Sesampainya di taman, Anastasya duduk dan membaca sebuah novel "Cinta Tulus Sang Kaisar" dalam benaknya ia berfikir "Seandainya saja Kaisar seperti ini, Huh. Mikir apa coba,"
"Hormat hamba, Baginda Ratu." ucap Kedua bersaudara, Enzo dan Enzi.
Anastasya menatap kedua saudara itu, ia menutup bukunya dan menaruh di atas meja.
"Duduklah," perintah Anastasya.
Enzi dan Enzo pun mengikuti perintah Anastasya, ia duduk berhadapan dengan Anastasya.
"Bagaimana jika besok kita berburu," usul Anastasya tersenyum, "Sekalian kalian menghirup udara segar sebelum melatih diri kalian."
"Baiklah Ratu, selama Baginda Ratu bahagia." ucap Enzo.
Anastasya tersenyum, merekapun berbincang-bincang di iringi canda tawa.
Pada malam harinya, Anastasya hanya diam di balkom. Karna merasa jenuh Anastasya keluar dari kamarnya di ikuti pelayan Mery.
"Baginda Ratu, udara malam tidak baik untuk kesehatan Baginda," ucap Mery memberikan nasehat secara lembut.
"Aku hanya ingin keluar menghirup udara malam," ucap Anastasya.
Anastasya berkeliling istana. Dan sering pula Anastasya bertemu dengan para pelayan. Mereka menunduk, takut akan tatapan tajam Anastasya. Jika dulu, mereka terang-terangan berbisik di depan Ratu Anastasya.
Meong
Anastasya menghentikan langkah kakinya, ketika mendengarkan suara kucing. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling istana.
Meong
Anastasya mencari asal suara itu di balik semak-semak di bantu Mery.
aaa
Teriakan Mery membuat Anastasya menoleh, ia segera berlari menuju ke arah Mery.
"Baginda, Baginda Ratu ada darah."
Meong
Anastasya menyingkirkan semak-semak itu..Betapa terkejutnya dia, melihat kaki kucing berwarna putih itu terluka.
Tanpa berfikir panjang, Anastasya menggendong kucing itu, "Cepat panggil Dokter istana," perintah Anastasya.
Mery pun mengangguk dan berlari mencari dokter istana.
Sementara Anastasya berlari menuju kamarnya.
Sesampai disana Anastasya membaringkan kucing putih itu di tempat tidurnya, ia tidak perduli jika kasurnya ada noda darah, yang dia khawatirkan keselamatan seekor kucing di depannya itu.
Sesaat kemudian datanglah dokter istana di ikuti Mery.
"Cepat obati kucing ini," ucap Anastasya datar dan menatap dingin. Seketika Dokter istana hanya diam membeku, ia takut dengan tatapan Anastasya. Tidak biasanya sang Ratu menatapnya seperti itu.
"Kenapa diam, Cepat obati," teriak Anastasya.
"Ma-maf Baginda Ratu," ucap Dokter istana gelagapan.
Selang beberapa saat Dokter istana telah selesai mengobati dan memperban kaki sang kucing.
"Baginda, bagaimana jika kucingnya di pindahkan ke kandang." usul Mery.
"Jangan, kamu hanya perlu mengganti seprainya saja." ucap Anastasya merasa khawatir.
Aneh kenapa aku sangat familiar dengan kucing ini batin Anastasya..
Ia mendekatkan wajahnya, ke mata sang kucing. Dan benar saja tiba-tiba dia ingat novel yang ia baca.
"Oh, Astagah ! bukankah kucing ini yang pernah di tolong oleh Elisha." gumam Anastasya, ternyata Tuhan berpihak padanya. Ia tersenyum, sedikit demi sedikit alurnya telah berubah.
"Oh, baiklah. Aku akan merawat mu kucing imut." ucap Anastasya mengelus kepala sang kucing.
"Hormat hamba Baginda Ratu," ucap Mery yang membawa seprai di tanganya.
Anastasya menggendong kucing putih itu dengan hati-hati. Kemudian Mery mengganti seprai yang ada noda darahnya itu.
Setelah selesai Anastasya, membaringkan kucing putih itu di sampingnya.
"Selamat malam Baginda," ucap Mery menunduk hormat dan berlalu pergi.
Hari ini keberuntungan berpihak padaku, di dalam novel kucing ini di tolong oleh Elisha, dan karna sifat lembutnya itu lah. Kaisar Alex semakin mencintainya.
Anastasya tersenyum kemenangan, lalu perlahan-lahan dia memejamkan matanya mengikuti mimpi seekor kucing di samping nya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 202 Episodes
Comments
Esti Esti
nyimak
2024-12-07
0
Irma Yanti
bisa ngga dilanjutin
2022-05-20
0
Salma Cheng
pengen Ratu yang sakti sang kaisar tunduk
2021-10-28
4