Li Fang segera maju menyerang mereka semua dengan mengayunkan pedangnya yang telah dialiri Qi.
Kesepuluh orang pendekar juga langsung maju secara bersamaan menyambut serangan Li Fang.
Walau hanya sendiri, nyatanya Li Fang mampu menandingi mereka semua. Li Fang menebas kedepan dengan posisi pedangnya tegak lurus, dan para musuh menahan serangan itu dengan golok mereka.
Salah satu dari mereka menebas ke arah perut Li Fang ketika Li Fang masih beradu pedang dengan yang lainnya.
Li Fang menyadari akan itu dan segera menepis serangan golok yang mengarah keperutnya dengan kaki kanannya dan menendang tubuh lawan lainnya yang masih menahan pedangnya.
Li Fang terus memberikan serangan beruntun kepada mereka dan tidak memberikan jeda kepada mereka. Tidak semua bertarung menghadapi Li Fang. Dua pendekar bergerak mundur karena menyadari jika Li Fang bukan pendekar sembarangan, setidaknya Li Fang adalah seorang pendekar Tingkat Menengah.
"Sebaiknya kita menangkap anak kecil itu! Percuma saja jika kita semua bertarung melawannya, setidaknya konsentrasinya akan terpecah jika kita menangkap anak itu," ucap pendekar yang berpisah dari pertarungan kepada satu rekannya.
"Benar sekali, ayo kita tangkap dia untuk dijadikan sandera!"
Mereka berdua bergegas menuju ke arah Chinmi yang masih duduk diatas kudanya, karena mereka yakin Li Fang tidak akan bisa menyelamatkan Chinmi, karena Li Fang sendiri disibukkan oleh kedelapan rekannya.
Chinmi melihat itu langsung mengangkat kedua kakinya keatas punggung kudanya agar mereka tidak menangkapnya.
"Hai bocah bodoh, Turunlah! Kami tidak ingin menggunakan kekerasan padamu," kata salah seorang dari keduanya setelah berada di dekat kuda Chinmi.
Chinmi memandangi mereka berdua dengan teliti, namun dia tidak berkata sepata katapun kepada mereka.
Chinmi menoleh kearah Li Fang yang sedang disibukkan oleh delapan orang pendekar, Chinmi sadar jika pamannya tidak mungkin bisa membantunya sehingga Chinmi berpikir bagaimana caranya agar bisa lolos dari mereka berdua.
"Ayo kita tangkap dia!" ucap pria yang berada di belakang kuda Chinmi dan bergerak untuk menangkap Chinmi.
Mereka berdua bergerak maju secara bersamaan untuk menangkap Chinmi, sedangkan Chinmi menarik tali kudanya membuat kudanya bergerak berputar dan melompat-lompat di tempat itu saja membuat kedua orang yang ingin menangkapnya kesulitan untuk menangkap Chinmi.
"Bagaimana caraku agar bisa lolos dari mereka!" gumam Chinmi sambil melihat barang milik Li Fang.
Untungnya Chinmi bisa menyeimbangkan tubuhnya di atas kuda yang melompat-lompat sambil berputar itu, Chinmi menemukan sebilah pisau kecil yang ujungnya sangatlah runcing.
"Kamu mau mempermainkan kami bocah!" seru salah satu dari mereka dengan wajah merah padam karena merasa dipermainkan oleh Chinmi.
"Akanku tebas kaki kuda itu!" kata rekannya kemudian mengayunkan goloknya ke arah kaki bagian belakang kuda yang dinaiki oleh Chinmi.
Chinmi memegang erat pisau yang dia dapatkan dari barang bawaan milik Li Fang. Melihat salah satu dari mereka berniat memotong kaki kudanya, Chinmi segera melemparkan pisau tersebut kepada orang yang berniat menebas kaki kudanya.
Orang yang ingin menebas kaki kuda Chinmi melihat pisau yang dilempar oleh Chinmi ke arahnya kemudian menangkap pisau tersebut dengan mudah.
"Kamu pikir bisa melukaiku dengan lemparan pisau seperti ini! Benar-benar bocah bo..!"
Buuuk!!!
"Owk..!"
Orang itu belum selesai bicara, namun kedua kaki kuda bagian belakangan menendangnya dan mendarat tepat diperut orang tersebut membuatnya terlempar hingga 3 meter kebelakang dan jatuh tengkurap, orang tersebut mengerang kesakitan sambil memegang perutnya seolah-olah isi dalam perutnya hancur.
