06. Cemburu?

Seseorang menarik tangan Mira, Mira menoleh melihatnya. Rupanya itu Roy yang menarik tangannya. Mira menarik tangannya untuk lepas. Tanpa sepatah kata pun yang terucap, Mira berbalik membelakangi Roy. Dia tahu tujuan Roy mendekatinya.

"Mira, ada yang mau aku bicarakan pada mu," tahan Roy berjalan lalu berdiri di depan Mira dan melihat lekat-lekat mata merah dibalik kacamata itu.

"Maaf, waktu jam pelajaran akan segera dimulai," tolak Mira kembali berjalan, namun Roy tetap tak ingin Mira pergi dulu.

"Mira, aku mau bicara soal-"

"Tak ada yang perlu dibicarakan, aku sudah tahu maksud tujuan mu," potong Mira melihat Roy dengan serius.

Roy sudah tak tahan, perasaannya mengatakan jika dia akan tetap mengejar Mira sampai Mira mau menjadi kekasihnya. Apalagi waktu kelulusan mereka sudah dekat, dia ingin mengikat Mira dalam satu hubungan yang pasti. Roy meraih tangan Mira membuat gadis muda itu terkejut melihat tangannya disentuh oleh Roy.

"Mira, bisa kah kamu memberiku sedikit peluang untuk menjadi lelaki yang menempati hatimu itu, aku benar-benar mencintaimu," ungkap Roy berharap Mira akan menerima perasaannya kali ini.

Mira menunduk, dalam hidupnya sungguh tak ada kata cinta yang dia dengar sebelumnya dan itu membuktikan cinta Ayahnya yang sudah hilang dengan harapan palsu.

Mira pun melepaskan tangan Roy dan mengatakan tentang perasaannya. Dia sama sekali tak ingin terikat dengan perasaan seperti itu, dalam hidupnya cinta sungguh tak berarti lagi karena dia lebih memilih untuk menjauhi dan membuang perasaan itu.

"Maaf, aku sama sekali tidak mencintaimu," lirih Mira berjalan melewati Roy menuju ke kelasnya.

"Maafkan aku, Roy. Sebenarnya aku juga menyukaimu. Tapi aku tak bisa mencintai seseorang dalam hidupku, aku tak ingin merusak masa depanmu," batin Mira sedikit perih di hatinya. Sontak seseorang yang bersembunyi di balik tiang sekolah tampak kaget mendengar isi hati Mira. Roy yang mendengar penolakan itu, mulai geram, dia tak bisa terus-menerus seperti ini. Bukan jawaban itu yang ingin dia dengar.

"Kenapa kamu selalu menolakku, Mira? Apa aku memiliki kekurangan yang tak bisa kamu terima?" desis Roy merasa kecewa sambil melihat punggung Mira. Cowok tampan itu pun melangkah pergi menuju ke kelasnya dengan perasaan kecewa bercampur marah.

"Wow ... sungguh tontonan yang langka, ternyata cowok itu menyukai Mira dan Mira juga menyukainya. Tetapi kenapa dia menolaknya? Apa maksud dari ucapannya yang tidak mau merusak masa depan cowok itu?" gumam Raka yang dari tadi mendengar obrolan itu. Ternyata disaat dia selesai dari kantin, rupanya Raka kembali ke perpustakaan dan tak sengaja melihat Mira dan Roy.

"Tapi kenapa perasaanku jadi gelisah begini setelah mendengar isi hati Mira?" batin Raka menyentuh dadanya. Tiba-tiba saja suara seorang bocah menjawab kegundahan hatinya.

"Itu karena abang suka sama tuh cewek, jadi abang cemburu mendengarnya," ucap Bocah itu melihat Raka lalu menghilang.

Raka yang mendengar ada seseorang yang berbicara padanya langsung menoleh ke samping. Namun tak ada seorang pun di dekatnya.

"Eh di mana orangnya? Apa tadi bukan orang ya?" pikir Raka mencari suara itu.

"Tapi, apa yang dikatakan dia tadi mungkin benar, kalau aku ini memang telah menyukai Mira dan akhirnya cemburu melihat mereka berdua," lanjutnya lagi kini berjalan ke arah kelas.

"Aiss ... mungkin ini yang namanya cinta pertama, perasaanku gelisah jika ini benar-benar perasaan yang ku rasakan sekarang. Tapi, apa aku juga adalah cinta pertamanya?" gumam Raka sedikit mengacak-acak rambutnya.

"Ternyata mendengar isi hati orang bisa membuatku seperti ini," batin Raka cepat masuk ke dalam kelas.

Seketika bel pelajaran kembali berbunyi. Saatnya para siswa masuk ke kelas masing-masing dan akhirnya pelajaran pun kembali di lanjutkan. Seperti biasa Raka selalu memandang Mira, membuat tiga cewek merasa jengkel melihat Raka seperti itu.

"Apa sih bagusnya tuh cewek, sudah miskin, cupu, terus bodoh," gerutu Gabby merasa kesal terhadap Mira.

