Kudapun terlihat masih memejamkan matanya, darma setapun tidak berani mengganggunya, karena merasa kasihan pada kuda yang sudah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan.
Rasa lapar dan dahaga kini di rasakan darma seta.
''Waduuh perut minta di isi'in mana masih jauh lagi keperkampungan.'' Darma seta berkata sendiri.
Sikudapun kini sudah mulai mengangkat tubuhnya dari hamparan rumput-rumput yang hijau.
Darma seta berjalan untuk mencari air di sekitar situ, gemericik air mengalir dibawah bukit terdengar oleh darma seta, iapun segera menuju ke arah mata air yang mengalir.
Setibanya ditempat, dimana air yang mengalir dibalik bebatuan, darma seta membersihkan badannya, untuk menahan rasa laparnya, dan air yang bersih dan sejuk dirasakannya, iapun lalu meminum air tersebut sekenyang-kenyangnya untuk membasahi tenggorokannya yang kehausan, lalu mengisi guci tempat air yang selalu ia bawa dalam setiap perjalanannya.
Sesudah tiba ditempat, lalu darma seta membasahi muka kuda itu dan mengelap-ngelap moncongnya sampai bersih, setelah itu darma seta mulai melanjutkan lagi perjalanannya yang masih sangat jauh, untuk sampai di kampung batu gambir.
Hea hea heaa
Kuda berlari dengan sangat kencangnya menelusuri jalanan perbukitan yang penuh kerikil-kerikil tajam.
Waktupun terus berputar seiring dengan roda kehidupan berjalan, hingga tidak terasa darma seta kini telah tiba dikampung kararas, dengan tujuan singgah dulu disebuah kedai yang menjual makanan, untuk memenuhi permintaan isi perutnya.
Tidak lama kemudian darma seta telah tiba disebuah kedai yang menjual beraneka macam makanan, yang pernah ia singgahi sebelumnya.
''Sampu rasuun.'' Ucap darma seta.
''Rampeess.'' Pemilik kedaipun menjawab.
''Silahkan duduk den, mau minum atau mau makan?.'' Tanya pemilik kedai.
''Dua-duanya pak.'' Jawab darma sera.
''Hehee, Aden bisa aja.'' Kata pemilik kedai tersebut.
''Ya iya atuh pak, abis makan langsung minum pak.'' Kata darma seta.
''Iya benar, mau makan apa?.'' Bertanya pemilik kedai itu.
''Ada nasi putih pak?.'' Darma seta balik bertanya.
''Ooh ada den.'' Kata pemilik kedai.
''Nasi putih pak, sama ayam bakar dan sambel ijo, terus pake lalapannya.'' Kata darma seta.
''Baik den, ditunggu ya.'' Ucap pemilik kedai.
Pemilik kedai itu, lalu mempersiapkan nasi putih, sama ayam bakar, sambal ijonya berikut lalapannya daun kemangi dan kopohan.
''Pesanan sudah siap santap den, selamat menikmati masakan dari kami.'' Ucap pemilik kedai tersebut.
''Iya pak terima kasih.'' Kata darma seta.
Dengan lahapnya darma seta menyantap makanan itu. ditambah ayam bakar dan sambel ijo ditambah lalapannya sebagai pelengkap rasa laparnya itu.
Setelah itu makananpun sudah selesai disantapnya.
''Berapa pak semuanya.'' Tanya darma seta.
''Lima belas kepeng den.'' Jawab pemilik kedai tersebut.
Darma setapun lalu mengambil uang koin lima belas kepeng, untuk membayar makanan yang sudah habis dimakanya, rasa lapar yang sebelumnya melilit diperut darma seta kini sudah terpenuhi.
Setelah itu darma seta, melanjutkan lagi perjalanannya, dan memacu kembali kuda hitamnya itu.
Hea heaa heaa.
Teriak darma seta sambil memecut kudanya itu, kudapun berlari kencang dan gagah berani.
Rambut panjang darma seta sampai menari-nari karena tersapu angin akibat dari larinya kuda yang begitu kencang.
Kini kampung cilontar sudah darma seta laluinya, kuda terus berlari menuju arah utara, menuju kampung batu gambir, tempat dimana darma seta dilahirkannya.
Karena dari semenjak darma seta terlahir dari rahim ibunya, ia pun belum mengetahui tempat kelahirannya hingga sampai sekarang.
Hingga pada ahirnya darma seta pun telah tiba dipenghujung kampung batu gambir.
Sementara Wira jaya dan Dewi harum sudah sampai dikampung Batu gambir, tepatnya dirumah pak kepala kampung, dan gadis yang bernama sulastri sangatlah senang begitu dewi harum dan wira jaya datang.
''Bagaimana lastri betah berada disini.'' Tanya dewi harum.
''Ya betah bibi, apalagi bapk kepala kampung sangat baik.'' Jawab sulastri.
''Dia sangat betah disini dewi, dan saya juga sudah menganggap seperti anak sendiri.'' Ucap pak kepala kampung.
''Terima kasih pak, dan sebelumnya saya minta ma'ap ya pak, saya sudah banyak ngerepotin bapak sekeluarga, saya jadi tidak enak.'' Ucap dewi harum.
''Tidak ko nyi dewi, bapak sekeluarga tidak merasa direpotkan.'' Ucap pak kepala kampung.
