{Beri like dan komen}
Tak menunggu waktu lama, sebuah motor merah telah tiba di depan sebuah supermarket. Terlihat dua remaja itu berjalan memasuki tempat itu.
Kini pandangan Mira mencari di mana daging ayam berada. Walau pun begitu, Mira tetap saja menghindari Raka. Tetapi, Raka tetap saja mengikuti Mira. Terlihat keduanya saling mondar-mandir bersama.
"Stop! Jangan ikuti aku," ucap Mira berhenti sambil menatap sinis ke Raka.
"Loh, kenapa?"
"Lihat mereka, mereka melihat kita. Aku tidak mau mereka salah paham kepada kita. Jadi lebih baik kamu keluar saja menunggu ku, jangan ikuti aku lagi!" Pinta Mira melirik beberapa pengunjung yang menatap ke arahnya.
"Justru aku ikut untuk membantu mu, jadi sekarang kita cari sama-sama daging ayam itu," ucap Raka berjalan mengabaikan Mira, terlihat cowok itu mengambil satu sosis lalu memakannya sedikit.
Mira yang mendengarnya sedikit kesal. Ia kesal karena Raka selalu saja menempel pada dirinya. Mira pun kembali berjalan di belakang Raka.
"Nih, makan. Jangan cemberut terus," Raka menoleh lalu memberikan sosis pada Mira yang selalu menggerutu dalam hatinya. Mira pun mengambilnya lalu memakan sosis itu dengan tampang masih kesal, ia tidak sadar jika sosis yang dia makan adalah sosis milik Raka.
"Pfft .., dia lucu juga kalau cemberut," Raka yang melihatnya cuma bisa menahan tawa melihat Mira menghabiskan sosis itu. Mira yang melihat Raka nampak tertawa, ia merasa heran dengan cowok itu.
"Ada apa? Apa yang lucu?" Mira bertanya dengan sorotan curiga.
"Tidak ada," jawab Raka kembali melihat ke depan. Seketika pandangan Mira tertuju pada kulkas yang berjajar, di mana begitu banyak daging di dalam kulkas itu. Mira segera berjalan cepat melewati Raka menuju ke kulkas itu.
"Wow, banyak banget, kalau aku beli satu bisa suruh Ibu buatkan sup ayam yang banyak, bisa digoreng, di jadikan gulai, dan ... wow ... paha ayamnya besar banget."
Mira merasa takjub dengan daging ayam yang berukuran besar. Ia nampak lebih menyukai paha ayam.
Raka yang dapat mendengarnya cuma menahan tawa.
"Pfft .. ternyata dia suka makanan daging, ekpresinya saja sangat imut melihat daging itu. Seperti tidak pernah melihat daging ayam saja," gumam Raka dalam hati, kini ia berdiri di dekat Mira.
Mira pun mengambil satu bungkus daging ayam, terasa begitu berat dan dingin di tangan Mira.
"Sini, biar aku yang membawanya," Raka menawarkan bantuan pada Mira.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," Mira menolak tawaran itu. Ia segera berlari ke arah kasir karena bungkus ayam itu terasa begitu dingin.
Raka yang melihat tingkah Mira, ia cuma menggelengkan kepala. Raka pun menyusul Mira ke tempat kasir.
"Ini berapa?" Mira meletakkan bungkus ayam itu ke depan sang kasir.
"Seratus ribu," jawan si kasir membuat Mira tersentak kaget.
"Mahal amat, mbak." ucap Mira melihat daging ayam itu.
"Itu sudah harganya, dek. Ini ukuran jumbo, jadi harganya segitu," ucap si kasir perempuan tersenyum pada Mira. Mira pun mencari uangnya di tasnya. Seketika Mira tersentak terdiam.
"Astaga! Aku kan tidak punya uang sekarang, seharusnya tadi aku pulang dulu minta uang ke Ibu, Ibu juga sih nyuruh aku beli daging ayam tapi uangnya tidak ada. Bagaimana ini? Kalau aku keluar tanpa membawa daging ini, yang ada para pembeli lainnya akan menertawaiku! Aishh ...," gerutu Mira terlihat kesal.
Tiba-tiba Mira kembali tersentak, melihat uang di depannya. Mira menoleh ke arah sampingnya, di mana Raka nampak tersenyum padanya.
"Nih, pinjam uangku dulu," Raka menawarkan pinjaman ke Mira. Raka tahu karena ia mendengar ungkapan isi hati Mira.
"Eh, bagaimana dia tahu kalau aku lagi butuh uang?" Batin Mira merasa heran.
"Hei, kenapa bengong? Nih, pakai uang ku saja. Kalau sudah sampai di rumahmu, kamu bisa mengembalikannya," ucap Raka lagi menyodorkan uangnya. Dengan keadaan terpaksa Mira menerimanya, ia sebenarnya ingin menolak, tapi kini cuma kesempatan ini yang bisa dia ambil.
