...{Beri like dan komen}...
Beberapa saat kemudian, terlihat motor merah berhenti di sebuah rumah sederhana bertingkat dua. Terlihat biasa-biasa saja, namun aura disekitar cukup terasa horor.
"Sudah, ini rumah ku. Kau bisa pulang sekarang." Mira turun dari motor Raka dan tak sengaja kakinya malah tersandung batu hingga terjatuh kembali.
"Auww, brensek! ringis Mira melihat lututnya berdarah lagi. Wajahnya tampak kesal luar biasa. Raka yang melihatnya cuma bisa menahan tawa, dia pun turun dan berdiri di depan Mira.
"Pftt ... sudah aku bilang, lebih baik tadi kita ke klinik buat obati lukamu dulu, tapi kamu malah menolak, sini aku bantu berdiri." Raka mengulurkan tangannya seraya melihat Mira.
PLAK!
Mira menampar tangan itu lalu menatap Raka dengan kesal lalu berdiri tak ingin dibantu oleh Raka.
"Tidak perlu sok baik, aku tak butuh!" Mira menatap sinis ke Raka kemudian berjalan perlahan-lahan masuk ke rumahnya, namun hampir saja terjatuh kembali, dan untungnya Raka segera memapahnya.
"Sudah deh, nggak usah bantu aku! Kamu pulang sana!" bentak Mira mencoba melepas tangan yang merangkulnya.
"Dasar keras kepala! Niatku baik menolongmu, tapi kamu malah sok kuat, padahal tubuh lemah kayak gini," celetuk Raka masih memapah Mira.
"Tapi-"
"Sudah, diam saja! Kamu ketuk gih pintunya," potong Raka sudah berdiri di depan pintu rumah Mira. Mira yang mendengarnya merasa jengkel, dia pun mengetuk pintu rumahnya.
TOK TOK TOK
Pintu dibuka oleh wanita yang sekitar berumur 39 tahun berdiri di depan Raka dan Mira. Ia adalah Bu Ellen, dan spontan pandangan Bu Ellen tertuju pada lutut Mira. Bu Ellen pun menyuruh Raka dan Mira masuk.
"Mira, lutut kamu kenapa lagi, nak?" tanya Bu Ellen kuatir sambil duduk di kursi tamu. Begitu pun Mira dan Raka ikut duduk di kursi. Terlihat Mira sedikit duduk menjauhi Raka.
"Ini tadi nggak sengaja jatuh, Bu," jawab Mira melihat lututnya. Bu Ellen pun berdiri untuk mengambi obat luka, dia juga tak lupa menanyakan siapa cowok yang di samping Mira.
"Mira, dia siapa?" tanya Bu Ellen melihat Raka. Ketika Mira ingin menjawabnya, Raka dengan cepat mendahului Mira.
"Aku Raka, Bu. Teman sekelas Mira," jawab Raka tak lupa tersenyum pada Bu Ellen.
"Panggil Bibi, jangan panggil Ibu! Dia itu Ibu ku, bukan Ibu mu!" protes Mira menatap sinis ke Raka, tak suka mendengar Raka memanggil Ibunya dengan sebutan Ibu. Bu Ellen yang melihat keduanya cuma menggelengkan kepala, ia pun berdiri untuk mengambil obat untuk membalut luka Mira.
"Mira, kamu obati lukamu, Ibu mau siapin jamuan untuk temanmu itu." Bu Ellen meletakkan kotak obat di depan Mira.
"Tidak perlu," tolak Raka berdiri menahan Bu Ellen.
"Tidak apa-apa, kalian ngobrol saja dulu," ucap Bu Ellen tersenyum pada dua remaja di depannya itu lalu berjalan menuju ke arah dapur.
"Wah, Ibumu sangat ramah, tidak seperti kamu yang seperti balok es," ujar Raka duduk kembali di dekat Mira. Sontak Raka mundur karena Mira menatapnya dengan sorotan mata ingin membunuh. Tentu saja Mira marah dikatakan balok es.
"Hehe .. tadi aku bercanda, jangan di simpan di hati ya," Cengir Raka menggaruk kepalanya.
"Ck," Mira mendecak kesal sambil berpaling muka. Gadis muda itu pun mengambil kotak obat lalu mengolesi pada lututnya. Ketika ia ingin mengambil perban, Raka dengan cepat mengambilnya duluan.
"Sini biar aku bantu," ucap Raka membuka perban.
