Chapter 16 : Dua Penjaga

Fandi melangkah perlahan di belakang Blue, kucing oren yang memimpin mereka menyusuri lorong gelap. Sesekali, dia melirik ke arah Raka dan Arief yang masih terlihat canggung setelah insiden sebelumnya. Suasana terasa berat, seperti udara dingin yang merayap masuk tanpa diundang.

“Fan,” bisik Raka, mencoba mencairkan suasana, “lo yakin kita nggak salah jalan? Gue udah kayak jalan di game horror level terakhir ini.”

Arief menyenggol Raka sambil terkikik kecil. “Gue rasa kita harusnya bawa popcorn. Kalau ada jumpscare, minimal kita bisa sambil makan.”

Fandi mendengus kecil, tapi tidak menoleh. “Kalau kalian masih pada becanda, itu tandanya kalian belum cukup takut. Tunggu aja, nanti kalian bakal kangen suasana kos.”

Blue tiba-tiba berhenti dan menoleh sekilas, matanya yang biru tajam bersinar samar di kegelapan. Raka dan Arief langsung terdiam, tidak berani melanjutkan lelucon mereka.

Namun, di balik bayangan, seorang gadis muda berusaha menahan napas saat mengintai mereka. Alya, anak Kang Roy, sedang mengutuk rasa penasarannya. Awalnya, dia hanya ingin tahu apa yang terjadi saat mendengar keributan di kos-kosan belakang rumah. Tapi semakin lama dia mengikuti, semakin dia merasa bahwa ini adalah ide buruk.

Ketika mereka akhirnya tiba di ujung lorong, Blue berhenti di depan sebuah pintu besar yang samar-samar bersinar biru pucat. Tiba-tiba, Alya tanpa sengaja menginjak ranting yang patah. Suara kecil itu memecah keheningan.

Jelas mereka tadi berada di lorong kamar kos, bagaimana bisa ada ranting.

“Siapa di sana?” Fandi segera menoleh ke arah asal suara. Raka dan Arief juga bersiaga, meski jantung mereka berdegup kencang.

Dari balik bayang-bayang, Alya muncul dengan wajah takut-takut. “Eh... Ini gue mas. Gue cuma penasaran. Kalian ngapain sih jalan sampai ke tempat kayak gini?” Dan sejak kapan ada tempat semacam ini di dekat rumahnya!!

Raka menghela napas lega. “Ya ampun, Alya. Lo ngikutin kita? Ini bukan urusan anak kecil, tahu!”

“Gue bukan anak kecil!” protes Alya, meski suaranya sedikit bergetar. Dia sudah duduk dikelas dua SMA. Meskipun dia memang lebih kecil dari kakak yang menyewa kos rumahnya, dia masih bisa dianggap remaja.

Fandi memutar bola matanya. “Denger, Alya, ini bukan tempat buat main-main. Balik sana sebelum—”

Suara gemuruh tiba-tiba terdengar, memotong ucapan Fandi. Tanah di bawah mereka bergetar, dan dari balik pintu besar itu muncul dua sosok raksasa. Makhluk itu tingginya jauh lebih besar dari rumah, tubuh mereka menyerupai manusia tapi dengan kulit kasar seperti batu dan mata menyala merah.

“Penjaga gerbang…” bisik Blue, suaranya kini serius.

Raka dan Arief langsung mundur selangkah, wajah mereka pucat pasi, mereka bersembunyi dibelakang Fandi. Bahkan Alya mendekat dan ikut bersembunyi. “Fan, itu... itu apaan?!”

Fandi yang dijadikan tameng: .....

Lebih baik dia melempar mereka menjadi makanan agar dia bisa masuk dengan leluasa.

Fandi mengangkat tangan untuk menenangkan mereka, meski jantungnya juga berdegup kencang. Dia menatap kedua makhluk itu yang kini menunduk menatap mereka, suara mereka menggema keras.

“SIAPA YANG BERANI MENDATANGI GERBANG BARAT?” tanya salah satu penjaga dengan suara berat, seperti batu yang bergesekan.

