Aku masih berdiri di dekat loker sambil sesekali menghela napas, mengeluh.
"Haa...ini menyusahkan, padahal aku tidak mau mengurus hal seperti ini. Apa aku minta bantuan kepala pelayan saja ya?" aku bergumam sambil menyentuh daguku, berpikir.
TRANG! Terdengar suara kaca pecah.
Suara itu langsung membuyarkan pikiranku. Suara itu ternyata bukan hanya menarik perhatianku, tapi juga murid-murid lainnya.
Aku menuju sumber suara. Saat aku sampai, tempat itu sudah menjadi pasar yang penuh dengan segerombolan orang.
Ada apa? Apa yang sedang terjadi?
Di tengah-tengah gerombolan aku melihat Rin dan Yuna.
Ada apa ini? Apa mereka bertengkar?
Tapi wajah keduanya cemas. Kukira mereka tidak bertengkar? Jadi apa?
Kemudian para guru datang. "Kalian semua kembali ke kelass" kata guru itu sambil membubarkan para murid.
Semua murid membuat wajah memelas, mereka penasaran, mereka ingin melihat kejadiannya. Tapi para guru itu segera membawa Rin dan Yuna pergi dari tempat itu. Sebenarnya apa yang terjadi?
Aku juga terusir. Karena gerombolan itu mundur, aku juga terbawa mundur. Lalu satu per satu murid pergi meninggalkan tempat itu. Aku juga kembali ke kelas.
Eh? Aku langsung menghentikan langkahku. "Aku lupa ke kantin" kataku panik sambil melihat jam tanganku.
Masih ada waktu sepuluh menit, cukup untuk membeli roti. Aku menghabiskan banyak waktu untuk berpikir sehingga aku benar-benar lupa bahwa perutku secara perlahan mulai menjerit.
Aku melangkah menuju kantin. Membeli dua bungkus roti dan minuman.
"Hiks...hiks..hikss..."
Tiba-tiba aku mendengar isakan tangis saat aku keluar kantin, ingin menuju ke kelas. Aku penasaran dan mencari sumbernya. Suara itu berasal dari belakang dinding kantin.
"Rin?" tegurku kaget.
Rin mendengar suaraku. Dia langsung berdiri dari posisi jongkoknya. Dia mengusap matanya dan menundukkan kepalanya, tidak mau melihatku.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kalau tokoh utama menangis, dia pasti dibuly bukan?
"Kau kenapa?" tanyaku langsung.
"Tidak apa-apa" dia menjawab pelan. "Aku akan kembali ke kelas" dia langsung melangkah pergi.
Aku dengan secepat kilat meraih lengannya. "Kau tidak bisa kembali ke kelas dengan wajah seperti itu" kataku langsung. "Mereka akan tahu kau habis menangis"
"....." Rin tidak menjawab.
Secara perlahan wajahnya yang menunduk mulai menatapku. Aku melihat matanya masih sembab dan masih ada bekas air mata.
Aku langsung menariknya. "Ayo cuci dulu wajahmu" Aku membawanya ke toilet.
Saat kami masuk di dalam toilet, suasana sangat hening. Rin mulai mencuci wajahnya. Aku menunggunya sambil bersandar dari balik pintu.
"Apa yang terjadi?"
"...." Rin tidak menjawab.
"Apakah masalah tentang penyakit nenekmu?" tanyaku tanpa pikir panjang.
Rin langsung menatapku. Dan matanya membelalak kaget. "Bagaimana kau tahu?" katanya tidak percaya. Dia baru saja menjadi murid baru selama dua hari di sekolah kaya ini. Tidak mungkin ada yang mengenalinya, apalagi mengetahui keluarganya. Tapi gadis di depannya tahu bahwa neneknya sedang sakit. ini aneh sekali...
Ck! Aku menggigit bibirku. Dasar mulut bodoh ini!
Aku lupa dan menyebutkan kejadian di komik. Aku kira neneknya sedang sakit. Tapi event itu masih jauh bukan? Jadi bagaimana aku harus menjawabnya sekarang? Dia pasti curiga karena aku mengetahui penyakit neneknya.
"Kau yang mengatakannya" kataku dengan percaya diri.
"Apa?" Rin tidak percaya. Dia menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Aku tidak pernah mengatakan apa pun tentang itu padamu!" bantahnya.
"Uhuk uhuk" aku terbatuk ringan.
"Maksudku kau tidak mengatakannya secara langsung. Aku pernah mendengarmu menggumamkan itu. Maaf, aku tidak bermaksud mengupingmu" Yeah, aku punya alasan yang masuk akal untuk mengelak!
"Jadi itu benar?" tanyaku.
Rin dengan cepat menggeleng. "Bukan. Nenek masih baik-baik saja. Bukan itu...."
"Jadi apa? Cepat katakan, kita harus kembali ke kelas."
"Untuk apa aku mengatakannya padamu?" dia bertanya balik.
"Uh...." aku langsung terdiam.
Tidak sopan bukan kalau aku bilang 'aku penasaran'? Cih, dasar tokoh utama keras kepala! Padahal tinggal bilang saja!
