Tiga puluh menit kemudian, pesta itu berakhir. Aku berpamitan dengan Gina dan mengikuti kedua orang tuaku untuk masuk ke dalam mobil. Setelah sampai di rumah, aku langsung menuju ke kamarku. Gaya berjalanku benar-benar seperti zombie, karena tubuhku terasa sangat lelah. Setelah merebahkan tubuhku, kelopak mataku terasa berat dan secara perlahan aku tertidur.
***
Keesokan paginya aku terbangun. Aku perlahan membuka mata, tapi terpejam lagi karena kelopak mata yang terasa berat. Setelah beberapa menit, aku akhirnya sadar sepenuhnya. Aku merengangkan tubuhku malas sambil bangkit berdiri.
Sesekali aku menguap.
"Uhh..." aku bergumam sambil merengangkan tanganku ke atas.
Lalu aku melihat jam dinding di atas kepalaku dan terhentak kaget.
AHHH! Aku terlambatt!!
Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan dan jam delapan pagi kelas akan di mulai. Aku pun mulai bersiap-siap. Aku menyemprotkan parfum yang banyak di seragam dan rambutku.
'Maafkan aku bagi yang mencium bau, semoga tidak merusak hidung kalian' gumamku dalam hati. Karena aku tidak mandi pagi.
Setelah berpakaian, aku langsung turun ke lantai dasar.
"Mana kakak?" tanyaku kepada salah satu pelayan.
Biasanya kakakku selalu ada di meja makan, tapi kali ini aku tidak melihatnya.
"Maaf nona, Tuan muda sudah pergi duluan"
"Lalu mama dan papa?"
"Tuan dan Nyonya juga sudah pergi"
"...."
Aku melirik meja makan di depanku. Ada sebuah note kecil yang terselip di gelas minuman.
Aku mengambil dan membacanya.
"Kamu kelamaan, aku duluan"
Setelah membacanya, aku langsung frustasi.
"Kenapa tidak ada yang membangunkanku?!" aku menggeram marah. Lalu aku melirik para pelayan. "Kenapa kalian tidak membangunkanku?"
Biasanya para pelayan ini sigap memanggilku di kamar.
Para pelayan itu menundukkan kepala mereka ketakutan.
"Kami..kira...nona ingin bolos...." jawab salah satu pelayan dengan nada ketakutan.
"Tuan muda bilang...nona...tidak perlu dibangunkan. Tuan muda bilang dia ingin nona mengistirahatkan pikiran nona" pelayan yang lainnya menyusul menjawab.
"Maaf nona...kami tidak tahu" kata yang lain lagi.
"....." aku tidak bisa berkata-kata. Jadi ini ulah kakakku?
"Lalu dimana supirnya? Aku harus segera ke sekolah" kataku panik.
Para pelayan itu menatapku dengan mata bingung.
"Kenapa?" tanyaku dengan mata membelalak kesal.
"Nona.....kita tidak punya supir..." jawab salah satu pelayan.
Apaa? Nana Rent tidak mempunyai supir. Di rumah sebesar ini tidak ada supir? Ini tidak masuk akal!
"Nona selalu diantar tuan muda bukan? Lalu tuan dan nyonya juga jarang pulang, karena itulah supir sama sekali tidak diperlukan nona" jawab pelayan itu. Dia mengamati Nana dengan wajah bingung. Ini hal yang biasa bukan? Seharusnya nona sudah tahu.
Gawat! Aku langsung panik. Aku benar-benar kebablasan kali ini. Akan ketahuan kalau aku bukan Nana yang sebenarnya, karena aku tidak ingat bagaimana kondisi di rumah ini.Tidak mungkin aku membuat alasan klise 'aku lupa ingatan', kalau seluruh orang di mansion ini curiga kan?
"Oh, aku harus memesan taxi" kataku langsung mengalihkan pembicaraan. Aku langsung membalikkan tubuhku dan mengabaikan tatapan bingung para pelayan.
"Kenapa kalian masih menatapku?" sahutku dengan nada dingin karena merasa resah ditatap oleh banyak orang.
Para pelayan itu segera membuang wajah mereka dan kembali ke aktivitas mereka masing-masing.
Aku, yang masih sangat awam dengan dunia ini berdiri mematung dekat meja makan. Aku mengeluarkan ponselku.
'Bagaimana cara memanggil taxi?' aku berpikir bingung. Apa di dunia ini ada aplikasi taxi online?
Aku mencoba mencarinya di mesin pencari internet dan menemukan beberapa jasa taxi antar jemput. Aku langsung menelpon nomor yang tertera.
Mereka menyanggupi, tapi waktuku akan habis menunggu mereka untuk sampai kemari, belum lagi jalanan macet!
Argghh!
"Apa aku bolos aja?" gumamku putus asa.
Jam sudah menunjukkan jam delapan kurang sepuluh menit.
Saat aku sedang dalam keadaan putus asa, aku melihat seorang tukang kebun melintas di halaman menggunakan sepeda. Aku sontak berlari keluar.
"Hei, aku pinjam sepedamu!" kataku langsung.
Pemuda itu melihatku bingung.
Aku tidak sempat menjelaskan kondisiku padanya. Aku langsung mengambil sepeda itu dan menaikinya keluar gerbang mansion.
"Tidakk....nonaa...tungguu...sepatuu..." pemuda itu meneriakan sesuatu, tapi aku tidak mempedulikannya. Saat aku melintasi jalan, suara pemuda itu tidak terdengar lagi.`
Aku mengayuh sepedaku sekuat tenaga.
Sisa enam menit lagi!!
