Setelah itu, kami mengikuti kelas seperti biasanya. Sampai bel istirahat kedua berbunyi.
Kedua orang gila itu, Darwin dan Shin menghampiriku lagi. Apa mereka tidak merasa lelah membuang waktu mereka untuk mengangguku? Ck! Untung saja mereka pria tampan. Kalau tidak, aku pasti aku melempat mereka dengan sepatu. Tapi anehnya, kali ini bukan Darwin yang berjalan di depan, tapi Shin.
Shin menghampiriku, Darwin di belakangnya. Kami saling bertatapan.
"Pulang sekolah, ada pertemuan di ruang OSIS" kata Shin datar.
Aku merenggut. "Pertemuan apa? Aku merasa lelah, aku tidak akan ikut" kataku acuh tak acuh. Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan. Tapi saat aku melihat senyum nakal Darwin, aku tahu ini bukan hal yang baik.
"Ya sudah, aku akan beritahu Senior Ken bahwa kau tidak bisa datang" Dia langsung berbalik ke luar kelas.
Eh? Ken?
"Tunggu!" aku langsung berteriak.
Semua murid di kelas menoleh ke arahku karena teriakan itu, tapi aku tidak mau mempedulikannya.
"Oke, aku akan datang" kataku antusias sambil mengangguk.
Siapa orang bodoh yang akan melewati kesempatan ini? Aku akan bertemu senior tampan hehehe
Dan terlebih lagi, dia pria tampan yang lebih normal dari yang lainnya. Tanpa sadar aku mengeluarkan senyum cengengesan.
Shin hanya mengernyit saat mendengar jawaban Nana.
'Bagaimana dia langsung berubah pikiran setelah aku menyebut Ken?' pikir Shin. Raut wajahnya tidak senang. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh orang lain, apalagi seorang gadis. Para gadis itu selalu menempel dan mengejarnya. Tapi di tempat ini, dia sudah menemukan dua orang gadis yang mengabaikannya, bahkan menolaknya! (ps: itu adalah Nana dan Rin) Entah kenapa dia tidak suka itu!
Darwin, yang berdiri disampingnya juga melihat tingkat Nana. Tapi, dia hanya bergumam "Hmmm..."
Shin tidak memberikan jawaban apapun, dia berbalik lagi dan melangkah keluar kelas. Darwin langsung mengikutinya di belakang.
***
Saat kedua orang penganggu itu pergi, aku langsung melirik bangku Rin. Rin masih berada di bangkunya. Dia sibuk membaca buku. Benar-benar anak yang rajin dan pintar. Pantas saja dia mendapat peringkat tinggi saat di dalam komik.
"Dia benar-benar punya dunia yang berbeda denganku" gumamku.
Kalau aku belajar setiap hari seperti dirinya, mungkin aku akan demam dalam beberapa hari. Aku benar-benar alergi untuk bekerja terlalu keras, apalagi untuk belajar. Tapi bekerja keras untuk mengejar pria tampan itu lain cerita hehehe
"Rin" aku menegurnya.
Rin langsung meletakkan bukunya. "Ada apa?"
"Sepulang sekolah nanti, aku ada sedikit urusan. Jadi kita akan pulang terlambat" kataku memberitahunya. Toh, dia sopirku. Jadi dia harus tahu. Aku akan meletakkan sepeda itu di sekolah, lebih baik dibonceng dari pada mengendarai sepeda sendiri.
"Emmm..." Rin bergumam ragu-ragu. "Kira-kira sampai jam berapa?"
Aku menggeleng. "Aku tidak tahu." Aku tidak tahu pertemuan itu berlangsung berapa lama.
"....." Rin gelisah. "Maafkan...aku" katanya tiba-tiba dengan nada sedih.
"Jam lima aku ada pekerjaan paruh waktu. Aku tidak bisa terlambat. Tapi, aku bisa mengantarmu kalau jam pulang kita seperti biasa" katanya hampir menangis.
'Bagaimana kalau aku tidak jadi dipekerjakan?' pikir Rin takut-takut.
PAT! Aku langsung menepuk bahunya. "Tidak apa-apa"
"Aku bisa pulang sendiri. Besok pagi jangan lupa untuk menjemputku oke"
"Tapi...." Rin masih ragu-ragu.
"Tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri. Ini salahku juga karena memberitahumu tiba-tiba"
"Terima kasih"
Aku hanya melambaikan tangan, memberi tanda bahwa itu baik-baik saja. Lalu kembali ke kursiku. Aku langsung duduk, meletakkan kepalaku di meja dan tertidur. Ahh....aku mengantuk. Setidaknya aku bisa tidur beberapa menit sampai jam pelajaran selanjutnya.
Rin memperhatikan Nana 'Untung saja dia gadis yang baik' pikirnya penuh dengan kekaguman. Sebelum fokusnya kembali pada buku di depannya.
***
Bel pulang berbunyi. Semua murid di kelas berhamburan keluar. Aku melihat Rin, kami bertatapan dan saling melambaikan tangan. Sampai hanya tersisa aku, Shin dan Darwin di kelas.