Blue melangkah maju dengan angkuh, lalu mengeong pelan sebelum berbicara dalam bahasa yang aneh dan tidak dimengerti oleh Fandi maupun yang lainnya. Kedua penjaga itu memperhatikan Blue, lalu mengangguk pelan, meski wajah mereka tetap tampak tidak ramah.

“Blue ngomong apa?” bisik Arief, mencoba menyembunyikan rasa takutnya.

"Meminta izin agar kita bisa masuk," jawab Fandi dengan tenang sambil memperhatikan Blue, berusaha menenangkan mereka.

Raka melihat Fandi dengan heran. "Kok lo ngerti, Fan?" Tapi Fandi hanya diam, fokus pada situasi didepannya.

Alya yang baru saja melihat penjaga itu, gemetar ketakutan, bersembunyi di belakang Raka. “Aku nggak mau ikut lagi... ini serem banget.”

Salah satu penjaga menatap Alya tajam, dia sepertinya mendengar kata-kata Alya. Dia kemudian berkata, “MANUSIA KECIL ITU TIDAK DIIJINKAN MASUK. DIA TIDAK MEMILIKI TUJUAN.” suaranya seperti guntur yang menggema di dalam dada.

Alya langsung memandang Fandi dengan panik. “Kak Fandi, tolong dong! Jangan biarin gue ditinggal!”

Fandi : ....

Dasar cewek! Kenapa selalu berubah-ubah sih.

Fandi menghela nafas, berusaha tetap tenang meski kekhawatirannya semakin besar. “Mereka bisa antar lo keluar, yakin mau tetep ikut gue?” tanyanya, masih bingung dengan keputusan Alya.

Alya terdiam, gelisah. Daripada diantar oleh dua raksasa hitam kembali ke asalnya, dia lebih memilih bersama kakak-kakak penyewa kos, setidaknya dia tahu bahwa mereka akan menjaganya. Setelah beberapa detik berpikir, dia mengangguk dengan kuat.

Fandi menghela napas, menatap Blue. "Kita bawa dia. Lo juga lihat kalau ni anak lebih takut sama mereka daripada lo."

Blue menoleh sekilas ke arah Alya, mendengus, lalu berbicara lagi dengan penjaga gerbang. Setelah beberapa saat, salah satu penjaga mengangguk dan memberi isyarat agar mereka lewat.

“Jangan membuat masalah, manusia,” gumam salah satu penjaga dengan suara rendah, seakan-akan suara itu berasal dari kedalaman bumi, sebelum mereka melangkah ke dalam pintu bercahaya biru itu. Langkah Fandi berhenti sejenak ketika mendengar suara itu, tapi segera melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa.

Ketika mereka semua melangkah masuk, Fandi berbisik kepada Alya. “Ini terakhir kalinya lo ikut-ikutan. Kalau nggak, gue serius nggak bakal tanggung jawab.” Lalu dia mengeluarkan sebuah kertas kecil dan memberikannya pada Alya. "Simpen, jangan sampai ilang. Kalau ini ilang, lo mungkin nggak bisa balik ke Ayah sama Ibu lo."

Alya segera mengambil jimat itu, mengangguk lemah, terlalu takut untuk menjawab. Tangan kecilnya menggenggam erat kertas itu, berharap itu bisa melindunginya.

—————

Setelah melewati gerbang, Raka, Arief, dan Alya dibuat takjub. Bahkan Mbak Lili dan Dek Anis merasa sangat terkesan dengan lingkungan baru ini. Tempat yang mereka masuki terlihat luar biasa modern, namun penduduknya masih ada yang mengenakan kebaya atau kemben, pakaian tradisional yang memberi nuansa khas dari dunia yang sangat berbeda.

Blue adalah yang terakhir melangkah masuk. Setelah melewati gerbang, Blue tiba-tiba berubah menjadi seorang gadis cantik dengan telinga dan ekor kucing, penampilannya yang begitu menawan membuat Raka, yang merupakan penggemar anime, hampir tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Blue melirik tajam ke arah Raka, "Fan, awasi temen lo."

