Aku memutuskan untuk pulang ketempat ayah ku, karena Zean tidak juga mengambil keputusan untuk memilih satu di antar kami. Keputusanku meninggalkannnya bukan karena aku mengalah melainkan membantu Zean berfikir, apakah tanpa ku sekanrang dia baik-baik saja atau malah sebaliknya. Aku hanya memastikan posisiku di hubungan ini. Ku kemasi barang-barang ku sedangkan barang-barang yang di belikan Zean sengaja ku tinngal di rumah itu. Aku benar-benar lelah akan kisah yang tak berujung. Setelah selesai berkemas aku membawa koperku dan mobil menuju rumah ayah.
"tiiiinnn.....tiiinnnnn.....”
Aku tiba di rumah ayah sore hari,
“lha... nduk, sampean kok pulang sendiri? Mana suami mu?”tanya ayah meyambut kepulangan ku
“Tiara bakalan nginep di sini dulu yah buat sementara waktu” ucap ku sambil mencium ayah ku
“kamu pulang ke sini, ono opo? Suami mu tau?” ayah pun mulai bingung saat melihat ku mengeluarkan koper.
“setiap rumah tangga ya pasti ada masalahnya loh nduk, kamu jangan main minggat wae. Meski di selesaikan dengan cara dingin. Kamu kan anak cewek, kudu meski banyak-banyak sabar karo suami loh nduk” nasehat ayah sambil menuntun ku masuk ke dalam rumah
“....yo wes, kamu mandi dulu. Capek dari kota ke sini kan jauh. Istirahat, nanti tak suruh bi Sumi siapin makan trus tak panggil yo nduk” sambung ayah
Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataan ayah ku. Nampak jelas dari matanya akan kekhawatiran seorang ayah kepada putrinya. Aku menuju kamar ku dulu sewaktu sebelum menikah. Keadaanya masih sama dengan terakhir kali ku tingali, ingin rasanya kembali kemasa di mana aku hanya memikirkan tugas sekolah tanpa memikirkan masalah yang sangat rumit ini. Tak terasa mataku mengeluarkan bulir-bulir air yang membasahi pipi.
Zean mencari Tiara di kantor dari kemarin dia tidak menemui keberadaan Tiara. Semalam pun dia tidak pulang kerumah. Ada rasa khawatir teramat dalam di dalam hatinya. Mengingat Tiara masih lah istri sah nya. Dia pun pergi menemui Dita.
“hay Taa...” sapa Zean, tapi tidak di gubris oleh Dita yang masih menatap layar komputernya
“... Taa semalam sama Tiara ya? Kamu tau gak kira-kira dia kemana ya? Tadi aku tengok meja kerjanya juga kosong” sambung Zean
“kamu kan suaminya. Masak istri sendiri gak tau pergi kemana” ucap Dita ketus
“iya aku udah telepon dan Wa dia, tapi gak ada yang di balas satu pun. Aku khawatir sama dia”
“khawatir? Aku gak salah dengar? Bukannya kamu senang ya kalau Tiara gak balik-balik lagi sama kamu" Dita pun mulai emosi
“... seharusnya kamu itu bersyukur, Tiara nggak mengganggu hubungan mu dengan pel***r itu. Itu membuktikan bahwa dia wanita baik-baik bukan kayak simpanan mu” oceh Dita yang masih terus menatap layar komputernya
“aku Cuma mau tau keberadaan dia di mana Taa, bukan dengar ocehan mu yang nggak jelas kyak gini, kamu gak tau masalahnya jadi gak usah ikut komentar tentang Melati” Zean memberi alasan
“owh, iya kah? Aku gak boleh berkomentar tentang cinta pertama mu itu? Heyyy.... Zean kau harus sadar siapa istri mu. Dulu siapa yang ninggalin kamu, yang buat kau bangkit dari masa lalu mu itu siapa? Apa lagi dengan kehidupan dan status sosial hidup mu. Kalau bukan Tiara yang ngebantu keluarga mu, mungkin kamu Cuma gembel di luar sana lagian.....”
“... CUKUP Dita, aku kesini Cuma mau tanya keberadaan Tiara bukan mau dengar omongan mu yang merendahkan keluarga aku” bentak Zean
“Tiara udah mengajukan cutinya, dia gak bakalan masuk kerja lagi sampai habis kontrak. Kemana dia pergi itu urusan dia bukan urusan mu. Kau urus aja simpanan mu itu” ujar Dita sembari meninggalkan Zean
Zean terkejut mendengar ucapan Dita. Dia bingung akan mencari Tiara kemana dia berharap nanti malam Tiara pulang ke rumah. Dia pun memutuskan untuk pulang lebih cepat. Dia mampir ke toko kue untuk membeli cake kesukaan Tiara. Tak lupa juga dia membeli sebuket bunga mawar dan di selipkannya memo “maafkan aku bii, bantu aku memperbaiki semua ini”. Zean melajukan mobilnya menuju rumah. Dengan senyum yang terkembang ia masuk. “Sepertinya Tiara sudah pulang” pikirnya karena mendapati mobil yang di belikannya untuk Tiara ada terparkir di depan rumah. Zean pun masuk ke dalam rumah dan mendapati pintu rumah yang tak terkunci. Saat masuk ke ruang tengah Zean melihat sesuatu. Sepucuk surat, kunci mobil dan kunci rumah “to: Zean, maaf karena aku belum menjadi istri yang baik. Semoga kalian bahagia. Aku pergi”. Zean pun terkejut dia berlari ke atas untuk mencari sosok istrinya yang mungkin di dalam kamar. Ternyata kosong di bukanya lemari pakaian, betul saja ia tidak mendapati pakain Tiara lagi, hanya tertinggal pakaian yang ia belikan. Tiba-tiba matanya menatap sayu ke arah meja rias istrinya. Ada sebuah cincin yang sangat ia kenali. Iyaa,,, itu adalah cincin pernikahan yang Zean belikan untuk Tiara dulu. Dan zean pun terduduk lemas di atas kasur. Bingung dan sesal pun bercampur menjadi satu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Rostina
Rasain lu😡
2022-01-03
0
Wiwin Winarsih
nyeseeek akuuu akhh
2021-12-18
0
Siti Maryati
rasakno
2021-12-11
0