Istri di atas kertas

Han tidak ingin membuang waktu. Dengan satu isyarat, ia memerintahkan sopir untuk melaju. Mobil melesat menembus gelapnya malam, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah bengkel kumuh yang nyaris tak berpenghuni.

Bangunan itu suram, seolah ditelan waktu. Dindingnya kusam, catnya mengelupas, dan bau oli tua menyengat udara. Hanya ada satu sosok di sana—seorang pria berotot dengan wajah renta, berjanggut tak terawat, dan pakaian lusuh bak gelandangan jalanan. Matanya kosong, tapi sekilas menyiratkan sesuatu yang mengintai.

Mobil pun melaju perlahan memasuki halaman bengkel. Namun, alih-alih berhenti, kendaraan itu justru terus berjalan lurus—cepat, tanpa ragu—dan menabrak tembok putih di hadapan mereka.

Anna tersentak. Napasnya tercekat. Ia refleks menutup mata, bersiap menyambut kehancuran. Tapi tidak ada benturan. Tidak ada rasa sakit.

Saat ia kembali membuka mata, kenyataan justru lebih mengejutkan—tembok itu terbuka dengan sendirinya, seolah menyambut mereka. Sensor kamera yang tersembunyi mengenali kendaraan mereka, memperbolehkan mereka masuk.

Gerbang itu seakan membawa mereka ke dunia lain. Sebuah dunia yang tidak ia kenal—misterius, menyeramkan. Tempat di mana seseorang yang disebut sebagai "pembeli" telah menunggunya.

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah lobi luas yang mewah, sangat kontras dengan bengkel tadi. Han dengan tenang melepas borgol dari pergelangan tangannya. Ia menunduk, berbisik di telinga Anna, suaranya begitu dingin hingga membuat bulu kuduknya meremang.

"Walau kau berusaha kabur, kau tak akan pernah menemukan jalan keluar."

Hati Anna mencelos. Ia merasa seperti telah melangkah ke dalam labirin takdir, ke dalam jerat yang tidak akan pernah melepaskannya. Begitu kejam. Begitu mutlak.

Sungguh ironis, ia sudah kehilangan dunianya. Akankah ia kehilangan satu-satunya hal yang masih berharga baginya?

"Aku tidak menyangka… bahwa di dalam penjara, ada perdagangan seperti ini."

Han tersenyum tipis, matanya penuh arti. "Kau beruntung," katanya, "karena pembelimu adalah seseorang dengan tangan emas."

Anna ingin muntah. Tenggorokannya tercekat oleh rasa muak yang teramat dalam. Tapi ia tetap diam, memilih menurut saat Han mengantarnya masuk ke dalam sebuah ruang kerja yang besar dan elegan.

Di sana, seorang pria duduk membelakanginya. Wajahnya belum terlihat, tapi satu hal yang membuat jantung Anna berdetak lebih kencang—kursi roda itu.

Ia mengenalnya.

Dan itu hanya membuat semuanya terasa lebih mengerikan.

Anna berdiri membeku.

Dingin menjalar dari lantai marmer ke sumsum tulangnya, menancap dalam hingga ke nadinya. Kakinya terasa berat, seakan rantai tak kasat mata mencengkeram pergelangan kakinya, menahannya di tempat.

Namun yang membelenggunya bukanlah rantai.

Melainkan tatapan itu.

Pria itu ada di sana.

Ethan Ruan.

Dulu, ia melihat pria itu tergeletak di tengah jalan, tubuhnya terbenam dalam genangan darah yang bercampur hujan. Nafasnya tersisa hanya secuil, begitu lemah seolah maut tinggal menyentuhnya sedikit lagi.

Tapi kini, Ethan masih hidup.

Bukan sebagai pria yang ia kenal.

Ethan yang ia kenal dulu adalah pria yang penuh kehidupan. Yang berdiri tegap. Yang langkahnya selalu penuh percaya diri. Yang pernah berbicara dengan suara yang menenangkan, bahkan dalam ketegangan.

Tapi Ethan yang sekarang…

Hanya sisa dari sesuatu yang telah hancur.

