...[Beri like dan komen]...
Ketiganya yang penasaran dengan Verla, mereka pun menanyakan apa yang telah terjadi, tetapi akibat para murid yang membuat kebisingan hingga perkataan ketiganya tak bisa didengar oleh Bu Maura.
Bu Maura pun mengakhiri panggilannya kemudian melihat para murid yang kini saling berbisik-bisik. Bu Maura yang mendengar kelas itu berisik ia pun mendobrak meja agar para murid tenang.
BRAK!
Kelas pun kembali tenang, tak ada lagi suara yang terdengar dari mulut mereka.
"Tenang anak-anak! Hari ini pelajaran dihentikan, karena teman kalian yang bernama Verla telah meninggal dunia, jadi Ibu harap kalian bisa tenang dalam waktu pelajaran ini," ujar Bu Maura, tampak ingin datang ke pemakaman anak muridnya itu.
Para murid yang mendengarnya cukup terkejut, mereka pun kembali membuat kebisingan di kelas itu. Sekali lagi Bu Maura mendobrak meja membuat mereka seketika diam.
BRAK!
"Harap tenang! Hari ini lebih baik kalian ke perpustakaan, Ibu mau ke rumah Verla menghadiri acara pemakamannya, jadi kalian lebih baik tidak melakukan kerusuhan di jam pelajaran kali ini," tutur Bu Maura kini mengambil peralatan mengajarnya.
"Baik, Bu." Para murid berkata bersamaan.
Bu Maura pun keluar dari kelas itu dan kini kelas kembali berisik. Begitu pun ketiga teman Verla masih saling pandang-memandang. Mereka merasa tak sangka akan berita kematian Verla. Tiba-tiba Salsa berteriak histeris setelah melihat berita dari ponselnya.
"Aaaaa! Guys ... Verla, Verla meninggalkan karena dibunuh!"
Salsa gemeteran memegang ponsel miliknya. Angelin pun merebut ponsel Salsa dan seketika membola melihat berita itu. Gabby pun juga merebut ponsel itu dan ketiga teman Verla tampak ketakutan disertai sedikit kemarahan.
"Siapa yang telah melakukan ini pada Verla!" geram Angelin mengepal.
"Lebih baik kita ke rumah dia saja, kita harus hadir ke acara pemakamannya, hiks ..." Salsa mulai menangis, Gabby pun menyetujui usulan Salsa.
"Baiklah, kita ke sana. Pakai mobil gue saja." Tawar Angelin menenangkan Salsa. Ketiganya pun keluar kelas menuju mobil Angelin dan meninggalkan sekolah itu.
Kelas 12,A masih saja berisik. Terlihat para murid merasa tidak tenang, kecuali Mira yang dari tadi duduk santai membaca bukunya. Raka yang tahu akan kematian Verla sedikit terkejut. Baru saja masuk ke kelas ini harus mendengarkan kabar duka itu.
"Hem, anu .. kamu nggak mau ke pemakaman temanmu?" Raka bertanya pada Mira yang terlihat mengabaikan berita itu.
Mira menoleh melihat Raka, lalu berdiri tanpa menjawab pertanyaan Raka. Langkah Mira seakan begitu ringan mengabaikan Raka. Raka pun segera berdiri berjalan di samping Mira. Dia kembali menanyakan hal itu pada Mira.
"Kamu pasti mau ke sana, ya? Kalau kamu mau, aku bisa beri kamu tumpangan," tawar Raka melihat Mira.
"Tidak perlu," tolak Mira singkat dan datar. Pandangan gadis itu kosong melihat ke depan.
"Lho, kenapa?" Raka heran dengan jawaban Mira, dan bingung dengan sikap Mira yang biasa saja setelah mendengar kabar kematian Verla.
"Aku mau ke perpustakaan, jadi tak perlu menawarkan itu padaku," jawab Mira berhenti lalu melihat Raka.
Tiba-tiba saja teman sekelas Mira yang lain berlari dan tak sengaja menabrak bahu Mira, membuat gadis itu membenturkan kepalanya pada dada bidang Raka. Mira terkejut, begitu pun Raka.
Mira mendongak melihat Raka, begitu pun Raka yang melihat Mira. Wajah mereka seketika begitu dekat. Kedua remaja itu segera memalingkan wajah mereka, terlihat keduanya tersipu malu.
"Maaf." Itulah kata yang terucap dari mulut Mira. Dia kembali berjalan menuju ke arah perpusatakaan. Raka yang di sana menatap punggung Mira sambil menyentuh dadanya. Terasa jantungnya berdegub kencang atas benturan kepala Mira ke dadanya tadi.
"Perasaan apa ini? Apa kah tadi itu benturan cinta? Apa kah aku jatuh cinta? Apa kah dia gadis yang akan menjadi istriku di masa depan?" batin Raka bertanya-tanya pada dirinya, dia tampak bingung untuk mengartikan perasaannya sekarang.
Seketika senyuman kecil terlihat di wajahnya. Raka segera mengejar Mira dan langsung meraih tangan Mira, tak lupa tersenyum manis pada gadis pendiam itu. Sontak Mira segera berhenti, diikuti Raka pun juga berhenti.
Disaat Mira ingin berbicara, Raka segera berbicara duluan.
"Mau ke perpus, kan?" tanya Raka melihat Mira.
"Iya," jawab Mira mencoba melepaskan tangan Raka, namun Raka kembali berjalan sambil menarik tangan Mira.
"Ya sudah, kita pergi bersama. Lagian aku baru di sini, jadi kamu bantuin aku kenalkan sekolah ini padaku," ucap Raka menggandeng tangan Mira. Mira yang di sana, entah kini harus marah atau kesal. Tapi kalau dilihat-lihat, gadis cantik itu tampak kesal dengan Raka.
