"Angkat kaki lebih tinggi lagi dan luruskan!" Mang Xin memberikan latihan pelemasan tubuh kepada Chinmi.
Chinmi mengangkat satu kaki kanannya keatas hingga tegak lurus keatas dan kaki kiri masih berdiri di atas tanah, tentu dengan menjepit kaki tersebut dengan sebelah tangannya.
Maksud dari latihan dasar tersebut untuk melemaskan tubuh dan juga otot-otot yang masih kaku.
Semua murid berhasil melakukannya dan hanya Chinmi yang terus menerus gagal berkali-kali sehingga banyak yang menertawakan Chinmi.
"Sebenarnya ini mau latihan beladiri apa latihan akrobat?" batin Chinmi, dia merasa daging pahanya seperti mau robek ketika mau meluruskan kaki kanannya ke atas.
Dengan segala usaha akhirnya Chinmi berhasil meluruskan kaki kanannya ke atas namun cara berdirinya masih belum terlalu stabil sehingga sedikit goyang seperti daun yang diterpa hembusan angin.
Chinmi masih berusaha menstabilkan tubuhnya agar tidak terus bergerak, sedangkan yang lain sudah melakukan latihan yang lain lagi.
"Senior Mang, butuh berapa lama lagi agar tubuhku bisa stabil?" kata Chinmi dengan tubuh yang seperti oleng.
"Sebenarnya kamu lebih cepat dibandingkan dengan mereka ketika masih baru belajar latihan, setidaknya butuh sampai satu minggu untuk bisa mengangkat dan melemaskan kaki paha dan otot mereka, sedangkan kamu! Kamu bisa mengangkat lurus hanya waktu setengah hari saja," kata Mang Xin.
Memang benar, ketika Chinmi gagal berkali-kali semua menertawakannya, namun ketika melihat Chinmi berhasil melakukannya dengan cepat, semuanya langsung terdiam.
"Apakah aku akan berhasil dengan sempurna dalam waktu seminggu?" tanya lagi Chinmi.
"Itu tergantung niatmu dan usahamu dalam berlatih!" jawab Mang Xin.
Mang Xin menghentikan latihan Chinmi dan mengganti latihannya dengan latihan yang lain.
Seperti yang lain, Chinmi di suruh berlari mengelilingi lapangan latihan, lebar lapangan latihan memiliki luas 700 meter persegi, sedangkan Chinmi harus berlari mengelilingi lapangan tersebut sebanyak 100 kali putaran.
Fungsi latihan ini untuk menstabilkan pernafasan, gerakan tubuh, dan juga kecepatan kaki. Walau terlihat mudah, namun nyatanya Chinmi hanya mampu mengelilingi lapangan latihan tersebut dua kali.
Nafas serta tenaga Chinmi benar-benar tidak mampu untuk terus berlari sehingga dia berhenti dengan membungkukkan badan dan nafas yang terengah-engah.
"Chinmi, jika kamu merasa lelah, kamu bisa istirahat dulu, dan nanti kamu bisa melanjutkannya lagi!" Lian Cao juga berhenti di dekat Chinmi dengan nafas yang juga memburu.
"Kamu sudah berputar berapa kali?" tanya Chinmi yang nafasnya sudah mulai stabil.
"Baru empat kali putaran!" kata Lian Cao.
Ternyata belum ada murid muda yang segenerasi dengan Chinmi yang berhasil berlari dan mengelilingi lapangan tersebut hingga 100 kali putaran, paling banyak hanya enam putaran saja.
"Begitu..!" Chinmi mengerti ternyata memang tidak mudah jika ingin belajar ilmu beladiri.
Chinmi disuruh beristirahat sejenak sebelum melanjutkan ke latihan dasar berikutnya. Setelah sekitar 30 menit beristirahat, Chinmi kembali disuruh latihan mengangkat ember yang berisi Air, dan menyuruhnya untuk menaruh air tersebut ke Bak yang terbuat dari kayu dan tidak jauh darinya.
Awalnya Chinmi mengira hanya disuruh memindahkannya seperti biasa saja, namun ternyata dia harus memindahkan Air tersebut dengan menaiki kayu balok yang sudah berdiri dan berbaris rapi dengan ketinggian 2 meter.
Secara perlahan-lahan Chinmi berjalan menginjak satu demi satu ujung kayu balok yang berdiri tegak tersebut.
Fungsi latihan tersebut bertujuan untuk melatih keseimbangan tubuh, jika suatu saat nanti ada pertarungan di atas kayu atau balok, maka sudah pasti dia akan bisa menyeimbangkan diri.
