03. Terlalu Datar

...***...

"Oh ya, bagaimana? Kamu bisa kan tunjukin aku di mana kelas 12,A berada?" Raka kembali bertanya pada Mira.

"Bisa, itu kelasku," jawab Mira datar.

"Bagus dong, kalau begitu kita ke kelas bersama," ajak Raka kembali memegang tangan Mira membuat mata gadis muda itu langsung menatap tajam tanganya. Ia segera menarik tangannya dan menatap Raka dengan tatapan dingin.

"Tidak usah pegang-pegang!" Mira menatapnya dengan raut muka sedikit tak suka pada Raka.

"Eh, maaf, hehe ...." cengir Raka terlihat bodoh.

"Ya, sudah. Tunggu aku di sini, aku mau masuk ngambil tugas-tugas dari Bu Guru," ucap Mira berbalik lalu masuk ke ruang Guru.

"Hem, sikap cewek ini dingin banget, apa dia tidak tertarik sama sekali denganku? Apa penampilanku tidak membuatnya tertarik? Atau jangan-jangan dia memang tak menyukai laki-laki?" batin Raka memikirkan tingkah Mira. Raka merasa heran dengan Mira yang bersikap biasa-biasa saja pada dirinya.

Mira pun keluar dengan setumpuk buku-buku di tangannya kemudian melihat Raka yang dari tadi berdiri menunggu dirinya.

Terlihat Raka tersenyum pada cewek-cewek yang melewatinya membuat mereka terpesona. Apa lagi mata biru Raka membuat para cewek terpikat olehnya.

Mira yang melihatnya cuma terdiam. Dia pun berjalan mengabaikan Raka. Raka yang melihat Mira pergi begitu saja, segera berjalan di sampingnya.

"Oh ya, sini aku bantu," tawar Raka melihat setumpuk buku-buku di tangan Mira.

"Tidak perlu, aku bisa bawa sendiri," tolak Mira datar tanpa melihat cowok di sampingnya.

Namun tiba-tiba saja bahu Mira disenggol oleh seseorang hingga membuat buku-buku di tangannya goyah. Raka yang melihatnya segera menahan buku-buku itu dan sekali lagi tangan mereka bersentuhan.

Kedua remaja itu kini saling bertatapan satu sama lain. Terasa lama membuat mereka hanyut dalam pandangan itu.

Seketika bel sekolah berbunyi membuat dua remaja itu tersadar dan menormalkan posisi mereka.

"Sini biar aku bantu, anggap saja aku lagi berterima kasih sama kamu." ucap Raka mengambil sebagian buku di tangan Mira.

Mira yang di sana cuma terdiam, ia pun kembali berjalan tanpa sepatah kata pun terucap di mulutnya.

"Dia mengabaikan ku? Apa jangan-jangan dia memang tak tertarik dengan lelaki?" batin Raka melihat punggung gadis itu. Raka segera mengejar Mira.

Mira nampak tak peduli dengan Raka, dia menoleh kembali ke samping, rupanya Raka telah berdiri di dekatnya.

"Lebih baik aku jauh-jauh darinya," batin Mira melihat ke depan sambil memperbaiki kacamatanya.

Mira yang berpenampilan terlihat cupu, dan pendiam, itu cuma samaran dia belaka. Padahal dirinya yang asli tidak lah seperti yang terlihat dari luar.

Raka yang dapat mendengarnya kini semakin heran. Dia terus-menerus menoleh melihat Mira, merasa jika gadis di sampingnya terlihat misterius.

Raka melihat lekat-lekat wajah Mira, dia seketika tersenyum melihat Mira yang ternyata memiliki wajah yang cantik, dibalik kacamatanya ternyata Mira menyembunyikan kecantikannya. Begitupun jati dirinya yang sebenarnya. Mira berpenampilan cupu untuk menyembunyikan sifat yang sebenarnya. Kedua remaja itu melangkah cepat menuju ruang kelas 12,A.

Dari arah kejauhan, terlihat cowok yang seumuran dengan Raka, di tangannya terlihat bola basket. Cowok itu seketika melihat Mira, dia mengernyit dikala melihat seorang cowok berjalan di dekat cewek yang dia sukai.

"Hai, Roy, kamu lagi lihatin siapa?" Seseorang bertanya padanya sambil menepuk bahunya. Cowok itu bernama Roy Anggara. Dia ketua basket di sekolah ini. Dia menyukai Mira dari dulu, bahkan sudah beberapa kali menyatakan cinta pada Mira, namun Mira selalu saja menolaknya.

Roy berbalik melihat temannya itu. Dia kini nampak merasa memiliki saingan. Walau di sekolah semua murid menghindari Mira karena kelakuannya yang pendiam dan tertutup. Tapi tidak untuk Roy. Karena menurut Roy, Mira itu sebenarnya orang yang baik. Cuma dia saja yang tak bisa bicara pada teman sekelasnya.

TAP TAP TAP

Raka dan Mira masuk, seketika semua orang terkejut dan melongo melihat kedatangan murid baru. Apalagi itu cowok, semua cewek histeris melihat Raka. Begitupun tiga cewek yang selalu menindas Mira. Ketiga cewek itu bernama, Gabby, Salsa, dan Angelin. Namun, seketika tatapan mereka tertuju pada Mira.

Mira yang tahu maksud tatapan itu, ia tetap berjalan masuk meletakkan buku-buku itu, diikuti Raka yang juga meletakkan buku tersebut.

Seketika seseorang masuk, ternyata itu Bu Maura. Ia wali kelas di kelas 12,A dan ia juga akan mengajar di kelas mereka hari ini.

