Setelah Wira jaya, dewi harum dan darma seta selesai makannya, mereka bergegas pergi menuju sebuah penginapan, yang ditunjukan oleh pemilik kedai.
Setibanya disebuah rumah yang terbuat dari kayu jati yang dibikin permanen, dewi harum dan Wira jaya serta darma seta, turun dari kudanya masing -masing.
''Yang di maksud pemilik kedai itu, sepertinya ini sebuah penginapn.'' Ucap wira jaya.
Disaat wira jaya, dewi harum dan darma seta melihat-lihat keberadaan disitu.
Se orang lelaki setengah abad datang dan bertanya.
''Maap kisanak, nyisanak ada perlu apa?.'' Tanya orang tersebut.
''Maap mamang, apa benar ini penginapannya pak jupri?.'' Wira jaya balik bertanya.
''Iya benar, kisanak mau sewa penginapan.'' Jawab orang itu.
''Iya mamang, kami mau sewa kamar untuk satu malam saja, barang kali masih ada yang kosong.'' Dewi harum berkata.
''Ooh ada, sebentar ya saya mau panggil juragan dulu.'' Ucap orang itu.
Orang itu pergi untuk menemui juragannya.
''Juragan juragaaann.'' Teriak orang itu.
''Ada apa mang karta.'' Ucap pak jupri.
''Itu juragan, di depan ada tiga orang, dua lelaki dan satu perempuan, mau sewa penginapan.'' Ucap mang karta.
''Ooh ya, mereka bawa kuda tidak?.'' Tanya pak jupri.
''Mereka semua menunggangi kuda juragan.'' Jawab mang karta.
''Ya sudah, suruh mereka kesini, dan kamu bawa kudanya ke halaman belakang, dan kasih rumput yang bagus buat makan kudanya mereka.'' Ucap pak jupri.
''Baik juragan.'' Jawab mang karta.
Mang karta lalu pergi kedepan menemui Wira jaya dan Dewi harum serta Darma seta.
''Kisanak disuruh menghadap juargan jupri, dan kudanya saya bawa ke halaman belakang.'' Ucap mang Karta.
''Ooh begitu, terima kasih mang.'' Ucap wira jaya.
Mereka pun lalu bergegas menemui pak jupri pemilik penginapan tersebut, sementara ke tiga kudanya sudah di bawa sama mang karta ke halaman belakang penginapan.
''Sampuu rasuuunn.''
Ucap Wira jaya.
''Rammpes.''
Pak jupri menjawab.
''Apa saya lagi berhadapan sama pak jupri.'' Ucap Darma seta.
''Iya betul'', Jawab pak jupri.
''Ada yang perlu saya bantu?.'' Tanya pak jupri.
''Kami kemalaman disini pak, apa bapak suka menyewakan kamar untuk menginap.'' Ucap dewi harum.
''Iya benar tuan, kebetulan sekarang lagi sepi, butuh berapa kamar tuan.'' Tanya pak jupri.
''Dua kamar pak, de Wira dan anaku dijadikan satu kamar.'' Ucap dewi harum.
''Ooh baik kalau begitu, ayo tuan ikut saya.'' Kata pak jupri sambil membawa dewi harum, wira jaya dan darma seta kesebuah penginapan.
''Nah ini kamar untuk dua orang, yang sengaja saya siapkan karena suka ada orang minta satu kamar untuk dua orang, bahkan pernah ada empat orang, makanya kamarnya dibikin gede dari yang lainnya.'' Ucap pak jupri.
''Oooh begitu, cukup tertata rapih kamarnya, jadi berapa sewanya semalam pak.'' Ucap Wira jaya.
''Delapan puluh kepeng, itu semua sudah berikut makan minum, dan buat makan kudanya juga, bagi yang membawa kuda.'' Kata pak jupri.
''Ooh begitu, baiklah, dan ini ongkos buat sewa kamarnya pak.'' Ucap wira jaya sambil membayar sewa kamarnya untuk satu malam.
''Baik terima kasih tuan, apabila tuan-tuan butuh sesuatu tinggal panggil mang karta saja.'' Jawab pak jupri.
''Selamat beristirahat tuan-tuan, semoga menyenangkan.'' Ucap pak jupri.
Wira jaya dan darma seta memasuki kamar yang cukup besar, yang ditata rapi sedemikian rupa, sedangkan dewi harum dikamar sebelahnya.
Kini malam telah tiba menyelimuti bumi dengan kegelapan, hanya obor-obor yang menerangi perkampungan itu, yang dipasang disetiap depan rumah para penduduk.
Petugas rondapun sudah berdatangan, sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan oleh kepala keamanan kampung kararas.
