Bel istirahat telah berbunyi, semua siswa siswi telah berhamburan keluar kelas menuju kantin sekolah. Untuk mengisi perut mereka yang kosong atau hanya sekedar duduk-duduk santai di pinggiran tamam sekolah.
Tak terkecuali tiga cowok itu, mereka dengan santainya berjalan bak model papan atas sedang menuju ke kantin sekolah.
"Ka, Van pesen apa gue yang pesenin?" tanya Attaya.
"Lo yang traktir, yaa?" canda Devan.
"Nyarinya yang gratisan mulu dah," gerutu Attaya.
"Bodo! Hahaha." kata Azka dan Devan hampir bersamaan.
Setelah itu Attaya memesan makanan mereka dan kembali ke tempat duduk bersama yang lain. Saat sedang asyik mengobrol datanglah makhluk tak diundang, siapa lagi kalo bukan Siska.
Dan tanpa malunya ia langsung duduk di sebelah Azka, hal itu membuat Azka marah karena tidak menyukainya.
"Ngapain?" sinis Azka.
"Mau makan sama lo lah, Ka." dengan wajah genitnya.
"Pindah!!" bentaknya keras, membuat semua orang yang berada di kantin memperhatikan mereka.
"Gak mau Azka, gue mau makan bareng lo." kekeh Siska yang masih setia disebelah Azka.
"Lo yang pergi, apa gue yang pergi!" bentak Azka lagi.
Dari pada semakin malu kedua teman Siska menarik tangannya, mengajak Siska untuk pindah tempat duduk.
Malu jika diliat siswa satu sekolah yang sedang berada di kantin, Azka yang sedang mengusir Siska karena selalu mengganggunya.
"Udahlah Sis, pindah aja. Dari pada Azka ngamuk loh." gandeng Syla pada lengan Siska.
"Iyaa Sis, malu ah di liatin banyak orang tuh." ucap Rima sambil menjulurkan telunjuknya mengarah pada mereka yang melihat tontonan itu.
"Lain kali pasti ada kesempatan lagi." bujuk Syla.
Akhirnya mau tidak mau Siska bersama kedua dayangnya pergi dari tempat itu,mereka pindah ke meja yang tak jauh dari Azka cs.
"Nah kan gitu dari tadi jadi gak usah sampai diusir." sindir Devan sambil meminum es jeruknya.
Tibalah makanan yang mereka pesan, dengan lahap mereka memakannya. Tanpa tersisa sedikitpun makanan di atas piring itu, setelah itu mereka memutuskan kembali ke kelas.
"Ka, lo kenapa sih gak mau nerima Siska? Secara gitu dia kan cantik." tanya Attaya yang penasaran.
"Iya Ka... dia kan udah ngejar lo dari kelas satu, gak kasian apa, Ka? " imbuh Devan.
"Gue gak suka sama cewek yang kaya gitu, ya kali cewek yang ngejar-ngejar cowok sampai segitunya. Gak punya malu apa? Trus dia itu manja banget, genit pula. Ogah gue sama yang begituan," jawab Azka sekenanya.
"Ooohh iya juga sih, bakal ribet kalo lo sama dia." Devan mengiyakan ucapan Azka tersebut.
"Lagian juga bukan tipe lo kan si Siska?" tanya Attaya, Azka hanya menggeleng saja.
"Terus lo suka cewek yang kek gimana Ka?" tanya Devan yang juga penasaran, pasalnya belum ada cewek yang mampu melelehkan hati Azka.
"Yang mandiri, berani, lucu, gak lemah, asyik anaknya," jawab Azka cepat.
"Ohhhh." hanya mendapat kata itu dari kedua temannya.
"Cih! Kenapa jadi paduan suara sihh?" tanya Azka.
Namun hanya mendapatkan tawa dari kedua sahabatnya itu. Setelah itu pelajaran selanjutnya dimulai lagi, kali ini pelajaran matematika. Matematika adalah pelajaran yang menggunakan ilmu pasti, jadi kalian harus paham dengan rumus-rumus terlebih dahulu sebelum mengerjakan soal-soal yang sangat rumit.
.............
Di rumah Azkia
Tanpa mengetuk pintu seorang wanita paruh baya masuk begitu saja kedalam kamar putrinya, yang sedang sibuk menata semua barang-barangnya.
"Kia, semuanya sudah mama urusin untuk keperluan pindah sekolah kamu, jadi besok kamu tinggal berangkat saja," kata wanita paruh baya yang tidak lain adalah mama Lala.
"Iyaaa mama sayang makasih ya," ucapnya sambil memeluk mama Lala.
"Gak masalah kan kita pindah rumah." ada raut cemas di wajah mana Lala.
"Gak masalah kok ma, Kia kan anaknya cepat beradaptasi hehe." tawanya sambi memamerkan gigi kelincinya, sebenarnya Kia berat untuk pindah pasalnya ada kenangan tentang sesorang di tempat lamanya namun harus ia lupakan.
