Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak

Pagi hari keesokan harinya.

Pukul 03.58 pagi, Fandi membuka matanya perlahan. Jam biologisnya selalu teratur, membuatnya terbangun tepat pukul 4 pagi. Kebiasaan baik yang telah terbentuk sejak kecil.

Suasana masih gelap, namun ayam jago dan sudah mengeluarkan suara mereka, menambah melodi di pagi hari. Dia menatap langit-langit kamar, mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. Saat hendak membalikkan badan untuk sekadar meregangkan tubuh, pandangannya menangkap bayangan samar di ujung tempat tidur.

Sosok pria paruh baya berdiri di sana. Wajahnya serius, kening berkerut seperti sedang berpikir keras. Tangannya diangkat, menunjukkan gerakan seperti hendak menepuk sesuatu.

Itu adalah hantu bapak-bapak yang sebelumnya. Fandi menahan napas, terutama saat merasa tatapan mereka seolah bertemu. Dia segera mengalihkan pandangannya dan berkata santai, "Wah, udah jam 4 aja ternyata." Nada suaranya terdengar santai.

Matanya sengaja diarahkan ke jam dinding yang berada tepat di belakang sosok itu, berharap si hantu tidak menyadari bahwa dia sebenarnya melihatnya. 'Gue nggak lihat, nggak lihat,' gumamnya dalam hati.

Fandi merasa sangat dianiaya. 'Kenapa sih pagi-pagi begini udah nongol. Perasaan dulu di kos lama juga ada hantunya, tapi nggak separah ini...' Fandi menghela napas dalam hati.

Fandi bangkit perlahan dari tempat tidur, mengabaikan kehadiran hantu itu. Namun, dia tidak menyangka pria paruh baya itu akan bersuara, “Aneh, masih ada anak seperti ini zaman sekarang. Nggak perlu dibangunin buat sholat subuh.”

Fandi hampir tersedak napasnya sendiri mendengar komentar itu. Sebuah dengusan kecil keluar dari hidungnya, tapi dia menahan diri untuk tidak merespons. 'Siapa yang lo anggap remeh? Fandi nih, bos! Lima waktu nggak pernah bolong,' jawabnya dalam hati dengan bangga.

Meskipun begitu, dia tetap memasang ekspresi datar. Dengan gerakan kaku, dia meraih handuk, berjalan keluar kamar, dan menuju kamar mandi yang letaknya di ujung koridor, melewati dapur.

Saat melewati dapur, langkahnya terhenti tiba-tiba.

Di sana, seorang wanita bergaun kuning berdiri membelakanginya. Dia tampak tenang, memotong bawang di atas meja dapur. Suara pisau menghantam talenan terdengar ritmis dan pelan, seperti sebuah irama yang anehnya menyenangkan telinga.

Fandi yang sudah lewat terpaku. 'Nggak mungkin... Itu pasti cuma bayangan gue!' pikirnya dengan bingung.

Dia memutuskan untuk berjalan mundur perlahan, melihat dapur untuk kedua kalinya. Berharap apa yang dilihatnya hanyalah efek mata setengah mengantuk.

Dia memiringkan kepala untuk melirik. Wanita itu memang ada di sana. Gerakannya sama, terus memotong bawang merah tanpa sedikit pun menoleh. Namun dia tidak memiliki kaki.

Fandi merasakan bulu kuduknya berdiri.

Hantu? Memasak? What the hell!!

“Huuh.....” Fandi menghela napas, sebelum maju untuk memastikan ketiga kalinya.

Namun kali ini dia berhenti cukup lama, bahkan menolehkan kepalanya seperti burung. Tapi wanita itu tetap ada, dengan gerakan memotong yang sama monoton.

Fandi segera mengenali hantu wanita itu sebagai hantu yang disebut Dimas kemarin!

“Gue nggak lihat apa-apa,” bisiknya sambil berhenti di tempat. Tiba-tiba, bahunya ditepuk dari belakang.

“Fan! Ngapain lo jalan mundur kayak robot?” suara itu terdengar malas, diikuti bau napas orang baru bangun.

