Tok... tok.... tok....
Pintu kamar ku di ketuk membuat ku terbangun dari tidurku, sepertinya perjalanan jauh dan tangisan membuat tubuhku lelah sehingga aku pun tertidur. Aku menuju pintu kamar dan membukanya.
“anu... maaf mbak Tiara, bapak nyuruh mbak Tiara turun, buat makan malam” ucap bi Sumi
“owh iya, nanti Raa ke bawah ya mbak makasih” kata ku sambil tersenyum.
Bi sumi adalah pembantu di rumah kami, suaminya pak Sugeng juga bekerja sebagai tukang kebun di rumah ayah. Mereka mempunyai dua orang putri yang tinggal di rumah ayah. Aku bersyukur semenjak meninggalnya ibuku karena serangan jantung masih ada yang menemani ayah. Bi Sumi dan suaminya bekerja sudah sangat lama di rumah ini. Karena itu lah ayah enggan ikut dengan ku ke kota. Aku pun turun setelah mengganti baju dan menyuci muka ku.
“hy yah, Tiara tadi ketiduran. Maaf kelamaan nunggu Tiara buat makan malam ini ya?” tanya ku sambil duduk di kursi makan
“yaa namanya kamu dari kota bawa mobil sendiri nduk. Dah makan lah nantik dingin” ucap ayah ku. Aku mengangguk mendengar ucapan ayah. Aku mengambil nasi ku, sayur asem dan sepotong ayam goreng lalu memakannya.
“yaa pantesan lah nduk, badan mu segitu-gitu aja makan kok kalah sama kucing?” ledek ayah ku
Aku pun tersenyum “segini aja udah susah ngabisinnya lho yah” kata ku
“ya payah, kalau fikiran dan hati mu ora di sini...” ucap ayah yang sudah selesai makan malam
“.... biar bisa berfikir jernih, kamu juga harus makan nduk” sambung ayah sambil berlalu dari meja makan dan menepuk pundak ku
Aku masih melanjutkan makan malam ku, masakan bi Sumi tidak pernah berubah. Membuat ku menikmati makan malam hari ini. Setelah mendengar nasihat ayah aku mencoba menambah nafsu makan ku. Tapi tetap saja fikiran ku mengalahkan selera makan ku.
Setelah makan, aku bejalan-jalan ke samping rumah. Ku lihat ayah dengan pak Sugeng duduk di teras. Aku pun menghampiri mereka.
“eh mbak Tiara? Kapan sampainya mbak?” tanya pak Sugeng yang kaget melihat ku
“iya pak, tadi sore Raa sampe. Pak Sugeng sehat?” Taya ku juga
“owh iya mbak, saya tadi di kebun jadi nggak tau mbak sampai. Itu, mas Zean nggak ikut mbak?” tanyanya lagi
“owh... iya, kerjaan dia masih Banyak pak” aku memberi alasan
“ya udah mbak ngobrol sama bapak dulu, biar saya bilang bi Sumi buatin minuman” ucap pak sugeng seraya berlalu
"iya makasih ya pak” ujarku tersenyum
Aku pun duduk di samping ayah, menghadap ke kolam ikan yang di buat ayah di samping rumah. Kolam itu di buat atas keinginan ibu ku. Agar bisa jadi tempat bersantai dan melepas penat. Aku masih ingat ibu sering menyuruh ayah memasukan bibit ikan mujair di kolam itu agar bila ikannya sudah besar dapat di tangkap dan di bakar. Kami selalu menikmati momen itu setiap akhir pekan. Sungguh kenangan yang menyenangkan.
"apa tanggapan ayah akan perpisahan dini?” tanya ku memulai percakpan
"pisah itu kan ada penyebab dan tujuanya, kalau mau berpisah ya kamu harus banyak pemikiran ke depannya nduk. Sudah siap kah kamu berpisah? Siapa yang salah? Sudahkah mencoba bertahan? Sudahkah mencoba memperbaikinya?” jelas ayah
Dan aku pun memikirkan apa yang ayah katakan padaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Rostina
Coba pikirkan🤭
2022-01-03
0
Yosefina Ose
Lbh baik berpisah dini,drpd bertahan.
dgn yg berselingkurh dgn mantan,..kalai sdh menyangkut mantan itu sulit utk dilupakan...
2021-10-14
0
Danendra Faiz
si bapak bijak buanget oey
2021-09-05
2