Disebuah pos perjagaan keamanan kampung kararas, nampak ada enam orang lelaki berpakaian pangsi dengan ikat kepala dan sebuah sarung yang di ikatkan dibagian pinggangnya, tidak lain mereka para petugas ronda yang dpimpin oleh kepala kampung.
''Sarma, katanya pak jupri kedatangan tamu yang menginap.'' Tanya kepala kampung junaedi.
''Iya pak, ada tiga orang yang menginap, dua lelaki dan satunya perempuan.'' Jawab Sarma.
''Kenapa pak jupri belum memberi laporan.'' Ucap kepala kampung junaedi.
''Belum kali pak.'' Kata Sarma.
''Saya dengar kabar, ketiga orang itu seperti pendekar pak.'' Ucap Karsim.
''Bagaiman bisa mengira begtu.'' Ucap pak kepala kampung.
''Katanya dari cara berpakaiannya juga aneh, berbeda dengan pakaian yang biasa kita kenakan.'' Ucap karsim.
''Maksudnya.'' Kata kepala kampung junaedi.
''Mereka semua mengenakan pakain bercorak burung rajawali, warnanya juga beda, yang lelaki kuning dan perak sedangkan yang perempuan warna merah.'' Ucap karsim.
''Yang benar kamu, pendekar itu sudah lama sekali mengasingkan dirinya dari dunia persilatan.'' Ucap junaedi.
''Ooh jadi pak junaedi tau?.'' Tanya Sarma.
''Kalau kabar yang diterima karsim itu benar, pendekar itu tidak lain lagi adalah pendekar elang dari tiga bersaudara.'' Kata junaedi.
Disaat mereka lagi asik ngobrol munculah pak jupri.
''Sampuu rasuun.''
kata pak jupri.
''Rammpesss.''
Semua menjawab.
''Wah pak jupri.'' Kata Sarma.
''Panjang umur, baru saja di omongin.'' Ucap junaedi.
''Ngomongin apa'an emang?.'' Pak jupri bertanya.
''Itu lagi ngomongin tamu yang menginap di penginapannya pak jupri, ko belum ada laporan begitu maksud kita itu.'' Junaedi menjelaskan.
''Ooh begitu, sebenarnya sih saya sudah lapor tadi pada pak Rt, Dan sekarang saya mau lapor lagi pada kepala keamanan disini.'' Kata pak jupri.
''Iya terima kasih atas laporannya pak jupri, kami selaku petugas keamanan dikampung kararas ini, meminta maap atas peraturan ini, ini semua demi keamanan dikampung kita, supaya kejadian yang sudah-sudah tidak terulang kembali.'' Begitu pak kepala kampung menjelaskan secara rinci.
''Iya saya juga mengerti pak junaedi.'' Ucap pak jupri.
''Sebenarnya mereka itu hendak kemana?.'' Tanya sarma.
''Mereka kemalaman didalm perjalanannya, katanya mereka mau ke kampung benda, dan besok pagi dilanjutkan kembali.'' Ucap pak Jupri.
''Busseet, masih sangat jauh atuh, bisa sehari lagi kalau pake kuda.'' Pungkas karsim.
Kini malam telah berlalu, pak jupri juga sudah undur diri dari pos ronda tersebut.
Tidak lama kemudian.
Malam kini telah berganti pagi, suara ayam jago sudah terdengar dimana mana.
Dewi harum nampak sudah terbangun dari tidurnya ia duduk dibangku teras penginapan.
Mang karta pun datang membawakan minuman kopi hitam campur gula aren dan segelas wedang jahe, sesuai yang dipesankan oleh dewi harum.
''Maap tuan ini, wedang jahe dan kopi hitam nya.'' Ucap mang karta.
''Terima kasih mang.'' Jawab dewi harum.
Aroma kopi hitam yang masih panas, sampai tercium harum baunya, membangunkan wira jaya dan darma seta yang lagi tidur..
''Waah waaah aroma apa ini, wanginya sampai tercium kesini, seta seta bangun sudah siang.'' Kata wira jaya.
Darma setapun langsung bangun..
''Ada apa paman.'' Tanya darma seta.
''Bangun sudah siang.'' Ucap wira jaya.
Wira jaya dan darma seta langsung keluar dari kamarnya, terus menuju gentong air yang telah tersedia didepan halaman, untuk mencuci muka dan membasahi tenggorokannya.
''Waduuh bangun tidur langsung sudah sedia kopi hitam, pantesan wanginya sampai aku terbangun.'' Ucap wira jaya.
Wira jaya dan darma seta, langsung meminum kopi yang telah tersedia..