"Baiklah," ucap Mira mengambil uang itu, lalu memberikannya ke kasir.
"Nih, mbak. Tolong di bungkus ayamnya," Mira memberikan uang itu pada si kasir.
"Baik, Dek." ucap si kasir lalu membungkus ayam itu. Tiba-tiba Mira dan Raka tersentak akibat seorang kasir lainnya berbicara pada mereka.
"Wah, Dek. Pacar kamu baik banget, mau bantu bayarin. Kalian mau bikin acara ya?" Tanya si kasir pria tersenyum pada kedua remaja itu.
"Eh, dia bukan ...," ucapan Mira terhenti, akibat Raka segera merangkul bahu Mira.
"Terima kasih, bang. Pacar aku ini memang sering gitu, pura-pura lupa biar bisa ditolong sama cowoknya, untuk aku ini cowok yang baik untuknya," ucap Raka percaya diri memuji dirinya. Tetapi tidak untuk Mira yang kini bermuka masam. Cewek cantik itu semakin kesal dengan ucapan Raka yang begitu berani mengatakan dia pacarnya.
"Apaan sih! Sejak kapan kita ...," ucapan Mira kembali terhenti Raka menempelkan jari telunjuknya pada Mira lalu Raka mengambil kantong kresek berisi daging ayam.
"Ya sudah, terima kasih bang. Maaf kalau cewek ku ini agak cerewet, permisi ...," ucap Raka tersenyum sambil keluar bersama Mira. Terlihat Raka berjalan keluar sambil merangkul bahu Mira, terlihat Mira marah basar.
"Apa-apa ini! Kenapa kamu ngomong gitu! Kita itu tidak pacaran!" Bentak Mira marah. Namun, Raka nampak menutup telinganya. Lalu ia menarik Mira.
"Lebih baik naik sekarang, tidak usah sewot gitu," ucap Raka melihat Mira. Mira cuma menatapnya sinis. Ketika ia ingin menaiki motor, tiba-tiba ponselnya berdering. Mira segera mengangkatnya.
"Halo, Nak. Kamu lagi di mana?"
"Ini lagi di supermarket, Bu. Aku sudah mau pulang," jawab Mira.
"Mira, Ibu minta maaf. Ibu tadi di hubungi sama teman Ibu. Dia sakit keras, dan tidak ada yang menemaninya, jadi Ibu pergi ke rumah Bu Wanda. Oh ya, Adik kamu ada di rumah Pak Nung, kamu jemput adik mu ya, Nak." ucap Bu Ellen pada panggilan itu.
"Lah? Kok tiba-tiba gitu, Bu. Terus nanti yang ngurus Andis siapa? Aku kan tidak tahu masak, Bu." Ucap Mira sedikit menjauhi Raka. Cewek itu tak mau Raka mendengar obrolannya dengan Ibunya. Walau pun begitu, Raka tetap dapat mendengarnya.
"Maaf, Nak. Ini keadaan darurat, kamu jaga Adikmu ya, urus dia sebentar, kalau bisa kamu tinggal dulu di rumah Sulis," Bu Ellen mengusulkannya.
"Baik, Bu. Ibu berapa hari di rumah Tante Wanda?"
"Mungkin cuma tiga hari," jawab Bu Ellen membuat Mira terkejut.
"Ya sudah, kamu pergi gih ke rumah Pak Nung, jemput adik mu," Lanjut Bu Ellen.
"Baik," ucap Mira mematuhi Ibunya. Panggilan itu pun berakhir dan kini Mira terlihat berdiri memikirkan sesuatu. Sedangkan Raka yang dapat mendengarnya cuma menahan tawa.
"Dia itu, cantik-cantik tapi tak tahu masak. Pfft," Raka tertawa kecil melihat Mira.
"Kamu kenapa? Kenapa ketawa?" Mira bertanya sambil berjalan mendekati Raka.
"Tidak apa-apa," jawab Raka memalingkan pandangannya melihat ke arah lain.
"Oh ya, itu," ucap Mira sedikit gugup.
"Bisa tidak, antar aku ke rumah Pak Nung, di sana ada Adikku, aku di suruh Ibuku untuk menjemputnya. Tapi, kalau kamu tidak mau sih, aku bisa pakai angkot ..," ucap Mira yang berdiri di depan Raka.
"Bisa kok, kamu tinggal tunjukkan saja di mana rumah Pak .. Pak Nung," ucap Raka menyetujuinya.
"Baik," ucap Mira segera naik ke motor Raka. Kini tujuan mereka, ke rumah Pak Nung untuk menjemput Andis. Nampaknya keduanya mulai dekat satu sama lain.
______
Terima kasih sudah membaca hehe
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Zamie Assyakur
👏👏👏👏
2021-05-31
0
So Ghanzi27
lucu ceritanya
2021-02-28
1
Suky Anjalina
ooo mira suka sosis karna raka yg pertama ngasih ya thor
2020-12-16
3