"Aduh." Fandi melonjak, hampir duduk lemas. Dia berbalik dengan cepat. “Ya Allah, Raka! Bikin sport jantung aja pagi-pagi!”

“Lah, kenapa lo? Aneh, ketakutan kayak habis liat setan,” kata Raka sambil mengucek matanya yang masih setengah terpejam.

“Setan atau bukan, gue nggak tau. Tapi tadi, di dapur....” kata Fandi pelan sambil menunjuk ke arah dapur. Namun, saat mereka berdua melihatnya, dapur itu tampak kosong melompong.

Raka mengangkat alis. “Hah? Ada apa di dapur? Lo halu ya, Fan. Masih ngantuk?"

Fandi melirik lagi ke dapur, mengerutkan keningnya. “Iya, kayanya gitu,” bisiknya. Lagipula mana ada hantu sekuat itu disini. Bisa memegang pisau dan memotong rempah. Mungkin dia memang halu.

Raka tersenyum saat menepuk-nepuk pundak Fandi. “Udahlah, paling salah lihat. Kalau emang ada, suruh aja dia masak buat kita. Lumayan buat sarapan.”

Fandi mendengus dan tertawa kecil. “Mimpi aja kali lo. Yaudah, gue mau ke kamar mandi.”

Fandi menggelengkan kepala saat pergi. Dalam hatinya, dia tau apa yang dilihatnya memang ada. Tapi seperti biasa, lebih baik pura-pura bodoh daripada membuat masalah baru.

Sedikit yang diketahui Fandi, hantu wanita itu tidak pergi dan masih berada di dapur. Mendengar bahwa ada orang yang mau memakan masakannya, hantu itu tiba-tiba merasa bersemangat. Dengan cepat, dia mulai mempersiapkan bahan-bahan dan memasak dengan penuh perhatian. Dia memasak lebih bersemangat daripada biasanya.

Namun, tentu saja, Fandi tidak menyadarinya. Dia melangkah ke kamar mandi, mengabaikan hal-hal itu.

Di kos ini ada dua kamar mandi dan dua toilet terpisah. Meskipun bangunannya terlihat kurang menarik, fasilitas yang ada di dalamnya cukup lengkap. Dapur, kamar mandi, toilet, bahkan ruang sholat semuanya tersedia. Fandi sering merasa bahwa jika tempat ini mendapat renovasi, dengan segala fasilitas yang ada, uang yang dia miliki mungkin tidak akan cukup untuk menyewa tempat ini.

Uh, tentu saja penampilannya yang angker memudahkan Fandi untuk menyewa sekarang.

Setelah selesai sholat subuh berjamaah, Fandi dan Raka keluar dari ruang sholat. Tiba-tiba, Raka menghela napas panjang.

"Kenapa lo, Rak?" tanya Fandi. Berkat percakapan semalam, Fandi sekarang merasa lebih santai saat bicara dengan Raka dan yang lainnya.

Raka menggelengkan kepala. "Yah, sebenernya gue sering telat buat sholat subuh. Cuma sebulan terakhir gue bisa bangun pagi buat ibadah."

"Ya bagus dong," balas Fandi, sambil tersenyum.

"Bagus sih." Raka mengangguk. "Tapi gue ngerasa dibangunin terus, aneh banget."

Fandi terdiam, berpikir sejenak. Mungkinkah hantu bapak-bapak itu membangunkan seluruh anak kos untuk sholat subuh? Tapi Dimas dan Arief kan non-Muslim.

Fandi merasa ada yang ganjil.

Melihat Fandi terdiam, Raka melanjutkan ceritanya. "Awalnya sih gue juga nggak peduli. Tapi akhir-akhir ini gue denger suara anak kecil. 'Kak, bangun kak, kak bangun kak,' kayak alarm HP. Meski gue suka nonton anime yang banyak anak kecilnya, gue nggak sesuka itu sampe jadiin suara anak kecil buat alarm HP. Gue cari-cari juga nggak ketemu suara itu dari mana."