"Semoga kamu suka di tempat baru mu nak." ucap mama Lalasambil mengelus kepala Kia.
"Kia suka kok mah disini, lebih nyaman dan lokasinya trategis jadi kalo mau kemama-mana deket hehe." seru gadis itu agar mamanya tidak khawatir.
"Yaudah Kia lanjutin beres - beres dulu ya mah, biar cepet selesai ini." lanjut Kia lagi sambil melangkah kan kaki meninggalkan mamanya yang duduk di sofa kamar.
Mamanya hanya mengangguk sambil tersenyum memandangi punggung putri kecilnya itu, yang sudah menginjak masa remaja.
Gadis manis itu adalah Azkia Agatha seorang gadis manis, periang juga mandiri. Dia adalah anak kedua dari Bima Agatha dan Lala Aghata. Azkia sering dipanggil dengan nama Kia saja saat dirumah dan bersama teman-teman terdekatnya.
Mereka sedang sibuk menata ulang barang-barang karena pindah dari rumah lama. Karena ada sesuatu yang mengharuskan mereka pindah, termasuk Azkia juga harus pindah sekolah mengikuti orang tuanya.
Setelah beberapa saat semuanya selesai, Kia membaringkan badannya di sofa kamar. Matanya menatap langit-langit kamar, pikirannya menerawang jauh entah kemana.
Dia harus memulailagi dari awal, mencari teman baru, beradaptasi di tempat baru, suasana baru dan pastinya orang-orang baru. Tapi tidak masalah untuknya, karena ia akan cepat menyesuaikan diri dengan keadaan baru itu.
Tiba-tiba saja benda pipih yang sejak tadi ia letakkan diatas nakas berdering dengan sangat nyaring. Azkia membaca nama yang tertera pada layarnya, lalu terlihat bibirnya melengkung keatas.
"Tumben ini anak inget, gue!" gumam Azkia sambil menekan tombol hijau pada layar ponselnya.
📞 Deviraaa memanggil!
"Haloo, Assalamualaikum siapa?" sapa Azkia yang berpura-pura tidak mengenali teman kecilnya itu.
"Kapan lo masuk sekolah, udah gak sabar pengen ketemu." cerocos Devira.
"Lah kenapa lo nanyain gue kapan masuk sekolah?" tanya Azkia bingung.
"Ya allah Kiaaa lo lupa sama gue? Tega banget sih loh." dari suara Devira terdengar kecewa sahabat kecilnya itu melupakannya.
"Lah ini siapa?" tanya Azkia menahan tawanya.
"Gue Ira, Kia. Devira Ramania, lo lupain gue mentang-mentang lo udah jarang ketemu sama gue ya!" kesal Devira.
"Hahaaa." tawa Azkia pecah begitu saja.
"Kok ketawa?" tanya Devira.
"Hehe gue cuma bercanda kali lupa sama lo temen gak ada akhlak. Oh iya, bukannya lo diluar kota ya? Kok ketem di sekolah?" Azkia masih bingung dengan pertanyaan Devira.
"Lah gue udah setengah taun tinggal di sini dan lo masuk ke sekolah gue. Iih sebel deh gue lama-lama sama lo Kiaaa!" teriak Devira diseberang sana.
Azkia sedikit menjauhkan ponselnya karena telinganya sakit saat mendengar teriakan Devira.
"Lo kok tau gue pindah, oalah pantes aja lo pindah duluan yaa." tebak Azkia.
"Udah-udah pokoknya besok kita ketemu disekolah ya, gue kangen sama lo!" pinta Devira.
"Ya kalau gue sekolah ditempat lo, kalo enggak?" tanya Azkia.
"Serah deh.. Mama Kayla dah cerita kok kalo lo mau sekolah di sekolah gue.. wlee," ucap Devira percaya diri.
Setelah itu Azkia mematikan panggilan itu, "Pantes mama cepet banget dapat sekolah baru," gumamnya.
Setelah itu Azkia tertidur pulas di atas sofa.
Devira Ramania adalah sahabat Azkia waktu SMP, tapi mereka harus berpisah saat Devira atau yang lebih sering dipanggil Ira harus pindah bersama orang tuanya.
Walaupun begitu mereka tidak pernah putus kontak, siapa yang tau kalo mereka akhirnya bisa bertemu lagi.
......................
..."Komunikasi itu penting, Jauh jarak namun dekat dihati." - E H -...
...----------------...
Maaf part awal masih banyak typo dan kata-kata belum rapi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 282 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Aku kalo sekali di cuekin, sampai kapan pun gak akan deketin tuh cowok, Apalagi sampai dibentak, duh malu banget..
2023-07-02
0
Nadia Afriani
wkwkk🤣
2022-09-18
0
Nadia Afriani
nice
2022-09-18
0