Mira pun menunduk lalu berjalan ke arah mejanya. Sedangkan Raka kini berdiri di depan papan tulis. Bu Maura pun berjalan ke arah meja, ia meletakkan keperluan mengajarnya.

Bu Maura pun berdiri di dekat Raka. Ia memperkenalkan Raka pada murid di sana.

"Baiklah, anak-anak, dia adalah murid baru di kelas ini, semoga kalian bisa menjalin pertemanan baik denganya," Ucap Bu Maura melihat anak didiknya.

"Itu sih pasti, Bu," ucap salah satu murid cewek yang sedari tadi memandang Raka. Para murid cowok di sana terlihat risih akan kehadiran Raka.

"Nak, silahkan perkenalkan dirimu," kata Bu Maura kepada Raka. Raka pun tersenyum melihat ke depan.

"Hai semua, nama aku Raka Alendra," ucap Raka singkat dan padat. Dia tak bisa memberitahukan latar belakang namanya serta asal usulnya, karena takut jika seseorang mengenalnya dari keluarga Welfin.

Para cewek cuma melambai tangan pada Raka. Namun, pandangan Raka masih tetap tertuju pada Mira. Karena cuma Mira yang tak melirik dirinya.

Sedangkan yang lainnya, di mana Raka dapat mendengar pikiran teman-temannya cuma mengabaikan mereka. Terdengar mereka berpikiran sama terhadap Raka. Terdengar mereka nampak bersaing untuk lebih dekat dengannya.

Bu Maura pun menyuruh Raka duduk. Seketika para cewek saling merebut untuk memberikan tempat duduk pada Raka. Raka pun menunduk menghormati Bu Maura. Raka kemudian berjalan ke arah Mira.

Ketiga cewek yang sedari tadi memperhatikan Raka tercengang dan kemudian bermuka masam melihat Raka duduk di dekat Mira.

Mira yang sibuk melihat bukunya cuma mengabaikan Raka. Dia tak ingin menjadi bahan pertontonan dari para cewek di kelas itu.

"Aku bisa duduk kan di sini?" tanya Raka pada Mira. Maklum bangku di samping Mira kosong dari dulu, karena tak ada seoarang pun yang berminat duduk bersamanya.

"Boleh," jawab Mira datar tanpa melihat Raka. Raka pun duduk sambil meletakkan tasnya. Dia kembali menatap Mira.

"Apa dia selalu begini? Bicaranya datar banget sih, pantas kalau tak ada yang mengajaknya bicara," batin Raka.

"Oh ya, aku Raka." Raka mengelurkan tangannya. Memperkenalkan kembali dirinya.

Mira pun menoleh melihatnya, tetapi pandangan Mira seketika melirik teman-temannya yang masih berwajah masam tak karuan. Mira kembali menatap bukunya, mengabaikan uluran tangan Raka.

"Mira Arelia, panggil Mira saja." Suara Mira terdengar sangat kecil bahkan teman di depannya tak bisa mendengarnya.

Raka yang mendengarnya kini cuma tersenyum kecil, dalam hatinya dia merasa jika gadis di samping terlalu cuek padanya. Bahkan obrolan mereka cuma hanya beberapa kata saja. Obrolan yang terlalu datar.

"Menarik, mungkin aku bisa jadi temannya," batin Raka masih memperhatikan Mira. Mira yang ditatap begitu, dia pun sedikit menggeserkan bokongnya menjauhi Raka.

"Isshh ... kenapa sih harus duduk di dekat cewek datar itu!" celetuk Gabby kesal melihat Raka dan Mira.

"Sudah lah Biy, nanti siang kita kasih saja pelajaran untuknya," usul Angelin ikut kesal dengan Mira.

"Wow, mereka terlihat dekat saja," kaget Salsa, langsung Gabby dan Angelin menatapnya.

"Ini tak boleh dibiarin!" kesal Gabby dan Angelin bersamaan. Salsa cuma mengangguk setuju.

Terlihat Bu Maura kini mulai memberi pelajaran. Sedangkan ketiga cewek itu kini saling bertatapan.

"Sa, Verla kok belum datang juga? Apa dia tidak masuk hari ini?" tanya Gabby memikirkan Verla. Ternyata Verla adalah salah satu teman mereka.

"Tidak tahu juga tuh anak, kalau dia tak datang hari ini pasti ada pemberitahuan dari dia," jawab Salsa merasa heran.

"Yaelah ... mungkin saja tuh anak lagi ada acara di rumahnya." Angelin masih mengira jika Verla tak pergi ke sekolah karena di rumahnya memang sering ada acara. Kini mereka sibuk memikirkan Verla.

Tiba-tiba saja, Bu Maura berhenti menggoreskan spidol pada papan tulis akibat ponsel miliknya berbunyi. Bu Maura pun mengangkat sebuah panggilan, sontak dia terkejut mendengar pemberitahuan itu.

"Astaga, jadi Verla sudah ditemukan dan sudah dipulangkan?" Bu Maura terlihat kaget, membuat para muridnya langsung menatap Bu Maura.

Begitu pun Raka dan Ketiga teman Verla, kecuali Mira yang sibuk membaca bukunya. Hanya Mira yang tahu apa yang terjadi pada Verla.

...______...

...Terima kasih...

...{Beri like dan komen}...

Terpopuler

Comments

U. Boy

U. Boy

oh ya gw lupa raka bisa membaca pikiran orang

2022-09-08

0

👀 calon mayit 👀

👀 calon mayit 👀

beuh ... ternyata mama Mira beda banget Ama yang d novel lanjutan ini . padahal d novel itu mama Mira suka jewer papa Raka ... kocak banget . tapi disini gua merinding thor

2021-07-11

0

ginna_muchtar

ginna_muchtar

iiih Mira mengerikan...

2021-07-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!