Fandi menghela nafas lega karena itu bukan hantu bapak-bapak di ruangannya.

Tapi tunggu, bukankah artinya ada hantu lain di kosan ini. Wajah Fandi menjadi pucat seperti terkena sembelit.

Fandi menatap langit yang mulai menunjukkan sinar oranye saat bertanya, "Lo nggak ngomong ke Kang Roy?"

Dari percakapan semalam, Fandi tahu kalau Kang Roy adalah orang yang tidak takut hantu. Dari obrolan kemarin, ternyata Kang Roy adalah mantan tentara yang pensiun dini karena cedera. Namun Fandi tidak tau apakah Kang Roy sudah sering berurusan dengan hal-hal gaib seperti ini. Yang jelas, Kang Roy terlihat dapat diandalkan.

Raka menggelengkan kepala. “Tadinya sih mau bilang. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kayaknya nanti aja deh kalau gangguannya makin aneh. Lagian, nggak enak juga ngomong masalah sepele gini.”

Fandi mengangguk. “Ada benernya. Lagian ini juga bawa dampak positif buat lo. Kalau makin parah, baru cari solusi.”

Mereka berdua terdiam sejenak, menyaksikan matahari perlahan terbit, memberikan kehangatan di pagi yang masih sejuk. Fandi masih merasa aneh dengan apa yang baru saja dibicarakan, tapi dia tahu, lebih baik fokus pada hal-hal lain. Seperti bagaimana cara bertahan hidup di kosan yang ternyata penuh dengan misteri.

Raka kemudian menyeringai. "Eh, tapi, Fan, lo udah liat 'dia' lagi belum? Itu, hantu di dapur, cewek apa cowok?"

Fandi tiba-tiba menatap Raka, sedikit kaget. "Apa Lo... Lihat sesuatu yang aneh?" tanyanya dengan tidak percaya.

Raka tertawa kecil. "Hah, nggak mungkin lah. Cuma nanya aja. Kalau lo liat, ceritain dong! Kita di kos-kosan kaya gini, cerita horornya dikit banget, kali aja lo bisa nambahin."

Fandi menahan kesal. “Lo jangan aneh-aneh, deh. Gue ini orangnya penakut.”

Raka tertawa lebih keras. “Yaudah deh, gue mau ambil air terus tidur lagi, ada kelas nanti siang di UM.”

Begitulah, Raka berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum dan Fandi hanya mengamati dari kejauhan. Fandi akan pergi ke kamarnya saat suara langkah kaki tergesa-gesa menghentikannya.

Itu Raka, keluar dengan langkah terburu-buru, tampak seperti baru saja melihat sesuatu yang mengejutkan. Dia mendekati Fandi, meletakkan kedua tangannya di bahu Fandi, dan menatapnya dengan ekspresi bingung.

"Fan, siapa... bukan, kenapa ada masakan hangat di dapur?" kata Raka, suaranya bergetar.

“Hah?” Fandi tersentak, bingung dengan pertanyaan Raka. “Nggak tau, mungkin... mungkin Bu Asti yang masak?”

Raka menggeleng cepat. "Bu Asti cuma nyuruh, Alya, anaknya, buat nganterin sarapan. Itu pun nggak setiap hari, dan mereka biasanya langsung ngasih ke kamar, bukan naruh di dapur kayak gitu."

Fandi mulai mencerna ucapan Raka. "Gimana bisa ada masakan di dapur kalau bukan Bu Asti?"

"Makanya..." Hening sejenak, lalu Raka melihat Fandi dengan teror dimatanya, "Bukannya lo tadi bilang ada orang di dapur lagi potong rempah? Fan, siapa itu?" Raka berbisik ragu-ragu.

Fandi menutup mulutnya rapat-rapat. Tanpa sengaja, dia melirik ke dapur dan melihat sosok wanita yang dikatakan Raka melayang di jendela dapur, melambaikan tangannya seolah menyapa.

"Janc..." Fandi terkejut, hampir mengumpat, namun mereka tiba-tiba mendengar suara berdehem.

