Raka duduk di dekat Mira dan ikut membaca sambil melirik sesekali Mira yang terlihat fokus pada bukunya. Mira yang tahu jika cowok di sampingnya selalu saja meliriknya, dia pun berpindah tempat menjauhi Raka.
Raka segera berdiri, seketika saja Mira sudah hilang dari pandangannya. Raka pun berjalan mencari di mana gadis itu berada.
"Ishh ... apa sih tuh cowok! Nempel mulu deh, bikin greget saja setiap dia tersenyum padaku!" celetuk Mira yang ternyata bersembunyi dibalik lemari menghindari Raka.
"Tampan sih, cuma kehadiran dia malah membuatku nanti tak fokus untuk ketiga cewek itu," desis Mira tampak memikirkan Gabby, Salsa dan Angelin. Entah apa lagi yang akan dia lakukan pada ketiga cewek tersebut. Mira melangkah dengan pelan lalu menuju ke arah jendela. Dia duduk di sana dan menatap ke luar jendela. Terlihat dia mulai melamun.
"Tuh cewek ke mana ya? Apa jangan-jangan dia itu bisa teleportasi? Ah masa sih di jaman sekarang ada yang kayak gituan. Tapi kalau dipikir-pikir bisa saja, soalnya aku kan bisa melihat mereka," batin Raka melihat ke arah luar jendela, terlihat sebagian arwah yang masih bergentayangan.
"Ihh ... perasaan ku kok jadi gini ya?" Ternyata Raka masih saja memikirkan perasaannya saat ingin ke perpustakaan.
Kini pandangan Raka berhasil menemukan Mira. Raka pun mendekati Mira, tampak gadis itu duduk terdiam memandang ke arah luar jendela.
"Eh .. dia ngelamunin apa?" batin Raka seperti mencoba ingin tahu isi kepala dan hati Mira. Tetapi yang didengar hanyalah deguban jantung Mira. Tampaknya Raka tak mendengar apapun dari pikiran dan hati gadis itu, sungguh Mira hanyut dalam lamunannya.
Raka pun mencoba menepuk bahu Mira. Namun saat ingin menepuknya, tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang dan ditarik untuk berbalik. Seketika sebuah tangan hampir menonjoknya. Untung Raka dengan cepat menahan tangan itu lalu menghempaskannya begitu saja.
Ternyata itu Roy, yang tak sengaja melihat Raka yang tadi menggandeng tangan Mira ke perpustakaan.
"Apa yang ingin kamu lakukan padanya! Ha!" bentak Roy marah berdiri di depan Raka.
Raka mengernyit heran, merasa sama sekali tak melakukan apa pun.
"Apa orang ini lagi strees? Ah .. atau jangan-jangan dia itu pacaranya, Mira?" batin Raka sedikit terkejut. Roy yang melihat tampang Raka yang menyebalkan pun dengan ancang-ancang ingin menonjok wajah Raka. Namun, Raka dengan cepat menahan tangan Roy lagi. Raka pun berkata dengan sinisnya kepada Roy.
"Apa kamu sedang sakit? Jelas-jelas aku tak melakukan apa pun padanya, oh ... atau jangan-jangan kamu memang lagi stress?" Raka tersenyum picik melihat tampang Roy yang memerah memendam amarah. Roy menurunkan tangannya sambil menatap Raka dengan sinis.
"Kau berani ya! Dasar belagu!" gertak Roy kembali ingin menonjok Raka. Namun kali ini bukan Raka yang menahannya, tetapi Mira yang memukul meja dengan buku di tangannya membuat Roy seketika menghentikan aksinya itu.
BRAKK!
"ROY!"
"Hentikan!" Mira sekarang berdiri diantara kedua cowok itu, dan menatap mereka dengan pandangan tak suka.
"Roy! Jangan buat keributan di sini! Keluar!" ujar Bu Fatma menyuruh Roy keluar akibat sudah membuat keributan di perpustakaan itu.
Roy dengan tampang yang marah pada Raka, dia pun mundur sambil menunjuk Raka.
"Awas lu ya!"
Roy pun keluar menuju ke lapangan kembali, ternyata dia sedang berolahraga. Pantas saja Roy dapat melihat Mira dan Raka.
"Huftt," hela Mira kembali duduk dengan wajah memelas. Dan kini, Raka kembali melihatnya.
"Oh ya, ngomong-ngomong apa dia pacar mu?" tanya Raka terus terang membuat Mira langsung melihatnya.
"Bukan," jawab Mira dengan raut datar dan kembali membaca buku.
"Oh." Raka pun duduk kembali di dekat Mira. Sedangkan Mira kembali menggeserkan kursinya untuk menjauhi Raka.
"Ishh ... nih bocah maunya apa sih! Nempel mulu, ganteng sih iya. Tapi sayang, kok nyebelin ya!" cetus Mira dalam hati merasa risih karena Raka selalu menempel bagaikan cicak yang menempel terus di dinding.
"Pftt," Raka cuma menahan tawa mendengarnya. Ternyata mendengar isi hati orang begitu menyenangkan.
Dua jam kemudian, bel istirahat kembali berbunyi. Kini waktunya para murid keluar berhamburan untuk mengisi perut mereka masing-masing.
"Ke kantin yuk Mira," ajak Raka berdiri sambil melihat Mira. Namun, Mira cuma menoleh melihatnya lalu kembali membaca. Terlihat tak ingin berurusan dengan Raka.
