Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan

Fandi dan yang lainnya tidak tahu bahwa Dimas sedang mendapat "pelajaran tambahan" dari dosen hantu. Mereka sekarang berdiri di depan sebuah hutan yang suram dan gelap, pohon-pohonnya menjulang tinggi dengan bayangan pekat yang seolah bergerak sendiri.

Sementara itu, Blue dan Fandi masih bicara dengan Mbah Semi, hantu wanita yang sekilas mirip kuntilanak.

Mbah Semi mengenakan gaun merah panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Rambut putihnya tertata rapi, memberikan kesan anggun. Sayangnya, suara seraknya yang berat, seperti orang kurang minum, langsung merusak kesan itu.

Setelah beberapa saat, Mbah Semi mengangguk dengan enggan, lalu melayang mendekati Fandi.

"Fandi, apa kau membawa benda yang familiar dengan temanmu itu? Atau hal yang ditinggalkan si hantu?" tanyanya dengan suara rendah dan menyeramkan.

"Barang Hantu itu ada, tapi aku akan menggunakan itu untuk berurusan dengannya. Ada Barang temanku, sebentar." Fandi segera menggeledah sakunya. Tangannya meraba-raba hingga akhirnya menemukan headset Dimas. Fandi cukup sering melihat benda ini dipakai dimas meski bukan barang favoritnya. Fandi memberikannya pada Mbah Semi. "Ini Mbah."

Tanpa peringatan, Mbah Semi tiba-tiba memasukkan headset itu ke dalam mulutnya.

Raka, Arief, dan Alya hanya bisa menatap dengan ekspresi campuran antara jijik dan ngeri.

"Ih, Fan. Nenek itu kenapa?" tanya Arief bingung, suaranya sedikit bergetar.

Raka menghela napas panjang. "Kayaknya si Dimas harus beli headset baru, deh," ujarnya dengan nada pasrah, tapi matanya menyiratkan tawa tertahan.

"Ih, Mas Raka. Jangan gitu dong," kata Alya dengan nada konyol, "Kapan lagi Mas Dimas bisa pakai headset rasa liur hantu nenek-nenek?"

Mereka bertiga langsung tertawa, sementara Fandi hanya menggelengkan kepala dengan tingkah mereka. Untung Mbah Semi tidak terlihat marah atau kesal.

"Mbah Semi sedang mencari Dimas dengan menelusuri auranya," jelas Fandi menghentikan gurauan mereka. "Kalau lo belum tahu, setiap makhluk hidup punya yang namanya aura. Entah makhluk yang punya daging atau makhluk astral. Nah, Mbah Semi ini penjaga Hutan Bayangan, dan dia punya kemampuan pelacakan. Tapi, dia cuma bisa melacak sesuatu kalau dia tahu auranya dulu. Aura itu bakal menempel pada benda yang sering bersentuhan sama pemiliknya, makanya gue bawa headset ini."

Arief masih memasang ekspresi ragu. "Tapi… kenapa harus dimakan, sih? Gak bisa ditempel ke dahi gitu?"

"Atau kayak anjing pelacak aja, dideketin ke hidung terus dicium dulu?" tambah Raka sambil terlihat berpikir.

Alya berusaha menahan tawa, tapi gagal. "Bayangin kalau ternyata headset nya dibalikin ke Mas Fandi, bukannya headset itu bakal jadi headset gaib!"

Raka dan Arief langsung terkekeh. "Nah, bener juga. Terus si Dimas pakai headset gaib, tiba-tiba headset-nya ngomong sendiri, 'Bayar Utangmu!'"

Fandi menghela nafas. "Aduh, Lo semua jangan banyak main-main," katanya, tapi sudut bibirnya ikut terangkat, menahan tawa.

Sementara mereka bercanda, Mbah Semi sudah mulai melayang masuk ke dalam hutan, headset masih dalam mulutnya. Suasana kembali mencekam.