Apa lain kali beli mobil saja ya? Tapi aku tidak bisa menyetir hiks...
Aku mengayuh, terus, dan terus mengayuh. Akhirnya, gerbang sekolah terlihat. Aku melihat jam tanganku, dua menit lagi! Pintu gerbang hampir tutup!
Saat hampir mendekati gerbang sekolah, aku harus menaiki jalan menanjak. Itu sangat melelahkan!
Tapi tiba-tiba, sebuah mobil melaju melintas di samping! Hampir saja mengenaiku! Untung saja aku tidak jatuh, hanya sedikit kehilangan keseimbangan.
Aku melihat mobil di depanku. Kenapa tidak asing?
Kelihatannya aku kenal mobil siapa itu.
Mobil itu mundur dan berhenti di sampingku.
Aku mengernyitkan kening sambil mengamati mobil itu.
Tiba-tiba, kaca belakang mobil terbuka, dan aku melihat sosok yang aku kenal!
Pantasan saja mobil ini tidak asing! Ini mobil Shin yang kulihat saat awal masuk sekolah. Mobil yang menabrak sepeda Rin.
Kaca mobil terbuka. Aku dan Shin saling bertatapan.
Lalu Shin menunjukkan senyum mengejek, dan SREEKK! Kaca mobil langsung tertutup dan mobil itu langsung melaju melewati gerbang.
Aku masih berdiri melonggo.
Apa-apaan senyum mengejek itu?
'Dasar Shin sialan!' aku mengumpat dalam hati.
Dia memang pria tidak normal. Apa orang itu memang disetting untuk menjadi orang gila?
'Kau! Lihat saja nanti. Aku pasti akan mengembalikan semua ini! Aku akan mengembalikan semua hal memalukan ini. Dan saat itulah aku yang akan mengejekmu' aku berpikir sambil menunjukkan ekspresi menggelikan.
"Hei, kau! Tidak masuk. Aku mau tutup gerbangnya!" penjaga gerbang berteriak dan membuyarkan lamunan bodohku.
"Bentar, pak, bentar!" teriakku sambil mengayuh sepedaku dengan kencang.
***
Shin mengalami masalah pagi ini. Jadi suasana hatinya sedang tidak bagus. Penyebabnya adalah perdebatan dengan orang tuanya. Oleh karena itu, dia berangkat agak telat kali ini. Dan dia sangat buru-buru.
'Aku tidak bisa meninggalkan kesan buruk pada teman sekelasku' pikir Shin. Dia baru saja masuk semester baru, dia tidak bisa meninggalkan image jelek untuk dirinya.
"Pak, cepat!" desaknya kepada supir di depannya.
"Iya tuan muda!" jawab supir itu pasrah.
Perjalanannya baik-baik saja. Sampai tiba-tba mobil yang dinaikinya terguncang karena rem mendadak.
"Ada apa sih pak?" gerutu Shin kesal.
"Maaf tuan. Hampir nabrak sepeda di depan!"
'Kenapa dia selalu menabrak sepeda saat di depan gerbang?' pikir Shin.
Sepeda merupakan pertanda buruk.
'Aku harus membuang semua sepeda di mansion' pikirnya lagi dengan yakin.
Dia menoleh, melihat siapa yang hampir ditabraknya.
"Gadis itu?" dia bergumam.
"Pak, mundur sebentar"
Mobil itu mundur perlahan.
Lalu dia secara perlahan membuka kaca mobilnya.
Dia kenal gadis ini! Tapi apa yang sedang dilakukannya? Kenapa dia menaiki sepeda? Dimana mobil mewah dan pria tampan yang selalu mengantar jemputnya?
Sebelum masuk ke SMA ini, Shin dan Nana bersekolah di SMP yang sama. Karena itulah dia tahu bahwa Nana selalu di antar jemput. Walaupun dia sama sekali tidak pernah berbicara atau pun bertatapan dengan gadis itu. Gadis itu mungkin tidak mengenalnya saat SMP.
Shin merupakan pemuda yang jenius. Dia cepat mengingat wajah orang lain. Sehingga dia mengenali gadis di depannya dan kebiasaannya dengan cepat. Bukan hanya gadis itu. Dia juga ingat siapa saja anak-anak dari orang berpengaruh di sekolahnya. Dia berpikir sangat penting untuk mengingat mereka yang berpengaruh, siapa tahu bisa membantu saat dia mengembangkan bisnisnya nanti.
Saat Shin bertatapan dengan gadis itu, dia memperhatikan ekspresi melonggo gadis itu. Benar-benar seperti orang bodoh!
'Apa dia begitu terpikat denganku?' pikir Shin percaya diri.
'Yah, aku menemukan banyak gadis seperti ini dikehidupanku. Mereka melihatku dengan mata kagum, kaget dan aku juga tidak lupa dengan ekspresi bodoh mereka karena terkejut melihatku. Dan para gadis itu juga seperti hama, selalu menempel dan suara mereka selalu berdenging di telingaku' pikir Shin.
Shin melihat gadis yang sudah dianggapnya hama dan melihat penampilan bodohnya. Lalu, dia memberikan senyum mengejek karena merasa jijik terhadap gadis seperti itu.
Setelah itu, dia menutup kaca mobilnya dan menyuruh supirnya untuk melanjutkan perjalanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Ida Blado
karmamu na,,,, krn udah seenaknya ngatur2 nasib orang
2022-08-29
0
Ida Blado
lagian bodoh bgt udah jelas terlambat ya mending bolos,dasar B O D O H yg ada jg paling di hukum.
2022-01-31
0
Dorkas
sumpah aku suka tokoh nana
2021-10-14
0