"Iya, tuh. Padahalkan kita lebih bagus dari pada dia. Kita lebih eksis dari pada dia. Tapi Raka selalu saja melihatnya!" cetus Salsa ikut kesal.

"Cih, mungkin dia pakai guna-guna kali, lihat saja si Roy. Dia terus-menerus ngejar cewek nggak jelas kayak dia," ungkap Angelin yang juga merasa risih terhadap Mira.

"Guna-guna? Apa tuh?" tanya Salsa polos. Maklum, dia tak tahu hal seperti itu. Kedua temannya cuma menggeleng kepala melihat Salsa yang tak tahu artinya itu.

"Sudah lah! Lebih baik kita cari cara buat singkirin dia dari sekolah ini." Usul Gabby tersenyum licik ingin menyingkirkan Mira. Salsa dan Angelin setuju dengan usulan Gabby.

Raka yang dapat mendengarnya langsung melihat ke sumber suara. Sontak Raka terkejut melihat sosok gadis yang amat menakutkan dan menyedihkan berdiri di dekat Gabby, Salsa dan Angelin.

Raka segera menunduk cukup ketakutan melihat sosok itu.

"Untung saja dia tak melihatku, selamat," lirih Raka mengelus dadanya. Sedangkan Mira yang melihatnya mengerutkan kening.

"Ada apa dengannya? Apa dia punya penyakit Asma?" batin Mira melihat Raka. Raka yang dapat mendengarnya langsung melihat Mira lalu tersenyum membuat Mira mengalihkan pandangannya ke arah jendela di sampingnya.

"Dasar cowok aneh, dikit-dikit dia senyum-senyum nggak jelas," batin Mira kembali melihat ke depan mengabaikan Raka. Raka yang mendengarnya cuma tertawa kecil dalam hatinya. Tapi kini dia sedang memikirkan sosok itu.

Raka sedikit menoleh melirik ke arah ketiga cewek itu, rupanya sosok itu telah menghilang dari tempatnya.

"Dia tadi siapa? Mana mungkin dia datang kemari tanpa tujuan apa pun kan?" batin Raka bertanya pada dirinya sendiri.

Tring Tring Tring

Bel akhirnya kembali berbunyi, pelajaran pun selesai. Para murid kini merapikan meja mereka. Waktu pulang kini telah tiba dan para murid berlarian keluar untuk pulang ke rumah.

Mira berdiri duluan dan berjalan keluar meninggalkan Raka yang masih sibuk merapikan buku-bukunya. Sedangkan ketiga cewek itu kini mengikuti Mira.

Terlihat Mira berdiri di pinggir jalan menunggu angkot. Tiba-tiba Mira merasa ada yang ingin mencelakainya. Dia segera menoleh ke kanan dan seketika sebuah mobil berwarna merah muda bermotif hello kitty langsung menyerempet Mira hingga gadis muda itu terjatuh membuat lututnya berdarah.

"Hahaha ... rasain tuh! Lain kali kalau mau pulang bawa pesawat! Biar kamu tuh nggak kebakar sama sinar matahari, haha ..." tawa Salsa dari jendela mobil melihat Mira terjatuh.

"Ya! Mending pakai pesawat, biar cepat sampai rumah. Haha," ledek Angelin dari dalam mobil, ialah yang mengemudi mobil itu dan menyerempet Mira.

"Rasakan! Kalau jadi cewek nggak usah caper deh! Haha," tawa Salsa lagi. Gabby di dalam sana menurunkan jendela lalu melihat Mira.

"Sudah guys .. lebih baik kita tak perlu mengurusnya. Nanti yang ada kita ketularan bodohnya," ungkap Gabby menahan tawa melihat Mira yang masih terduduk. Tiba-tiba saja seseorang berteriak.

"Woi! Kamvret!" Tunjuk Sulis berlari menghampiri mereka disertai yang lainnya. Angelin yang melihatnya pun pergi meninggalkan Mira. Ketiga cewek itu masih saja menertawai Mira di dalam mobil.

"Woii! Bajing4n! Jangan pergi lu! Tanggung jawab woi!" Sulis masih saja berteriak menunjuk-nunjuk mobil Angelin yang kini terlihat jauh dari mereka.

"Sudah, Lis. Mereka itu juga bakal kena karma, jadi kamu gak usah ngomong kasar gitu, sabar ... sabar," Via menenangkan Sulis yang emosi.

Cece dan Arini kini memapah Mira untuk berdiri. Mereka terkejut melihat lutut Mira terluka. Sontak Sulis geram melihat luka Mira.

"Wah gak bisa dibiarin! Mereka harus dilaporkan polisi!" Geram Sulis memukul-mukul telapan tangannya. Mira yang mendengarnya segera menenangkan Sulis.

"Sudah .., ini cuma luka kecil, tidak parah kok!" Mira berdiri berusaha menyeimbangkan lututnya.