Ji Long juga sudah mengatur semua latihan Chinmi, ilmu beladiri untuk Chinmi sudah dipersiapkan, rencananya Ji Long akan mengajarkan ilmu pedang yang tidak perlu mengunakan Energi Qi, karena kondisi Chinmi yang tidak akan bisa menyerap Energi Qi.
Chinmi berlatih hingga sore hari, namun tidak satupun yang berhasil ia selesaikan karena dia masih baru berlatih, masih banyak latihan yang lebih berat yang sedang menunggu Chinmi.
"Paman..! Tubuhku sakit semua," Chinmi merasakan seluruh tulang-tulangnya sepeti habis dipukuli oleh kayu, rasa sakitnya membuat Chinmi merasa lelah.
"Itu biasa Chinmi, semua orang pasti akan merasakan hal yang sama ketika baru berlatih, paman dulu juga merasakan hal yang sama," kata Li Fang.
"Emm...!" mata Chinmi mulai sayup-sayup karena lelah sehingga hanya menjawab seperti itu.
"Chinmi bangun mandi dulu, habis itu makan setelah itu baru tidur!"
"Paman! Aku lelah sekali!"
"Kalau kamu tidak mau mandi, paman akan menidurkan mu di kandang kuda, mau?"
"Tidak mau! Baiklah aku mau mandi," kata Chinmi kemudian bangkit dan pergi mandi.
Yue Rong datang membawa makan malam untuk Li Fang dan Chinmi, setelah selesai mandi, Chinmi makan malam bersama Yue Rong dan juga Li Fang.
Chinmi tidak banyak bicara, dia makan cukup banyak karena dia memang lapar, setelah selesai makan, Chinmi berpamitan untuk istirahat kepada Li Fang dan juga Yue Rong yang masih makan sambil mengobrol.
Chinmi berbaring di tempat tidurnya dan tidak menunggu lama dia pun tertidur lelap.
Li Fang dan Yue Rong masuk untuk memeriksa Chinmi, Li Fang menyentuh dahi Chinmi.
"Ini efek dari latihan pertamanya!" kata Li Fang.
"Apa tubuhnya panas?" tanya Yue Rong.
"Iya, ini memang sering terjadi, apalagi Chinmi tidak pernah berlatih seperti ini saat masih berada dirumah," kata Li Fang.
"Biarkan saja, besok pagi dia pasti akan baikan, dan setelah berlatih selama beberapa hari, tubuhnya pasti akan terbiasa," kata Yue Rong.
"Aku pulang dulu, lebih baik kamu istirahat juga karena besok aku ingin bertanding denganmu," kata Yue Rong.
"Baik-baik nona Rong." kata Li Fang.
Yue Rong dan Li Fang tertawa kecil kemudian Yue Rong pun berpamitan dan pergi karena hari sudah malam.
***
"Ini tempat apa?"
Chinmi berputar-putar melihat sekelilingnya, dia tidak mengenali tempat tersebut karena tempat tersebut dipenuhi batu-batu hitam yang sangat besar-besar bahkan Chinmi berdiri di atas salah satu batu besar tersebut.
"Apakah namamu Li Chinmi?" suara pria yang terdengar sangat sepuh berbicara dari arah belakang Chinmi.
Chinmi segera menoleh dan melihat seorang pria sepuh memakai baju putih dan rambut serta janggut dan alisnya juga putih.
"Ka-kakek siapa? Dan kenapa kakek bisa mengetahui nama saya?" tanya Chinmi yang merasa takut melihat pria sepuh tersebut.
Pria sepuh tersebut tersenyum lembut kemudian menjawab pertanyaan Chinmi.
"Namaku adalah Li Wiefu, dan aku adalah Leluhur dari keluargamu," kata pria sepuh yang bernama Li Wiefu.
"Leluhur?" Chinmi bingung karena dia tidak pernah mengatahui akan silsilah keluarganya secara detail.
"Benar, aku adalah Leluhur sebelum adanya Kakek buyut mu,"
"Apa yang Kakek inginkan dariku, dan tempat apa ini?" tanya Chinmi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 361 Episodes
Comments
Imam Sutoto
buseeet keren
2024-07-24
0
DediKarismatikCharlieWade84
Li weifu Sang Dewa Dari Alam para Dewa Termasuk Ho Chen Sang pendekar Dewa Abadi ( salah satu Pendekar terkuat diatas para" Dewa🤭🤭
2024-06-26
0
Dzikir Ari
lanjutkan Tor .... mulai menarik 🙏🙏👍
2023-04-20
2