Perlahan, pria itu mengangkat tangannya dan menekan tombol kecil di sisi kursi rodanya. Bunyi mekanik berdesis pelan, dan kursi itu berputar, membawa wajahnya semakin dekat dengannya.

Anna menahan napas.

Dan ketika mata itu akhirnya menatapnya…

Ia tahu ia sudah jatuh ke dalam jurang yang tak bisa dihindari.

Mata itu menelanjanginya.

Bukan hanya sekadar menatap.

Menyelidiki.

Mengulitinya perlahan, seperti seseorang yang mengupas lapisan demi lapisan luka lama untuk melihat apakah di dalamnya masih ada rasa sakit.

Dada Anna sesak.

Tatapan itu menghisapnya ke dalam lubang tanpa dasar.

Tidak ada amarah membara di sana.

Tidak ada kebencian yang meledak-ledak.

Yang lebih mengerikan—tidak ada apa-apa.

Kosong.

Hampa.

Seolah ia bahkan tidak cukup berharga untuk dibenci.

Seolah dirinya bukan manusia.

Hanya sesuatu yang pernah ada, tetapi tidak memiliki makna.

Dan saat itu, suara yang telah lama terkubur dalam ingatannya kembali bergaung di kepalanya.

Suara sipir itu.

Dingin. Sinis. Menikam.

"Status? Kau masih bertanya soal status?"

Sipir itu terkekeh, suara tawanya rendah, seperti derit besi yang sudah berkarat. "Dengar, perempuan. Orang sepertimu tidak butuh status. Kau bukan tersangka. Kau bukan korban. Kau bukan siapa-siapa. Kau hanya dibiarkan membusuk di tengah-tengah. Hidup, tapi tanpa arti. Bernapas, tapi tak benar-benar ada. Kau pikir dunia peduli padamu? Kau pikir hukum akan memihakmu?"

Anna ingat hari itu.

Hari di mana ia berhenti bertanya.

Berhenti menunggu.

Berhenti berharap keadilan akan datang mengetuk pintunya.

Karena keadilan tidak pernah ada.

Yang ada hanya kekuasaan.

Dan mereka yang memilikinya bisa menentukan siapa yang berhak untuk hidup, siapa yang pantas dihancurkan, dan siapa yang harus ditinggalkan membusuk di antara keduanya.

Dan sekarang…

Di hadapannya…

Ethan-lah yang memiliki kekuasaan itu.

Anna bisa merasakan udara di sekelilingnya semakin berat.

Seperti ruangan ini perlahan berubah menjadi sarkofagus yang akan menguburnya hidup-hidup.

Di sisi lain, Ethan menatapnya.

Dan dalam sekejap, semuanya kembali.

Selembar kertas.

Surat persetujuan operasi.

Goresan tinta yang tidak pernah ia buat.

Bukan milik Susan.

Bukan milik Edward.

Tapi di sana, dalam dokumen yang memutuskan hidup matinya—tertera namanya.

Di bawah status: "Istri."

Istri.

Istri palsu.

Bibir Ethan mengatup rapat. Tangannya mengepal di atas sandaran kursi roda, berusaha menahan sesuatu yang meletup-letup dalam dadanya.

Kemarahan? Tidak.

Kebencian? Belum tentu.

Yang paling menyakitkan adalah ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan.

Seharusnya malam itu ia mati.

Seharusnya Edward membiarkannya mati.

Seharusnya Susan, wanita yang pernah ia percaya lebih dari siapa pun, berdiri di samping kakak tirinya, menunggu kematiannya.

Dan itu akan jauh lebih mudah.

Karena jika ia mati, semuanya selesai.

Tidak akan ada kebencian.

Tidak akan ada pertanyaan.

Tidak akan ada kebingungan yang membuatnya tersiksa seperti sekarang.

Tapi wanita ini…

Wanita yang menghancurkan tubuhnya dengan tangan sendiri, wanita yang membuatnya kehilangan semuanya…

Juga menjadi wanita yang menyelamatkannya.