''Aaahhh, mantap, kopi dan gulanya terasa banget.'' Ucap Wira jaya.
''Iya benar paman, pas banget.'' Kata darma seta.
Matahari kini sudah memancarkan cahayanya yang kemilau ke emasan, menyinari bumi nusantara ini.
Dewi harum, wira jaya dan darma seta, kini melanjutkan lagi perjalanannya yang masih sangat jauh.
Kini ketiga kuda itu sudah meninggalkan kampung kararas, dengan tujuan kampung benda untuk mencari leluhur dari ibundanya wira jaya ajeng kerta ningrum.
Kuda terus berlari dengan kencangnya menelusuri bukit, hutan dan tegalan rumput ilalang.
''De' wira nanti kalau kita menemui sungai kita berhenti dulu ya. badan teteh lengket rasanya.'' Ucap dewi harum.
''Baik teh harum, ku juga sama, selalian mau ngisi guci, karena stok air diguci ini sudah kosong.'' Ucap wira jaya.
Hea hea hea.
Kuda terus di pacu dengan kencangnya dan gagah berani.
''Teh harum didepan sudah terlihat gunung singkur, di bawah lerengnya pasti ada sungai yang mengalir.'' Ucap Wira jaya.
''Iya benar.'' Ucap darma seta.
''Ayo percepat lagi laju kudanya.'' Teriak dewi harum.
Kuda terus dipacu menuju lereng gunung singkur.
Setibanya di bawah lereng gunung singkur, mereka bertiga menghentikan laju kudanya.
''Tuh ada mata air yang mengalir di bawah sana.'' Ucap darma seta.
''Iya betul sekali, ayo kita kesana.'' Ucap wira jaya.
''Ayo de wira.'' Jawab dewi harum.
Dewi harum, wira jaya dan darma seta lalu menuruni sebuah lereng di bawah kaki gunung singkur.
Setibanya ditempat, mereka semua membasahi tubuhnya disebuah hulu sungai yang mengalir dari atas pegunungan, airnya yang jernih dan bersih, sehingga mereka semua meminum sekenyangnya, dan mengisi gucinya buat bekal diperjalanan.
Setelah selasai, mereka bertiga beranjak naik lagi keatas.
Dan melanjutkan lagi perjalanannya.
Sikuda berlari dengan kencangnya menjelajahi jalanan yang turun naik.
Hingga akhirnya dewi harum, wira jaya dan darma seta, sudah mendekati hutan aren, hutan yang konon katanya angker, kalau orang yang sudah masuk hutan ini, tidak akan kembali lagi dengan selamat.
''Ooh jadi ini, hutan aren yang dibilang angker itu.'' Ucap wira jaya.
''Saya merasakan banyaknya roh-roh yang gentayangan.'' Kata darma seta.
''Berarti didalam hutan ini banyak sekali nyawa manusia yang terbunuh.'' Ucap dewi harum.
''Sudah tentu begitu.'' Pungkas wira jaya sambil celingukan
''Saya jadi penasaran, siapa sebenarnya punghuni didalam hutan ini, sehingga banyak nyawa manusia yang melayang kalau sudah masuk kedalam hutan ini.'' Ucap wira jaya,
''Ku jadi teringat kisah tokoh sakti rama bargawa, yang ingin mengetahui warna darahnya.'' Ucap dewi harum.
''Apa mungkin penghuni hutan ini sama persis dengan tokoh sakti rama bargawa.'' Ucap darma seta.
''Bisa jadi begitu.'' Ucap dewi harum.
''Dan kita harus lebih waspada dan berhati-hati.'' Berkata dewi harum.
''Apa lagi kita belum mengetahui, selak beluknya hutan ini gimana, mungkin akan banyak ranjau-ranjau yang kita tidak mengetahuinya.'' Darma seta berkata.
''Sebelum memasuki hutan aren ini, terlebih dahulu kita pasang ilmu elang pangrungu dan mata elang menembus sukma.'' Ucap darma seta.
Mereka bertiga mulai memasuki hutan aren yang angker itu, setelah mereka memasang ilmu pendengaran dan ilmu pandangannya.
Mereka menjalankan kudanya dengan pelan-pelan dan berhati-hati.
Suara-suara aneh kini terdengar dikuping mereka yang sudah dilapisi ilmu elang pangrungu. mereka terus berjalan didalam hutan aren yang gelap, karena cahaya matahari susah untuk masuk dan menembus hutan itu, karena daun-daun antara pohon kepohon saling bertemu satu dengan yang lainnya.
Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan kerangka-kerangka manusia yang pada berserakan dan bergelantungan.