"Rak, gue udah kenal lo lama, tapi gue nggak tau lo punya hobi ginian." Fandi menoleh, dan Raka juga melihatnya melewati bahu Fandi, menemukan Dimas dan Arief berdiri tidak jauh dari mereka.

Raka kemudian sadar akan posisinya dan Fandi yang cukup mencolok. Wajahnya langsung berubah buruk, dan dia segera melepaskan Fandi. "Ngaco. Gue normal, anjir."

"Tenang, Rak, nggak apa-apa. Gue akhirnya tau selera lo ternyata kaya Fandi." Arief tersenyum nakal, sambil menganggukkan kepalanya.

"Pantesan nggak pernah godain gue dan Arief. ternyata lo punya selera kayak gitu," ujar Dimas dengan nada menggoda.

Raka memutar matanya, tidak bisa menahan senyum kecut. "Ngomong sekali lagi, gue sita keyboard lo. Dan Rif, bayar utang lo!"

"Dih, si anjir personal," kata Arief tidak terima. "Minggu depan lah Rak, baru cair gue."

Raka mengangguk paham. Kemudian Dimas yang tidak ingin keyboard pinjamannya di ambil kembali berkata, "jadi kenapa kalian pagi-pagi."

"Mesra gundulmu," kata Fandi jengkel, tapi ada sedikit ragu dan takut dalam matanya. "Tanya si Raka, deh."

"Hmm, cuma... Ya udah lah, kalian juga bantu ngasih ide. Kali aja tau," Raka menarik napas sejenak, kemudian melanjutkan, "Jadi, pagi tadi si Fandi bilang ada yang masak di dapur. Gue sih nggak liat apa-apa ya. Terus setelah itu kita mandi, sholat. Gue juga ngobrol dikit sebelum balik ke kamar. Lo juga tau kalau gue sering bawa air minum sebelum tidur. Eh, baru juga gue ke dapur ambil minum, ada masakan anget disana. Itu jelas bukan Bu Asti, karena biasanya dia cuma nganterin ke kamar kan, terus gue keinget kata-kata Fandi dan... Seperti yang Lo liat tadi, gue nanya."

Dimas mengernyit, mencoba mencerna penjelasan Raka. "Hah, Lo gimana sih Rak. Masa lupa. Mungkin aja itu bikinan Kang Roy. Biasanya juga gini, kan."

"Ah," Raka terperangah. Memang, Kang Roy biasanya memasak pagi atau meletakkan bahan di dapur untuk mereka. "Ini si Fandi sih. Gara-gara dia bilang lihat hal aneh sebelum sholat, gue jadi parno sendiri."

Fandi melihat dengan kaku. "Kok nyalahin gue. Orang bangun tidur wajar kali ngehalu."

Tanpa banyak bicara lagi, Dimas dan Arief langsung melangkah menuju dapur bersama yang lainnya. Arief adalah orang pertama yang mulai mengambil piring, dan lauk pauk yang ada di meja.

"Yok, lah, Gass. Kita makan aja. Kalau itu masakan Kang Roy, kita nggak bakal rugi," kata Dimas sambil menyendok nasi ke piringnya.

Arief mengangguk. "Makanan gratis? Siapa yang nolak?" katanya sambil tersenyum lebar.

Raka mengangkat bahu dan akhirnya ikut mengambil piring. "Lihat pembalasan gue karena udah bikin gue kaget." Katanya sambil mengambil banyak makanan.

Fandi hanya menyaksikan mereka, setelah memikirkannya, dia akhirnya ikut bergabung. "Ada benernya. Sarapannya juga kelihatan enak."

Ketiganya duduk mengelilingi meja dapur, menikmati hidangan yang ada. Tanpa disadari, di sudut lain dapur, sosok wanita yang di lihat Fandi tadi masih disana. Mengawasi dengan senyum bahagia saat mereka makan. Makanan itu memang makanan manusia, dan bukan makanan jadi-jadian. Setelah melahap makanan, mereka memutuskan untuk pergi. Fandi terdiam lama di dapur sebelum mengikuti mereka.