Fandi menjadi bingung, setelah melihat tatapan antara Arief dan Raka, akhirnya mengerti. Dengan cepat, dia menarik Raka dan berbisik, "Blue nggak suka diliatin. Terakhir kali, paman di desa gue kehilangan kedua matanya gara-gara liatin Blue."

Raka langsung menarik napas dingin, terkejut mendengar cerita itu. "Maaf." Dia mengangguk dengan cepat, lalu mengalihkan pandangannya, berusaha untuk tidak menatap Blue lagi.

"Oke, Blue, kita harus nemuin jejak temen gue." tanya Fandi dengan tenang. Berbeda dengan Raka dan yang lainnya yang terpesona oleh pemandangan dunia baru ini, Fandi sudah cukup sering melihat dunia gaib yang lebih megah dan menakjubkan.

Blue menggelengkan kepala. "Nggak semudah itu." Suaranya terdengar lebih serius. "Lagipula, lo juga udah jadi buronan di dunia ini, jadi pencarian kita bakal jauh lebih sulit."

Fandi hanya mengangguk. Blue memang sudah mengenalnya cukup lama dan mengetahui segala hal tentang dirinya, termasuk statusnya sebagai buronan yang kini tengah diburu di dunia gaib. Meskipun demikian, Blue tetap mau membantunya.

Raka, yang masih kebingungan, mengerutkan kening. "Buronan? Itu serius, Fan?" Dia mengedipkan mata berkali-kali, mencoba mencerna apa yang baru saja didengar. "Kenapa lo nggak bilang soal ini?"

Arief yang berdiri di sebelah Raka juga ikut bertanya. "Lah, kok lo bisa jadi buronan di dunia gaib, Emang apa yang udah Lo lakuin?"

Alya, yang sejak tadi masih tertegun, akhirnya berbicara, "Buronan? Mas Fandi sebenarnya siapa?" matanya sedikit takut, namun juga penasaran. Dia mulai merasa ada sesuatu yang lebih besar di balik kejadian ini.

Mbak Lili yang mendengarnya dari kejauhan tampak semakin penasaran. "Buronan dunia gaib? Waduh, coba aja Pak Kromo tau, pasti makin seru," gumamnya, sambil melirik Fandi dengan penuh tanda tanya.

Sementara itu, Dek Anis yang sedikit lebih dekat dengan Fandi menatapnya dengan mata berbinar, seolah baru saja mengetahui sesuatu yang mengagumkan. "Wow, Kak Fandi ternyata keren banget!" katanya dengan semangat. "Buronan di dunia gaib." Mata Dek Anis memiliki bintang-bintang penuh kekaguman.

Fandi terdiam, tidak bisa berkata-kata.

Apakah kalian salah mengartikan kata buronan.

Fandi merasa tidak berdaya dihatinya. Dia tidak menjawab mereka, Fandi hanya berkata, "Itu bukan hal baik. Jangan dipikirin untuk saat ini," jawabnya santai. "Lagipula hidup di dunia ini emang nggak sesimpel yang kalian kira."

Blue yang melihat mereka semua mulai bertanya-tanya hanya menghela napas, matanya menatap Fandi dengan ragu. "Udah deh, jangan banyak tanya dulu. Kita harus gerak cepat." Setelah itu, Blue memberikan topeng hitam yang dapat menyamarkan keberadaan mereka sebagai hantu.

"Topeng ini cuma sementara, jadi kita nggak bakal kelihatan seperti manusia," ujar Blue. "Kalau kita terus ngomongin ini, bisa-bisa kita jadi sasaran. Jadi ayo tenang dan segera pergi."

Fandi mengenakan topeng itu, dan segera memberi isyarat agar yang lainnya juga ikut. Semua pun mengenakan topeng serupa, dan mereka pun mulai melangkah dengan hati-hati. Raka, Arief, dan Alya tetap terheran-heran, sedangkan Mbak Lili dan Dek Anis semakin penasaran dengan apa yang akan mereka hadapi di dunia gaib ini.