"Kenapa dia selalu saja menempel padaku sih!" celetuk Mira dalam hati merasa risih.
Raka yang dapat mendengarnya cuma tersenyum kecil. Dia kini tampak ingin lebih dekat dengan gadis pendiam dan super cuek itu.
"Mulai sekarang, aku adalah teman obrolanmu, hehe ...." batin Raka masih saja menarik Mira. Mira yang melihat ekspresi Raka, ia mengernyit heran.
TOK TOK TOK
Mira mengetuk pintu perpus, ia sangat menghargai tata krama di ruangan itu.
"Pagi, Bu," ucap Mira meletakkan buku bacaannya di meja Bu Fatma, penjaga di perpustakaan itu.
Bu Fatma tersenyum pada Mira, lalu seketika pandangannya tertuju pada Raka lalu ke tangan mereka yang masih saja berpegangan. Mira yang melihat Bu Fatma, dia pun ikut melihat tangannya. Sontak Mira segera melepaskan tangannya pada Raka.
"Oh ya, Mira. Ibu turut berduka atas kepergian teman kelasmu itu," ucap Bu Fatma pada Mira.
"Oh ya juga, kamu murid baru di sekolah ini kan?" tanya Bu Fatma melihat Raka.
"Iya, Bu. Saya murid baru di sini," jawab Raka sedikit gugup. Bu Fatma cuma mangut-mangut mendengarnya.
"Baiklah, kalian boleh duduk di sana. Tapi ingat! Jangan buat keributan di perpustakaan ini," titah Bu Fatma memperbaiki kacamatanya.
"Baik, Bu. Kalau begitu, saya ke dalam dulu. Permisi," ucap Mira menunduk menuju ke sebuah rak buku. Di mana begitu banyak buku yang terselip diantara buku-buku lainnya. Begitu pun Raka juga menunduk pada Bu Fatma lalu ikut masuk mendekati Mira.
Mira kemudian mencari buku yang menurutnya cocok dengannya. Pandangannya terlihat fokus memilih buku di depannya. Raka yang melihatnya ikut mencari buku, namun pandangannya masih saja tertuju pada Mira.
Mira kemudian berhasil menemukan buku yang cocok dengannya. Tetapi buku itu berada di rak paling tinggi di lemari yang ada di depannya.
Mira melompat-lompat kecil mencoba meraih buku itu. Tapi ukuran tinggi badannya tak bisa meraih buku itu. Dia pun mengambil kursi untuk mencoba meraihnya dan sekali lagi, tetap tak bisa mengambilnya.
"Pftt ...." Raka menahan tawa melihat tingkah Mira yang berusaha mengambil buku itu. Apalagi kini wajah gadis itu terlihat cemberut, tetapi dalam hatinya tampak marah.
Raka mendekati Mira yang masih saja berusaha mengambil buku itu.
"Biar aku yang ngambil, kamu turun gih," kata Raka melihat Mira. Mira pun menoleh lalu menunduk.
"Tidak perlu." Mira menolak Raka. Dia pun turun dari kursi itu dan mencari buku lain. Raka yang melihatnya cuma tersenyum kecil kemudian naik ke kursi itu dan mengambil buku tersebut.
Mira menoleh melihat Raka. Begitu pun Raka menoleh melihat Mira. Cowok itu pun menyodorkan buku itu pada Mira, tetapi tiba-tiba saja kursi yang diinjak malah goyah dan membuat keseimbangan Raka ikut goyah. Raka pun yang berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya malah gagal dan alhasil terjatuh ke arah Mira. Mira membola melihat Raka jatuh ke arahnya.
BRAKK!
Tubuh Mira pun terjatuh ke lantai. Untungnya Raka melindungi kepala Mira. Tapi kini posisi mereka terlihat sedikit aneh. Bisa dibilang, Raka kini berada di atas tubuh Mira. Mira menatap wajah Raka, dan seketika menjerit dan langsung mendorong Raka.
"Kyaaa, minggir!"
Raka pun segera berdiri dan menyapu seragam sekolahnya kemudian mengulurkan tangan untuk Mira, namun Mira menepisnya. Raka sedikit terkejut, ternyata gadis di depannya itu tak ingin menerima bantuannya.
"Maaf, tadi itu aku nggak sengaja. Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Raka melihat kondisi Mira.
Mira yang mendengarnya cuma berbalik mengabaikan Raka tanpa sedikit ucapan yang keluar dari mulutnya. Dia berjalan dengan wajah yang terlihat memendam kekesalan.
"Dasar aneh! Selalu saja menempel padaku!" celetuk Mira berjalan ke sebuah meja.
Raka yang mendengarnya cuma menggaruk kepala yang tak gatal. Dia merasa sangat bingung dengan tingkah Mira.
"Aku dibilang aneh?" Raka menunjuk dirinya.
"Seharusnya dia lah yang aneh, dasar gadis balok es!" celetuk Raka mulai ikut kesal. Dia beranggapan jika Mira seperti bunga lotus yang terkurung di dalam balok es. Cantik tapi sayang cuek.
"Tidak apa-apa sih, ini malah menyenangkan bisa dekat dengannya, melihat wajahnya tadi, dia sedikit lucu hehe," batin Raka menyeringai tipis lalu berjalan ke arah Mira dan duduk di dekat gadis muda itu lagi.
"Hei, Mira!"
..._______...
...Terima kasih...
...{Beri like dan komen}...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
👀 calon mayit 👀
papa Raka kan buchin nya tingkat internasional
2021-07-11
0
Latifah Icen Putri
Padalarang hadir !
2021-05-04
0
RA💜<big><_
semngat selalu kak
salam dari rija anissa
2020-12-26
6