''Dan kita merasa banyak berhutang budi pada Bapak, dan kita juga sekalian mau pamit pak, tapi sebelum kita pergi dari sini, aku bersama Nyi dewi mau minta ijin dua malam atau lebih, untuk bermalam dulu dirumah.'' Ucap Wira jaya.
''E'eeh, emang kalian mau kemana, tolong jelasin bapak belum mengerti maksud dari kalian?.'' Tanya pak kepala kampung.
Terus Wira jaya menceritakan tentang sudah diketemukannya leluhur dari mendiang ibunya, dan wira jaya juga menjelaskan tentang dirinya dan kakanya danang jaya, bahwa dirinya itu bukanlah anak dari pak gembala, melainkan anak dari supala adi nata dan ajeng kerta ningrum, yang mati terbunuh saat terjadi perang saudara.
''Nah begitu pak ceritanya.'' Ucap wira jaya.
''Oooh begitu, sekarang bapak baru mengerti, pantesan kalau dilihat dari rupa dan postur tubuhmu, emang keturunan menak/bangsawan, dari semenjak kedatangan pak gembala saya juga bertanya-tanya siapa kedua anak itu, dan pak gembala jawab, ini anaku katanya.
Karena setau saya pak gembala belum pernah menikah, tapi saya percayanya karena pak gembala sempat menghilang dari batu gambir, dan datang-datang sudah membawa anak, waktu itu saya percaya juga bahwa kamu dan danang jaya itu anaknya.'' Ucap pak kepala kampung menjelaskan.
''Sayangnya, bapak gembala sudah tiada, semoga aja bapk tenang di alam sana, saya sangat bersyukur banget pak gembala sudah merawat dan membesarkan aku dan kakaku yang telah tiada.'' Ucap wira jaya.
Disaat mereka lagi asik ngobrol, terdengar suara kuda berlari menuju rumahnya pak kepala kampung.
''Sepertinya ada suara kuda sedang menuju kemari.'' Ucap pak kepala kampung.
''Iya benar sekali, siapa ya.'' Ucap dewi harum.
Baru saja mereka ngobrolin tentang suara yang mendekati kesitu, dan suara kuda itu semakin pelan, pas kemunculannya orang yng menunggangi kuda di balik pohon yang besar, dewi harum dan wira jaya juga kaget, karena tidak mrnyangka kalau darma seta akan menyusul.
Keteplak keteplek keteplak
Suara langgkah kuda, dan terus berhenti, darma seta pun terus turun dari punggung kuda itu.
''Sammpu rasuun.'' Ucap darma seta.
''Rampeesss.'' Semua menjawab.
''Oo, Seta, dikira kamu tidak mau ikut, kenapa tidak bareng sama ibu.'' Ucap dewi harum.
''Iyaa, tadinya tidak mau ikut, tapi setelah ku pikir-pkir lagi ku jadi mau tau tempat pertama aku ada didunia.'' Jawab darma seta.
''Pak kenalkan, ini darma seta, anaku yang dulu sempat hilang itu.'' Ucap dewi harum.
''Oooh jadi ini anakmu nyi dewi.'' Ucap Kepala.kampung.
Selanjutnya mereka saling sapa dan berkenalan sambil berjabat tangan dengan pak kepala kampung beserta ibunya.
Setelah wira jaya dan dewi harum, ngobrol bercerita tentang siapa dirinya sebenarnya, tentang kepindahannya dari batu gambir ke kampung benda.
Ahirnya mereka pergi kerumahnya yang telah lama ditinggalkannya, dan penginapan di hari itu mungkin untuk terakhir kalinya, mereka bermalam satu, dua atau tiga malam berada dikampung batu gambir.
Setibanya dirumah.
Nampak rumah lusuh dan dekil, debu-debu berserakan dihamparan lantai papan kayu, dan daun-daun kering yang jatuh dan terbang terbawa angin memenuhi teras depan rumah, dan dihalaman rumahpun penuh dengan daun-daun kering yang berjatuhan dari pepohonan.
''Nah, disinilah kamu dilahirkan nak, dan setiap ibu melihat kedepan rumah ibu terharu dan sedih selalu terus menghantui pikiran ibu, karena waktu itu, para kelabang merah dengan biadab membunuh ayahmu dan memperlakukan ibu seperti binatang.'' Ucap dewi harum, menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan mendiang suaminya.
''Sungguh kejam sekali mereka, ku harus membalaskan semua ini, dan akan ku samperin ke tempat markasnya.'' Kata darma seta dengan darahnya yang langsung mendidih.
''Mereka semua sudah ditahan di penjara bawah tanah, keraja'an.'' Ucap dewi harum.
''Yang Sabar anaku, yang terpenting kamu sekarang sudah selamat dan bisa tumbuh besar sampai sekarang.'' Kata Wira jaya sambil memegang pundaknya darma seta.
Setelah itu mereka bertiga, membersihkan rumahnya dari debu-debu dan daun-daun kering yang berserakan.
*******************
Lanjut ke eps 15
Selamat membaca karya yang ku buat, semoga bisa merasa terhibur.
Demi kelangsungan karyaku tinggalkanlah jejaknya dengan.
. 👍 like
. Comentar
. ⭐⭐⭐⭐⭐ Ranting
. ❤ favorit
. 💓 vote.
Terima kasih yang sudah mrmberikan dukungannya semoga selalu sehat-sehat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Fira Ummu Arfi
boom likeee 💯
2021-05-20
1
Hiatus
Aku mampir kak, semangat
2021-04-21
1
anggita
tambah 👍 yg tertinggal.
2021-03-30
1