"Tidak usah, aku bisa sendiri!" tolak Mira ingin merebut perban itu.
"Eits .. biarkan aku saja. Lagian kan tadi kamu jatuh dari motorku, jadi anggap saja ini permintaan maafku,"
"Tidak usah! Lebih baik kamu pulang saja sana," timpal Mira menunjuk ke arah pintu.
"Mira, kamu jangan begitu sama teman mu, tidak baik. Dia niatnya kan baik," sahut Bu Ellen berbicara pada Mira sambil meletakkan dua gelas sirup rasa jeruk ke atas meja disertai kue Brownies. Mira menoleh ke arah Ibunya lalu melihat Raka.
"Nah, kan beres," ucap Raka tersenyum. Ternyata Raka sudah memperbani lutut Mira tanpa disadari oleh Mira sendiri.
Mira yang melihatnya cuma menggerutu dalam hatinya. "Apa sih nih cowok! Nempel mulu, maunya apa sih!" Mira berpaling muka tak suka, rasanya ingin menghabisi Raka.
"Bu, aku ke atas dulu." Mira berdiri dan melihat Raka sebentar dengan sorotan kebencian lalu berbalik mengabaikan Raka dan berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Bu Ellen yang melihatnya cuma menggelengkan kepala, dia pun melihat Raka dan duduk di kursi.
"Maaf ya, Mira memang begitu. Dia selalu menghindar dari teman-temannya dan terima kasih sudah mengantar Mira pulang," ucap Bu Ellen tersenyum ramah.
"Tidak masalah kok, Bi," ucap Raka pada Bu Ellen lalu melihat ke arah kamar Mira.
Tiba-tiba saja, seorang bocah dari arah kamar lain yang tak lain itu adalah Andis yang sedang berlari menghampiri Ibunya.
"Bu, tugasku susah banget, kepalaku pusing," keluh Andis melihat Ibunya lalu mengerutkan dahi merasa heran dengan kehadiran Raka.
"Dia siapa, Bu?" tanya Andis menunjuk Raka.
"Dia temannya kakak mu, namanya Raka," jawab Bu Ellen mengelus kepala Andis.
"Kak Mira sudah pulang ya, Bu?" tanya Andis lagi.
"Iya, dia ada di kamarnya,"
"Bagus dong, aku mau ke atas dulu ya, Bu. Mau nyuruh kak Mira bantu ngerjain tugasku." Andis pun berlari menaiki tangga ke arah kamar Mira. Sedangkan Bu Ellen pun memberitahukan jika dia adalah adiknya Mira. Raka cuma tersenyum mendengarnya.
"Cuma sifat Mira yang berbeda, apa yang telah terjadi padanya?" Raka memikirkan sifat Mira yang tak sama dengan sifat Ibu dan Adiknya. Apalagi warna bola mata Mira juga berbeda dari bola mata Ibu dan Adiknya. Tiba-tiba Andis turun dengan keadaan menangis sambil berjalan menuju ke arah Ibunya.
"Huaaa .. hiks, Ibu ... kak Mira tidak mau bantu ngerjain tugasku, kak Mira tiba-tiba marah sama Andis, hiks ... " isak Andis dengan manjanya pada Ibunya. Raka yang melihatnya jadi makin heran dengan sikap Mira. Dia pun mengusulkan membantu bocah itu.
"Bagaimana jika aku yang membantumu? Siapa tau aku tahu jawabannya," tawar Raka tersenyum pada Andis. Andis yang mendengarnya langsung berhenti menangis, dia pun segera mendekatinya.
"Nama kakak siapa?" tanya Andis menatap Raka. Bocah itu tampak memperhatikan warna bola mata Raka yang berwarna biru. Sedangkan dia memiliki bola mata berwarna coklat.
"Panggil kak Raka, ya," jawab Raka mengacak-acak rambut Andis.
"Kak Raka, boleh kan bantu kerjakan tugas ku?" tanya Andis berharap penuh.
"Boleh kok," jawab Raka tersenyum.
"Bagus! Kalau begitu kak Raka tunggu di sini, aku mau ke kamar dulu buat ambil buku tugas," senyum Andis lalu berlari ke kamarnya dan dengan cepat dia kembali membawa buku-buku yang begitu banyak membuat Raka melongo melihatnya. Bu Ellen di sana cuma menahan tawa. Andis pun duduk di dekat Raka, cowok blasteran kemudian mengajari dan membantu Andis mengerjakan tugasnya. Bu Ellen pun berdiri untuk menyiapkan makan siang.