Bukan dokter.

Bukan keluarga.

Melainkan seorang Anna.

Kenapa?

Mata Ethan menuntut jawaban.

Dan dalam bola mata Anna, dalam tatapan yang seolah diterangi oleh api kesalahan yang membakar dirinya sendiri, ia bisa membaca sesuatu yang nyaris membuatnya muak.

Ketidaktahuan.

"Aku tidak tahu," mata itu berbicara tanpa suara.

"Aku hanya melakukannya."

"Aku tidak punya alasan."

Terlalu polos.

Terlalu absurd.

Terlalu tidak bisa dipercaya.

Karena bagaimana bisa seseorang yang merenggut kehidupannya—justru menjadi alasan ia masih hidup?

Kau penyelamatku atau penghancurku?

Dan yang lebih buruk dari semuanya adalah—

Ethan tidak tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri.

Jika Anna sama seperti Susan, manipulatif dan penuh kebohongan, maka segalanya akan lebih mudah.

Jika Anna memang sengaja memainkan peran pahlawan demi keuntungan sendiri, maka ia bisa membalasnya tanpa ragu.

Tapi ini…

Anna tidak berpura-pura.

Anna tidak memasang senyum manis seperti Susan.

Anna tidak melontarkan kata-kata palsu seperti Edward.

Anna hanya diam.

Dan itu membuat Ethan semakin hancur.

Karena jika Anna benar-benar berbeda…

Jika Anna memang tulus…

Maka itu berarti tidak semua orang di dunia ini sama seperti Susan dan Edward.

Dan ia tidak siap untuk menghadapi kenyataan itu.

Haruskah aku membencinya?

Atau haruskah aku berterima kasih?

Mana yang lebih masuk akal?

Tidak ada.

Tidak ada yang masuk akal.

Dan Ethan benci ketika sesuatu tidak masuk akal.

Saat akhirnya ia membuka mulut, suaranya serak, rendah, namun mengandung sesuatu yang lebih tajam daripada sekadar kemarahan.

"Anna."

Satu kata.

Tapi di balik satu kata itu, tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Sebuah pertanyaan yang belum terjawab.

Sebuah dilema yang belum selesai.