"Sepertinya Mbah Semi sudah menemukan jejak Dimas. Ayo, kita ikutin Mbah Semi," ujar Fandi akhirnya. Meskipun dia tau headset itu tidak akan pernah dikembalikan.

Mereka bertiga langsung berhenti tertawa dan mengikuti langkah Fandi masuk ke dalam Hutan Bayangan.

Hutan Bayangan adalah jaringan hutan gaib yang tersebar di seluruh Nusantara, menghubungkan kerajaan-kerajaan gaib yang ada di setiap pulau. Hutan ini tidak hanya menjadi penghubung antara kerajaan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana transportasi unik yang memungkinkan perjalanan antar pulau atau kota menjadi jauh lebih cepat.

Di dalam Hutan Bayangan, waktu dan ruang bekerja dengan cara yang berbeda. Seseorang dapat memasuki hutan dari satu titik di pulau tertentu, lalu keluar di titik yang sama sekali berbeda di pulau lain. Namun, perjalanan ini tidak semudah kelihatannya. Hutan Bayangan dipenuhi kabut tebal yang berubah-ubah, suara-suara aneh yang bergema dari bayangan pepohonan, serta makhluk-makhluk gaib yang bersemayam di dalamnya. Beberapa ramah, beberapa tidak.

Tanpa pemandu, seseorang bisa dengan mudah tersesat di dalam hutan ini, berputar-putar tanpa arah hingga akhirnya tersedot ke dalam ruang antara dunia, tempat di mana mereka mungkin tidak akan pernah bisa kembali. Bahkan para penghuni kerajaan gaib sendiri harus berhati-hati ketika menggunakan jalur ini.

Hutan Bayangan juga melambangkan keterhubungan Nusantara dengan alam dan roh leluhur yang menjaga tanah ini. Setiap kerajaan gaib memiliki pintu masuk khusus ke hutan ini, yang dijaga ketat oleh pelindung gaib atau makhluk kuno. Mbah Semi adalah salah satunya. Mereka harus memastikan tidak ada penyusup atau makhluk jahat yang mencoba memanfaatkan jalur ini untuk kepentingan buruk mereka.

Beberapa cerita menyebutkan bahwa di titik-titik tertentu dalam Hutan Bayangan terdapat gerbang yang hanya terbuka pada waktu-waktu tertentu, seperti saat bulan purnama atau saat perayaan besar di dunia manusia. Gerbang-gerbang ini dipercaya membawa seseorang ke tempat-tempat yang bahkan tidak tercatat dalam peta dunia gaib, mungkin ke kerajaan yang telah lama hilang atau dimensi yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang benar-benar dipilih oleh roh-roh penjaga.

Fandi menjelaskan tentang Hutan Bayangan ketika mereka berjalan mengikuti Mbah Semi yang melayang di depan mereka. Hutan di sekeliling mereka terasa semakin pekat, dan udara di dalamnya lebih dingin dibandingkan di luar. Dia menjelaskan semua itu agar teman-temannya lebih berhati-hati.

Arief tiba-tiba berseru, "Bentar! Bukannya ini kayak gate teleportasi? Artinya, lo bisa ke Bali cuma dalam hitungan menit lewat sini gitu?!" Nada suaranya penuh ketidakpercayaan sekaligus iri.

Alya langsung menyambung, "Buset, kita kalau mau liburan ke sana mesti nabung berbulan-bulan, cari tiket promo, terus perjalanan lama di pesawat atau kapal. Mas Fandi mah tinggal ‘woosh’ dikit, eh udah nyampe pantai!"

Raka menggeleng-geleng sambil tidak percaya. "Ini parah sih. Kita di sini masih mikirin ongkos pulang kampung, dia udah bisa teleport gratis ke mana aja."

