{Beri like dan komen}
Setelah kedua remaja itu asik mencuci piring, keduanya kembali ke kamar masing-masing. Terlihat dua remaja itu terbaring bersamaan di atas ranjang mereka.
Terlihat Mira melihat langit-langit kamarnya. Nampak dari bibirnya, sebuah senyuman terlihat mengembang menandakan ia mulai merasa senang dengan permainan busa yang ia lakukan dengan Raka. Perlahan Mira memejamkan mata, mulai tidur siang.
Sedangkan di kamar Raka, ia nampak guling-guling tak karuan di atas kasurnya. Ia menyentuh dadanya yang selalu berdegup kencang. Raka nampak membayang-bayangkan Mira yang tertawa lepas, terlihat ia merasa senang sudah mengenal Mira. Raka bahkan menggigit-gigit gulingnya.
"Aisshh ... apa aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya?" Batin Raka kini duduk silang di atas ranjangnya. Pandangannya tertuju pada pintu kamarnya.
Seketika saja suasana hatinya berubah, Raka merasakan hawa dingin yang amat mencekam. Buluk kuduknya langsung berdiri, sontak Raka berpaling ke arah jendela. Di mana hordeng-hordeng putih terhembus oleh angin Siang.
"Aneh, aku merasa tadi ada yang mengawasi ku, tapi di mana dia berada?" Batin Raka kini berdiri, perlahan-lahan ia melangkah mendekati jendela kamarnya.
Fussshh
Seketika sesuatu lewat di belakang Raka. Raka segera berbalik, namun tak ada seseorang di dalam kamar selain dirinya.
Raka pun menutup jendela kamarnya. Lalu ia berjalan menuju ke ranjangnya. Raka membaringkan tubuhnya lalu menghadap ke samping.
Deg!
"Aaa!" Raka tersentak, akibat ia melihat sosok hantu perempuan berdiri di dekatnya, namun sosok itu hanya lewat sebentar lalu menghilang.
Raka duduk kembali lalu pandangannya mencari sosok itu, terdengar nafasnya tak beraturan, nampak Raka terkejut akibat sosok itu barusan.
"Dia, dia yang aku lihat di kelas kemarin. Hantu yang mendekati ketiga cewek itu. Siapa hantu cewek itu?" Batin Raka kini memikirkan sosok itu. Raka pun menyentuh kepalanya yang mulai berdenyut.
"Sudahlah, lebih baik aku tidur dulu." Gumam Raka kembali membaringkan tubuhnya lalu memeluk gulingnya. Ia perlahan menutup matanya dan mulai tidur.
Sosok yang memiliki sayatan di leher, terlihat warna kulitnya memucat bagaikan tembok putih yang kumuh. Terlihat ia melayang sudut kamar Raka. Cewek itu menatap Raka lalu perlahan-lahan ia menghilang begitu saja.
_____
Keesokan harinya di pagi hari. Terlihat Mira mulai siap-siap ke sekolah. Mira pun keluar dari kamarnya dan tak sengaja ia berpapasan dengan Raka.
"Pagi, Mira," sapa Raka tersenyum.
"Pagi," ucap Mira datar. Mira pun menuruni tangga, sedangkan Raka terlihat ia mengangkat sebelah alisnya.
"Eh, ada apa dengannya? Kemarin dia baik-baik saja," gumam Raka ikut turun. Terlihat ia sudah rapih dengan seragam sekolahnya.
"Loh, di mana adikku?" Mira mencari Andis lalu ia berbalik melihat Raka.
"Oh, itu. Aku barusan mengantarnya duluan," ucap Raka berjalan ke arah meja. Nampak Raka mengambil roti.
"Kok kamu antar dia duluan," ucap Mira berjalan ke arah Raka.
"Ya, habisnya ... dia mau diantar, jadi aku antar saja. Katanya kalau barengan, dia merasa sempit," ucap Raka mengolesi roti dengan selain.
"Oh, kalau begitu aku pergi dulu," ucap Mira berbalik ke arah pintu rumah.
"Tunggu," Raka menahan tangan Mira. Mira sontak berbalik dan seketika mulutnya di sumbat dengan roti yang tadi di pegang oleh Raka.
"Nah, makan tuh dulu." ucap Raka melihat Mira lalu ia berjalan duluan mengabaikan Mira yang mulai kesal.
Huk huk huk
Mira terbatuk-batuk akibat tersedak roti. Mira pun memakan roti itu dengan perasaan tak karuan. Mira pun berjalan keluar rumah.
"Eh, kamu mau ke mana?" Raka bertanya pada Mira yang melewatinya saja.
"Sekolah," jawab Mira datar.
"Naik sini. Kalau jalan kaki, nanti yang ada terlambat,"
"Tidak akan, aku pakai angkot saja," tolak Mira tetap berajalan. Sementara Raka kini mengikuti Mira dengan motornya.