Sebuah kepastian bahwa Ethan tidak akan pernah melepaskan wanita ini sampai ia mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Episodes
1 Bencana Gaun Pengantin
2 Mimpi yang berganti
3 Sang mempelai wanita
4 Membayar Rumah Sakit
5 Istri asli dan istri palsu
6 Godaan calon ipar
7 Sang Pemenang Sejati
8 Sang penakluk
9 Cemburunya sang Tuan
10 Bukan tahanan biasa
11 Benang Cinta
12 Menjadi Kaya
13 Hidup sekali lagi
14 Transformasi yang dipaksakan
15 Istri di atas kertas
16 Pisau belati dari kakak tiri
17 Harga yang harus dibayar
18 Hukuman dari Ethan
19 Langkah menuju neraka
20 Teror yang baru dimulai
21 Langkah yang tersembunyi
22 Penolakan tersadis
23 Racun yang mengerikan
24 Gosip merebut ipar
25 Penyiksaan yang lebih menakutkan
26 Pelarian bodoh
27 Dingin yang tak memantahkan
28 Bunuh diri
29 Siapa yang menemukan lebih dulu
30 Bendera Putih
31 Mimpi yang tertunda
32 Panggung yang dibuat instan
33 Upik Abu menjadi Cindrella
34 Yang sebenarnya terbuang
35 Kehadiran Presiden
36 Menjadi Sorotan
37 Pusara yang tak pernah ada
38 Lelang Takdir
39 Membakar uang
40 Tahanan murahan
41 Cincin keluarga Ruan
42 Harga yang terdengar gratis
43 Menjadikanmu ratu kembali
44 Dunia Mikroba
45 Dokter Bayangan
46 Topeng pasangan tanpa cela
47 Menciptakan monster
48 Gaun pengantin malam itu
49 Penjara di langit
50 Gaun pengantin 75 miliar
51 Godaan yang tak terhindarkan
52 Perangkap dalam perangkap
53 Ternyata ada yang mendahuluiku
54 Peretas
55 Duri dalam daging
56 Bayangan Design
57 Menikahi gaunya saja
58 Membayar karma sendiri
59 Mempelai pengganti
60 Kurir salah tujuan
61 Menikah untuk menyesal
62 Istri sekaligus musuh
63 Genggaman dalam kepalsuan
64 Pasangan Disabilitas
65 Gunung Mawar
66 Wanita suka berbelanja
67 Belanja dengan pasukan
68 Aku adalah pelakunya
69 Merk Pakaian
70 Cinta tiga orang
71 Aku tidak mengubah. Hanya menggantikan
72 Kembali ke pengaturan awal
73 Bunga dalam bentuk sentuhan
74 Gaun dalam kurungan
75 Menggunting kenangan
76 Walau aku bukan dirimu
77 Antara Ibu dan Ratu
78 Mie Instan yang aman
79 Duyung yang terperangkap
80 Kemampuan Recovery Jejak
81 Titip saja pada Tuhan
82 Tokoh dalam novel
83 Rencana Dadakan
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bencana Gaun Pengantin
2
Mimpi yang berganti
3
Sang mempelai wanita
4
Membayar Rumah Sakit
5
Istri asli dan istri palsu
6
Godaan calon ipar
7
Sang Pemenang Sejati
8
Sang penakluk
9
Cemburunya sang Tuan
10
Bukan tahanan biasa
11
Benang Cinta
12
Menjadi Kaya
13
Hidup sekali lagi
14
Transformasi yang dipaksakan
15
Istri di atas kertas
16
Pisau belati dari kakak tiri
17
Harga yang harus dibayar
18
Hukuman dari Ethan
19
Langkah menuju neraka
20
Teror yang baru dimulai
21
Langkah yang tersembunyi
22
Penolakan tersadis
23
Racun yang mengerikan
24
Gosip merebut ipar
25
Penyiksaan yang lebih menakutkan
26
Pelarian bodoh
27
Dingin yang tak memantahkan
28
Bunuh diri
29
Siapa yang menemukan lebih dulu
30
Bendera Putih
31
Mimpi yang tertunda
32
Panggung yang dibuat instan
33
Upik Abu menjadi Cindrella
34
Yang sebenarnya terbuang
35
Kehadiran Presiden
36
Menjadi Sorotan
37
Pusara yang tak pernah ada
38
Lelang Takdir
39
Membakar uang
40
Tahanan murahan
41
Cincin keluarga Ruan
42
Harga yang terdengar gratis
43
Menjadikanmu ratu kembali
44
Dunia Mikroba
45
Dokter Bayangan
46
Topeng pasangan tanpa cela
47
Menciptakan monster
48
Gaun pengantin malam itu
49
Penjara di langit
50
Gaun pengantin 75 miliar
51
Godaan yang tak terhindarkan
52
Perangkap dalam perangkap
53
Ternyata ada yang mendahuluiku
54
Peretas
55
Duri dalam daging
56
Bayangan Design
57
Menikahi gaunya saja
58
Membayar karma sendiri
59
Mempelai pengganti
60
Kurir salah tujuan
61
Menikah untuk menyesal
62
Istri sekaligus musuh
63
Genggaman dalam kepalsuan
64
Pasangan Disabilitas
65
Gunung Mawar
66
Wanita suka berbelanja
67
Belanja dengan pasukan
68
Aku adalah pelakunya
69
Merk Pakaian
70
Cinta tiga orang
71
Aku tidak mengubah. Hanya menggantikan
72
Kembali ke pengaturan awal
73
Bunga dalam bentuk sentuhan
74
Gaun dalam kurungan
75
Menggunting kenangan
76
Walau aku bukan dirimu
77
Antara Ibu dan Ratu
78
Mie Instan yang aman
79
Duyung yang terperangkap
80
Kemampuan Recovery Jejak
81
Titip saja pada Tuhan
82
Tokoh dalam novel
83
Rencana Dadakan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!