"Apa kau baik-baik saja!?" teman satunya berlari kearah temannya yang masih kesulitan untuk bernafas karena perutnya masih sakit, dia ingin mengatakan sesuatu namun dia sendiri tidak mampu berbicara dan hanya matanya yang terlihat berair.
"Emm! Emm! Aemm!" pendekar yang terkena tendangan kuda berbicara namun terdengar seperti bergumam, jarinya menunjuk kearah Chinmi yang masih duduk diatas kudanya namun menghadap kearah belakang dan bukan kearah depan.
"Kamu bicara apa?" tanya rekannya kebingungan.
Orang tersebut mengumpat dalam hati, dia merasa rekannya sungguh bodoh karena tidak mengetahui isyarat yang ia tunjukkan, andai dia bisa bicara tentu dia sudah memaki-makinya.
Li Fang yang masih berhadapan dengan kedelapan orang pendekar tersenyum tipis melihat Chinmi mampu melumpuhkan salah satu dari mereka, dia tidak menduga jika Chinmi akan memukul paha kudanya membuat kuda tersebut menendang salah satu dari mereka dan sepertinya orang tersebut kesulitan bernafas.
"Kau sempat-sempatnya mengalihkan perhatianmu saat bertarung dengan kami!" seru salah satu dari mereka, namun tetap menyerang Li Fang dengan goloknya.
Li Fang tidak menjawab, dia kembali fokus terhadap pertarungannya dan ingin mengakhirinya dengan cepat.
"Golok Setan, Tebasan Hitam,"
Salah satu dari mereka yang terlihat lebih kuat dari yang lainnya melepaskan jurus goloknya, pendekar tersebut mengayunkan goloknya dengan cepat kearah Li Fang, dan tebasan goloknya juga mengeluarkan energi.
Li Fang segera melompat jauh kebelakang menghindari serangan tersebut. Li Fang menyarungkan kembali pedangnya dan mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.
"Cukup sudah, mari kita selesaikan ini dengan cepat!" kata Li Fang kemudian menatap mereka semua dengan tajam.
"Apa kamu mau menyerah?" tanya salah satu dari mereka ketika melihat Li Fang sudah menyarungkan pedangnya.
"Bagus, sekarang matilah kamu!" seru orang yang menyerang Li Fang dengan jurus goloknya.
"Golok Setan, Tebasan Mencabut Nyawa,"
Pendekar tersebut melesat kearah Li Fang kemudian melepaskan satu serangan tebasan goloknya yang lebih kuat dari sebelumnya dan melepaskan energi lebih besar.
"Sihir Bumi, Dinding Singa,"
Li Fang memukul tanah dengan kedua kepalan tangannya dan kemudian terciptalah tiga lapis dinding tanah yang cukup tebal muncul dari bawah, dan dinding tanah itu juga memiliki gambar berukiran kepala Singa dengan mulut menganga.
Merasa terhalang oleh dinding tanah, pendekar tersebut terpaksa menebas dinding tersebut dengan jurus yang sudah ia lepaskan, namun dinding tanah tersebut begitu tebal dan kuat sehingga tidak bisa dihancurkan dengan jurus goloknya, justru golok tersebut terjepit oleh mulut patung singa yang ternyata bisa bergerak.
"Dia sudah menguasai ilmu Sihir Elemen sekuat ini?" seru salah seorang dari mereka yang hanya mengamati pertempuran tersebut.
Mereka tidak ikut menyerang karena mereka tidak menguasai jurus Golok dengan sempurna sehingga hanya bisa melihat pemimpin mereka yang maju menyerang Li Fang.
"Apa yang kalian lihat? Cepat bantu aku!" seru pendekar yang sedang mencoba menarik goloknya yang telah tergigit oleh mulut patung singa yang terbuat dari tanah tersebut.
Mereka kembali sadar dan segera membantu Pendekar yang menjadi pimpinan mereka tersebut.
"Kena kalian!" kata Li Fang dengan tersenyum lebar kemudian menggeser satu kakinya dua kali kedepan kemudian menghentakkannya.
Dalam satu kali hentakan saja, kedua dinding yang ada di belakang dinding pertama bergerak dan mengurung kedelapan pendekar tersebut dengan formasi tiga sudut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 361 Episodes
Comments
Imam Sutoto
hadeh lanjut
2024-07-19
0
Ani Sumarni
Luar biasa keren
2023-12-08
3
Harman LokeST
hebat sekali
2022-03-03
3