"Tapi, kata Sulis kan ada benernya juga. Tidak boleh dibiarkan begitu saja, kami kuatir nanti mereka malah nyakitin kak Mira," ucap Cece polos menyetujui usul Sulis.

"Sudah deh, tidak perlu dibahas lagi. Lebih baik kita ke rumah sakit atau klinik. Lututnya masih berdara tuh!" Via menunjuk lutut Mira.

"Tidak perlu, ini tidak sakit kok," tolak Mira.

"Aduh Mira! Kamu ini kenapa baik banget sih sama mereka. Seharusnya mereka itu dilaporkan saja," kesal Sulis. Mira yang mendengar ucapan Sulis seketika terdiam.

"Aku tidak baik malah sebaliknya aku jahat. Hanya saja, kalian tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya," batin Mira melihat keempat adik kelasnya yang begitu perhatian padanya.

"Terima kasih ya, sudah baik sama aku," ucap Mira sedikit tersenyum pada Mereka. Ketiganya pun terkejut melihat Mira yang akhirnya tersenyum pada mereka.

"Aaaa ... kak Mira ternyata manis juga ya," ungkap Cece melihat Mira. Ketiga temannya pun tertawa mendengarnya.

"Kan dari dulu, Ce," kata Sulis, Via, dan Arini bersamaan. Cece cuma bisa cengengesan mendengarnya.

Tiba-tiba saja motor merah berhenti di depan mereka, ternyata itu Raka yang akhirnya keluar dari sekolah. Pandangan Raka langsung melihat lutut Mira.

"Ah ... kakak kelas datang juga," ucap Cece lagi sambil senyum-senyum melihat Raka.

"Oh ya, lutut kamu kenapa? Kok berdarah?" tanya Raka pada Mira dan para Adik kelasnya.

"Itu tadi ketiga Mak lampir pelakunya," jawab Sulis masih kesal.

"Ha?" Raka heran mendengarnya.

"Wah, pas banget nih, mending kakak antar kak Mira ke klinik buat obati lututnya, takutnya sih nanti infeksi," usul Via menunjuk lutut Mira. Mira langsung terdiam lalu cepat menolaknya.

"Tidak perlu, ini cuma luka kecil,"

"Aduh kak, ini tuh parah banget, bisa-bisa saja besok kak Mira gak bakal sekolah," ucap Cece menyentuh kedua bahu Mira lalu ia mendorong Mira ke arah Raka.

"Nah iya, setuju banget, mumpung ada kak Raka yang bisa bantu!" Arini pun ikut mendorong Mira.

"Baiklah, kamu naik saja, aku akan membawa mu ke Klinik terdekat di sini," ucap Raka tersenyum mengiyakan usulan para adik kelasnya itu.

"Tidak perlu, ini tidak sakit sama sekali," tolak Mira.

"Aduh, nggak usah malu-malu gitu. Nurut saja sama omongan kita, jangan menolak bantuan orang lain," ujar Sulis ikut mendorong Mira.

"Naiklah, aku tak akan macam-macam kok," desak Raka melihat Mira. Karena Mira yang selalu didesak, akhirnya naik ke motor Raka.

"Nah bagus kan, kak Raka! Kita titip dia ya, awas! Jangan macam-macam!" ucap Sulis melihat Raka.

"Tenang saja, kalian tak perlu kuatir." Raka menoleh kebelakang melihat Mira sambil tersenyum.

"Pegangan," pinta Raka pada Mira yang dari tadi menunduk.

"Tidak perlu," tolak Mira.

"Kalau kamu jatuh dan lutut kamu berdarah lagi, aku tak bisa menjaminnya untuk mu," ujar Raka kini siap-siap menjalankan motor. Namun Mira tetap saja dalam pendiriannya.

Karena Raka yang melihat Mira terdiam, ia pun meraih tangan Mira lalu meletakkannya ke pinggang. Sontak Mira terkejut, karena cowok di depannya begitu mudahnya menyentuh tangannya.

Sulis dan yang lainnya cuma bisa menahan tawa melihat tingkah keduanya.

Raka pun menjalankan motor lalu melihat para adik kelasnya.

"Kami tinggal dulu ya," Ucap Raka tersenyum pada mereka lalu mengendarai motor meninggalkan sekolah. Mira yang di sana cuma memunduk lalu menarik kembali tangannya. Namun Raka kembali menarik tangan Mira.

"Iiih ... apa sih nih cowok! Maunya apa sih! Kesel deh!" gerutu Mira merasa kesal. Raka yang mendengarnya cuma tersenyum smirt sambil melihat ke depan. Sulis dan teman-temannya pun menaiki angkot dan pulang ke rumah masing-masing.

Terpopuler

Comments

Fery Pujiono

Fery Pujiono

mantap abisss

2021-03-01

1

~🆑Yetty_Hero🆑~

~🆑Yetty_Hero🆑~

lanjut🙄

2020-11-30

1

Nm 14

Nm 14

Haha raka suka banget ambil kesempatan dalam kesempitan😂

2020-11-29

8

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!