Fandi tertawa kecil. "Yaelah, iri amat. Tapi ya, emang enak sih. Mau ke Lombok, tinggal lewat sini. Mau ke Raja Ampat, nggak perlu tiket pesawat. Kalau kalian mau, gue bisa ajak keliling."

Arief langsung bersinar. "Serius?! Wah, kapan nih ke Bali? Gue pengen ke pantai!"

"Tunggu, tunggu. Gue cuma bercanda. Lagian gue udah nggak pernah pakai portal ini," kata Fandi mengangkat tangannya, menahan antusiasme mereka. "Apalagi manusia juga nggak bisa lama-lama di dunia gaib. Hutan Bayangan ini emang cuma keliatan kaya alat transportasi, tapi kalau lo nyasar atau kena efek waktu di sini, bisa bahaya. Belum lagi kalau ketemu penghuni kejam yang suka makan manusia."

Alya mengernyit. "Efek waktu? Maksudnya?"

Fandi menghela napas, kali ini nadanya lebih serius. "Gini, waktu di dunia gaib kadang nggak stabil. Lo bisa merasa kayak cuma beberapa jam di sini, tapi pas keluar, tiba-tiba udah beberapa hari berlalu di dunia manusia. Atau sebaliknya, lo merasa udah lama banget di dalam, padahal di luar baru berjalan beberapa menit."

Raka menelan ludah. "Gila, ini kayak efek masuk dunia lain di film-film."

Fandi mengangguk. "Kurang lebih. Makanya, kalau lo manusia biasa dan nggak punya perlindungan khusus atau pemandu, lama-lama di sini bisa bikin lo kehilangan orientasi waktu. Bahkan kalau sial, lo bisa nyasar ke tempat yang lebih dalam di dunia gaib dan nggak bisa balik."

Arief mundur selangkah. "Oke, kayaknya liburan ke Bali pake cara ini kita pikirin ulang aja, deh."

"Ngeri juga ada yang makan manusia." Kata Alya, tapi kemudian dia nyengir. "Tapi bukannya ada Mas Fandi yang bisa bantu kita lewatin tempat ini."

"Enak aja." Fandi tertawa. "Gue sendiri nggak bisa bantu, Lo nggak liat gue aja masih minta bantuan ke Mbah Semi. Kalau nggak, ya... bisa nyasar. Lagian gue juga nggak bisa sembarangan. Karena... yah, gue agak terkenal di dunia ini, gue jadi susah buat kemana-mana."

"Jadi nggak bisa, ya." Raka menghela napas panjang. "Gue makin sadar kalau dunia gaib tuh keren tapi juga serem. Tapi tetep aja, bayangin nggak harus kena macet kalau mau ke mana-mana…"

Arief menimpali, "Coba kalau Hutan Bayangan ini bisa dipake buat pergi kerja. Bayangin nggak perlu naik bus desek-desekan atau kena macet di jalan!"

Fandi menggeleng sambil tertawa. "Lo pikir ini apa? MRT supernatural?"

Mbah Semi yang sedari tadi diam tiba-tiba berhenti dan menoleh ke mereka. Suaranya serak tapi jelas. "Sudah cukup bercandanya. Aku sudah menemukan jejak anak itu. Kita harus bergerak ke bagian tengah lebih cepat untuk menemukan lokasi pastinya sebelum energinya melemah."

Mereka langsung menegang. Raka, Alya, dan Arief saling pandang sebelum akhirnya mengikuti Fandi yang mulai mempercepat langkahnya.

"Gue masih agak menyayangkan sih kalau bener bener nggak bisa gunain tiket gratis kaya gini. Ada di depan mata tapi tidak bisa digapai," gumam Arief dengan nada kecewa.

Raka menepuk punggungnya. "Santai, nanti kalau semua udah aman, kita culik Fandi buat jadi tukang ojek gaib kita."

Fandi yang mendengarnya hanya bisa menghela napas panjang. "Gue nyesel udah cerita ini ke kalian…"

Langkah mereka tidak berhenti, dan tatapan mereka menjadi lebih serius.