TAP TAP TAP
Suara langkah terdengar menuruni tangga, Mira dengan penampilannya yang masih sama keluar juga dari kamarnya. Ia memakai kacamata serta mengikat rambut panjangnya. Raka yang mendengar langkah kakinya pun menoleh.
GLEG!
Raka menelan silivanya, ia terpana dengan lekuk tubuh Mira yang lumayan seksi. Tentu saja karena Mira memakai baju ketat sekaligus celana jinz panjang. Ternyata dari penampilan culunnya, dia menyembunyikan keindahan bentuk tubuhnya.
Raka berpaling muka menghilangkan pikiran-pikiran bodohnya. Mira yang melihat ke arah kursi, langsung terkejut. Mira pun berjalan dengan cepat mendekati kursi itu.
"Lho, kamu? Kenapa belum pulang juga?!" Mira berdiri melihat Raka serius dengan kesal.
"Tentu saja karena aku sedang membantu adikmu, jadi aku tak pulang dan tinggal di sini," jawab Raka santai. Sebenarnya Raka tak sanggup melihat penampilan Mira yang begitu membuatnya tergoda.
"Ck, alasan." Mira berdecak lalu berjalan ke dapur meninggalkan Raka dan Andis. Andis yang melihat kakaknya itu, jadi terheran-heran. Andis pun melihat Raka dan mengatakan jika kakaknya tak seperti itu.
"Kak Raka, kak Mira itu tidak galak kok. Dia itu orangnya baik, selalu bantu Ibu sama orangnya pengertian, cuma entah kenapa kak Mira kok beda ya hari ini?" gumam Andis bingung dengan sikap kakaknya.
"Ah .. haha, lebih baik kamu kerjakan saja, tak perlu membahas kakak judesmu itu," ucap Raka sedikit tertawa kecil.
Keduanya pun kembali fokus mengerjakan tugas Andis. Tapi, kini Raka mulai memikirkan Mira.
"Pantas saja, cowok yang selalu mengajarnya itu dia tolak begitu saja. Ternyata Mira gadis yang cantik dan peduli dengan keluarganya." Raka sedikit tersenyum memikirkan Mira dan Roy saat di sekolah.
TAP TAP TAP
Langkah terdengar mendekati mereka, itu Mira yang keluar dari dapur. Terlihat dia begitu jengkel pada Raka.
"Kalian dipanggil buat makan siang," ucap Mira datar sambil berdiri melihat mereka. Andis yang mendengarnya segera berhenti, kemudian berdiri lalu berlari ke arah dapur untuk mengisi perutnya.
Sedangkan Mira dan Raka saling pandang-memandang.
"Ck, Ibuku menyuruhmu makan siang bersama. Tapi, kalau kau tak mau juga tak masalah bagiku," acuh Mira berbalik mulai berjalan, dan seketika Raka sudah ada di sampingnya ikut berjalan menuju ke arah dapur, bahkan ia berjalan cepat mendahului Mira.
Mira langsung berhenti terdiam melihat tingkah cowok itu yang begitu mudah menginjakkan kaki di rumahnya.
"Arghh! Tuh cowok lama-kelamaan makin melunjak! Baru saja sehari dia kenal denganku, dan sekarang dia malah makin berani mendekati keluargaku! Aku tak akan biarkan kamu semakin bertingkah!" gertak Mira dalam hati melihat Raka yang duduk tersenyum diantara Ibu dan Adiknya.
Mira pun berjalan ke arah mereka dengan kekesalan terhadap Raka. Mira pun duduk di depan Raka, menatap sinis ke cowok tersebut lalu ia pun mulai makan dan mengabaikan cerita yang diceritakan Raka pada Ibu dan Adiknya. Terlihat Bu Ellen dan Andis tertawa bersama mendengar cerita Raka. Tetapi, tidak untuk Mira yang cuma merasa risih dengan Raka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
👀 calon mayit 👀
mama Mira tuh kocak ih... baik manis imut. ngga kaya yang kalian fikirin
2021-07-11
0
Zamie Assyakur
jutek bgt mira
2021-05-30
0
mana saya tau saya kan ikan 🐟
mira blok es raka kulkas berjalan emang cocok mrka🤣🤣🤣
2020-12-01
6