"Tau nggak, jarak rumahku ke sekolah jauh banget loh, kalau pakai angkot, yang ada kamu sampainya nanti sore," ucap Raka kembali membujuk Mira.
"Iiih, kenapa sih kamu nempel mulu, kenapa sih ikutin aku terus!" Mira berhenti melihat Raka di depannya dengan perasaan jengkel.
"Kan kamu pacarku," jawab Raka asal-asalan membuat Mira terdiam.
"Dengar ya! Aku itu bukan pacaramu! Yang dikatakan Pak Nung kemarin itu cuma candaan, kamu jangan anggap serius," ucap Mira kesal.
"Canda, kita kan temenan," ucap Raka menyentuh kepala Mira. Sontak Mira segera menepis tangan Raka.
"Tidak usah pegang-pegang!" Ketus Mira.
"Ya sudah, naik sekarang! Atau aku tinggal!" Raka tak mau kalah. Mira dengan tampang kesal, ia terpaksa naik.
"Udah," ucap Mira datar menyilangkan tangan.
"Pegangan,"
"Kan tadi aku sudah bilang,"
"Ya, kalau kamu jatuh, bukan tanggung jawabku," ucap Raka mulai menyalakan motor.
"Ck," Mira mendecak lalu ia memegang tas Raka.
"Bukan di situ,"
"Udah, jalan saja!"
"Kalau kamu pegangan di situ, itu belum menjamin,"
"Apaan sih,"
"Udah, nurut aja napa! Susah amat!" Ucap Raka mulai kesal dengan Mira yang keras kepala. Mira pun berpegangan di pundak Raka.
"Nah, jalan saja! Tidak ada berkata kali!" Pinta Mira mendorong sedikit tubuh Raka.
"Iya, pegangan yang erat,"
"Iya, bawel amat!"
Raka yang mendengarnya cuma tersenyum smirt, ia pun mulai menyalakan motor lalu melaju meninggalkan rumahnya menuju ke sekolah.
Beberapa saat kemudian, motor itu sudah sampai di depan gerbang sekolah mereka. Terlihat para siswa siswi yang melihat keduanya datang ke sekolah bersama, mereka terkejut dan merasa iri pada Mira yang datang bersama Raka.
Mira cuma mengabaikan mereka lalu memperbaiki kacamatanya.
"Sudah, berhenti sekarang!"
"Iya. Ini juga lagi markirin motor,"
"Hmp!"
Motor pun berhenti, lalu Mira segera turun lalu meningalkan Raka. Raka yang melihatnya seperti itu cuma menggelengkan kepala.
"Nih cewek cuek amat dah, bilang terima kasih kek gitu. Tapi dia malah ninggalin aku begitu saja, sangat ... sangat tidak beprikemanusian," gumam Raka segera mengejar Mira.
Dari kejauhan, terlihat Roy baru turun dari mobilnya. Ia terlihat marah dengan apa yang ia lihat pagi ini.
"Ck, apa-apaan ini. Dia selalu saja menempel dengan Mira, bahkan sudah berani mengantasrnya ke sekolah. Sepertinya dia saingan berat juga," Roy mendecak kesal lalu ia masuk ke sekolah menuju ke kelasnya.
Sedangkan di sisi lain, terlihat tiga cewek yang juga melihat Raka dan Mira datang bersama. Terlihat mereka geram dengan Mira.
"Cih! Cewek itu sok jual mahal! Dia pergi begitu saja agar Raka mengejar dirinya," Ketus Gabby mengepal tangan.
"Ya, sudah. Kita kerjain saja, lagian juga cewek kek gitu harus di beri pelajaran biar tidak melunjak," Salsa mengusulkan rencana untuk Mira. Terlihat cewek itu kesal, tentu ia iri dengan Mira yang bisa dekat dengan Raka.
"Aku setuju, kita kasih dia pelajaran nanti. Tapi kita harus pastiin dulu, kalau dia sendirian ... nah saat itulah kita tarik ke rencana kita," ucap Angelin menyentujui usul Salsa.
Ketiga cewek itu pun berjalan menuju ke kelas meraka. Seketika sosok kemarin muncul lagi. Terlihat wajahnya begitu menyedihkan.
"Kalian harus hentikan, jangan mengundang kematian kalian sendiri ... hiks," isak sosok itu menghilang diterpa angin pagi yang sejuk namun menusuk begitu dalam.
____
serem gak? kalau gak serem ya maaf wkwk
Terima kasih💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
theresia gwattiny
jgn sok jd orkay ,dikit2 ngebulli orng miskin.bangga dgn harta bpk nya .
2021-04-20
1
theresia gwattiny
makanya jd orng jgn suka ngebulli akhir nya mati kan ,aku suka yg bulli hrs mati.
2021-04-20
3
Solaichah Solaichah
g bs bygin klu bs melht hantu, bs2 mati berdiri kali y
2021-01-03
2