang. Say, bagi dua ya...”Astaga ngomomg say-nya lancar amat.
“Ya..ya sini.” Tapi gimana caranya bagi dua. Ini kebab? Dia nyerahin ke aku. Aku binggung.
“Gimana caranya bagi dua.”
“Ya makan aja dulu,...”
“Kamu makan sisaan aku?”
“Ya iya, kenapa kamu ada HIV?”
“Tapi kan sisaan aku?” Sekarang dia yang nyengir.
“Kalo pacaran kan ciuman sayang, terus gak geli gitu...” Dan blush mukaku panas begitu aja, terutama membayangkan apa yang dia katakan. Dia menatapku dengan seksama, pasti dia sadar mukaku merah, buktinya senyumnya nambah lebar. Baru kali ini gue tersipu didepan Ken.
“Ken!”
“Iyaa Yang.” Sambil ngeringis lebar. Ayang-yang kepala lu peyang, pengen kuceplosin begitu.
“Lu jangan macem-macem.”Anceman yang gak guna, gue tahu.
“Gak gue semacem doang. Udah teken kontrak sama lu. Gak pernah double kontrak gue.”
“Lu bisa serius gak sih.”
“Lu mau serius kaya gimana? Maksudnya praktek langsung sekarang? Boleh, disini? Pintunya kunci dulu ya...” Dia bikin gue tambah mangkel.
“Ken! Lu tuh becanda mulu...” Aku kehabisan cara menghadapi dia.
“Gue gak becanda, ini serius Sayang.” Nambah panas muka gue. Akhirnya gak berani ngebales kata-kata dia lagi. Dia ketawa ngeliat gue gak bisa ngebales dia lagi akhirnya.
“Udahlah, lu dah selesai. Ayo makan.” Akhirnya dia sendiri yang mendinginkan situasi.
“Udah.”
“Ayo pergi, naek mobil gue aja. Ntar gue anter lagi lu kesini.” Terpaksa ambil tas dan berdiri. Dia ngulurin tangannya.
“Apa?” Aku mempertanyakan kenapa dia mengulurkan tangan.
“Gandengan sayang...”
“Gak mau.”
“Pacaran kok gak mau gandengan, itu bukan pacaran, namanya tetanggaan.”
“Ntar gue di jelousin ama penggemar lu disini.”
“Siapa yang berani sama cewe Partner termuda disini. Plus calon Nyonya boss, tinggal ngomong aja dan tendang.” Kali ini gak ada senyumnya sama sekali. Aku tetap tak bergerak dan dia menjadi tak sabar. Dia mengambil tanganku dan mengandengku keluar ruangan sementara beberapa orang yang belum pulang melihat dengan penasaran ke arah kami.
Besok, akan ada gosip tersebar di kantor ini. Tidak disangsikan lagi.
🛑🛑🛑🛑
Udah boleh vote ya para pembacaku semuanya
Makasih buat dukungannya 😁😁😁😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 360 Episodes
Comments
LinaF ✨
Fix ama ken ajah udah cocok
2022-09-18
0
Aurora
Terima aja kenken😊😉
2022-09-03
0
Wirda Wati
cocok
2022-03-17
0