Saat berdiri sendiri di dapur, Fandi menunduk dan berkata, "Makasih buat sarapannya, Mbak. Masakannya enak." lalu keluar dengan tergesa-gesa.

Tidak melihat ada hantu wanita itu terkejut karena kata-katanya.

Episodes
1 Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2 Chapter 2 : Penghuni Lain
3 Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4 Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5 Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6 Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7 Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8 Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9 Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10 Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11 Chapter 11 : Ritual Dimulai
12 Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13 Chapter 13 : Bersikap Aneh
14 Chapter 14 : Pena Antik
15 Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16 Chapter 16 : Dua Penjaga
17 Chapter 17 : Dikejar-kejar
18 Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19 Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20 Chapter 20 : Berhasil Lolos
21 Chapter 21 : Parti atau Parto?
22 Chapter 22 : Bagian Tengah
23 Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24 Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25 Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26 Chapter 26 : Calon Suami
27 Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28 Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29 Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30 Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31 Chapter 31 : Keberangkatan
32 Chapter 32 : Permisi, Paket...
33 Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34 Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35 Chapter 35 : Senior
36 Chapter 36: Kenan Anji
37 Chapter 37 : Keanehan Kenan
38 Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39 Chapter 39 : Mimpi Buruk
40 Chapter 40 : Bangun
41 Chapter 41 : Tayangga
42 Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43 Chapter 43 : Penawaran
44 Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45 Chapter 45 : Nuhdin
46 Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47 Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48 Chapter 48 : Dimas Kembali
49 Chapter 49 : Jayden
50 Chapter 50 : Tawaran
51 Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52 Chapter 52 : Kunti Nangis?
53 Chapter 53 : Latihan Jayden
54 Chapter 54 : Wilhelmina
55 Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56 Chapter 56 : Terror Night
57 Chapter 57 : Noni Belanda
58 Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59 Chapter 59 : Lolos
60 Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61 Chapter 61 : Parto In Action
62 Chapter 62 : Di mata Jayden
63 Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64 Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65 Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66 Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67 Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68 Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69 Chapter 69 : Ryan
70 Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71 Chapter 71 : Bu Asti?
72 Chapter 72 : Mantra Jawa
73 Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2
Chapter 2 : Penghuni Lain
3
Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4
Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5
Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6
Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7
Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8
Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9
Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10
Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11
Chapter 11 : Ritual Dimulai
12
Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13
Chapter 13 : Bersikap Aneh
14
Chapter 14 : Pena Antik
15
Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16
Chapter 16 : Dua Penjaga
17
Chapter 17 : Dikejar-kejar
18
Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19
Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20
Chapter 20 : Berhasil Lolos
21
Chapter 21 : Parti atau Parto?
22
Chapter 22 : Bagian Tengah
23
Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24
Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25
Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26
Chapter 26 : Calon Suami
27
Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28
Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29
Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30
Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31
Chapter 31 : Keberangkatan
32
Chapter 32 : Permisi, Paket...
33
Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34
Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35
Chapter 35 : Senior
36
Chapter 36: Kenan Anji
37
Chapter 37 : Keanehan Kenan
38
Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39
Chapter 39 : Mimpi Buruk
40
Chapter 40 : Bangun
41
Chapter 41 : Tayangga
42
Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43
Chapter 43 : Penawaran
44
Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45
Chapter 45 : Nuhdin
46
Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47
Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48
Chapter 48 : Dimas Kembali
49
Chapter 49 : Jayden
50
Chapter 50 : Tawaran
51
Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52
Chapter 52 : Kunti Nangis?
53
Chapter 53 : Latihan Jayden
54
Chapter 54 : Wilhelmina
55
Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56
Chapter 56 : Terror Night
57
Chapter 57 : Noni Belanda
58
Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59
Chapter 59 : Lolos
60
Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61
Chapter 61 : Parto In Action
62
Chapter 62 : Di mata Jayden
63
Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64
Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65
Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66
Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67
Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68
Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69
Chapter 69 : Ryan
70
Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71
Chapter 71 : Bu Asti?
72
Chapter 72 : Mantra Jawa
73
Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!