"Hei .., kamu mendengarku kan? Sekarang berdirilah dan temani aku ke kantin," desak Raka kembali mengajak Mira. Tapi, Mira tetap saja duduk mengabaikan Raka.
Disaat Raka ingin meraih tangan Mira untuk berdiri. Tiba-tiba saja keributan terdengar dari luar. Ternyata para adik kelasnya datang untuk melihat Raka.
"Lihat! Itu kakak kelas yang baru! Dia bener-bener cogan di sekolah ini,"
"Boleh dibungkus nih buat jadi pajangan di kamar,"
"Tidaklah, ini mah calon mantu buat mama ku,"
"Enak, saja! Dia itu calon ayah dari anak-anakku!"
Itulah yang mereka perdebatkan, kini Raka mulai was-was jika sesuatu akan terjadi padanya. Raka menoleh kembali ke arah Mira. Namun, gadis muda itu tatap saja sibuk dengan bukunya.
"Woi! Minggir! Aku mau lewat! Jangan dorong-dorong kamvret!" Suara itu terdengar tak asing di telinga Mira. Suara cempreng yang tak lain adalah Sulis. Rupanya Sulis mencoba untuk melewati para murid yang berkumpul di pintu perpustakaan.
"Haiiia! Nih anak gendut banget! Kecilin tuh perut! Awas woi! Gue mo lewaaat!" Sulis yang di sana mulai kesal. Dia pun menerobos dan menabrak para siswi-siswi yang menghalanginya. Akhirnya dia berhasil melewati setumpukan lemak dari mereka.
"Cih ... itu badannya, balon apa galon sih!" kesal Sulis berjalan masuk dan menghampiri Mira dan tak lupa melihat Raka. Raka cuma tersenyum pada Sulis.
"Wah, buset cogan. Matanya cakep banget, jangang-jangan Mira sudah pacaran sama nih kakak kelas," batin Sulis memperhatikan Raka. Seketika, ketiga teman Sulis kini berkumpul di sampingnya. Niat mereka ingin mengajak Mira untuk ke kanting bersama.
"Halo kakak kelas," lambai Via, dia murid kelas satu sekaligus teman sekelas Sulis. Ketiga teman Sulis hanya tersipu malu di hadapan Raka.
Sulis pun mendekati Mira dan mengajak Mira untuk ke kantin bersama.
"Mira, ke kantin yuk," ajak Sulis menarik lengan Mira. Sulis tahu jika Mira selalu saja begini. Harus diajak baru ke kantin.
"Kalian duluan saja," tolak Mira masih sibuk membaca. Sulis pun merebut buku itu lalu menatap Mira.
"Astaga Mira! Ini itu jam istirahat, jadi kita ke kantin barengan," desak Sulis kembali menarik Mira, bagaikan anak kecil saja yang terlihat meminta pada Ibunya.
Mira mengambil buku itu, lalu mengabaikan Sulis. "Kalian duluan saja, aku belum lapar," tolaknya lagi tanpa menoleh ke mereka.
"Ish .. ya sudah, kita duluan. Nanti nyusul ya," Sulis pun berjalan mendekati Raka. Seketika teman sulis meraih lengan Raka.
"Kakak kelas ikut kita ke kantin saja, nanti kita tunjukin sekeliling sekolah," usul Cece tersenyum polos. Raka pun melepaskan tangan mereka lalu tersenyum kecil.
"Ah .. baiklah, maaf jika merempotkan kalian,"
"Tidak .. tidak kok, malah kita seneng, kan guys," ucap Arini. kedua temannya cuma mengangguk, sedangkan Sulis cuma bisa menggelengkan kepala melihat tingkah tiga temannya itu.
Sulis dan teman-temannya kembali menerobos setumpukan lemak yang saling bergeser ke kanan ke kiri. Mereka kini menerobos keluar.
Raka yang di dalam perpustakaan menoleh sebentar melihat Mira yang duduk terdiam.
"Dasar balok es, padahal cuma mengajaknya ke kantin, tapi dia malah menolaknya," gumam Raka kesal lalu berjalan ke arah pintu perpustakaan.
"Woii galon! Minggir woi, tuh kakak kelas mau lewat, kalian jangan halangi dia dong!" Sulis dan teman-temannya merasa risih, dan dengan cepat mereka menarik Raka. Dan akhirnya Raka bisa keluar dari perpustakaan. Raka dan yang lainnya kini menuju ke arah kantin, meninggalkan perpustakaan yang masih heboh akan siswi-siswi yang berdiri di sana.
Dalam jam istirahat Mira cuma bisa menatap keluar jendela. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada tiga cewek yang sudah pulang dari rumah Verla. Mereka berjalan dengan angkuhnya melewati para murid lainnya.
Mira pun menyeringai tipis dan keluar dari perpustakaan kemudian berjalan cepat menyelusuri lorong-lorong di depannya. Tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh seseorang.
Mira berbalik untuk melihat, siapa yang telah menahan dirinya. Seketika Mata mira langsung menatap sinis ke cowok di depannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
U. Boy
eh,kirain apa si raka,barang??🤣🤣
2022-09-08
1
Ufy Eprida Hulu
aq datang.😁😁.. lanjut kk
2020-11-28
1
Eli Iman
ditunggu
2020-11-27
1