''Jagat dewa batara, tulang belulang manusia ada dimana mana.'' Ucap wira jaya.
''Iya benar berarti disini sering terjadi pembunuhan.'' darma seta berkata.
''Hati-hati de wira, darma seta, Ibu merasakan akan ada bahaya mengancam kita, coba kalian lihat di balik pohon aren yang yang berjejer rapat, ada sosok seperti manusia hitam sedang mengawasi kita.'' Ucap dewi harum.
Belum saja mereka selesai bicara, sosok bayangan hitam berkelebat, dibarengi dengan suara-suara aneh, yang bikin bulu kuduk merinding.
''Huhuhahahahaha''
''Hihihihihihihihi''
Begitu suara tertawa bergema dan mengerikan seakan memecahkan gendang telinga.
''Jangan hiraukan itu bu, itu hanya suara roh yang gentayangan, dan akan mengecoh kita.'' Darma seta memberi petuah pada ibunya
''Paman, tiup senjata ampelmu itu.'' Ucap darma seta.
Tanpa mikir panjang lagi, Wira jaya mencabut senjata ampelnya, terus ditiupnya suara yang keluar dari senjata ampel kuning begitu melengking.
''Ibu cabut pedang elang merah ibu, kita bentur-benturkan dengan pedang elang perak ku.'' Teriak darma seta.
Kini kedua pedang merah dan pedang perak, dibentur-benturkan, suara nyaring dari kedua pedang itu dan keluar cahaya merah dan perak, ditambah suara ampel yang ditiup.
Dan anehnya ketika kedua pedang dibenturkan, terdengar suara jeritan-jeritan seperti kesakitan, seperti suara manusia memohon ampun.
Bersama'an dengan tiupan senjata ampel kuningnya wira jaya kini puluhan elang berdatangan memenuhi tempat sekitar wira jaya, dewi harum dan darma seta berada.
Dan suara-suara roh gentayangan pun perlahan lahan mengecil dan terus hilang sama sekali..
Dan benturan kedua pedangpun dihentikan.
''Hebat kamu seta, ko bisa tau kalau dengan begini suara-suara iblis itu akan hilang'', Ucap wira jaya.
''Para iblis tidak akan tahan dengan suara-suara yang bising, sebenarnya itu suara roh-roh yang terbunuh, jadi gentayangan.'' Ucap darma seta.
''Terima kasih wahai sahabat-sahabatku, sudah mau datang dengan panggilan dari kami.'' Ucap wira jaya.
Kliiikkk kliiiikkk
kak kak kak.
Para elangpun berbunyi, kecuali elang putih abu-abu yang bisa bicara seperti manusia.
''Sama-sama pendekar.'' Ucap elang putih abu-abu.
''Hendak kemana kalian semua.'' Tanya elang putih abu-abu.
''Kami mau ketimur, sahabatku.'' Jawab wira jaya.
''Sahabatku, elang putih abu-abu, kenapa ditempat ini angker sekali.'' Tanya dewi harum.
''Hati-hatilah sahabtku, disini banyak roh roh gentayangan dari manusia-manusia yang dibunuh secara kejam.'' Ucap elang putih abu-abu.
''Binatang buas kah atau manusia, yang berlaku biadab itu.'' Ucap wira jaya.
''Manusia yang berhati binatanglah yang berlaku keji, waspadalah kalian semua karena disini tempatnya mereka melakukan aksinya, karena hanya jalan ini tempat para sodagar-sodagar lewat, yang mau berniaga dipusat kota kerajaan.'' Ucap elang putih abu-abu.
''Kami para elang undur dulu pendekar.'' Kata suara elang putih abu-abu sambil terbang.
''Terima kasih sahabatku semua.'' Teriak wira jaya.
Para puluhan elangpun sudah terbang meninggalkan wira jaya, dewi harum dan darma seta.
''Ayo kita lanjutkan lagi perjalanan kita.'' Ucap darma seta.
Setelah itu mereka melanjutkan lagi perjalanannya.
Hutan aren yang begitu luas dan paanjang, yang harus ditempuh oleh mereka, karena tidak ada jalan lain lagi untuk menuju kampung benda.
************************
lanjut eps 11
semoga terhibur dengan karyaku.
Selamat membaca.
jangan lupa tinggalkan jejaknya dengan.
. 👍like
. comentar
.❤ favorit
. 💓 vote nya.
Terima kasih yang sudung mendukung karya-karya ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Rahma AR
biasa dkm.hutan byk mahluk gaib...
2022-10-11
1
ARSY ALFAZZA
mantap 👍🏻
2021-10-30
2
Elisabeth Ratna Susanti
boomlike 😍
2021-10-22
3