"Ya sudahlah" kataku malas. Aku berbalik meninggalkannnya.
"Ehh, tungggu" Rin langsung menarik tanganku. "Kalau aku mengatakannya, kau harus membantuku" dia berkata dengan sedikit nada memaksa.
Aku mengernyitkan kening tidak suka.
"Aku minta maaf karena lancang" kata Rin. "Tapi saat kau mengetahui masalahku, kau harus membantuku"
Dia berpikir gadis kaya di depannya tidak seperti gadis kaya lainnya. Gadis ini mungkin bisa membantunya. Apalagi tentang hal yang berhubungan dengan uang.
'Kurasa dia orang baik' pikir Rin.
"Baiklah..." kataku pasrah.
Rin melepas pegangannya.
"Maaf..." katanya malu-malu. "Aku ada sedikit masalah" katanya kecewa.
"Kenapa?"
"Kau tahu tentang kejadian tadi? Kejadian yang menjadi pusat perhatian."
Aku mengangguk. "Aku melihatmu dan Yuna disana. Ada apa?"
"Aku dan Yuna tidak sengaja merusak sesuatu. Dan aku harus menggantinya segera, hiks..." katanya sambil mulai terisak lagi.
"Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihatnya. Lalu bagaimana aku harus membantumu?"
"Bisakah kau mencarikanku pekerjaan?" katanya penuh harap. "Pekerjaan paruh waktu maksudku. Aku punya beberapa pekerjaan dan masih belum bisa berhenti. Tapi aku butuh pekerjaan tambahan yang fleksibel. Bisakah kau memperkejakanku?"
"Uh...tapi aku sedang tidak butuh pekerja tambahan atau pun pelayan" kataku.
Wajah Rin langsung berubah kecewa.
"aku saat ini hanya ingin mencari sopir"
Mata Rin langsung berbinar. "Sopir? Aku bisa menjadi sopir mu!" katanya yakin.
"Eh? Kau bisa menyetir?"
"Hem" dia menggeleng. "Tapi aku punya sepeda. Aku bisa mengantarkan jemput mu dengan itu" katanya polos.
"....." Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Bagaimana dia bisa menawarkan dirinya untuk menjadi sopir? Hanya dengan sepeda? Kalau aku adalah murid lainnya, aku pasti akan langsung memukul otak bodoh itu. Yah, ini adalah aku. Aku sudah tahu bahwa sifat tokoh utama sangat polos. Tapi aku benar-benar tidak tahu bahwa dia sebodoh ini!
Melihat Nana tidak merespon, wajah Rin berubah kecewa lagi. "Maafkan aku.... sudah menawarkan mu hal yang aneh" katanya sedih. "Aku butuh pekerjaan. Uangku saat ini tidak cukup untuk ganti rugi. Karena aku harus rutin membeli obat nenek. Kepala sekolah sudah memberiku keringanan untuk mencicil ganti ruginya. Dia bilang itu pertimbangan karena aku murid beasiswa"
"Bagaimana kau bisa dihukum? Apa Yuna juga tidak membayar ganti rugi? Apa yang kalian rusak?"
"Hanya aku yang mengganti kerugian nya. Aku tidak tahu kenapa. Tapi itu keputusan kepala sekolah. Karena barang yang kami rusak adalah pot antik milik kepala sekolah"
"Coba ceritakan padaku kronologisnya"
Rin mulai menceritakan nya. Awalnya dia hanya membantu Yuna untuk piket. Saat itu ada banyak barang bawaan, termasuk buku dan pot antik itu. saat kami ingin bertukar barang, pot antik itu terjatuh dan pecah. Mereka langsung di bawa keruang kepala sekolah. Mereka dimarahi habis-habisan. Lalu kepala sekolah berpikir untuk membuat keputusan. Dan diputuskan bahwa aku harus mengganti rugi dan Yuna tidak bersalah.
"Aku tidak tahu bagaimana mereka menentukan siapa yang bersalah atau tidak" kata nua kecewa.
Dasar gadis bodoh! Tentu saja uang yang bicara! Uang!
Rin dan Yuna memiliki status sosial yang berbeda. Tentu saja keplaa sekolah lebih memilih Yuna dan membuat Rin menerima kesalahan. Cerita seperti ini sudah menjadi Langganan di komik tahu!
"Baiklah. Kau bekerja padaku. Kau harus mengantar dan menjemput ku oke. Tapi ini bukan pekerjaan tetap. Setelah kakakku pulang kau tidak perlu melakukannya lagi"
"Baik" Rin menjawab sigap. "Terima kasih nona"
"Jangan memanggilku nona. Aku merasa aneh saat dipanggil begitu. Aku punya nama tahu. Kau bisa memanggilku Nana"
Rin mengangguk. "Baik"
Dan begitulah aku mendapatkan sopir baru. Sopir yang kumiliki itu adalah tokoh utama dan sepedanya. Bukankah ini aneh?
****
Tolong up ratingnya dongggg T.T
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
☆White Cygnus☆
sesama orang bodoh jangan saling mengatai.
2024-03-27
0
Intan Amalia
unik
2023-12-23
0
Mochi
sopir becak pribadi
2021-02-08
1