Terpopuler

Comments

Husein

Husein

ini termasuk pendaki yg tersesat saat naik gunung kah?

2025-02-17

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2 Chapter 2 : Penghuni Lain
3 Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4 Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5 Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6 Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7 Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8 Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9 Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10 Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11 Chapter 11 : Ritual Dimulai
12 Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13 Chapter 13 : Bersikap Aneh
14 Chapter 14 : Pena Antik
15 Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16 Chapter 16 : Dua Penjaga
17 Chapter 17 : Dikejar-kejar
18 Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19 Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20 Chapter 20 : Berhasil Lolos
21 Chapter 21 : Parti atau Parto?
22 Chapter 22 : Bagian Tengah
23 Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24 Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25 Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26 Chapter 26 : Calon Suami
27 Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28 Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29 Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30 Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31 Chapter 31 : Keberangkatan
32 Chapter 32 : Permisi, Paket...
33 Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34 Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35 Chapter 35 : Senior
36 Chapter 36: Kenan Anji
37 Chapter 37 : Keanehan Kenan
38 Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39 Chapter 39 : Mimpi Buruk
40 Chapter 40 : Bangun
41 Chapter 41 : Tayangga
42 Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43 Chapter 43 : Penawaran
44 Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45 Chapter 45 : Nuhdin
46 Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47 Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48 Chapter 48 : Dimas Kembali
49 Chapter 49 : Jayden
50 Chapter 50 : Tawaran
51 Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52 Chapter 52 : Kunti Nangis?
53 Chapter 53 : Latihan Jayden
54 Chapter 54 : Wilhelmina
55 Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56 Chapter 56 : Terror Night
57 Chapter 57 : Noni Belanda
58 Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59 Chapter 59 : Lolos
60 Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61 Chapter 61 : Parto In Action
62 Chapter 62 : Di mata Jayden
63 Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64 Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65 Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66 Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67 Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68 Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69 Chapter 69 : Ryan
70 Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71 Chapter 71 : Bu Asti?
72 Chapter 72 : Mantra Jawa
73 Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2
Chapter 2 : Penghuni Lain
3
Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4
Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5
Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6
Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7
Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8
Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9
Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10
Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11
Chapter 11 : Ritual Dimulai
12
Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13
Chapter 13 : Bersikap Aneh
14
Chapter 14 : Pena Antik
15
Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16
Chapter 16 : Dua Penjaga
17
Chapter 17 : Dikejar-kejar
18
Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19
Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20
Chapter 20 : Berhasil Lolos
21
Chapter 21 : Parti atau Parto?
22
Chapter 22 : Bagian Tengah
23
Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24
Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25
Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26
Chapter 26 : Calon Suami
27
Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28
Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29
Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30
Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31
Chapter 31 : Keberangkatan
32
Chapter 32 : Permisi, Paket...
33
Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34
Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35
Chapter 35 : Senior
36
Chapter 36: Kenan Anji
37
Chapter 37 : Keanehan Kenan
38
Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39
Chapter 39 : Mimpi Buruk
40
Chapter 40 : Bangun
41
Chapter 41 : Tayangga
42
Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43
Chapter 43 : Penawaran
44
Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45
Chapter 45 : Nuhdin
46
Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47
Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48
Chapter 48 : Dimas Kembali
49
Chapter 49 : Jayden
50
Chapter 50 : Tawaran
51
Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52
Chapter 52 : Kunti Nangis?
53
Chapter 53 : Latihan Jayden
54
Chapter 54 : Wilhelmina
55
Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56
Chapter 56 : Terror Night
57
Chapter 57 : Noni Belanda
58
Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59
Chapter 59 : Lolos
60
Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61
Chapter 61 : Parto In Action
62
Chapter 62 : Di mata Jayden
63
Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64
Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65
Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66
Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67
Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68
Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69
Chapter 69 : Ryan
70
Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71
Chapter 71 : Bu Asti?
72
Chapter 72 : Mantra Jawa
73
Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!