***
Sebuah Gurun pasir yang luas dan tidak terlihat satu pohon pun yang tumbuh, terlihat dua orang dengan seekor kuda berjalan menyelusuri Gurun pasir yang panas itu. Mereka adalah Li Fang dan Li Chinmi.
Li Fang dan Chinmi sudah tiga hari keluar dari Desa Shamo. Saat malam tiba mereka akan menginap di tengah-tengah Gurun pasir dengan membuat tenda kecil untuk mereka berdua.
"Paman, aku haus sekali, berikan aku air itu!" Chinmi meminta botol air yang terbuat dari kulit hewan.
"Kamu harus menahan sedikit rasa hausmu itu, jika tidak kita akan kehabisan air sebelum tiba di desa berikutnya!" kata Li Fang.
"Paman, aku sungguh sangat haus!" kata Chinmi mencoba meyakinkan Li Fang.
Li Fang tidak mempedulikannya, dia hanya menatap lurus kedepan menatap Gurun pasir yang masih belum diketahui dimana letak desa berikutnya.
Sebelum keluar dari desa Shamo, Li Fang memang sudah membeli banyak persediaan minuman, bukan untuk dirinya saja, melainkan untuk Chinmi dan juga kudanya.
Semua barang-barang berada di atas punggung kuda, sehingga kuda tersebut terlihat berat ketika berjalan karena bukan hanya air saja yang dibawanya, melainkan makanan roti kering, baju ganti ditambah lagi Chinmi dan juga Li Fang.
Li Fang terpaksa turun dari kudanya karena kasihan melihat kudanya yang terlihat sangat lelah, mereka ingin sekali berteduh namun tidak ada pohon yang tumbuh untuk dijadikan tempat berteduh, sehingga mereka hanya membuat tempat yang dibuat dari empat ranting panjang yang sebelumnya mereka bawa sebelum tiba di desa Shamo.
Tenda bangunan tersebut sangat kecil, namun mereka tetap harus rela berdesak-desakan dengan kuda untuk berteduh sementara sebelum melanjutkan lagi perjalanannya.
"Paman, seberapa jauh lagi kita akan sampai di desa berikutnya?" tanya Chinmi.
"Kemungkinan besok kita baru sampai, namun sekarang kita harus bergegas," kata Li Fang.
"Memangnya kenapa?" Chinmi merasa heran.
"Tidak jauh dari sini seharusnya ada Goa, dan kamu lihat disana, itu adalah pertanda bahwa sebentar lagi akan ada Badai pasir," kata Li Fang sambil menunjuk kearah yang dimaksud.
Chinmi menoleh kearah yang dimaksud kemudian terlihat dari kejauhan seperti kumparan angin yang menggulung pasir, namun jaraknya lumayan jauh dari tempatnya.
"Kita naik kuda saja Paman, agar lebih cepat," kata Chinmi.
"Tidak, kuda ini terlalu letih untuk dinaiki kita secara bersamaan, lagi pula letak Goa itu tidak terlalu jauh dari sini," kata Li Fang.
Chinmi terdiam dan hanya menuruti perkataan Li Fang. Mereka berjalan selama tiga puluh menit, sedangkan Badai pasir sudah terlihat semakin mendekat.
"Nah itu dia Goa nya!" kata Li Fang sambil menunjuk kearah gunung batu yang tidak terlalu besar, namun di bagian bawahnya terlihat mulut Goa yang cukup besar.
Mereka bergegas menuju kearah Goa tersebut sedangkan Badai pasir sudah berada di samping mereka.
Mereka baru memasuki mulut Goa dan Badai Pasir pun datang tepat ketika mereka baru memasuki mulut Goa.
"Akhirnya kita selamat dari Badai itu," kata Li Fang sambil membaringkan tubuhnya.
Chinmi mengikat kudanya disalah satu batu di pinggir dinding Goa tersebut kemudian mengambil botol air dan meminumnya sedikit, kemudian kembali meletakkan botol air di dekat Li Fang.
Chinmi menatap kearah mulut Goa yang terlihat banyak pasir yang beterbangan memasuki mulut Goa. Chinmi duduk di samping Li Fang sambil menatap keluar.
"Chinmi, aku ingin bertanya padamu!" kata Li Fang.
"Mau tanya apa paman?"
"Apakah kamu memiliki cita-cita, seperti ingin menjadi pendekar, atau ingin menjadi sarjana?" Tanya Li Fang yang mulai duduk juga.
"Aku tidak tahu paman, aku ingin menjadi pendekar, namun kata Guru Mei aku tidak memiliki bakat pendekar," kata Chinmi yang terlihat kecewa pada dirinya sendiri.