"Ayo" kata Darwin.
Aku langsung mengikuti mereka.
Sebenarnya aku benar-benar tidak tahu ruang OSIS ada dimana. Kami menyusuri lorong dan naik ke lantai paling atas. Ruang OSIS ternyata ada di lantai paling atas, dekat dengan ruang kepala sekolah.
Yang lebih penting lagi, ruangannya sangat mewah!! Benar-benar pemborosan! Cih, dasar orang kaya. Bisa-bisa aku terbawa arus, menjadi boros, tidak bisa menabung, tidak bisa keliling dunia, tidak bisa menyewa bodyguard tampan...
'Tidak, tidak' aku menggelengkan kepalaku. Jangan menyerah Nana, pria-pria tampan itu sudah menunggumu! Semangat!
'Harus menabung, pria tampan tunggu aku' mataku bersinar penuh semangat.
"Selamat datang kalian bertiga" suara Ken membuyarkan pikiranku.
"Halo senior" aku membalas salamnya.
Di dalam ruangan OSIS, aku melihat tiga orang lainnya. Dua orang perempuan dan satu orang laki-laki.
Kami semua duduk di sofa. Ada dua sofa saling berhadapan dengan meja kaca di tengahnya. Aku, Shin dan Darwin duduk di sofa yang sama. Sementara di sofa lainnya, ada Ken dan tiga orang itu.
"Oh, kalian semua belum berkenalan bukan? Sebaiknya perkenalkan diri kalian dulu" kata Ken dengan ramah.
Anak laki-laki dengan rambut pirang mulai membuka mulutnya. "Namaku Riko, tahun kedua."
Anak perempuan dengan rambut bergelombang berbicara "Aku Rina, aku saudara Riko, tahun pertama"
Anak perempuan bertubuh buntal juga memperkenalkan dirinya "Aku Sena"
Aku juga langsung memperkenalkan diriku dengan ramah. "Halo, aku Nana"
Lalu Darwin "Halo semuanya, aku Darwin" kata Darwin sambil tersenyum ramah. cih, dia sangat tampan. Andai saja, otaknya tidak bermasalah.
Shin hanya mengucapkan satu kata "Shin" dengan datarnya.
Entah kenapa, saat Shin memperkenalkan dirinya, aku melihat Rina dan Sena menatapnya dengan mata berbinar. Ck,ck,ck apa itu pesona dari tokoh utama ya? Jadi dia menarik perhatian semua murid perempuan disini?
"Baiklah, semuanya. Namaku Ken. Aku ketua OSIS" kata Ken memperkenalkan dirinya.
"Kalian pasti tahu kenapa aku memanggil kalian bukan? Ini tentang investasi"
Oh? Jadi ini tentang investasi yang ditawarkan oleh Ken saat itu?
Pembicaraan pun dimulai. Awalnya aku mengira, aku akan memahami pembicaraan mereka. Tapi aku hanya melonggo bodoh disana. Aku benar-benar tidak tahu apa yang mereka bicarakan! Saham? Margin? Grafik? Pembicaraan apa ini? Apa membuka perusahaan memang serumit ini?
Dan, pembicaraan itu berlangsung lama. Aku tidak mengutarakan pendapat apa pun. Saat mereka bertanya aku hanya meawab "Ya" dan "Ya". Hanya satu kata itu yang terus kuucapkan. Karena pembicaraan ini lama dan membosankan, aku benar-benar merasa mengantuk. Pertemuan ini benar-benar seperti kuliah tambahan...
Saat kelopak mataku mulai tertutup....
"Hei, hei" Darwin yang berada di sampingku langsung menyentuhku. Sontak mataku terbuka kembali. "Kau mengantuk? Tahan sebentar. Pertemuannya selesai sebentar lagi" katanya.
Oh? Tumben sekali dia perhatian seperti itu.
"Baiklah, terima kasih"
Darwin tersenyum. "Apa kau mau meminjam bahuku untuk tidur?" katanya sambil tersenyum. "Aku akan meminjamkannya. Aku jamin mereka tidak akan ada yang menegurmu kalau kau tertidur"
"...."
Aku tidak menjawabnya.
"Hmph!" aku hanya mendengus sambil menatapnya acuh tak acuh. Ternyata dia masih ingin mengangguku! Aku mengembalikan fokusku pada Ken yang sedang menjelaskan di depan.
'Ayolahhh, ada pria tampan di depan. kau harus semangat agar tidak mengantuk' pikirku sambil menyemangati diriku sendiri.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Ida Blado
udah ceroboh plus bodoh,,,ck mestinya yg jdi transmigator yg otak cemerlang dong,jdi bisa menghandel situasi darurat dn jg menyusun rencana
2022-08-29
0
kucing~peduli
mcnya rada rada tolol:v
tp ngakak
2021-05-24
0
꧁◇࿌ེེྂ_Pasulow_࿌ེེྂ◇꧂
FAN GERL anjayyyy, pecinta lelaki tampan hadir ✔
2021-01-02
3