Dengan langkah hati-hati, mereka melangkah ke tempat yang lebih dalam, menuju tempat yang lebih aman, namun tetap berusaha tidak mengundang perhatian.

Episodes
1 Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2 Chapter 2 : Penghuni Lain
3 Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4 Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5 Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6 Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7 Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8 Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9 Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10 Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11 Chapter 11 : Ritual Dimulai
12 Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13 Chapter 13 : Bersikap Aneh
14 Chapter 14 : Pena Antik
15 Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16 Chapter 16 : Dua Penjaga
17 Chapter 17 : Dikejar-kejar
18 Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19 Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20 Chapter 20 : Berhasil Lolos
21 Chapter 21 : Parti atau Parto?
22 Chapter 22 : Bagian Tengah
23 Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24 Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25 Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26 Chapter 26 : Calon Suami
27 Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28 Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29 Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30 Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31 Chapter 31 : Keberangkatan
32 Chapter 32 : Permisi, Paket...
33 Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34 Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35 Chapter 35 : Senior
36 Chapter 36: Kenan Anji
37 Chapter 37 : Keanehan Kenan
38 Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39 Chapter 39 : Mimpi Buruk
40 Chapter 40 : Bangun
41 Chapter 41 : Tayangga
42 Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43 Chapter 43 : Penawaran
44 Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45 Chapter 45 : Nuhdin
46 Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47 Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48 Chapter 48 : Dimas Kembali
49 Chapter 49 : Jayden
50 Chapter 50 : Tawaran
51 Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52 Chapter 52 : Kunti Nangis?
53 Chapter 53 : Latihan Jayden
54 Chapter 54 : Wilhelmina
55 Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56 Chapter 56 : Terror Night
57 Chapter 57 : Noni Belanda
58 Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59 Chapter 59 : Lolos
60 Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61 Chapter 61 : Parto In Action
62 Chapter 62 : Di mata Jayden
63 Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64 Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65 Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66 Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67 Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68 Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69 Chapter 69 : Ryan
70 Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71 Chapter 71 : Bu Asti?
72 Chapter 72 : Mantra Jawa
73 Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2
Chapter 2 : Penghuni Lain
3
Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4
Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5
Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6
Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7
Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8
Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9
Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10
Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11
Chapter 11 : Ritual Dimulai
12
Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13
Chapter 13 : Bersikap Aneh
14
Chapter 14 : Pena Antik
15
Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16
Chapter 16 : Dua Penjaga
17
Chapter 17 : Dikejar-kejar
18
Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19
Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20
Chapter 20 : Berhasil Lolos
21
Chapter 21 : Parti atau Parto?
22
Chapter 22 : Bagian Tengah
23
Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24
Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25
Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26
Chapter 26 : Calon Suami
27
Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28
Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29
Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30
Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31
Chapter 31 : Keberangkatan
32
Chapter 32 : Permisi, Paket...
33
Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34
Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35
Chapter 35 : Senior
36
Chapter 36: Kenan Anji
37
Chapter 37 : Keanehan Kenan
38
Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39
Chapter 39 : Mimpi Buruk
40
Chapter 40 : Bangun
41
Chapter 41 : Tayangga
42
Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43
Chapter 43 : Penawaran
44
Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45
Chapter 45 : Nuhdin
46
Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47
Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48
Chapter 48 : Dimas Kembali
49
Chapter 49 : Jayden
50
Chapter 50 : Tawaran
51
Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52
Chapter 52 : Kunti Nangis?
53
Chapter 53 : Latihan Jayden
54
Chapter 54 : Wilhelmina
55
Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56
Chapter 56 : Terror Night
57
Chapter 57 : Noni Belanda
58
Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59
Chapter 59 : Lolos
60
Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61
Chapter 61 : Parto In Action
62
Chapter 62 : Di mata Jayden
63
Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64
Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65
Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66
Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67
Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68
Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69
Chapter 69 : Ryan
70
Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71
Chapter 71 : Bu Asti?
72
Chapter 72 : Mantra Jawa
73
Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!