Li Fang menghela nafas panjang, dia sudah tahu jika Chinmi memang tidak memiliki bakat sejak baru lahir.
Setiap orang akan bisa dilihat bakatnya mulai sejak baru lahir. Setiap anak yang lahir akan dilihat dari Dantian mereka, ada yang terlahir dengan Dantian besar yang mampu menampung banyak Energi Qi, ada juga yang kecil.
Sedangkan Dantian yang dimiliki oleh Chinmi bukan dibilang kecil bahkan melebihi dari kata kecil karena terlihat seperti secuil dari titik.
Seharusnya Chinmi lebih cocok menjadi seorang Hakim, atau pejabat-pejabat politik lainnya, karena bentuk otak Chinmi berbeda dari orang kebanyakan.
Chinmi akan mampu mengingat akan apa yang dilihatnya dan apa yang diajarkan kepadanya.
Li Xiang sendiri berharap agar Li Chinmi bisa menjadi seorang pendekar yang bisa melampuinya kelak, walau terlihat mustahil, namun Li Xiang sebagai ayahnya percaya jika kondisi yang dialami oleh Chinmi pasti bisa dirubah walau dia juga tidak tahu bagaimana caranya.
Karena itu Chinmi tidak bisa lulus dari kelas baca tulis, kalau cuma baca dan tulis, Chinmi lah yang jago, namun dia tidak dinaikkan karena sudah tahu jika Chinmi tidak akan bisa berlatih menjadi pendekar di sekolahan kelas dua.
"Tapi Paman, kata Guru Liang aku akan bisa menjadi seorang pendekar yang hebat, bahkan kata Guru Liang! Aku akan mampu melampui semua para pendekar yang ada disemua negara yang ada paman!" kata Chinmi dengan semangat.
Li Fang hanya mengangguk, dia tidak mungkin bilang jika itu tidak mungkin karena dia tidak ingin membuat Chinmi kecewa jika mengatahui secara detail akan kebenarannya.
"Chinmi, nanti jika kita sudah tiba di Sekte Pedang Suci, kamu bisa belajar ilmu pedang disana, itu akan membantu dirimu untuk menjaga diri kelak!" kata Li Fang.
"Benarkah paman?" tanya Chinmi memastikan.
"Benar!" jawab Li Fang sambil mengusap-usap rambut Chinmi yang banyak pasirnya.
"Aku tidak sabar ingin cepat sampai disana!" seru Chinmi dengan penuh semangat.
"Kalian ini terlalu berisik...!"
Tiba-tiba saja terdengar seruan dari dalam Goa yang lebih dalam dan gelap, suara tersebut sampai membuat dinding Goa tersebut bergetar cukup kuat sebelum akhirnya berhenti.
Chinmi segera berlindung dibelakang Li Fang karena takut, sedangkan Li Fang lansung mencabut pedangnya dan bersiaga sambil menatap kearah tempat gelap yang jauh didalam.
"Maaf senior, kami tidak tahu jika ada Senior didalam, kami hanya numpang berteduh sebentar karena di luar sedang ada badai," kata Li Fang namun tetap dalam posisi siaga.
"Hem baiklah, kali ini aku akan memaafkan kalian, namun jika kalian berisik lagi! Maka aku akan pastikan jika kalian akan aku lempar keluar," kata orang tersebut yang hanya terdengar suaranya saja, namun dia sudah mengeluarkan kekuatan energi yang mampu membuat Li Fang berkeringat dingin.
"Terimakasih senior, kami berjanji tidak akan lagi berisik dan mengganggu senior!" kata Li Fang kemudian menyarungkan kembali sarungnya.
Tidak ada jawaban lagi dari orang tersebut membuat Li Fang bernafas lega, dia menatap Chinmi dan memberikan kode dengan telunjuknya di letakkan di bibirnya sendiri agar jangan berisik lagi.
Chinmi mengangguk dan memilih diam, mereka berdua hanya duduk diam tidak ada yang bersuara kerena takut menganggu orang yang berada di dalam, siapapun orang itu, Li Fang sadar dia tidak mau berurusan dengan orang pemilik suara tersebut. Tidak satupun ada yang berani bicara, dan hanya suara angin kencang yang terdengar dari luar Goa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 361 Episodes
Comments
Imam Sutoto
dahsyat banget nih lanjut top markotop story
2024-07-24
0
DediKarismatikCharlieWade84
Dewa Sudah Dtg untuk menolong, juga untuk dilatih menjadi manusia Dewa.
2024-06-25
0
Harman LokeST
mantapppppp tap taaaapppp author
2022-03-03
2